Wedding With My Lecturer

Wedding With My Lecturer
Bagian 69_Paket Liburan?


__ADS_3

Eiren menghela napas kasar ketika sudah memasuki kamar Elio. Ya, mereka memutuskan untuk tinggal di rumah Elio setelah resepsi pernikahan selesai. Dengan pakaian pernikahan yang masih benar-benar lengkap, Elio berhasil memboyong Eiren untuk kembali ke rumah dan memperkenalkannya sebagai nyonya.


Eiren berusha melepaskan gaun pengantin yang membuatnya merasa tidak nyaman. Tangannya berusaha menggapai resleting di belakangnya, tetapi baru setengah dia sudah merasa kesulitan.


“Ih, susah banget sih,” gerutu Eiren masih mencoba membuka pakaiannya. Dia bakan tidak menyadari kedatangan Elio di kamar tersebut.


Elio mengulum senyum menyadari tingkah istrinya. Dengan perlahan, dia mulai melangkah mendekati Eiren yang masih saja berbicara sendiri. Sampai pada akhirnya, tangannya menggantikan tangan Eiren, membuat wanita tersebut tersentak kaget.


“Elio,” panggil Eiren dengan perasaan bercampur aduk.


Elio hanya bergumam. Tangannya masih menurunkan resleting Eiren dengan perlahan. Jarinya menyentuh sepanjang kulit bagian belakang Eiren, bersamaan dengan resleting yang semakin menurun.


Eiren menghembuskan napas perlahan ketika menyadari perasaan aneh mulai timbul di hatinya. Padahal, ini bukan pertama kalinya untuk Elio melihat tubunya. Namun, tetap saja Eiren merasa malu dengan hal tersebut.


“Kamu tahu, sayang? Kamu terlihat begitu cantik dengan pakaian ini,” bisik Elio tepat di sebelah telinga Eiren.


Eiren merasa meremang seketika dan hanya diam. Mulutnya masih sibuk mencegah desahan yang siap keluar karena ulah Elio. Dalam hati dia tidak henti memberikan sumpah serapahnya karena Elio yang hanya menggodanya.


“Elio,” panggil Eiren merasa sudah gejolaknya mulia menarik.


“Hm. Aku di sini, sayang,” jawab Elio yang menghentikan gerakannya karena resleting yang sudah sampai ujung.


Eiren menghela napas lega ketika menyadari hal tersebut. Namun, baru saja dia hendak melangkah menjauh, Elio sudah lebih dulu menarik Eiren sampai menatapnya. Eiren melihat manik mata penuh gairah yang terpancar dari sorot mata Elio.


“Ada apa, Elio?” tanya Eiren sembari mencoba melepaskan diri.


“Kamu mau ke mana?” Elio balik bertanya dengan suara lemah.


“Aku mau mandi. Jadi, bisa tolong lepaskan?”


Elio yang mendengar malah tersenyum. tangannya masih mendekap Eiren dengan pandangan yang tidak beralih sama sekali. Kakinya mulai melangkah, membuat Eiren perlahan mundur. Sampai pada akhirnya, kakinya membentur pinggir ranjang. Di sana dia melihat senyum kepuasan dari wajah Elio.


“Apa kamu tahu, sayang? Malam ini aku tidak akan membiarkanmu untuk tertidur,” ucap Elio dengan wajah begitu mengoda.


Eiren menelan salivanya kasar. Ini bukan yang pertama untukmu, Eiren. Jadi, jangan bertingkah seperti perawan, batin Eiren mencoba menguatkan.


Elio masih mengulum senyum ketika mendapati istrinya tampak gugup. Dia tahu itu akan terjadi karena biasanya dia yang memaksa untuk berhubungan. Sedangkan sekarang, dia ingin Eiren juga menginginkannya. Dia ingin Eiren menyerahkan semuanya tanpa ada paksaan sama sekali.


Elio mendekatkan bibirnya, mengecup dalam tengkuk Eiren dan meninggalkan bekas merah. Bibirnya tersneyum dengan wajah bangga akan hasil karyanya.


“Eiren, aku tahu ini bukan yang pertama untuk kita. Tetapi, aku janji akan memberikan pengalaman yang tidak terlupakan sama sekali untukmu,” ucap Elio bahkan seperti ancaman.


Eiren membuka matanya pelan dan menatap tepat di manik mata Elio. Di sana dia seperti melihat cinta tak terbendung yang membuatnya berbunga.


“Apa aku boleh meminta jatahku malam ini?” tanya Elio dengan wajah memelas.


Eiren yang mendengar tertawa kecil dan menatap Elio lekat. Jemarinya mengelus pelan wajah suaminya dengan begitu lembut. “Aku mengizinkanmu, Elio,” putus Eiren sembari menghela napas perlahan dan meyakinkan hatinya.


Elio yang mendengar langsung tersenyum senang dan mulai membaringkan Eiren di ranjang pengantinnya. “Aku akan membahagiakanmu, sayang,” ucap Elio dengan suara rendah dan begitu dekat dengan Eiren.

__ADS_1


Eiren hanya mengangguk mengiyakan dan mulai menikmati sentuhan Elio. Sekarang tidak ada hak untuknya menolak permintaan pria tersebut karena hubungan mereka yang memang sudah sah. Sampai pada akhirnya, Elio kembali menyatukan diri dengan Eiren hingga cairan bening mulai membahasi rahim istrinya.


Eiren menghela naps perlahan ketika Elio menatapnya dengan tatapan lembut. Wajahnya sudah penuh dengan peluh karena kegiatan mereka. “Aku mencintaimu, Eiren. Aku harap akan segera mendapatkan keturunan darimu,” ucap Elio dengan penuh harap.


Eiren hanya mengangguk dan mengulum senyum. Saat ini dia pun berharap hal yang sama. Dia ingin ada anak dari hasil cintanya bersama dengan Elio.


Tuhan, semoga akan segera ada buah hati diantara kami berdua, batin Elio dan Eirne secara bersamaan. Sampai keduanya memilih untuk tidur dan saling berpelukan.


_____


“Kamu sudah berbaikan dengan Eiren?” tanya Arda ketika Audi masih sibuk melepas perhiasannya dan meletakan di kotak khusus miliknya.


Audi menghentikan gerakan dan menatap suaminya lembut. Dia mengangguk dan memperlihatkan wajah bahagianya, membuat Arda yang masih melepas kemejanya ikut merasa bahagia.


“Syukurlah kalau memang sudah baikan. Aku harap tidak ada masalah di keluarga ini,” ujar Arda dengan senyum tipis. Dia juga beharap istrinya akan kembali lagi dengannya. Menjadi wanita penurut dan juga istri yang baik.


Audi menghela napas perlahan dan segera bangkit. Kakinya mulai melangkah mendekati Arda yang mash sibuk menyiapkan pakaian untuk tidur. Sampai akhirnya dia sampai di belakang Arda.


“Mas, aku minta maaf,” ucap Audi yang sudah memeluk Arda erat.


Arda tersentak kaget dan mentap ke arah tangan istrinya. Dia masih mencoba mencerna apa yang terjadi dengannya kali ini. Benarkah Audi sudah tidak lagi memikirkan pria di luaran sana?


“Aku selama ini begitu mengabaikanmu. Aku terasa tidak peduli denganmu dan juga Eiren. Keluarga ini hancur karena ulahku dan aku minta maaf untuk itu semua,” tambah Audi dengan wajah penuh penyesalan. Dia bahkan sudah meletakan kepalanya di punggung Arda, menikmati wanita pria tersebut.


Arda yang mendengar mengulum senyum tipis dan mulai melepaskan genggaman tangan istrinya. Tubuhnya berbalik dan menatap Audi dengan tatapan datar, membuat istrinya mulai berpikir macam-macam.


“Bukan kamu yang salah, Audi. Ini adalah kesalahan kita semua. Andai saja dulu aku tidak bertingkah gila, keluarga kita tidak akan menjadi seperti ini. Eiren akan tumbuh di keluarga bahagia. Namun, semua sudah terlambat. Eiren sudah dewasa dan memiliki keluarganya. Dia sudah mendapatkan Elio untuk menemaninya. Jadi, untuk apa kita membahas mengenai masa lalu?”


Arda menghela napas kasar dan beralih menggenggam jemari Audi. Matanya menatap istrinya dengan pandangan penuh kelembutan. “Aku mau, mulai sekarang kita mulai lagi kehidupan baru, Audi. Kita tinggalkan dunia kita di masa lalu. Aku berjanji akan mengerti dan tidak memaksa dirimu. Aku benar-benar tidak mau kehilangan keluarga kecil kita ini, Audi.”


Audi yang mendengar mulai menitikan air mata terharu dan segera memeluk Arda. Dia merasa beruntung karena mendapat suami yang begitu baik menurutnya. Ya, Arda bahkan lebih mengerti dari pria mana pun.


Aku terlalu buta dengan luka hingga melupakan alasanku ada di hubungan ini, Arda. Maafkan aku, batin Audi.


Audi melangkah mendekati Arda dan memeluk suaminya erat. Arda sendiri hanya tersenyum dan kemudian membalas pelukan istrinya. Perasaannya begitu lega ketika melihat perilaku istrinya yang saat ini berubah. Dia juga akan mulai berubah dan memperbaiki semuanya dari awal.


Audi melepaskan pelukannya dan menatap Arda lekat. “Aku mencintaimu,” ucapnya dengan senyum tertahan.


Arda yang mendengar tidak menjawab dan memilh mendekatkan bibirnya dan meraup bibir Audi dengan penuh semangat. Rasanya dia benar-benar merindukan kecupan di bibir istrinya. Malam ini, untuk pertama kali setelah pernikahannya yang hampir gagal, Arda kembali mencari kenikmatan dari istrinya. Wanita yang benar-benar dicintainya.


Aku harap semua akan tetap baik, Audi. Aku begitu mencitaimu, ucap Arda yang menggagalkan mandi malamnya dan memilih berbarig bersama dengan Audi. Tangannya menarik selimut tebal dan menutupi tubuh keduanya sampai di leher.


“Aku mencintaimu, sayang,” ucap Arda yang langsung mengecup pelan kening Audi. Setelahnya, dia langsung memejamkan mata dan mulai terhanyut dalam tidur nyenyaknya.


_____


Eiren menggeliat dalam tidurnya ketika dirasa sebuah tangan kekar memeluknya erat. Matanya mulai terbuka dan menyesuaikan dengan keadaan sekitar. Hal pertama yang dilihatnya adalah Elio yang masih begitu nyenyak dalam tidurnya. Tanpa sadar, senyum tipis muncul di bibir Eiren ketika melihat kekasihnya.


Eiren mengelus pelan wajah Elio, membuat tidur pria-nya menjadi terganggu. Elio segera membuka mata dan menunjukan wajah bantalnya.

__ADS_1


“Selamat pagi, sayang,” sapa Eiren dengan suara lembut.


Elio yang mendengar tertawa kecil dan segera mencium Eiren lembut. Setelahnya, matanya menatap wanita di dalam pelukannya dengan pandangan lekat. “Morning, Darl,” ucap Elio dengan suara serak khas bangun tidur.


“Bisa lepaskan pelukanmu, sayang? Aku harus ke kamar mandi,” pinta Eiren merasa Elio tidak merenggangkan pelukannya sama sekali.


Elio yang mendengar mengabaikan begitu saja dan malah mengeratkan dekapannya. Bibirnya kembali sibuk menciumi pundak Eiren, menikmati bau harum yang keluar dari tubuh istrinya. Elio bahkan tidak menghiraukan rontaan kecil yang diberikan Eiren.


“Elio, lepaskan,” ucap Eiren merasa kesabarannya sudah diambang batas.


Elio hanya diam dan membuat karya di hamparan kulit Eiren, sampai sebuah ketukan menghentikannya. Matanya menatap ke arah pintu yang masih mengganggu kemesraannya pagi ini.


“Siapa?” teriak Elio dengan emosi menggebu.


“Saya, Tuan. Bi Minem,” jawab seorang wanita dari balik pintu.


“Ada apa, Bi?” tanya Elio dengan wajah masih kesal.


“Di bawah sudah ada mama dan papa Tuan. beliau mengatakan ingin betemu dengan Tuan dan Nyonya,” jelas bi Minem membuat Elio membelalak seketika.


Elio segera melepaskan pelukannya dan segera bangkit. Dia menyuruh bi Minem untuk turun dan akan segera menyusul. Eiren yang melihat wajah kesalbsuaminya langsung ikut bangkit dengan tangan yang masih memegang erat selimut di tubuhnya.


“Sayang,” panggil Eiren ketika Elio tengah sibuk mengenakan pakaiannya.


Elio hendak menolehkan kepala ketika dirasa bibirnya dibungkam oleh bibir milik istrinya. Awalnya dia merasa shock ketika terasa lumatan canggung mulai menjelajah rongga mulutnya. Namun, setelahnya dia tersenyum senang karena sifat agresif istrinya pagi ini.


Eiren melepaskan ciumannya dan menghapus sisa air liur di bibir sembari menatap Elio. Pipinya sudah bersemu merah karena menahan malu.


“Aku rasa aku menyukai sifatmu yang seperti ini, sayang. Untuk ciuman pagi ini, terima kasih,” bisik Elio tepat di telinga Eiren.


"Aku tunggu di bawah, sayang. Kita harus menemui mereka segera sebelum pikiran mereka ke mana-mana,” jelas Elio yang langsung bangkit.


Eiren mengerti dan mengangguk patuh. Dia segera mengenakan pakaian yang ada di lemari dan segera keluar, menyusul Elio yang sudah lebih dahulu menemui orang tuanya. Matanya menatap Abian dan Farah yang tengah berbincang hangat dengan suaminya. Sampai pada akhirnya, kakinya berhenti tepat di anak tangga terakhir.


“Nah, itu Eiren,” ujar Farah yang langsung bangkit dan mendatangi Eiren. Eiren hanya diam dengan wajah bingung.


Farah merangkul Eiren dari samping dan menatap ke arah Elio yang juga menatapnya dengan pandangan lekat. “Nah, kalian itu kan baru menikah. Mama dan papa memiliki tiket liburan gratis untuk kalian. Jadi, kalian mau, kan menerimanya?”


Eiren sedikit kaget dan menatap Elio lekat. Dia tidak bisa memutuskan apa pun seorang diri. Pasalnya, kini dia hanya bisa mengikuti apa kemauan Elio.


Elio menghela napas kasar dan menatap mamanya lekat. Dia yakin ada hal yang direncanakan mamanya kali ini, termasuk papanya karena sejak tadi pria tersebut hanya diam dan melempar senyum misterius.


“Mama tidak sedang merencanakan apa pun, Elio. Mama hanya mau menbuat kalian bahagia. Dengan begitu, kalian akan cepat memiliki momongan,” celetuk mamanya dengan wajah bangga.


Eiren yang mendengar merasa malu karena ucapan ibu mertuanya. Matanya menatap Elio yang hanya memutar matanya, merasa jengah dengan tingkah sang mama.


Aku rasa keganasan mereka hanya ada di luar saja, batin Eiren menyadari fakta berbeda mengenai semua artikel yang memuat keluarga Cetta.


_____

__ADS_1


__ADS_2