
“Dinda, Dinda, Dinda aja terus. Ngeselin. Di peluk diam saja,” gerutu Eiren sembari melangkah menjauh. Wajahnya ditekuk dengan bibir memberengut kesal. Rasanya dia benar-benar ingin menghajar Elio saat itu juga.
Eiren menghela napas perlahan ketika dirasa napasnya terasa sesak. Langkah kakinya terhenti sejenak dengan tangan mengelus dadanya. Sudah beberapa hari dia merasa sesak setiap kali berjalan dengan cepat.
“Apa berat badanku naik lagi, ya,” gumam Eiren sembari mengembuskan napas keras.
Eiren kembali melangkah. Namun, kali ini dengan langkah perlahan. Dia masih merasa sesak karena baru saja berlari menjauh dari Elio dan Dinda. Mengingat keduanya berpelukan membuat emosi Eiren kembali naik. Tangannya bahkan sudah mengepal dan siap melayangkan tinjunya kepada siapa pun.
Eiren keluar dari bandara dan segera mencari taksi. Baru saja dia melambaikan tangan ke salah satu taksi yang tengah melaju pelan, sebuah tangan menghentikan gerakannya. Tangannya digenggam erat oleh Elio yang baru saja datang dengan tatapan tajam.
“Kamu ma ke mana?” tanya Elio dengan suara datar. Matanya menunjukan amarah yang terparcar jelas.
Eiren yang tidak takut sama sekali segera menghempaskan keras, membuat genggaman tangan Elio langsung terlepas. “Emangnya kamu masih peduli denganku? Aku mau ke mana itu bukan urusanmu,” jawab Eiren dengan wajah sinis.
“Eiren, aku itu suamimu. Kamu datang bersamaku. Jadi, aku harap kamu pulang bersamaku juga,” kata Elio tegas. Dia baru akan meraih pergelangan tangan Eiren ketika wanita yang langsung mundur menjauh darinya. Membuat Elio mengerutkan kening bingung.
“Aku tidak mau pulang bersama denganmu,” desis Eiren dengan wajah sinis.
Elio mengembuskan napas kasar dan menatap Eiren dengan pandangan berbeda. Dia hanya memberikan kelembutan sembari menatap ke arah Eiren memelas, berharap istrinya kana segera luluh. Namun, harapannya tinggal harapan. Eiren memilih mengabaikannya dan memilih membuka pintu taksi yang sejak tadi berhenti di sebelahnya.
“Sayang,” panggil Elio sembari mencegah Eiren yang siap masuk.
Eiren segera menghempaskan lagi genggaman tersebut dan menatap dengan wajah kesal. “Aku tidak mau pulang bersamamu, Elio. Aku mau sendiri dulu, kamu mengerti? Sana pergi bersama Dinda. Iya, aku tahu aku cuma ganggu semua hubungan dalam hidup kamu!” teriak Eiren membuat semua yang tengah melintas berhenti seketika.
Elio menghela napas lelah dan menatap Eiren tajam. Dia tahu, banyak pasang mata yang menyaksikannya kali ini. Eiren sendiri memilih untuk mengabaikannya dan masuk ke dalam taksi. Namun, ketika dia hendak menutupnya, Elio ikut masuk dan duduk di dekatnya. Membuat kening Eiren mengerut menahan kesal.
“Jalan, Pak,” ucap Elio datar.
Eiren hanya diam dengan membelakangi Elio. Hatinya benar-benar masih dongkol setengah mati setiap mengingat Elio bersama Dinda berpelukan di sebelahnya. Dasar gak peka, batin Eiren kesal dengan sikap Elio.
Sedangkan di tempat lain, Saka dan Dinda menikmati drama yang baru saja disuguhkan di depannya. Sampai helaan keras terdengar dari arah Dinda, membuat Saka menatap dengan pandangan bingung.
“Aku yakin istri Elio itu sedang mengandung,” celetuk Dinda dengan penuh keyakinan.
Saka hanya menatap tidak percaya. Dari mana Dinda bisa tahu? “Dasar sok tahu,” sahut Saka santai.
Dinda menatap ke arah Saka dengan tatapan tidak terima. “Jangan meremehkan aku, Saka. Perlu kamu ingat, sekarang aku adalah dokter kandungan.”
“Apa?” Saka menganga melihat sahabatnya yang sudah tersenyum bangga.
Dinda hanya mengabaikan tatapan Saka dan kembali ke mobil. Dia harus segera ke rumah Elio utnuk menjelaskan kesalahpahaman Eiren. Dia yakin, istri sahabatanya sekarang tengah marah kepada Elio.
Biar tahu rasa Elio, batin Dinda dengan senyum setan.
_____
__ADS_1
“Kamu ada hubungan apa dengan pak Saka?” tanya Venda membuat Feli yang tengah memakan bakso tersedak.
Venda membelalak kaget dan segera memberikan gelas berisi air mineral. Dengan cepat Feli meraihnya dan menengguk hingga habis. Rasanya begitu panas karena kuah yang sudah tercampur dengan sambal.
“Kamu baik-baik saja?” tanya Venda dengan wajah cemas.
Feli menegakan badannya dan menarik napas dalam. Setelah dirasa lega, pandangannya beralih menatap ke arah Venda yang masih ada di dekatnya. Dengan cepat dia memukul pelan bahu pria yang sudah menjadi temannya.
“Kamu itu kalau ngomong aneh-aneh. Aku ya gak ada hubungan apa pun dengan Venda,” jawab Feli dengan wajah kesal.
“Kamu yakin?” tanya Venda dengan pandangan menyelidik dan mendapat anggukan mantap dari Feli.
“Lalu, saat aku melihatmu berciuman dengan pak Venda di dekat pintu masuk kamar mandi, itu artinya apa?” imbuh Venda membuat Feli membelakan mata.
Venda mengulum senyum di bibirnya dengan begitu misterius. Dia masih ingat saat dia hendak ke toilet pria. Namun, saat dia masih berada di balik tembok tidak jauh dari pintu masuk, di sana dia melihat Feli yang tengah berciuman dengan Saka. Membuatnya memilih untuk mengalihkan langkah menjauh.
Venda kembali menatap Feli yang tengah membeku di tempatnya. Dia tahu, itu pasti membuat gadis tersebut merasa shock. Dengan perlahan, dia mulai meraih jemari Feli dan menatap sahabatnya dengan tatapan menenangkan.
“Tenang saja, aku tidak akan mengatakan kepada siapa pun mengenai hal itu, Feli. Aku hanya bertanya saja denganmu. Apa ada yang kamu sembunyikan selama ini?”
Feli menghela napas perlahan dan menarik jemarinya dari Venda. Dia merasa ini adalah saatnya dia mulai membagi masalahnya. Namun, baru saja dia membuka mulut, sebuah tarikan keras membuat Feli menatap ke belakang. Matanya menatap lekat gadis yang ada di belakangnya dengan kening berkerut.
“Jessi,” ucap Feli dengan mata membelalak. Pasalnya, di sana sudah ada Jessi dengan wajah penuh amarah.
“Jadi ini yang membuat kamu tidak pernah mau menemaniku, Venda? Jadi karena wanita murahan ini kamu melupakan sahabat yang selalu ada untuk kamu selama ini!” bentak Jessi dengan rahang mengeras. Matanya menatap Venda yang masih terdiam dengan wajah terkejut. Seisi cafe menatap ke arah mereka bertiga dengan pandangan penuh antusias.
Feli hanya diam dengan pandangan menatap ke arah Venda dan Jessi pergi. Wanita murahan. Feli hanya tersenyum kecil mendengar sebutan yang Jessi lontarkan untuknya. Setelah itu, dia memilih untuk pergi dari cafe tersebut dengan langkah pelan.
“Kamu memang murahan, Feli,” ujar Feli tidak mau menyangkal ucapan Jessi.
_____
Eiren segera melangkah cepat setelah taksi yang ditumpanginya berhenti di depan rumah. Dia tidak menghiraukan Elio yang ada di belakangnya. Dengan wajah kesal, dia segera masuk ke dalam rumah. Namun, ketika baru masuk ke dalam ruang tamu, matanya melihat sosok yan sudah membuatnya merasa begitu marah setelah masa honeymoon-nya.
Dinda melemparkan senyum tipis ke arah Eiren berada. “Hai, Eiren. Apa kabar?” sapa Dinda dengan suara ramah.
Eiren hanya diam ketika melihat wanita yang dibencinya ada di hadapannya. Namun, ketika dia hendak melangkah, ada genggaman erat di pergelangan tangannya. Eiren menatap ke belakang dan melihat Elio yang juga sedang menatap datar.
“Jangan kebiasaan kabur, Eiren. Kita selesaikan kesalahpahaman ini semua,” geram Elio mulai tidak sabar dengan sifat kekanak-kanakan Eiren.
Eiren masih memberontak ketika Elio menariknya untuk duduk di bangku bersama dengan Dinda. Elio segera mendudukan Eiren dengan wajah dingin yang masih menunjukan ketegasan di dalamnya.
“Elio,” tegur Dinda karena merasa Elio sudah keterlaluan. Tiak seharusnya pria tersebut bersikap dingin dengan sikap istrinya.
Elio yang mendengar terasa tersadar dari amarahnya dan menguap seketika. Matanya menatap Eiren yang sudah memandangnya tanpa minat. Sampai kapan aku harus mengertimu, sayang, batin Elio merasa lelah.
__ADS_1
Dinda berdehem beberapa kali, membuat suasana suram di ruangan tersebut menjadi buyar. Bibirnya masih mengulum senyum menatap ke arah Eiren lekat. “Eiren, kamu tidak perlu marah dengan Elio. Aku dan dia tidak memiliki hubungan apa pun. Aku hanya menganggapnya teman dan maaf untuk refleksku yang terlalu berlebihan. Aku hanya rindu dengannya, makanya aku memeluknya,” jelas Dinda dengan wajah tenang.
“Aku harap kamu tidak akan marah dengan hal tersebut. Aku sudah lama sekali tidak melihatnya. Selain itu, tujuanku datang kemari untuk mengundang kalian hadir ke pesta pernikahanku yang akan dilakukan dua bulan lagi,” lanjut Dinda sembari mengulurkan undangan yang sejak tadi digenggamnya.
Eiren yang berada di dekat Dinda menerimanya perlahan dan membukanya. Matanya mengamati setiap tulisan yang mulai tersusun dan menatap Dinda dengan perasaan bersalah.
“Maaf,” cicit Eiren dengan wajah menunduk malu.
Dinda hanya mengangguk dan tersenyum. Dia kembali teringat dengan sikap Eiren dan segera mengambil sebuah benda pipih yang masih tersegel. Matanya menatap Eiren yan masih menatapnya dengan penuh tanya.
“Eiren, entah mengapa aku merasa saat ini kamu tengah mengandung. Jadi, boleh kamu coba tes menggunakan alat tes kehamilan ini?” ucap Dinda dengan penuh hati-hati, “aku hanya penasaran dengan hal itu.”
Eiren awalnya merasa ragu, tetapi melihat wajah Elio yang terkesan begitu antusias, dia menjadi luluh kembali. Dia tidak mau membuat Elio kembali merasakan sakit karena sikap egoisnya. Dengan perlahan, Eiren menerima benda tersebut dan berpamitan untuk masuk ke dalam kamar mandi tidak jauh dari ruang tamu.
Aku harap benar kamu hamil, sayang, batin Elio penuh permohonan. Matanya menatap pintu kamar mandi yang sudah tertutup.
_____
Eiren menatap dua garis yang tergambar di dalam alat pipih tersebut. Matanya menatap lurus dengan bibir tersenyum tipis. Ada hal yang tiba-tiba membuncah di hatinya. Dia begitu bahagia dengan kabar kehamilannya kali ini.
“Ini beneran, kan?” tanya Eiren merasa tidak percaya. Jemarinya mengelus pelan perutnya yang masih rata. Rasanya dia benar-benar bahagia dengan hal ini.
"Eiren, kamu sudah selesai?” tegur Dinda yang ada di luar.
Eiren tersentak ketika mendengar ketukan yang berulang kali di pintu kamar mandi. Perlahan, dia mulai menghela napas keras dan segera melangkah menuju ke arah pintu tersebut. Jemarinya mulai membuka knop pintu dan melihat Elio beserta Dinda menunggunya di depan.
“Bagaimana hasilnya?” tanya Dinda dengan antusias.
Eiren menundukan wajah dan tersenyum tipis. Elio seakan tahu mengenai ekpresi istrinya. Dia segera melangkah dan memeluk Eiren erat.
“Sudah, jangan dipikirkan,” ucap Elio dengan lembut.
Eiren hanya tersenyum kecil. Dia tahu, saat ini Elio tengah menekan rasa kecewanya. Namun, Eiren perlahan melepaskan pelukannya dan mentap Elio dengan pandangan lekat. Jemarinya yang menggenggam alat tes kehamilan mulai dinaikan dan berhenti tepat di depan Elio, membuat suaminya mengerutkan kening dalam. Matanya menatap alat tersebut dengan mata membelalak.
"Kamu hamil?” tanya Elio sembari meraih benda pipih tersebut.
Eiren yang mendengar langsung mengangguk pelan. Elio menghela napas lega dan memeluk Eiren erat. Sangat erat sampai Eiren merasa sesak, tetapi tidak berani memprotes. Eiren takut itu membuat Elio terganggung.
“Terima kasih, sayang. Terima kasih,” ucap Elio dengan wajah penuh rasa syukur.
Eiren hanya diam dan membalas pelukan Elio. Dia mersa begitu bahagia dengan hal ini. Matanya menatap Dinda yang juga ada di belakangnya dan tersenyum sebagai tanda ucapan terima kasih. Dinda hanya mengangguk dan menatap keduanya dengan bahagia.
_____
Haloo para kesayangan Kim, masih ingat dengan Jessi? Ingat dong, ingat dong. Hehe. Ingetnya jangan Kim doang dongs. Eh, PD gile. hahaha
__ADS_1
Okelah. Selamat membaca sayang-sayangkuh. Jangan lupa tinggalkan like dan comment, plus tambah ke daftar favorit kalian oke. Jangan lupa juga baca cerita Kim berjudul "Relationship Goals", ya. Jangan lupa tinggalkan like, comment dan tambah ke daftar favorit. See you next chapter baby. 😘😘😘
_____