Wedding With My Lecturer

Wedding With My Lecturer
Bagian 33_Pindah Rumah


__ADS_3

“Aku akan menunggumu di sini,” ucap Elio sembari menatap lurus ke arah Eiren yang sudah keluar dari mobil.


Eiren hanya diam dan segera masuk ke dalam kos-kosan. Setelah perdebatan panjang dengan Elio mengenai di mana dia akan tinggal, Eiren akhirnya memilih mengalah karena pria tersebut tidak juga mau mengalah darinya. Jujur, Eiren sudah lelah mengurusi hidupnya yang terasa salah. Masalah selalu saja datang menghampirinya tanpa rasa lelah.


Eiren membuka gerbang dan segera masuk. Pandangan pertamnya jatuh pada seorang gadis yang sudah menatapnya dengan tajam. Eiren yang melihat hanya menghela napas perlahan dan terus melangkah. Berusaha mengabaikan apa saja yang ada di hadapannya.


“Eiren, jelaskan kepadaku sejak kapan kamu berpacaran dengan Mr. Adelio,” ucap Feli yang sudah menyusul Eiren.


“Feli, aku tidak bisa mengatakan sekarang. Sekarang aku harus berkemas karena ada urusan," ujar Eiren segera membuka pintu kamarnya.


Feli mengabaikan ucapan Eiren dan langsung ikut masuk ke dalam kamar. Matanya menatap sahabatnya yang sudah merapikan pakaian, membuatnya mengerutkan kening heran.


“Hey, kamu mau ke mana?” tanya Feli dengan mata yang menatap bingung.


Eiren hanya diam dan segera memasukan pakaiannya ke dalam koper. Dia juga mulai mengemasi buku dan beberapa barang lain, memasukannya ke dalam koper berbeda. Feli yang merasa bingung masih tetap memperhatikan Eiren yang sejak tadi mengabaikannya.


Feli menghela napas perlahan dan menarik bahu Eiren untuk kembali menatapnya. “Eiren, kamu itu mau ke mana?” tanya Feli dengan suara keras. Dia benar-benar benci ketika diabaikan.


Eiren menghela napas perlahan dan menyingkirkan tangan Feli. “Fel, untuk kali ini, jangan tanyakan apa pun kepadaku. Aku benar-benar sedang tidak mood untuk mengatakan apa pun. Aku hanya ingin sendiri,” kata Eiren dengan wajah malas. Tangannya meletakan barang terakhir dan segera menutup kopernya.


Eiren menatap Feli yang begitu kecewa. Dia tahu yang saat ini tengah dipikirkan oleh sahabatnya. “Ketika aku siap, aku akan menceritakan semuanya sama kamu,” lanjut Eiren membuat Feli menghela napas perlahan.


“Baiklah. Lalu sekarang kamu mau ke mana?” tanya Feli penasaran. Setidaknya dia harus tahu di mana sahabatnya tinggal.


Eiren menghela napas lelah dan menatap Feli malas. “Aku akan tinggal di apartemen Elio,” jawab Eiren dengan wajah menunduk.


Feli yang mendengar menghela napas perlahan dan menepuk pundak Eiren dan memberikan senyum penyemangat. “Aku kan ada di sini jika kamu butuh. Aku tahu apa pun yang kamu lakukan, kamu memiliki alasannya sendiri. Aku percaya padamu, Eiren.”


Eiren yang mendengar tersenyum lega dan memeluk Feli. “Terima kasih. Aku hanya membutuhkan sedikit waktu untuk menjelaskannya kepadamu.”

__ADS_1


“Lalu, dengan siapa kamu akan ke sana?” tanya Feli sembari melepaskan pelukannya.


“Elio sudah menunggu di luar,” balas Eiren disertai senyum tipis.


Feli yang mendengar mengangguk. “Ayo aku antar keluar. Sebelum yang lain datang.”


Inilah alasan Eiren berkemas dengan cepat. Dia tahu, seisi kosan akan membicarakannya. Eiren segera melangkah dan menutup pintu kosan, memberikan kuncinya kepada Feli. Setelah itu, dia segera menarik kopernya dan keluar.


Di luar, Elio sudah menunggu. Ketika melihat Feli dan Eiren datang, dia segera membuka pintu dan membantu. Memasukan koper ke dalam mobil dan segere melaju. Feli hanya menatap dan masih mengumbar senyum sampai mobil Elio menghilang dari pandangannya.


Feli menghela napas perlahan dan mendesah pelan. “Aku harap kamu baik-baik saja, Eiren.”


_____


“Kamu beneran bawa dua koper?” tanya Elio dengan mata menatap Eiren tajam.


“Aku tidak menyangka kamu sesemangat itu untuk tinggal denganku,” balas Elio dengan bibir mengulum senyum.


Eiren yang mendengar melirik ke arah Elio dan berdecak kesal. “Kamu pikir aku membawa semuana karena aku semangat? Aku bahkan tidak mau tinggal denganmu, Elio.”


“Terus, kenapa tetap tinggal kalau gak mau?” tanya Elio tanpa rasa bersalah.


Eiren mendesah kesal dan menatap Elio dengan tatapan sinis. “Jangan membuatku seolah hidup dengan banyak pilihan, Elio. Aku bahkan tidak bisa menentukan ke mana aku hidup dan apa yang aku inginkan,” sindir Eiren dengan wajah dongkol, dia benar-benar ingin mengutuk pria yang hanya tertawa kecil di sebelahnya.


Eiren mengalihkan pandangan menatap ke arah pemandangan yang tersaji sepanjang jalan. Berusaha menenangkan hatinya yang masih bergejolak. Rasanya dia masih belum percaya dengan hari yang baru saja dilaluinya. Begitu banyak masalah yang terjadi dalam satu hari dan itu membuatnya merasa lelah. Eiren akhirnya memilih untuk memejamkan mata, berharap masalahnya akan berlalu dengan cepat.


Elio yang melihat hanya menatap datar dan kembali fokus. Jadilah penurut dan semua akan menjadi baik-baik saja Eiren, batin Elio.


_____

__ADS_1


Rega menghela napas perlahan dan keluar dari ruangan yang menjadi tempatnya bekerja. Dia memang selalu berada di ruangan yang sama untuk memantau seseorang yang sudah menjadi tanggung jawabnya. Menggerakan tubuh yang mulai terasa kaku. Kakinya mulai melangkah menyusuri lorong menuju ke arah tangga.


“Ke mana Elio? Sampai sekarang belum pulang. Dia bilang cuma mau menyelesaikan urusannya dengan paman Abian sebentar,” gumam Rega dan mengeluarkan ponselnya dari kantung celana bahan yang dipakainya.


Rega baru saja akan menghubungi Elio ketika telinganya mendengar suara decit mobil yang berhenti di depan rumah Elio. “Itu mungkin Elio,” ucap Rega dan segera menuruni anak tangga menuju ke asal suara.


Rega baru akan menyambut kedatangan Elio, tetapi langkahnya terhenti ketika melihat Elio yang tidak datang seorang diri. Adiknya membawa seorang wanita yang ada dalam gendongannya.


Manik matanya masih mengawasi Elio yang melangkah dengan santai, terasa bahwa Eiren tidak memiliki beban sama sekali.


“Elio, siapa dia?” tanya Rega dengan suara tegas dan mata yang mengamati tajam. Matanya seakan tidak berkedip dan menatap Elio dengan begitu lekat.


“Bukan urusanmu,” desis Elio dengan wajah kesal. Rega selalu saja mencampuri urusannya.


“Akan menjadi urusanku ketika kamu membawanya ke rumah ini, Elio,” tegas Rega kesal karena Elio selalu saja bertingkah seenaknya.


Elio yang hendak mengabaikan Rega berhenti dan menatap anak dari kakak papanya tajam. “Itu tetap tidak akan menjadi masalah karena ini adalah rumahku. Kamu harus ingat itu, Rega.”


Rega yang mendengar mendengus kesal dan menghentakan kaki berulang. Elio selalu saja berhasil membuat emosinya terasa ingin meledak. Dia rindu sikap manja dan manis Elio seperti dulu.


Rega baru akan mengatakan sesuatu ketika matanya menatap anak buah Elio yang membawa dua koper besar. Keningnya berkerut bingung dan menatap Elio dengan tatapan tajam.


“Ini milik siapa?” tanya Rega dengan wajah bingung.


“Oh iya, mulai sekarang Eiren akan tinggal di rumah ini karena sebentar lagi aku akan menikah dengannya,” jelas Elio yang langsung melangkah menaiki tangga menuju kamarnya.


“Apa?” ucap Rega dengan wajah terkejut. Mulutnya terbuka setengah dan memperhatikan Elio yang sudah masuk ke kamar di sebelah kamar lelaki tersebut.


_____

__ADS_1


__ADS_2