Wedding With My Lecturer

Wedding With My Lecturer
Bagian 81_Saling Mengerti


__ADS_3

Feli menggeliat dalam tidur nyenyaknya ketika sebuah dekapan erat terasa di pinggangnya. Perlahan, matanya membuka dan mulai menyesuaikan dengan pandangan sekitar. Sampai pada akhirnya, matanya menatap pria yang tengha tertidur pulas dengan senyum merekah di bibir merahnya, membuat Feli yang saat itu menatap juga ikut tersenyum.


“Apa selama ini dia setampan ini?” gumam Felu dengan tawa kecil.


Tangannya segera mendekap Saka erat dan meletakan kepalanya di dada bidang milik kekasih sekaligus kakak tirinya. Membuat Saka yang tengah tertidur pulas merasa terganggu dan mulai membuka matanya lebar.


“Pagi, syang,” panggil Saka dengan suara serak khas bangun tidur, membuat Feli mendongak dan menatapnya dengan senyum manis.


“Pagi, Saka,” jawa Feli membuat Saka tersenyum senang.


Saka mulai menarik pinggang Feli dan mendekatkannya. Perlahan, bibirnya mulai mengecup pelan bibir Feli, menyesapnya dengan begitu lembut, membuat Feli merasa begitu terhanyut dengan sentuhannya. Sampai pada akhirnya, ciuman Saka terlepas, membuat Feli membuka mata dan menatap pria yang sama.


“Aku senang kamu sudah tidak marah lagi, baby,” ucap Saka dengan helaan napas lega.


“Kamu memang terlalu bodoh, Saka. Kenapa juga kamu gak cerita sama aku, hah?” ujar Feli masih merasa kesal.


“Hey, kekasihmu kamu sebut bodoh, sayang?” tegur Saka dengan wajah yang dibuat marah. Namun, pada akirnya dia malah meletakan ciumannya di tengkuk jenjang Feli hingga gadis tersebut merasa kegelian.


Feli menghentikan tingkah Saka yang terus saja menggodanya, menarik kepala Saka dan meletakan tepat di depannya dengan kening bersatu. “Jangan pernah melakukan seperti itu lagi, oke? Aku bukan barang yang bisa kamu pindah tangankan. Aku juga gak mau sama temanmu karena aku cuma suka sama kamu. Lebih penting lagi, jangan sembunyikan apa pun dariku,” ucap Feli dengan senyum tipis.


“Kamu bisa janji seperti itu denganku, Saka?” lanjut Feli dengan penuh harap.


Saka menghela napas kasar dan mengangguk lemah. “Iya, maafkan aku, sayang,” ujar Saka sembari mencium pelan pipi Feli, membuat wanita yang ada di dekatnya langsung bersemu merah.


“Kamu malu, sayang?” goda Saka membuat Feli menggeleng cepat.


Feli hendak menjawab ucapan Saka, tetapi sebuah ketukan membuatnya mengalihkan pandangan, menatap pintu yang masih tertutup rapat.


“Saka, bangun, Nak. Sudah siang,” teriak mamanya dari luar.


Feli yang mendengar melihat Saka yang masih santai. Bukannya menjawab, Saka memilih memeluk Feli dan kembali memejamkan mata.

__ADS_1


“Saka,” panggil mamanya kembali.


Saka membuka mata dan menatap Feli yang sudah terlihat gusar. “Iya, Ma. Sebentar,” jawab Saka dengan tawa kecil.


Setelah dirasa tidak ada lagi suara yang mengganggu, Feli mencoba melepaskan diri dari belitan Saka, tetapi gagal karena pria tersebut memeluknya erat.


“Saka, aku harus segera pulang. Aku tidak mau papa dan mama melihat aku ada di sini," ujar Feli dengan wajah cemas.


“Biarkan saja mereka tahu. Itu akan jauh lebih cepat untuk rencanaku menikahimu,” jawab Saka dengan tawa kecil.


“Sinting,” ucap Feli sembari menepuk pelan lengan pria tersebut, membuat Saka tertawa dan melepaskan pelukannya. Dia membiarkan Feli turun dari ranjang dan menatap gadis tersebut melangkah keluar.


“Sayang, kita berangkat bersama?” tanya Saka membuat Feli yang hendak membuka pintu berhenti dan menatapnya.


“Iya, sayangkuh,” jawab Feli dengan pelan dan keluar kamar.


Saka yang mendengar langsung tersenyum senang. Dia langsung bangkit dan masuk ke kamar mandi. Dia harus segera membersihkan badan dan bersiap untuk mulai bekerja.


_____


Elio menghela napas perlahan dan menegakan badan, menatap ke arah Eiren dengan senyum tipis. “Memangnya kenapa, sayang? Aku hanya melihatmu dan mungkin kamu membutuhkan bantuanku?” jawab Elio tanpa rasa bersalah.


Eiren berdecak kesal dan menutup buku tebalnya. “Mas, aku sedang membaca dan bagaimana bisa kau fokus kalau kamu menatap seperti itu terus? Aku gak bisa konsentrasi,” kata Eiren dengan wajah memelas.


Elio yang mendengar malah mengulum senyum dan mendekatkan wajahnyake arah Eiren. “Apa aku jauh lebih lebih menggoda dari pada buku itu?” celetuk Elio membuat Eiren dibuat menganga.


Eiren tidak menjawab dan hanya memberikan isyarat agar suaminya diam. Matanya sesekali menatap ke arah teman-teman yang ada di dekatnya dan berharap agar mereka tidak mendengar.


Sampai kapan Elio akan mengikutiku, batin Eiren merasa tidak bebas.


Eiren memilih bangkit dan mulai melangkah, meninggalkan ruang perusatakaan tanpa mengatakan kepada Elio. Namun, suaminya sudah sigap dan langsung bangkit mengkuti Eiren yang beralan di depannya. Sampai langkahnya mulai sejajar.

__ADS_1


“Kamu marah denganku?” tanya Elio merasa Eiren hanya diam.


Eiren melirik ke arah suaminya. Dengan cepat dia menarik lengan Elio dan mendekapnya pelan. “Tidak. Aku tidakbmarah denganmu, Mas,” jawab Eiren dengan wajah santai.


“Lalu, kenapa kamu pergi tanpa bilang sama aku?” tanya Elio dengan wajah penasaran.


Eiren menghela napas perlahan dan menghentikan langkah. Matanya menatap Elio yang sudah memandang bingung. Bahkan, dia mengabaikan suasana lorong yang terasa ramai.


“Aku mau jalan-jalan ke seluruh kampus dan mengajakmu, Mas,” ucap Eiren dengan senyum manis.


“Mau ngapain? Nanti kamu lelah, sayang,” ujar Elio dengan wajah panik.


Eiren mengelus pelan rahang keras suaminya dan menatap dengan penuh pengertian. “Sayang, gak usah khawtair. Aku cuma mau berkeliling supaya seisi kampus tahu kalau aku sudah menikah, Mas. Aku sudah punya suami yang benar-benar impian semua orang,” jawab Eiren yang langsung mendekat ke arah Elio. “Aku mau kamu gak khawatir terus-terusan denganku, Mas. Aku mau kamu bisa mengerjakan tugasmu dan aku akan baik-baik saja.”


Elio yang mendengar mengulum senyum bahagia mendengar ucapan istrinya. Ini pertama kali Elio mendengar kalimat yang terasa mengalun indah di telinganya.


“Jangankan mencari kekasih lain, Mas. Punya satu aja sudah benar-benar nyusahin,” ujar Eiren dengan mengulum senyum.


Elio yang mendengar hanya tertawa kecil dan mulai menggandeng istrinya menyusuri lorong. Banyak mata yang menyaksikan tingkah keduanya. Sampai akhirnya, Eiren dan Elio mulai membelok, meninggalkan lorong yang sudah terpaku padanya.


“Mas,” panggil Eiren sembari menatap ke arah Elio lekat.


“Apa, sayang?” jawab Elio dengan mata menatap lekat.


“Besok kamu mau ikut denganku lagi?” tanya Eiren dengan pandangan menyelidik.


Elio menggeleng pelan dan menatap Eiren lembut. “Gak. Besok aku mulai bekerja, kan? Lagi pula kamu hanya bimbingan sebentar, kan? Jadi, besok setelah bimbingan kamu harus ke kantor karena besok Feli yang akan menemanimu,” jelas Elio sudah memikirkan banyak cara agar istrinya merasa bahagia.


Eiren yang mendegar hanya mengangguk dan terkekeh kecil. Usahanya gagal, tetapi setidaknya Feli akan bersamanya.


“Aku akan membelikan semua keperluan yang kamu butuhkan. Jadi, jangan ke perpus kampus, oke?” lanjut Elio dengan senyum sumringah.

__ADS_1


Dasar tukang cemburu gak jelas, batin Eiren.


_____


__ADS_2