
Alex diam memperhatikan pelajaran yang masih berlangsung. Sesekali dia menatap ke bangku di sebelahnya dan berpikir. Ke mana gadis yang selalu duduk di sebelahnya? Kenapa dia tidak berangkat hari ini? Padahal dia merindukannya. Namun, Alex masih cukup sadar untuk tidak meneror Eiren dengan pertanyaan-pertanyaan yang akan mengganggu gadisnya. Dia akan menanyakannya nanti setelah jam pelajaran selesai atau malah langsung datang ke kosan dan membawakan beberapa camilan. Dia tahu kekasihnya sedang dalam masa hukuman.
Tidak lama kemudian, pelajaran sudah selesai dan dia langsung berkemas. “Jess, kamu tahu ke mana Eiren pergi?” tanya Alex penasaran. Mungkin aja sahabatnya jauh lebih tahu dibandingkan dirinya.
Jessica yang masih memasukan bukunya menghentikan aktivitas dan menatap Alex lekat. “Tidak. Dia bahkan tidak menghubungiku hari ini. Apa dia mencoba menghindar dari hukuman, ya? Tetapi kalau begitu dia juga tetap tidak bisa lari dari masalahnya dengan Mr. Elio?” tebak Jessica denga wajah berpikir.
“Aku rasa dia sakit. Kamu tahu sendiri, kan, kemarin tugasnya gimana? Sudah lama dia tidak menyalin pakai tangan,” jawab Alex yakin.
“Miungkin.”
“Kamu mau ke kosannya? Aku akan ke sana,” ajak Alex denagn wajah amah.
Jessica yang mendengar langsung menggeleng. “Aku ada urusan mendadak. Mungkin lain kali saja,” jawabnya dengan tersenyum ramah.
Alex hanya mengangguk mengerti dan langsung pergi meninggalkan Jessica yang masih sibuk dengan kegiatannya. Namun,sesekali matanya menatap ke arah Alex yang masih berbincang denga teman seangkatan di depan pintu.
“Eiren lagi, Eiren lagi. Bosen sampaian,” gerutu Jessica yang sudah menatap Alex dengan pandangan malas.
_____
“Iya. Kamu bisa urus dia dulu? Aku ada urusan mendadak dan tidak bisa kembali ke rumah,” ucap Elio yang masih duduk di ruang tamu untuk menonton televisi. Padahal biasanya diat tidak pernah memiliki waktu sesantai seperti sekarang, bahkan hanya untuk berbicang tanpa maksa sekali pun.
“Kamu bilang sibuk, tetapi malah terdengar suara televisi dari sini. Apa seorang Adelio Cetta bahkan sampai bisa bersikap sesantai seperti sekarang?” tanya seoang wanita dari seberang dengan nada sinis.
“Aku hanya mencoba menikmati hari, Valen. Jangan terlalu keras mengekangku,” celetuk Elio dengan wajah tapa dosa.
“Aku mengekangmy? Apa itu tidak salah, hah? Kamu bahkan tidak membiarkanku untuk mencari seorang kekasih dan hanya mengurus urusanmu, Elio,” jawab Valen yang sudah merasa kesal di seberang sana.
Elio yang mendengar langsung tertawa kecil dan berkata, “kamu tidak perlu risau, Kakak sepupuku. Aku akan mencarikanmu kekasih yang jelas baik dan kaya.”
Valen berdecih. “Kamu tidak usah mncarikanku karena aku bisa mencari sendiri. Kamu urus sendiri urusanmu dan aku akan mencari pilihanku sendiri. Hidup aja belum bener kok sok-sokan mau nyariin yang bener.”
“Hei, jangan meledek,” tegur Elio dengan nada kurang suka.
“Tersrah apa katamu. Yang terpenting cepat datang karena aku masih memiliki urusan lain. Atau setidaknya kamu menerima rekomdasiku untuk mencari asisten untukku. Aku rasa tidak akan baik jika aku yang merawatnya saja.”
“Kenapa?” tanya Elio dengan kening berkerut.
“Karena aku juga ingin menikmati hidup Tuan Elio. Aku ingin jalan-jalan dan keluar. Aku memiliki pekerjaan lain dan tidak hanya di rumahmu. Jadi, kamu bisa mencarikanku asisten atau setidaknya terima orang yang sudah aku rekomendasikan untukmu.”
“Apa dia bekerja dengan baik?”
“Apa aku pernah merekomendasikan seseorang yang salah kepadamu?” Valen malah balik bertanya dengan suara yang tedengar sinis.
“Baiklah. Ajak orang yang kamu rekomendasikan dan suruh dia merawat dengan benar. Jangan biarkan hal buruk terjadi padanya,” tegas Elio dengan mata menajam.
__ADS_1
“Baiklah,” jawab Valen dan langsung mematikan panggilan.
Elio yang mendengar hanya menghela napas panjang. Ponselnya langsung diletakan di meja dan menatap Eiren yang sejak tadi diam. Dia berpikir bahwa gadis tersebut tengah mengerjakan tugas, tetapi hal lain malah dilihatnya. Matanya menatap wajah damai Eiren yang tengah tertidur dengan begitu tenang. Tanpa terasa bibirnya mulai menyunggingkan senyum dengan lebar hanya dengan melihat wajah teanng Eiren.
“Ternyata dia malah tidur. Apa aku terlalu keras memberikan dia hukuman?” tanya Elio dengan diri sendiir.
Elio menghela napas keras dan bangkit. “Baiklah, aku harus segera membuat makan malam dan baru mengantarnya pulang ke rumah,” ucapnya yang langsung masuk ke dapur dan menyiapkan makanan. Biasa hidup sendiri membuatnya menjadi pribadi mandiri. Bahkan, dia memang selalu masak sendiri.
Masih asyik dengan alat di dapur, ketenanganya dikagetkan dengan seseorang yang tiba-tiba masuk dan mengendus masakannya. Masih untuk tangannya tidak terkena pemggorengan berisi kentang.
“Hei, sejak kapan kamu bangun?” tanya Elio dengan mata menyelidik karena Eiren sudah sampai di dekatnya.
Eiren menegakan tubuh dengan wajah khas bangun tidur. “Sejak bau harum ini masuk ke hidung dan mengganggu tidurku,” jawab Eiren santai.
Elio hanya berdecak dan menarik Eiren ke meja makan. Dia tidak suka jika ada yang mengganggu waktu memasaknya. “Duduklah, aku akan membawakannya ke sini setelah selesai.”
“Siap, Kapten,” jawab Eiren dengan semangat. Dia bahkan berulang kali mengintip guna memastikan kapan makanan Elio akan segera datang. Dia sudah benar-benar lapar karena sejak siang dia belum memakan apa pun. Makanan yang diberkikan Elio tadi sudah ditolak mentah-mentah.
Tidak lama kemudian, Elio datang dengan masakan yang baru saja dibuatnya. Bahkan, masih ada asap yang menguap dari dalam mangkuk. Eiren langsung menatap antusias dan membuat Elio menggeleng beberapa kali. Apa gadis di apartemennya ini selalu kelaparan?, batin Elio heran.
“Silahkan makan,” ucap Elio ketika sudah selesai menghidangkan makanan.
Eiren tidak menjawab dan langsung memakannya dengan lahap. Setiap suapan yang dimasukan ke dalam mulutnya terasa benar-benar meleleh. Perpaduan yang membuat hidupnya terasa begitu bahagai.
Eiren yang mendengar menata Elio dengan pandangan kagum. “Ini benar-benar kamu yang masak?” tanyanya santai karena memang mereka sudah tdiak berada di lingkungan kampus.
“Tentu,” jawab Elio bangga, “kenapa? Enak?”
“Banget,” sahut Eiren antusias, “ini bahkan seperti di restoran mahal. Kenapa kamu tidak menjadi chef saja dari pada dosen?”
“Kenapa memangnya?” tanya Elio dengan kening berkerut.
“Setidaknya kalau kamu menjadi chef, dosen galak di kampus akan berkurang.”
Elio yang mendengar hanya berdecih kesal. Padahal beberapa waktu yang lalu gadis tersebut merasa begitu takut jika dirinya akan berbuat jahat. Namun, tidak butuh waktu lama untuknya bersikap santai dan merasa begitu nyaman. Rasanya dia melihat satu orang dengan banyak kepribadian yang dirasakannya aneh.
“Sudahlah, lanjutkan makanmu. Setelah ini aku akan mengantarmu pulang,” celetuk Elio dan hanya diangguki oleh Eiren. Bahkan, gadis tersebut asyik tanpa memikirkan hal lain.
_____
Alex datang ke kosan Eiren dengan sekotak martabak kesukaan kekasihnya. Dia takut jika terjadi hal yang tidak baik kepada Eiren, mengingat apa hukuman yang diberikan Elio cukup berat. Namun, dia bahkan hanya bisa diam tanpa membantu. Jika dia membantu, dia yakin, Eiren malah akan semakin berada dalam masalah.
Alex masih duduk manis di dalam mobil dan menekan nomor Eiren, guna memberitahukan bahwa dirinya ada di depan kosan dan menyuruhnya untuk keluar. Namun, bukannya Eiren yang berbicara, malah suara operator yang terdengar.
“Apa dia baik-baik saja?” tanyanya dalam hati.
__ADS_1
Alex memutuskan untuk mengakhiri panggilan dan keluar dari mobil. Dia langsung menatap pagar yang masih terkunci. Tangannya menekan bel yang ada di sebelah pintu gerbang dan menunggu siapa yang akan datang membukanya. Tidak lama, seseorang yang sering dilihatnya membuka pintu dan melangkah ke arahnya.
“Ngapain kamu ke sini?” tanya Feli dengan mata menyelidik.
“Aku mencari Rensi. Bisa katakan ada aku di sini?” jawab Alex santai.
“Eiren?” ulang Feli dengan kening berkerut, “dia bahkan tidak ada di kosan. Dia berkuliah sejak pagi dan belum juga pulang.”
“Hah? Tetapi dia tidak masuk kelas dan aku pikir dia sakit,” sahut Alex dengan wajah bingung.
“Kamu sudah mencoba menghubunginya?” tanya Feli penasaran.
“Ponselnya mati.”
Feli langsung diam dan berpikir. Di mana Eiren berada saat ini? Rasanya dia benar-benar khawatir. Padahal Eiren masuk ke kampus pagi-pagi, sampai lupa mengunci pintu kamarnya. Namun, dia juga bingung ke mana perginya anak satu itu.
Masih sibuk dengan pikirannya masing-masing, suara dering ponsel membuat keduanya langsung menatap ke siempunya suara. Alex yang mendaoat panggilan langsung mengambil ponsel dari kantong celana, menatap siapa yang menghubunginya. Mama. Tanpa permisi jemarinya langsung menggeser layar dan mengangkat panggilan.
“Halo, Ma,” sapa Alex sopan, “ada apa?”
“Bisa kamu jemput mama? Mama ada di mall dan ternyata mobil mama rusak” jawab wanita di seberang telfon dengan suara angkuh.
“Tetapi, Ma. Aku masih mencari Eiren,” tolak Alex sopan. Dia masih tidak teanng sebelum mendapatkan titik terang di mana keberadaan kekasihnya.
“Apa dia jauh lebih penting dari mama?” tanya wanita tersebut dengan nada tidak suka.
“Bukan begitu, Ma. Aelx....”
“Baiklah. Kalau kamu mau memilih Eiren dari pada mama, mulai besok kamu tidak akan bertemu degan Mama.”
Alex menghela napas kasar dan akhirnya mengalah. “Baiklah, aku akan menjemput Mama. Jangan pergi sebelum aku datang,” ucapnya lesu.
“Terima kasih sayang.”
Alex yang merasa dongkol langsung mematikan panggilan dan menatap Feli yang sudah memandangnya dengan tatapan tajam.
“Mama kamu?” tanyanya sinis.
“Hmm,” gumam Alex santai, “aku menitipkan ini utnuk Eiren. Katakan aku mencemaskannya,” tambah Alex yang langsung meyerahka kotak martabak tersebut.
Feli hanya diam dan tidak berniat menanggapi sama sekali. Dia hanya diam menatap Alex yang mulai melangkah menjauh dan langsung masuk. Dia memang tidak menyukai hubungan Eiren dengan Alex dan sudah ratusan kali dia mengatakan pendapatnya secara langsung. Tetapi, namanya cinta tetap harus dipertahankan. Itu yang selalu Eiren katakan meski menurutnya itu adalah pemikiran bodoh.
Alex baru akan membuka mobil dan siap pergi saat mobil lain muncul dan berhenti di depan kosan. Dia menghentikan aktivitasnya dan menunggu siapa pemilik dari mobil di hadapannya. Namun, ketika pemiliknya sudah membuka pintu dan turun, matanya semakin membelalak dengan tangan mengepal sempurna.
“Alex,” panggil Eiren yang kaget melihat Alex ada di kosannya
__ADS_1