
Alex merutuki tindakan mamanya yang menyuruh untuk menemani Dora. Dia bahkan tidak menikmati waktu santai dan dekat yang dikatakan mamanya. Perasaannya malah kacau dan semakin tidak karuan. Gadis yang melekat di lengannya juga enggan melepaskan sejak masuk dan bahkan keluar dari mall.
“Dora,” panggil Alex yang sudah berada di dalam mobil.
“Hmm. Ada apa?” tanya Dora yang menatap Alex dengan senyum.
Alex menatap Dora sekilas dan menggeleng. Dia memilih untuk tidak mengatakan apa pun kepada Dora saat ini. Dia memilih untuk tetap melajukan mobil dan diam. Bahkan, tatapan Dora yang di masih terus memandangnya dari jarak dejat tidak dihiraukan sama sekali bahkan sampai di parkiran apartemen wanita tersebut.
Alex menghela napas dan menatap Dora yang hendak membuka pintu. “Dora,” panggilnya ragu.
Dora yang dipanggil langsung menatap ke arah Alex dengan pandangan yang sulit diartikan. “Apa, Alex? Ada masalah?” tanyanya lembut.
“Kenapa kamu begitu memaksaku untuk menjadi kekasihmu?” tanya Alex dengan wajah datar.
“Kamu masih bertanya kenapa?” Dora malah balik bertanya dan tertawa kecil, “karena aku mencintaimu.”
“Tetapi kamu tahu, kan. Aku bahkan begitu membencimu. Seharusnya kamu tidak perlu sampai mengancam akan mencelakai Eiren hanya untuk mendapatkanku,” desisnya dengan amarah menggebu.
“Kamu pikir aku hanya bisa mengancam Eiren? Mungkin akan lebih baik kamu tanyakan kepada orang tuamu mengenai hal ini. Aku tidak mau salah bicara dan kamu bilang kalau aku penipu. Itu menyakitkan, sayang,” ucar Dora dengan wajah santai.
Alex mengerutkan kening heran. Orang tuanya? Apa maksud Dora? Matanya menatap Dora yang sudah keluar dari mobil, tetapi wanita tersebut berhenti melangkah dan menatap ke arahnya dengan senyum menggoda.
“Mungkin aku bisa menjelaskan sedikit mengenai apa yang akan kamu ketahui nanti, sayang? Kalau kamu berniat, aku menunggumu di kamar,” ujar Dora sembari mengerlingkan mata menggoda.
Alex yang mendengar awalnya hanya diam, tetapi pikirannya masih berkcambuk mengingat apa yang dikatakan Dora. Orang tuanya? Apa yang tengah direncakana orang tuanya selain menikahkannya dengan Dora? Rasa penasaran yang semakin menggebu pada akhirnya membuat Alex membuka pintu mobil dan mengikuti langkah Dora.
Dora yang melihat langsung tersenyum dan mengulurkan tangan ke arah Alex. “Bawakan. Aku capek,” keluhnya dengan wajah memohon.
Alex yang sebenarnya tidak mau akhirnya pasrah dan segera mrngambil paper bag di tangan Dora. Langkahnya semakin tergesa untuk masuk ke dalam apartemen Dora. Dia ingin mengakhiri semua dan segera pergi.
__ADS_1
Setelah keluar dari lift, Dora segera membimbingnya masuk ke dalam apartemen. Alex menurut dan segera masuk. Diletakan semua barang belanjaan Dora dengan keras, membuat wanita tersebut menoleh dan hanya menampilkan senyum menawan.
“Ada apa, Alex?” tanya Dora dengan suara manja.
“Aku datang hanya untuk mendapatkan penjelasan darimu, Dora. Aku tidak suka bermain-main,” ucapnya dengan mata membelalak kesal.
Dora yang mendengar berdecih santai dan menatap Alex yang hanya berdiri di ruang tamunya. “Beneran gak sabaran ternyata, ya?” ucapnya diiringi tawa kecil, “tetapi aku suka.”
“Aku tidak suka basa-basi, Dora,” desisnya dengan rahang mengeras.
“Baiklah, aku akan memberitahukan kepadamu. Anggap ini sebagai bonus karena kamu sudah begitu sabar menemaniku berbelanja,” ucapnya dengan senyum sumringah. Dora menuangkan minuman di gelas kaca dan melangkah mendekati Alex.
“Orang tuamu memiliki hutang yang cukup besar kepada keluargaku,” ucap Dora membuat Alex tercengang, “dan jika kamu tidak mau menikah denganku, kamu yang akan terima akibatnya.”
Alex yang mendengar langsung menggeram kesal. “Omong kosong,” bentaknya dan langsung melangkah keluar. Dia sudah tidak tahan untuk terus bersama dengan Dora.
_____
“Kamu baik-baik saja?” tanya Elio yang melihat Eiren menitikan air mata.
Sudah dua puluh menit dia ada di parkiran apartemen Elio dan tidak melakukan apa pun. Dia hanya diam sembari menatap mobil milik Alex yang ada di seberang. Ada hati yang merasakan sakit, tetapi dia tidak mau memberikan komentar sendiri. Hatinya mengatkan agar semua menjadi jelas, dia harus menanyakan pada sang pelaku.
“Eiren, kamu gak mau pulang?” tanya Elio yang sudah sejak tadi bersamanya. Niat awal ingi ke mall bahkan dibatalkan karena sudah terlalu malam dan dia sendiri masih diam di parkiran apartemen.
“Kalau kamu tidak mau menungguku, aku akan keluar dari sini,” jawab Eiren tanpa mengalihkan pandangan.
Elio yang mendengar hanya menghela napas. “Baiklah. Aku akan menunggu kekasihmu yang sedang berada di dalam.”
Suasana kembali hening. Eiren sibuk dengan pikirannya sendiri, sedangkan Elio sibuk dengan ponselnya. Dia harus mengecek bagaimana pendapatan perusahaan papanya. Dia sudah memutuskan untuk tetap menjadi dosen dan mengurus perusahaan secara bersamaan. Dia tidak bisa meninggalkan apa yang sudah dicitakan oleh seseorang yang dicintainya.
__ADS_1
Masih asik dengan layar pintar di hadapannya, tiba-tiba suara pintu terbuka menydarkan semua pikirannya. Netranya menatap Eiren yang sudah keluar dari mobil dan menuju kearah Alex yang baru saja keluar.
“Apa dia akan baik-baik saja?” tanya Elio mulai merasa khawtir.
Eiren menatap Alex yang hendak masuk ke dalam mobil langsung terhenti ketika teriakan yang dikenalnya terdengar. Tubuhnya membalik dan menatap Eiren, gadis yang sudah dirindukan ada di hadapannya. Senyumnya langsung mengembang dan itu berbeda dengan ajah Eiren yang tampak kusut.
“Eiren,” panggil Alex dengan penuh kebahagiaan. Dia baru saja akan memeluknya, tetapi Eiren sudah lebih dahulu menahan.
Eiren menekan dada Alex yang sudah dekat dengannya. Matanya menatap lurus dan tidak ada kelembutan sama sekali, membuat pria di hadapannya merasa ciut dan tidak bernyali.
“Kamu kenapa?” tanya Alex yang bingung dengan perubahan sifat Eiren yang tidak seperti biasanya.
Eiren menatap Alex lekat. “Aku butuh penjelasanmu, Alex. Aku butuh penjelasan untuk semua yang terjadi saat ini.”
“Apa,” ucap Alex pelan. Matanya menatap Eiren yang mulai menitikan air mata.
“Apa ini yang membuatmu bahkan tidak bisa membalas pesanku? Kamu sudah menemukan wanita lainnya?” lanjut Eiren dengan perasaan yang mulai memanas.
Eiren menatap Alex yang masih diam dengan kepala tertunduk. Jika saja dia tidak mencintai pria di hadapannya, tangannya akan dengan senang hati melayangkan tamparan keras di pipi pria tersebut. Namun, semua terasa sulit untuk dilakukan. Hatinya menolak.
“Apa bahkan selama ini kamu ti....”
“Orang tuaku menjodohkan ku dengannya,” ucap Alex membuat dunia Eiren semakin berhenti.
Air mata yang sejak tadi ditahan akhirnya mengalir begitu saja. Perasaannya semakin hancur ketika Alex mengatakannya. Tanpa bisa ditahan, langkahnya semakin mundur dengan mata yang menatap Alex lekat.
“Kamu jahat, Alex. Kamu jahat,” ucap Eiren dengan tangis yang langsung pecah. Langkahya terus berlari menyusuri jalanan yang mulai menggelap.
_____
__ADS_1