
Feli menghela napas perlahan. Dia baru saja sampai di rumah yang baru dua hari dibelinya. Dia memang memutuskan untuk tinggal terpisah dari orang tuanya. Dia ingin mandiri dan memulai kehidupan rumah tangganya bersama dengan Saka.
Feli menarik napas dalam dan mengembuskannya perlahan. Dia baru akan melangkah menutup jenela kamar ketika terasa sebuah tangan mendekapnya dari belakang, membuat Feli menatap ke arah Saka yang ada di belakangnya.
“Mas,” ucap Feli dengan suara pelan.
“Aku masih ingin memelukmu, sayang. Rasanya sehari aku di rumah Elio, terasa seperti satu tahun yang menyebalkan,” gumam Saka dengan nada manja.
Feli yang mendengar hanya mengulum senyum tipis dan mengelus pelan wajah Saka. Rasanya sejak menikah, Saka jauh lebih manja dari sebelumnya. Tidak jarang Feli harus membujuk Saka melepaskan pelukannya ketika hendak memasak. Hal yang sangat sulit untuk dilakukan.
“Sayang,” panggil Saka dengan nada pelan.
“Apa, Mas,”jawab Feli masih dengan gerakannya. Rasanya dia tidak penah bosan mengelus rahang suaminya.
“Apa setekah kita menikah kamu merasa bahagia?” tanya Saka dengan tatapan lurus.
Feli mengulas senyum tipis dan mengangguk. “Jelas aku bahagia, Mas. Aku bahkan sangat bahagia bisa menikah denganmu,” jawab Feli semangat.
Saka yang mendengar mulai melepaksan pelukannya dan langsung membalik Feli untuk menatapnya. Matanya menatap lekat mata bening yang sangat dicintainya. “Aku menyesal pernah melakukan perjanjian konyol itu, sayang. Jamu tahu? Saat aku melepaskanmu untuk dia, aku bena-benar takut akan kehilanganmu,” ucap Saka dengan mata mulai berkaca.
Feli yang mendengar menangkup wajah Saka dan menatap lekat. Perlahan, dia mulai menundukan Saka dan memberikan kecupan ringan. Membuat Saka memejamkan mata, menikmati kecupan yang diberikan Feli.
Feli mulai melepaskan ciumannya dan menatap Saka lembut. “Jangan pikirkan yang sudah berlalu, Mas. Bukannya kita sudah berjanji akan melupakannya dan menjalani hidup baru? Aku bahkan sudah melupakan itu,” ucap Feli yang langsung memeluk Saka erat. “Aku mau hidup denganmu, tanpa bayang masa lalu.”
Saka yang mendengar menghela napas lega dan mengelus pelan rambut istrinya. “Iya.”
Suasana kembali hening, sampai akhirnya, Saka melepaskan pelukan istrinya dan menatap dengan tatapan antusias, membuat Feli merasa curiga dengan pria di depannya.
“Sayang, bukannya putra Elio menggemaskan?” tanya Saka dengan mata mematap lekat.
__ADS_1
Feli mengingat wajah putra Elio dan mengangguk semangat. “Iya, Mas. Sangat menggemaskan. Wajahnya mirip Eiren, tetapi bibirnya mirip Elio,” jawab Feli sembari membayangkan wajah putra Eiren.
Dan kapan aku memiliki bayi seperti itu?, batin Feli sedih, mencoba menghalau pelan pikirannya yang terasa begitu konyol. Apa mau Saka memiliki anak?
“Mau memiliki seperti itu?” tanya Saka dengan tatapan lekat. Bibirnya masih mengulum senyum tipis dan menunggu jawaba Feli.
“Maksudnya, Mas?” Feli menatap ke arah Saka dengan pandangan lekat. Apa pendengarannya sedang bermasalah?
Saka menundukan tubuh dan menatap Feli yang masih tampak bingung. “Aku mau punya anak dari kamu, sayang. Aku juga mau mendengar tangis bayi di keluarga kecil kita,” jelas Saka dengan senyum lembut.
Feli masih merasa shock dengan ucapan Saka dan hanya diam, bingung seperti apa harus menanggapinya. Sampai sebuah tangan kekar mulai meraihnya dan menggodangnya santai, membuat Feli tersentak dan menatap suaminya lekat.
“Mas,” protes Feli semabri menepuk pelan lengan Saka.
Saka hanya tertawa keras dan melangkah ke arah ranjang. Perlahan dia mulai meletakan Feli di atas ranjang dengan sangat lembut, membuat wanita yang sudah berada di bawahnya menatap dengan pandangan takjub.
“Kamu mau mengandung anakku, sayang?” tanya Saka dengan nada pelan.
Saka mengulas senyum tipis dan mulai mendekatkan bibirnya, mencium Feli yang sudah pasrah di dabawahnya. Tangannya mulai meraih saklar lampu kamar dan mematikan lampu, membuat ruangan menjadi gelap seketika.
_____
Eiren masih menggedong bayi kecilnya dengan ayunan kecil. Beberapa menit yang lalu putraya menangis keras, membuat seisi rumah menjadi terbangun. Tepatnya dia dan Elio. Matanya menatap putrany adengan senyum tipis. Rasanya sangat menenangkan melihat wajah tanpa dosa yang terlihat begitu damai.
“Sehat ya, Nak. Jadi anak yang baik, bukan menjadi seperti papa yang terlalu playboy," ujar Eiren dengan senyum tipis.
“Kenapa kamu selalu begitu, sayang?” tegur Elio yang sudah membuka mata dan menatap Eiren lekat. “Aku bukannya playboy. Aku hanya mencari sosok yang pas untuk menjadi pendampingku,” kilah Elio enggan disalahkan terus-menerus.
Eiren yang mendengar hanya tertawa kecil dan mengabaikkan ucapan Elio. Dia memilih menatap putranya lekat, sampai suara bel rumahnya mulai terdengar, membuat keduanya lansung saling pandang.
__ADS_1
“Siapa, Mas?” tanya Eiren dengan pandangan lekat.
“Gak tau, sayang,” jawab Elio yang langsung bangkit. Perlahan, dia mulai melangkah ke arah pintu ruang utama, diikuti Eiren yang juga terlihat was-was di belakangnya. Pasalnya, saat ini sudah mencapai pukul dua dini hari.
Elio mulai membuka pelan pintu besar di depannya dan menatap tamu yang datang dengan membelalak. Wajahnya sudah kaku melihat wanita yang sudah sangat dikenalnya.
“Rega,” panggil Elio dengan wajah terkejut, tidak menyangka jika Rega datang ke rumahnya.
Rega mengulas senyum tipis dan me,angkah masuk. Dia mulai mendatangi Eiren yang masih terpaku di depannya dengan senyum ramah. Matanya menatap bayi mungil yang ada dalam dekapan Eiren dan menghela napas pelan.
“Jadi, ini keluarga baru di keluarga Cetta?” ucap Rega dengan suara pelan. Lerlahan, dia mulai menunduk dan memberikan kecupan ringan.
“Selamat datang, Elio junior,” sapanya dengan wajah sumringah.
Elio yang menatap menghela napas perlahan dan berbalik, menatap Rega yang begitu berbeda dari biasanya. “Kamu kenapa ke sini, Rega?" tanya Elio penasaran.
Rega menghentikan tawanya dan menegakan badan. Dia menatap ke arah Elio yang sudah menatapnya dengan penuh krcurigaan.
“Aku hanya datang untuk menjenguk anakmu, Elio. Aku juga ingin mengatakan sesuatu kepada Eiren,” ujar Rega menatap Eiren yang masih diam.
Eiren masih sangat ingat seberapa Rega membecinya. Namun, kali ini dia hanya diam dan memilih menatap Rega tanpa permusuhan. Hal yang sama yang terjadi dengan wanita di depannya.
Rega mengulas senyum tipis dan menatap Eiren lekat. “Eiren, aku datang untuk meminta maaf. Maaf karena selama ini aku merasa kamu tidak pantas untuk Elio. Aku selaku saja membuat Elio bingung dalam memilih. Aku minta maf untuk semua yang pernah aku lakukan. Aku bahkan sangat membencimu. Tetapi, sekarang aku sadar, bahwa apa pun yang dipilih Elio adalah yang terbaik untuknya,” ucap Rega panjang lebar. “Apa kamu mau memafkanku?”
Eiren yang mendengar mengulum senyum tipis dan mengangguk. “Aku jelas memaafkanmu, Rega.”
Rega tersenyum mendengra ucapan Eiren. matanya menatap Elio yang sudah menganguk denga rasa bangga di matanya. Mengabikan Rega yang sudah kembali mengusik tidur lelap putranya.
_____
__ADS_1
Selamat membaca sayangkuh. Jangan lupa tinggalkan like, comment dan tambah ke daftar favorit kalian. Jangan lupa juga baca cerita Kim dengan judul “Relationship Goals” dan juga “Wedding Drama 2”. Jangan lupa tinggalkan like, commet dan tambah ke daftar favorit kalian. Untuk tahu info update fan juga cerita baru Kim, kalian bisa follow instagram Kim di @kimm.meili.
Selamat membaca dan see you next time di chapter selanjutnya.