
Saka menatap wanita yang ada di hadapannya dengan pandangan tajam. Rasanya dia tidak menyangka bahwa Dinda, sahabat sejak kecil yang tidak pernah datang kini berada di hadapannya. Helaan napas terdengar ketika Dinda mulai mengalihkan pandangan ke arah Saka dengan senyum menawan.
“Ini kantor Elio?” tanya Dinda setelah mengamati ruangan Saka yang tidak kalah mewah dengan ruangan Elio.
Saka mengangguk pelan dan menatap Dinda lekat. “Kenapa kamu datang, Dinda?” tanya Saka dengan penuh penekanan, membuat wanita tersebut menatap ke arahnya dengan kening berkerut heran.
“Memangnya kenapa, Saka? Kalian tidak mengharapkanku datang?” tanya Dinda dengan wajah bingung. Dia kembali ke kota di mana dia dilahirkan dan tidak mendapat sambutan baik dari sahabatnya. Rasanya dia benar-benar tidak menyangka bahwa hal ini akan terjadi padanya.
“Bukannya begitu, Dinda. Aku merasa kamu datang di saat yang tidak tepat sama sekali,” jelas Saka dengan wajah bingung. Dalam hati dia hanya menggerutu karena tidak dapat menjelaskannya secara baik. Ada ketakutan jika nanti wanita tersebut kembali mengingat masa lalunya.
Dinda seakan mengerti dengan tatapan Saka langsung mengulum senyum tipis dan menatap lembut. Jemarinya meraih tangan Saka yang tampak gelisah dan menggenggamnya erat, membuat pria tersebut diam sembari menatap ke arahnya.
“Aku tahu maksudmu, Saka. Kamu takut aku akan merebut Elio yang sudah memiliki istri, kan?” ucap Dinda dengan tawa kecil.
“Kamu tahu itu?” tanya Saka dnegan mata membulat, menatap Dinda lekat.
Dinda mengangguk pelan dan menunjukan wajah bangga. “Kamu pikir karena kalian melupakanku, aku juga melupakan kalian? Kamu salah, Saka. Aku masih mengamati kalian, tanpa kalian sadari. Aku bahkan tahu mengenai pernikahan Elio dan wanitanya dan aku datang untuk mengucapkan selamat kepadanya,” ujar Dinda tanpa beban sama sekali.
“Kamu yakin dengan itu?” tanya Saka masih tidak percaya. Pasalnya, dia masih ingat antara kedekatan Elio dan Dinda yang pernah terjadi. Membayangkan seorang Dinda seperti sekarang saja dia masih belum yakin.
Dinda menghela napas kasar dan menatap Saka dengan pandangan kesal. Bahkan, genggamannya sudah terlepas dengan begitu cepat. “Kamu pikir aku apa, Saka? Suka merebut istri orang?” tanya Dinda sembari berdecak kesal. “Kamu benar-benar sahabat yang kurang ajar,” celetuk Dinda ketus.
Saka yang mendengar seketika tertawa. Sekarang dia yakin Dinda tidak akan pernah melakukan hal tersebut. Helaan napas beriringan dengan senyum lega langsung terukir di bibirnya. “Lalu, kamu ke sini ada perlu apa? Aku tidak percaya kamu kembali hanya karena rindu denganku.”
Dinda membenarkan duduknya dan menatap ke arah Saka penuh antusias. “Kamu tahu? Aku datang karena ingin memberimu kabar baik,” jawab Dinda dengan wajah penuh antusias, membuat Saka mengerutkan kening heran.
Dinda berdeham sejenak dan menatap Saka dengan wajah bahagia. “Aku akan menikah bulan depan. Jadi, aku mengundangmu untuk datang bersama dengan Elio,” lanjut Dinda dengan tawa riang. Namun, hanya sekejap dan setelahnya berubah murung. “Tetapi aku tidak bertemu dengan Elio sejak tadi. Apa dia masih belum mau melihatku lagi setelah kejadian dulu? Aku bahkan tidak menyalahkannya sama sekali.”
Saka yang mendengar hanya tersenyum tipis dan bangkit. Dia mulai melangkah dan mengambil posisi untuk duduk di dekat wanita tersebut. Perlahan, dia mengubah posisi duduknya menjadi menghadap Dinda dan meraih tangan sahabtanya.
“Kamu tenang saja. Dia bukannya tidak mau menemuimu. Dia hanya sednag tidak ada di sini,” ujar Saka memberitahu.
“Dia tidak di sini? Terus dia di mana?”
“Dia tengah asyik berlibur dengan istrinya. Dia bilang mau berusah menghadirkan Elio kecil dalam kehidupan mereka,” jawab Saka dengan wajah jijik setiap mengingat sahabatnya mengatakan hal tersebt.
Dinda yang mendengar ikut tertawa keras. Rasanya Elio memang tidak berubah sejak dulu. Padahal dia mengira bahwa semuanya berubah. Namun, setela banyak tahun dia meninggalkan sahabat-sahabatnya, dia sadar, hanya sebagian kecil yang mulai berubah.
Dinda menghela napas keras dan langsung memeluk Saka erat. Rasanya dia rindu dengan semua sahabatnya. Saka hanya tersenyum kecil dan membalas pelukan Dinda. Dia juga merindukan kedekatan dengan wanita tersebut. Rindu dan teramat sangat. Sampai pada akhirnya, suara ketukan pintu yang terdengar beberapa kali diabaikan, membuat tamu yang menunggu di luar segera membukanya. Menghadirkan Feli yang tengah membeku dengan mata membelalak.
Saka mulai menyadari kehadiran Feli di pintu ruangannya langsung melepaskan pelukannya dan menatap Feli lekat.
“Maaf, Pak. Saya hanya mau memberikan berkas yang bapak minta barusan,” kata Feli dengan senyum canggung. Dia meletakan map tersebut di meja dan segera pergi dari ruangan Saka.
_____
“Ih, dasar ya itu bos mesum, gak mikir apa ini di kantor? Mataku jadi melihat hal tidak senonoh seperti itu sekarang,” gerutu Feli sembari melewati lorong di divisi Saka. Dia memang berniat mengantarkan berkas yang diminta Saka ke ruangan pria tersebut. Namun, dia tidak menyangka jika pada akhirnya dia melihat hal yang tidak diinginkanya sama sekali.
Feli menghela napas kasar ketika sampai di mejanya. Dia masih merasa bergidik ketika melihat Saka yang tengah bermesraan dengan wanita lain di ruangan pria tersebut. Dia mulai membayangkan apa yang akan terjadi jika dia tidak masuk ke dalam ruangan tersebut dan membelalak terkejut.
__ADS_1
“Mampus kamu, Feli. Kamu membuat Saka tidak bisa bermanja dengan wanitanya,” gumam Feli merasa takut. Dia yakin, setelah wanita tersebut pulang, dia akan menjadi sasaran empuk bagi Saka untuk memaki.
Masih di landa kebingungan, sebuah tepukan di pundak membuyarkan lamunannya. Matanya menatap ke asal tepukan dan menghela napas lega.
“Venda,” ucapnya dengan wajah yang benar-benar lega. Dia berpikir jika itu adalah Saka.
Venda yang masih bingung hanya mengerutkan kening bingung menatap Feli. “Kamu kenapa? Habis lari siang?” tanya Venda dengan wajah heran.
Feli hanya berdecih kesal dan menatap Venda lekat. “Ada apa?” Feli enggan menanggapi ucapan Venda yang tengah meledeknya.
“Aku cuma mau tanya, ruang berkas di mana, ya?”
Feli memutar mata jengah karena Venda yang belum tahu di mana saja letak ruangan di kantor tersebut. Dalam hati dia benar-benar merutuki Saka yang seenaknya saja. Dia langsung memberitahukan mengenai ruangan yang dimaksud Venda. Setelah itu, dia kembali diam dengan wajah berpikir.
Jadi, sekarang kalau aku dipanggil Saka harus bagaimana, ya, batin Feli mulai menyusun rencana supaya terhindar dari pria tersebut.
_____
“Dasar Elio kurang ajar. Dia masih saja gak terbuka. Memangnya aku ini dia anggap apa sih,” gerutu Eiren dengan wajah masam. Mulutnya memberengut kesal. Matanya menatap lautan lepas di depannya. Sesekali, tangannya melempar batu kecil yang tidak sampai di pinggiran pantai.
Eiren masih memberengut kesal karena menyadari sikap Elio. Dia merasa ada hal besar lain yang Elio sembunyikan kali ini. Dia mulai berpikir, apakah Firda ada di kota tersebut. Namun, semua diabaikan begitu saja dan kembali fokus dengan amarahnya.
Eiren menunduk dan mulai memainkan pasir putih tersebut. Wajahnya terlihat murung dengan helaan kasar yang terdengar beberapa kali. “Apa Elio masih tidak percaya denganku? Padahal dia sudah merebut semuanya. Sebenarnya dia menganggapku istri atau bukan, sih,” ucap Eiren yang tanpa sadar mulai menitikan air mata. Namun, dia segera menghapus cepat dengan telapak tangannya.
Masih berusaha menenangkan hatinya yang terasa sensitif, terdengar seseorang yang duduk di dekatnya, membuat Eiren mendongak dan menatap pria di dekatnya dengan kening berkerut.
“Kalau ngilangin air mata itu pakai tisu. Jangan pakai telapak tangan yang kotor begitu,” ucap pria yang bahkan tidak dikenal oleh Eiren.
Pria yang ada di dekat Eiren tertawa kecil melihat wajah was-was dari wanita tersebut. “Jangan takut. Aku tidak akan menculikmu. Aku hanya kebetulan lewat dan melihatmu menangis. Jadi, terima saja. Tidak ada obat di dalamnya,” jelasnya dengan wajah yang masih tidak percaya.
Setelah menimang begitu banyak pertimbangan, akhirnya Eiren menerima tisu tersebut dan mulai menghapus air matanya. Dia kembali menatap ke arah pantai dan terdiam dengan kaki bersila.
“Kamu ada masalah?” tanya pria tersebut dengan pandangan lekat.
Eiren yang ditanya menatapke sumber suara dengan wajah tidak ramah sama sekali. “Aku tidak mengenalmu. Kenapa juga aku harus bercerita semuanya,” jawab Eiren ketus.
Pria tersebut tertawa lagi dan kali ini mengulurkan tangan. “Perkenalkan, aku Hasel. Kamu siapa?”
Eiren menatap lekat dan menerima uluran tangan tersebut. “Eiren,” jawabnya tanpa membalas uluran tangan Hasel.
Hasel hanya mengangguk dan menarik uluran tangannya. Matanya menatap Eiren dengan lekat da jatuh pada jemari yang sudah terdapat cincin dan yakin itu adalah cincin pernikahan. Matanya menatap Eiren lekat dan tersenyum tipis.
“Kamu ada masalah dengan suamimu?” tanya Hasel menerka. Tetapi, itu membuat Eiren menyipitkan mata dan menatap ke arahnya lekat.
“Aku hanya menebak dan seperti itu benar,” lanjut Hasel setelah melihat wajah garang Eiren.
Eiren menghela napas perlahan dan menatap Hasel lekat. Kepalnya mengangguk pelan dan menatap pantai, sembari sesekali melemparkan batu kecil yang tidak juga sampai di pinggi pantai.
“Dia tidak jujur denganku. Dia menyembunyikan banyak sekali rahasia dariku,” aku Eiren dengan wajah sedih.
__ADS_1
Hasel yang melihat tersenyum kecil dan menepuk pundak Eiren pelan. “Terkadang tidak semua hal harus diketahui oleh orang lain, Eiren, termasuk seorang pasangan. Ada banyak hal yang jauh lebih baik disembunyikan dari pada diungkapkan. Mungkin kamu hanya perlu menunggu agar dia siap mengatakan semua itu saja,” jelas Hasel membuat Eiren mulia berpikir. Apa dia yang terlalu memaksa?
Eiren baru akan menyahuti ucapan Hasel ketika panggilan di belakang membuatnya mengalihkan pandangan. Di sana sudah ada Elio yang tengah berteriak memanggil namanya, membuat Eiren menunduk dengan rasa bersalah.
Hasel menghela napas perlahan dan menatap Eiren lekat. Dia segera bangkit dan mengulum senyum tipis. “Aku rasa sekarang adalah waktunya kamu menyelesaikan masalahmu, Eiren. Kamu bisa bicarakan dengan suamimu dan aku akan pergi. Sampai bertemu lain kali.”
Eiren hanya diam dan menatap Elio lekat. Apa sekarang aku juga harus mulai mengertimu, Elio. Apa selama ini aku memang egois, batin Eiren dengan perasaan berkecambuk.
_____
“Sayang,” teriak Elio sembari menyusuri pantai. Wajahnya sudah benar-benar cemas setiap kali mengingat wajah kecewa Eiren. Dia mulai takut jika istrinya pergi lagi darinya. Namun, rasa khawatirnya langsung menguap ketika melihat Eiren yang tengah duduk di pasir pantai tidak jauh darinya. Dengan cepat, dia segera melangkah dan mendekap Eiren erat.
“Sayang. Akhirnya aku menemukanmu,” ucap Elio dengan helaan napas lega.
Eiren yang tengah dipeluk hanya pasrah saja. Dia tidak membalas atau pun melihat Elio yang ada di belakangnya, membuat Elio menatap dengan senyum kecut.
Kamu marah denganku, sayang, batin Elio menyadari sikapnya yang terlalu tertutup.
Elio menghela napas kasar dan mendekap Eiren lebih erat. Dia menjadikan pundak wanitanya sebagi tumpuan dagunya. “Sayang, kamu marah denganku, hm?”
Tetap tidak mendapat jawaban, membuat Elio kembali tersenyum kecut. Namun, dia mengabaikan perasaannya dan kembali melanjutkan ucapannya. “Kamu mau tahu kenapa aku begitu takut untuk keluar dari penginapan? Aku takut kamu bertemu dengan Dinda.”
Dinda? Mendengar nama itu membuat Eiren menatap ke arah Elio dengan bibir masih terkatup rapat. Dia mulai penaaran dengan nama yang baru saja disebut.
Elio yang paham degan hal itu kembali menyambut ucapan yang sengaja diberhentikan olehnya. “Dia adalah sahabatku sejak kecil. Dulu aku tidak mengerti dengan namanya cinta. Semua yang bilang suka denganku langsung saja aku terima.”
“Kamu playboy?” sahut Eiren dengan wajah mengejek dan membuat Elio tertawa kecil. Dia merasa senang meski Eiren belum tampak berbaikan dengannya.
“Ya, semacam itu. Tetapi, aku dulu memang tidak mengerti, apalagi ketika aku berpacaran dengan Dinda. Hingga suatu hari, aku tanpa sengaja melihatnya tengah mandi dan entah mengapa, aku masuk ke dalam. Aku pikir itu masih seperti dulu. Saat itu aku sudah duduk di bangku SMP kelas tiga. Kamu tahu, sayang? Aku dibawa keluar dan dikira berbuat mesum dengan Dinda. Aku merasa malu sekali dan sejak saat itu aku tidak mau bertemu dengannya. Aku merasa bersalah karena Dinda akhirnya keluar dari sekolah karena tidak tahan dengan bully-an teman-teman kami.”
“Dan rasa besalah itu masih terasa sampai sekarang?” tanya Eiren dengan wajah memelas dan mendapat anggkukan.
Eiren menghela napas keras dan melepaskan pelukan Elio, membuat pria tersebut menatap bingung. Dia mulai takut jika Eiren akan meninggalkannya.
“Kenapa kamu tidak bilang sama aku sejak awal? Apa ini juga yang membuatmu menolak tiket liburan dari mama?”
Elio tidak dapat berbohong untuk kali ini. Dia segera mengangguk pelan dan menatap Eiren lekat. “Aku takut kalau kamu bertemu dengannya dan dia menceritakannya, kamu akan marah dan meninggalkanku. Aku takut kamu meninggalkanku lagi,” jelas Elio dengan air mata yang mulai berlinang.
Eire tertawa kecil dan menghapus air mata suaminya. Dengan perlahan, dia mulai mendekap Elio, membuat oria tersebut menatap bingung.
“Kamu tidak marah denganku?” tanya Elio dengan mata berbinar.
Eiren menggeleng dan tersenyum. “Selama aku mendengarnya darimu, aku tidak kaan marah, Elio,” jawab Eiren dengan manis, “tetapi, ternyata kamu memang sudah mesum sehakl ahir ya, Elio,” celetuk Eiren dengan menahan tawa.
“Sayang,” peringat Elio tidak suka dengan ucapan Eiren. Namun, Eiren hanya tertawa keras, tidak menanggapi ucapan Elio sama sekali. Dia malah memilih mengeratkan pelukannya dan menghela napas lega.
“Aku harap kamu akan menceritakan semua masalahmu denganku, Elio,” batin Eiren dengan mata terpejam. Menikmati dekapannya pada sang suami yang terkesan manja.
_____
__ADS_1
Hallo sayang-sayangkuh. Selama membaca ya. Jangan lupa like, comment dan tambahkan ke dalam favorit. Jangan lupa juga mampir di cerita Kim yang lain ya, judulnya “Relationship Goals”. Selamat membaca dan see you next chapter. 😘😘
_____