
Elio menghela napas panjang ketika dia sampai di mobil. Sejak dua hari yang lalu dia memutuskan untuk tidak bertemu dengan Eiren. Mengabaikan gadis tersebut dan memilih untuk menenangkan diri di hotel tidak jauh dari apartemen. Dia masih terlalu takut untuk pulang dan melihat wajah penuh kebencianbdari Eiren. Rasanya menyesakan ketika mendengar perkataan Eiren yang mengatakan bahwa dia hanya calon dan tidak berhak mengatur.
Aku bahkan tidak menyangka akan melakukan hal seperti itu, batin Elio dengan pikiran berkecambuk. Dia seperti tidak mengenal diri sendiri.
“Arrrgghh,” Elio memukul keras setir mobilnya dan mengacak rambutnya gusar. “Sial. Aku merindukannya,” gerutu Elio dengan wajah mengeras dan rasa yang mulai berkecambuk.
Elio memilik keluar dan menghirup udara segar. Dia ingin menenangkan pikiran yang tengah berkecambuk. Pekerjaannya berantakan dan hatinya melayang entah ke mana. Akhir-akhir ini pikiranya benar-benar tidak bisa fokus hanya satu tempat. Dia memikikran Eiren dan Firda yang terus terngiang.
“Sial. Kenpaa hidupku jadi runyam,” gerutu Elio sembari menyenderkan tubuhnya di kap mobil. Pikirannya tidak bisa diajak untuk berkompromi sama sekali.
Elio berbaring sembari menatap langit-langit yang malam ini begitu indah. Ditaburi dengan bintang yang membuatnya terasa sempurna.
“Kamu tahu, Elio? Aku begitu menyukai bintang.”
“Kenapa?”
“Karena meski kecil, bintang sangat bermanfaat dan juga indah. Dia berhasil menghiasi langit malam dan membuatnya cantik. Seperti kamu yang membuatku terasa semakin sempurna."
Elio menghela napas ketika ingatan itu kembali datang. Ingatan di mana dia bahagia bersama dengan Firda. Suara ponsel terdengar dan langsung diraihnya ponsel di saku celana. Matanya menatap nama Rega yang terpampang di depan layar
Lagi, gerutu Elio dengan wajah malas.
Elio memilih mengabaikan panggilan dan menikmati udara malam yang terasa begitu meyejukan. Membuatnya merasa nyaman. Namun, lagi-lagi suara ponselnya terdengar dan tetap dengan nama yang sama. Dengan kesal Elio mematikan ponsel dan menyimpannya di kantung celana.
“Aku hanya ingin sendiri, Rega. Jangan ganggu aku,” ujar Elio dengan wajah datar.
_____
__ADS_1
Rega menghela napas keras ketika panggilan ketiganya hanya dijawab oleh operator. Dengan malas dia segera meletakan ponselnya dan menuju ke ranjang di mana Firda berbaring saat ini. Senyumnya terulas dengan manis dan duduk di dekat ranjang.
“E...e..lio,” ucap Firda gagap dan menatap Rega dengan pandangan lemah.
Rega yang mendengar menggenggam jemari Firda yang tampak begitu kurus. “Aku rasa dia sedang sibuk. Kamu tahu, Firda? Saat kamu koma, dia bekerja cukup keras dan juga seperti gila kerja. Dia mengerjakan semua. Bahkan, dia yang terkenal rajin juga pernah tidak mandi karena terlalu semangat bekerja. Apa itu tidak gila?” ucap Rega mencoba menghibur Firda yang tidak bersemangat sama sekali.
Firda yang mendengar tersenyum tipis dan menatap Rega lembut. Dia ingin mengatakan banyak kalimat dan menjelaskan semuanya, tetapi dia harus menelan fakta pahit bahwa dia sendiri belum lancar dalam berbicara. Hanya saja, dia merasa ada hal yang berbeda dengan Elio ketika dia bangun.
Apa Elio benar-benar membenciku?, batin Firda dengan air mata yang tiba-tiba mengalir.
Rega yang melihat air mata Firda hendak mengalir langsung menghapusnya pelan dan mengumbarkan senyum. “Kamu tidak perlu menangis, Firda. Dia hanya sibuk sebentar dan akan kembali menjengukmu. Dia pasti senang karena kamu sudah bangun,” ucap Rega dengan ramah.
“Be..ben..ci,” tanya Fida dengan mata berkaca.
Rega menggeleng lembut sembari memperhatikan wajah Firda lekat. “Dia tidak membencimu, Firda. Dia hanya kaget karena sudah lama menunggumu. Dia hanya harus menyesuaikan diri lagi dengan kehdiaranmu. Jangan pikirkan apa yang pernah dia katakan. Itu semua hanya untuk menutupi perasaan yang sebenarnya bahagia. Kamu tahu dia seperti apa, kan?” celetuk Rega dengan keyakinan.
“Jangan menangis, Firda. Percayalah dengan ucapanku. Dia masih sangat mencintaimu dan sebenarnya dia percaya bahwa apa yang terjadi bukanlah murni kesalahanmu. Aku yakin, ada kesalah pahaman di sini. Aku percaya denganmu,” imbuh Rega dengan senyum menenangkan.
Firda yang mendengar hanya tersenyum dan mencoba percaya. Semoga semua yang kamu katakan adalah benar, Rega, batin Firda sembari memejamkan mata lelah.
_____
“Apa kemarin aku sudah keterlaluan dengannya, ya?” gumam Eiren dengan wajah memberengut kesal. Pasalnya, sudah beberapa hari Elio tidak pulang ke rumah. Di kampus juga Elio tidak ada.
Eiren menghela napas pelan dan menatap pintu yang sejak tadi tidak terbuka sama sekali. Dia merasa merindukan Elio yang biasanya selalu menemani ketika Eiren mengerjakan tugas skripsi dan langsung mengoreksinya. Namun, beberapa hari bahkan skripsinya hanya terlunta-lunta dan tidak diurus sama sekali.
Eiren merebahkan tubuh dan menatap jam dinding yang terpasang dia atas televisi. Sudah jam tiga pagi dan matanya masih tetap terbuka dengan sempurna. Helaan napas berat terdengar lelah dari arahnya.
__ADS_1
“Aku merasa ada hal berbeda yang terjadi denganmu, apa yang sebenarnya terjadi denganmu, Elio?” ucap Eiren merasa penasaran dengan kehdidupan Elio, terlebih ruangan yang tidak boleh disentuh di rumah Elio. Eiren masih ingat, ada seseorang yang berbaring di sana.
Eiren memilih memejamkan mata dan menghela napas keras ketika rasa kantuk mulai menyerang. Sejak Elio tidak pulang ke rumahnya, dia selalu saja sulit untuk tidur. Matanya baru mau terpejam ketika sudah pukul tiga dini hari.
“Aku lelah menghadapi sifat absurdmu, Elio,” batin Eiren sembari memejamkan mata dan memasuki alam mimpi.
_____
Elio memutuskan untuk kembali ke apartemen dan melihat kondisi Eiren. Dia masih ingat meninggalkannya begitu saja. Perasaannya mulai takut jika pada akhirnya Eiren pergi tanpa sepengetahuannya.
Elio baru membuka pintu dan mengerutkan kening heran karena cahaya ruang tamu yang masih menyala. Matanya menatap sekitar dan menemukan Eiren tengah tertidur di sofa ruang tamu. Dengan pelan dia masuk dan menutup pintu, melangkah ke arah Eiren yang masih nyenyak dalam mimpi.
Matanya menatap Eiren ketika sudah sampai di hadapan gadis tersebut. Helaan napas lagi-lagi terdengar bersama dengan Elio yang duduk di lantai dan mulai menatap wajah Eiren lekat.
“Kenapa kamu tidur di sini lagi?” gumamnya pelan dengan jemari yang mengelus pelan pipi kekasihnya, menyelipkan beberapa helai rambut yang menutupi wajah Eiren.
Eiren yang masih terlelap dalam tidurnya merasa terganggu dengan elusan lembut tangan Elio dan membuka mata. Matanya menatap Elio dengan pandangan khas bangun tidur.
"Kamu pulang?” tanya Eiren lemah.
“Kenapa kamu tidur di sini, Eiren?” Elio malah balik bertanya.
“Aku bertanya kepadamu, Elio,” gerutu Eiren dengan tubuh miring dan menatap wajah Elio yang begitu dekat.
Elio mengangguk dan tersenyum. “Aku merindukanmu,” ucapnya sembari mengecup pelan kening Eiren.
Eiren yang mendapat kecupan ringan hanya diam dan tersneyum tipis. Aku hanya mencoba menikmati peranku saat ini, Elio. Sebelum pada akhirnya aku akan meninggalkanmu selamanya, batin Eiren.
__ADS_1
_____