Wedding With My Lecturer

Wedding With My Lecturer
Bagian 66_Rencana Elio


__ADS_3

Firda menuruni anak tangga di rumah Elio dengan senyum tipis. Sesekali matanya menatap seisi ruangan dan menyimpan memori yang selama ini dilalui di rumah tersebut. Berat. Itu yang dirasakan Firda saat ini. Selama dua tahun dia hidup di rumah yang saat ini dipijakinya. Namun, dia kembali sadar dengan posisinya. Mau atau tidak, dia harus pergi meninggalkannya.


Firda menghela naps keras ketika sudah sampai di lantai dasar. Dia baru akan melangkah dengan tangan yang menarik koper. Namun, langkahnya terhenti ketika melihat dua orang dewasa tengah berdiri di depannya dengan pandangan lembut.


“Om, Tante, ini sudah malam dan kalian di sini?” tanya Firda segera melangkah ke arah Abian dan Farah berada.


Farah yang melihat Firda tersenyum lembut dan menatap dengan pandanga lembut. Jemarinya mengelus pelan pipi wanita tersebut ketika berada tepat di depannya.


“Kamu mau pergi, Firda?” tanya Farah dengan suara lembut.


Firda mengangguk dengan tatapan yang tidak kalah lembut. “Aku harus pergi sekarang, Tante. Sebentar lagi pemilik rumah ini akan datang dan Firda tidak mau membuatnya marah,” jawab Firda dengan penuh pengertian.


Atau aku akan hancur jika sampai besok tidak pergi, imbuh Firda dalam hati.


Farah yang mendengar menghela napas perlahan dan beralih menggenggam jemari Firda. “Kamu mau pergi ke mana? Biar sopir keluarga kami yang akan mengantarmu sampai tujuan.”


“Tidak perlu, Tante. Firda mau sendiri saja,” tolak Firda cepat.


“Tetapi ini sudah malam,” tegas Farah dengan nada suara penuh kekhawatiran.


“Tidak masalah. Sebentar lagi Rega akan datang untuk menjemputku, Tante. Biar dia yang mengantarku,” jawab Firda dengan tatapan meyakinkan.


Farah yang mendengar akhirnya pasrah dan menganggu setuju. “Baiklah. Kalau ada apa-apa kamu bisa meminta tolong kepada kami.”


Firda hanya mengangguk dan melangkah mendekat ke arah Abian. Matanya menunjukan kelembutan yang begitu tulus ketika wajah pria di hadapannya hanya berekspresi datar.


“Om, maaf kalau selama ini Firda menyusahkan. Sekali lagi terima kasih karena telah memberi tempat bagi Firda untuk tinggal,” kata Firda membuat Abian semakin merasa bersalah.


Abian menghela napas perlahan dan menatap Firda penuh rasa penyesalan. “Harusnya om yang meminta maaf, Firda. Om sudah membuat Elio membencimu selama ini. Maaf untuk semuanya,”ucap Abian dengan perasaan bersalah.


Firda yang mendengar meraih jemari Abian dan tersenyum. “Semua bukan salah Om, kok. Semua memang sudah digariskan oleh takdir jika antara Firda dan Elio memang tidak bisa bersatu.”


“Tetapi....”


“Firda yakin, jika bukan Om Abian yang melakukan, akan ada orang lain yang melakukannya,” potong Firda cepat. “Jadi, jangan merasa bersalah dengan semuanya, Om. Kita lupakan semua yang pernah terjadi dan mulai membuka lembaran baru. kita mulai hidup yang baru,” tambah Firda dengan air mata yang menggenang di pelupuk mata.


Abian lagi-lagi hanya mampu bungkam. Tangannya mengelus puncak kepala Firda dengan rasa sayang yang begitu tulus, membuat Firda merasa terharu. Air matanya bahkan sudah menggenang di pelupuk mata.


“Om harap, setelah ini kamu akan menemukan orang yang begitu menyayangimu,” ujar Abian dengan penuh harap.

__ADS_1


Firda menganggk dengan bibir mengulum senyum. Setelah itu, dia segera berpamitan dan melangkah keluar. Farah dan Abian hanya mampu menyaksikan ketika mobil Rega membawa Firda pergi dari rumah Elio. Hanya doa yang mengantarnya dari kejauhan.


_____


Sejak penolakan yang Eiren berikan, Elio hanya diam dengan wajah berpikir. Dia mencoba melupakan apa yang terus berputar dalam benak pikirannya dan menyibukan diri dengan pekerjaannya. Namun, dia juga tetap di rumah Eiren dan tidak bergeming meninggalkannya sama sekali. Padahal, dia tahu jika wanita tersebut begitu membecinya.


Apa pun yang terjadi, aku tidak akan pergi darimu, Eiren. Kamu baru menolakku satu kali dan aku tidak akan pernah menyerang. Bahkan sampai ribuan kali pun aku akan tetap memperjuangkanmu, batin Elio dengan penuh keyakinan.


Elio sudah menetapkan hatinya dan tidak akan pernah mengingkarinya. Dia memilih bersama dengan Eiren. Jadi, apa pun yang terjadi nantinya, dia tidak akan pernah goyah.


Elio mengambil ponselnya dan menekan salah satu nomor. Mengalihkan pikirannya dari tumpukan berkas yang ada di hadapannya.Ya, seperti yang dikatakan Elio beerapa hari yang lalu mengenai pekerjaan yang akan dilakukan di rumah Eiren. Dia benar melakukannya. Setiap sore sekretarisnya mengatar begitu banyak berkas dan akan mengambil ketika pagi.


“Halo, Boy,” ucap Elio ketika panggilannya mulai terhubung.


"Halo, Bos. Ada yan bsia saya bantu?” tanya Boy dengan suara datar dan terkesan serius.


“Bagaimana persiapan untuk besok? Apa sudah siap?” tanya Elio dengan suara serius.


“Hampir selesai, Bos. Hanya butuh memasang bebarap oranamen lainnya,” jawab Boy masih dengan nada suara yang sama.


“Kamu selesaikan semuanya. Aku akan datang pagi-pagi. Pastikan semua sudah siap karena kalau sampai aku mendengar kekacauan di hari itu, kamu akan menerima akibatnya,” ancam Elio dengan pandangan tajam.


“Baik. Jangan kecewakan aku, Boy. Aku mengandalkanmu,” tegas Elio segera mematikan panggilan.


Elio menghela napas perlahan dan menyadarkan punggungnya di sofa ruang tamu Eiren. Kepalanya mendongak, menatap langit-langit ruangan dengan pandangan lekat. Jam sudah menunjukan pukul dua dini hari, tetapi matanya bahkan belum terpejam sama sekali.


“Aku akan mendapatkamu apa pun caranya, Eiren,” gumam Elio dengan wjaah serius. Selanjutnya dia kembali mengerjakan tugasnya yang kian menumpuk karena enggan besok hari pentingnya terganggu.


_____


Eiren menggeliat dalam tidurnya. Tangannya bergerak ke samping tempat tidur dan tidak merasakan apa pun. Dengan cepat, matanya segera terbuka dan melihat tempat tidur kosong di sebelahnya.


“Ke mana dia?” gumam Eiren merasa aneh karena Elio yang tidak lagi disampingnya.


Matanya mengamati sekitar dan berharap menemukan Elio. Ada rasa kecewa menyadari pria tersebut tidak lagi bersamannya. Kecewa? Eiren segera menepuk pipinya pelan, mencoba mengusir pikiran konyol yang terkadang melintas di dalam benak pikirannya.


“Jangan pikrikan apa pun, Eiren. Jangan pikirkan Elio,” ucapnya dengan kepala menggeleng keras, menghilangkah semua pikurannya mengenai Elio.


Eiren baru akan turun dari ranjang ketika terdengar keyboard ditekan dari arah ruang tamunya. Dengan rasa penasaran, Eiren segera turun dan melangkah keluar kamar. Di sana dia menemukan Elio yang masih sibuk dengan laptop dan tumpukan berkas.

__ADS_1


“Kenapa malah menyiksa diri sendiri sih,” gerutu Eiren karena yang dijadikan asalan untuk kelakuan Elio adalah dirinya.


Eiren memutuskan untuk meninggalkan kamarnya dan segera melangkaj mendekati Elio yang tengah sibuk. Mata teduhnya menatap layar di hadapanya dengan pandangan lekat. Ditambah dengan kacamata yang bertengger di hidung mancungnya, membuat Elio tampak lebih dewasa.


“Kamu belum tidur, Elio?” tegur Eiren sembari melangkah mendekati Elio.


Elio yang mendengar mengalihkan pandangan dan menatap Eiren dengan tatapan lembut. Senyumnya terukir tipis dan menatap Eiren lekat. “Aku masih banyak pekerjaan, Eiren. Kamu kenapa bangun? Ini masih malam.”


“Aku terganggu dengan ketukan keyboardmu, Elio,” jawab Eiren berbohong. Padahal dia merasa tidak nyenyak karena tidak ada Elio di dekatnya.


Elio yang mendengar hanya ber-Oh dengan tatapan penuh rasa bersalah. Hal yang membuat Eiren merasa muak. Eiren memutuskan untuk duduk di dekat Elio dan menatap layar yang sama.


Elio melirik Eiren dengan senyum tipis. “Eiren, bisa kamu mengosongkan jadwalmu besok?” tanya Elio dengan penuh harap.


“Kenpa?” tanya Eiren dengan mata menatap Elio lekat.


“Aku ingin mengajakmu ke suatu tempat,” jawab Elio tidak berbohong.


Eiren yang mendengar akhirnya pasrah dan mengangguk. Dia juga merasa penasaran dengan apa yag akan ditunjukan Elio kali ini. Hal yang membuat Elio merasa begitu bahagia. Setidaknya langkahnya akan semakin mudah karena Eiren yang mau mengkutinya.


Aku akan menunjukan seberapa aku mencintaimu, Eiren. Aku akan tunjukan semua isi hatiku besok, batin Elio dengan wajah penuh kebahaguaan.


Eiren tidak merasa curiga sama sekali dan memilih tetap tinggal di ruang tamu dengan Elio. Sampai pada akhirnya, matanya kembali terasa berat. Tanpa sadar, dia tertidur dengan kepala bersandar di lengan Elio, membuat pria tersebut menghentikan pekerjaannya dan menatap ke arah Eiren lembut.


“Dia tidur,” ucap Elio lembut dan menghentikan pekerjaanya. Dia memtikan laptop dan memilih membawa Eiren masuk ke dalam kamar.


Dengan perlahan, Elio meletakan Eiren di ranjang. Namun, ketika dia hendak pergi, jemari Eiren menggenggam tangannya erat, seakan tidak ingin terpisah. Elio langsung tersenyum melihat hal tersebut. Pada akhirnya, dia mengabaikan semua yang tengah dipikikannya dan memilih tidur di dekat Eiren dan memeluk gadis tersebut.


“Selamat tidur, sayang. Besok akan ada hal besar menantimu,” ucap Elio yang langsung memejamkan mata, menikmati kebersamaannya dengan Eiren, wanita yang sangat dicintainya.


_____


🍂🍂🍂🍂🍂


Hallo sayang-sayangkuh, selamat membaca dan jangan lupa tinggalkan like dan comment. Bagi yang belum membaca Relationship Goals, kuy mampir. Jangan lupa tinggalkan like dan comment ya sayang.


Oh iya, Kim ada informasi satu lagi nih. Hari sabtu nanti Kim bakal upload cerigam loh. Cerigam adalah cerita instagram yang sangat-sangat pendek. Kim sajikan dalam delapan slide disetiap judulnya. Setiap judul akan di upload setiap dua minggu sekali pada hari sabtu. Untuk yang mau baca yuks kepoin instagram Kim di @kimm.meili. Sedikit spoiler akan Kim berikan di grup besok ya. Bye-bye semuanya. 😘😘


🍂🍂🍂🍂🍂

__ADS_1


__ADS_2