Wedding With My Lecturer

Wedding With My Lecturer
Bagian 49_Wanita Lain


__ADS_3

“Hari ini kamu ke kampus?” tanya Elio sembari meletakan piring berisi nasi di meja bar yang terletak di dapur. Matanya menatap lekat Eiren yang tampak antusias ketika melihat masakan sederhananya. Nasi goreng dengan campuran sosis dan juga ayam suwir. Makanan kesukaan Eiren.


Eiren mengabaikan ucapan Elio dan menarik piring tersebut mendekat ke arahnya. Dengan lahap dai langsung menyendok dan memasukannya ke dalam mulut. Wajah bersinarnya tampak bahagia pagi ini.


“Eiren,” panggil Elio merasa terabaikan.


Eiren hanya bergumam dan memakan nasi goreng kesukaannya dengan lahap. Dia bahkan tidak mempedulikan Elio yang sudah menatapnya dengan pandangan lekat.


“Hari ini kamu ada rencana?” Elio mengulangi pertanyaannya.


Eiren mengunyah makanannya dan menatap Elio santai. “Aku harus ke kampus dan mencari referensi lain, Elio. Hari ini aku akan memberikan bimbingan kepadamu,” jawab Eiren dengan wajah malas.


Elio menarik kursi tidak jauh darinya dan duduk menghadap Eiren. “Kalau begitu kita berangkat bersama. Aku juga akan ke kampus. Jadi, kita bisa sekalian.”


Eiren hanya mengangkat bahu ringan dan tidak peduli dengan apa yang Elio katakan. Dia hanya mau menikmati sarapannya dengan hati tenang. Lagi pula dia masih mau berhemat. Jadi, tidak ada salahnya menumpang dengan Elio yang jelas-jelas sudah dianggap sebagai kekasihnya oleh seisi kampus.


Suasan hening seketika. Eiren dan Elio masih menikmati sarapan dengan begitu tenang. Setelah selesai keduanya segera bersiap dan berangkat ke kampus bersama.


_____


Jessi baru saja turun dari mobil dan menunjukan wajah angkuh. Dia hendak melangkah dengan dagu terangkat sombong. Dia merasa, seluruh mahasiswa yang melewatinya selalu bersikap ramah dan juga sok baik. Membuatnya benar-benar merasa muak.


Jessi hendak masuk ke kampus ketika matanya menatap mobil Elio yang mulai berhenti. Matanya menatap lekat dan mengumbar senyum. Dalam hati dia berharap bisa mendapatkan Elio, sehingga dengan mudah mendapatkan kata ACC di skripsinya. Namun, harapannya sirna ketika Eiren turun dari mobil yang sama dengan Elio.


“Dia lagi?” gurutu Jessi dengan wajaalh menunjukan kekesalannya. “Gak ada habisnya dia rebut start, ya? Gak di Elio, gak di Alex, semua direbut sama Eiren dulu. Dasar gadis gak tahu malu,” gumam Jessi sembari menatap Eiren kesal.


Matanya menatap Eiren dan Elio yang sudah berpisah. Perlahan, dia menghela napas pelan dan menunjukan wajah ramah ketika Eiren melangkah mendekat ke arahnya.


“Pagi, Eiren,” sapa Jessi dengan begitu ramah.


“Hai, Jess. Kamu sudah datang? Tumben banget,” celetuk Eiren dengan wajah sumringah.

__ADS_1


Jessi yang mendengar hanya mengangguk kecil dan mulai melangkah bersisian dengan Eiren. Matanya sesekali melirik dengan senyum kesal setiap melihat Eiren dengan ramah menjawab panggilan dari anak di kampus.


Kenapa semua menyapanya, sih. Buat kesel aja. Sok baik banget, batin Jessi kesal.


"Eiren,” panggilJessi pelan, membuat Eiren menatap ke arahnya dengan pandangan polos. “Kamu tadi berangkat dengan Elio? Bagaimaan bisa?” selidik Jessi membuat Eiren diam sejenak.


Eiren menatap ke arah Jessi dan tersenyum tipis. “Kami bertemu di jalan, Jessi. Jadi sekalian aku berangkat bersama dengannya,” jawab Eiren berbohong


“Oh, begitu. Katanya kamu juga pindah kosan. Memangnya kamu tinggal di mana sekarang?” tanya Jessi dengan pandangan menyelidik.


“Dekat dengan kampus kok,” jawab Eiren pelan, “aku pergi ke perpustakaan dulu, ya? Aku harus mencari buku untuk referensi lagi,” imbuh Eiren cepat ketika dilihatnya Jessi hendak menimpalinya lagi. Dengan cepat dia langsung kabur meninggalkan Jessi dan melangkah menuju ke perpustakaan.


Jessi yang melihat mengerutkan kening dengan tatapan tajam. “Aku rasa ada yang disembunyikannya,” gumam Jessi dengan wajah senang. Dia merasa ada hal yang harus diselidiki sekarang.


_____


Elio membuka pintu ruangannya dan masuk ke dalam. Belum juga dia masuk lebih dalam, langkahnya harus terhenti karena getar ponsel yang sejak tadi mengganggunya. Dengan perlahan dia segera mengambil dan menatap layar ponsel dengan kening berkerut.


“Kenapa Rega lagi-lagi menelfon,” gerutu Elio malas mengangkat. Namun, dia tetap saja harus mengangkat agar Rega selesai meneror.


“Ada apa, Rega?” tanya Elio dengan suara lelah.


“Kamu ke mana saja sampai tidak mengangkat telfonku semalaman? Aku sampai lelah menghubungimu, Elio,” celetuk Rega terdengar kesal.


“Aku sedang ada urusan lain, Rega. Memangnya kenapa?”


“Sejak semalam Firda terus saja mencarimu. Pulanglah dan jenguk dia. Dia begitu membutuhkanmu, Elio,” celetuk Rega dengan suara penuh permohonan.


Elio menghela napas dan melangkah ke meja kerjanya. Dia duduk dengan punggung bersandar. “Aku sedang bekerja, Rega. Lain kali aku akan datang menjenguknya.”


"Sejak dia siuman, kamu baru menjenguknya sekali, Elio. Dia benar-benar ingin bertemu denganmu,” paksa Rega membuat Elio kesal.

__ADS_1


“Baiklah. Aku akan menemuinya,” putus Elio dengan nada kesal.


Rega yang mendengar terdengar senang dan mengucapkan terima kasih. Elio memilih diam dan mendongakan kepala menatap langit-langit ruangannya. “Kenapa Rega malah buat runyam, sih,” gerutu Elio karena Rega terus aja memaksanya. Padahal wanita tersebut tahu apa yang ada di hatinya.


_____


Sudah empat jam Eiren sibuk dengan berbagai buku dan layar laptop yang terus saja menyala. Setelah masa melelahkan di lalui, dengan senyum sumringah Eiren menatap tumpukan kertas yang sudah di-print menggunakan printer kampus. Rasanya dia benar-benar bahagia.


“Akhirnya selesai juga. Sekarang tinggal kasih ke Elio biar segera diokoreksi,” ucap Eiren segera melangkah menuju ke ruangan Elio.


Sepanjnag perjalanan dia memeluk map yang berisi barang berharga dan mengetuk pintu ruangan Eliobketika sudah sampai di depannya. Namun, tidak ada jawaban sama sekali, membuat Eiren mengerutkan kening heran.


Ke mana lagi dia, batin Elio penuh tanya.


“Kamu mencari Mr. Elio?” tanya Gladis yang saat itu ada di sana. Eiren yang mendengar langsung menatap Gladis dengan pandangan mengamati.


“Dia baru saja keluar. Mungkin belum jauh. Katanya ada urusan di rumah,” lanjut Gladis dengan pandangan dingin.


“Terima kasih,” ucap Eiren sembari melangkah meninggalkan ruangan Elio. Dia merasa harus mengikuti Elio dan mengabaikan tatapan Gladis yang tidak suka dengan kehadirannya.


Eiren menatap mobil Elio yang sudah keluar kampus dengan heran. Pria tersebut terasa terburu-buru. Dengan rasa penasaran yang menggebu, Eiren segera menghentikan taksi dan menyuruh mengikuti Elio. Matanya masih menatap lekat mobil yang ada di depannya.


“Ini bukan jalan menuju ke apartemen dan rumah orang tuanya,” gumam Eiren yang hapal dengan jalanan yang dilaluinya. Dia masih ingat, jalanan ini adalah menuju ke rumah Elio. Rasa penasarannya semakin bertambah ketika mengingat bahwa pria tersebut memiliki urusan di rumahnya.


Eiren melihat Elio sudah membelokan mobil ke arah rumahnya segera mengentikan taksi yang ditumpangi dan segera turun. Dia melangkah masuk ke dalam rumah Elio dengan begitu mulus karena pengawal yang ada di sana sudah mengetahui siapa dia. Namun, baru saja Eiren berada di ambang pintu utama, matanya menatap seorang gadis kurus yang berada di dalam pelukan Elio. Matanya menyipit menatap gadis tersebut dengan rasa yang tidak karuan.


“Siapa dia?” gumam Eiren merasa Elio begitu perhatian dengan wanita tersebut.


Hatinya terasa teriris menyadari fakta lain yang harus diterimanya. “Jadi ini yang dikatakan urusan dan ini alasan dia meninggalkanku selama beberapa hari? Sungguh memuakan,” celetuk Eiren dengan wajah benci.


Eiren memilih mundur dan keluar dari rumah Elio. Wajahnya mengeras dengan bibir terkatup rapat.

__ADS_1


“Sialan kamu, Elio,” batin Eiren penuh amarah.


_____


__ADS_2