
Suara dentum musik keras memenuhi ruangan yang mulai menjadi lautan manusia. Banyak yang berlalu-lalang mengingat acara besar kampus yang sudah mulai dibuka, khusus mahasiswa dan mahasiswi. Semua berseru senang ketika pria dengan pakaian resmi di depan menyapa dan mulai menyanyikan lagu andalannya. Band indie milik universitasnya yang lumayan terkenal.
Eiren melangkah masuk ke dalam dengan pandangan meneliti. Menatap setiap tamu yang datang dan tersenyum menyapa. Pakaian berwarna peach dengan rambut diurai membuatnya tampak lebih anggun dari biasanya. Wajahnya hanya dibuluti dengan make up tipis dan menambahkan lipstik yang juga senada.
“Woow. Aku gak menyangka kalau pesta kampus kali ini jauh lebih meriah dari tahun lalu,” ucap Feli dengan semangat menggebu. Matanya bahkan sudah menatap takjub pemandangan di depannya.
Eiren hanya diam dan mengumbar senyum tipis. Dia menatap Feli yang begitu antusias dengan pesta kali ini. Padahal, biasanya gadis yang berdiri di dekatnya tidak seantusias kali ini.
“Eiren, kali ini kamu harus benar-benar melupakan masalahmu. Kamu lupakan mengenai Alex dan nikmati kebahagiaan malam ini,” seru Feli dan langsung menarik Eiren agar semakin masuk ke dalam.
Eiren hanya menurut dan tersenyum. Benar kata Feli, dia harus menikmati malamnya dengan penuh kegembiraan. Tidak ada waktu lain untuk terus memikirkan Alex yang entah sedang ada di mana. Baru saja berpikir demikian, matanya menatap pria yang sama di tempat paling ujung bersama dengan gadis yang juga dikenalnya.
“Alex. Dia tampak menikmati bersama Dora,” batin Eiren merasa kesal.
“Eiren, kamu mau ini?” tanya Feli sembari mengulurkan cake ke depan Eiren.
Eiren langsung mengabaikan pandangannya dan menatap Feli dengan wajah yang kembali ceria. “Aku rasa kamu terlalu bersemangat, Fel.”
“Tentu saja. Malam ini adalah malam yang harus dinikmati,” celetuk Feli sembari memakan cake di hadapannya. Setelah itu, temannya yang lain melambaikan tangan dari kejauhan dan itu membuat Feli membalas dengan semangat.
Feli menatap Eiren yang hanya diam dan mendengarkan musik yang mulai mengalun. “Ei, aku ke sana dulu ya. Ada anak jurusanku,” ucapnya dan langsung pergi.
Eiren yang melihat hanya mengangguk dan tersenyum. “Dasar,” gumamnya lirih.
_____
“Lepas, Dora,” keluh Alex yang merasa risih karena wanita di sebelahnya sejak tadi terus menggenggam tangannya dan tidak berniat melepaskan sama sekali.
__ADS_1
Dora yang dituju malah menatap Alex dengan pandangan santai dan semakin mengeratkan pelukan. “Kenapa memangnya? Aku jauh lebih suka begini. Setidaknya aku gak akan kehilangan kamu.”
“Memangnya aku bisa pergi ke mana, Dora? Kamu aja selalu nempel kayak perangko,” celetuk Alex sembari menatap sekitar, berharap akan menemukan Eiren meski hanya menatap dari kejauhan.
Dora menghela napas dan menatap Alex dengan pandangan tajam. “Alex, kamu itu kayak gak suka ya pergi sama aku,” ujar Dora merasa kesal.
Alex yang mendengar menghembuskan napas keras. Dia menatap Dora dengan pandangan kesal yang tidak ditutupi sama sekali. “Kamu itu udah tahu, tetapi kenapa masih ikut?”
“Biar kamu terbiasa denganku,” ujarnya dengan wajah bangga.
Alex hanya berdecih kesal mendengar ucapan Dora. Kenapa wanita di sebelahnya malah semakin membuat muak? Rasanya dia ingin melempatkan Dora sejauh yang dia bisa. Namun, semua hanya imajinasi saja karena nyatanya, Dora sudah berdiri di sebelahnya dan semakin memeluk erat.
“Kapan kamu sadar kalau sampai kapan pun aku tidak akan bisa bersama denganmu,” gumamnya dalam hati.
_____
Matanya menatap sekitar dan mencari Eiren, temannya. Namun, matanya tidak menemukan gadis tersebut sampai pada akhirnya, langkahnya semakin masuk dan menemukan dua sejoli yang tengah bergandengan tangan dengan mesra. Senyumnya terukir dengan manis dan langsung mendekati.
“Kalau kali ini ada nominasi king and queen, aku rasa kalian yang akan memenangkannya,” ucap Jessi dengan pandangan ramah, membuat dua orang yang ada di hadapannya menatap dengan wajah berbeda.
“Hai, apa kabar, Alex? Dora?” sapa Jessi dengan senyum ramah.
“Jessi, kamu ngapain ke sini?” tanya Alex tidak suka jika Jessi mulai mendekatinya ketika dia sedang bersama Dora.
“Baik, Alex. Jadi, malam ini kamu mengajak Dora dan bukan Eirem?” tanyanya dengan senyum tanpa dosa, “aku rasa, benar yang dikatakan Dora. Kalian sudah berakhir.”
“Aku memang selalu mengatakan yang sebenarnya,” celetuk Dora dengan pandangan lekat.
__ADS_1
Jessi tertawa kecil dan menatap Dora dengan pandangan lembut. “Aku selalu percaya denganmu, Dora. Aku rasa sekarang aku harus meninggalkan kalian berdua. Aku tidak mau mengganggu sepasang kekasih yang sedang bersama.”
“Jangan bicara omong kosong, Jessi,” desis Alex dengan wajah tidak suka.
Jessi hanya mengangkat bahu ringan dan mulai undur diri dengan tangan yang melambai. Langkahnya kembali menyusuri acara tersebut dan meneliti semua yang datang. Sampai matanya menatap gadis yang sejak tadi dicari tengah mengobrol dengan beberapa personil band kampusnya.
Jessi menghela napas keras dan menatap sinis ke arah Eiren berdiri saat ini. Dengan cepat dia menuju ke meja tempat meletakan minuman dan mengambil salah satunya. Segera, dia mendatangi Eiren yang masih berbincang akrab.
“Permisi,” sapa Jessi membuat keempatnya langsung berbalik menatap ke asal suara. “Malam kakak-kakak. Maaf sebelumnya, aku mau bertemu dengan sahabatku. Jadi, bisa biarkan kami berdua?”
Mendengar ucapan Jessi, mereka semua mulai pergi meski dengan suara yang kesal. Eiren juga ikut meminta maaf karena ulah sahabatnya dan memandang Jessi dengan wajah tidak suka.
“Kamu itu ngapain sih, Jess. Padahal bicara bareng-bareng malah seru,” protes Eiren yang sudah ada di balkon aula.
“Aku hanya ingin berbincang denganmu, Eiren,” ucapnya dan mengacungkan segelas jus jeruk yang dibawanya dan langsung diterima.
Jessi menatap Eiren yang hanya diam dan tersenyum riang. “Aku tadi melihat Alex bersama dengan Dora. Mereka tampak serasi dan bahagia. Jadi, kamu benar-benar sudah berakhir ya, Ei?” ucap Jessi pelan.
Eiren yang mendengar hanya diam dengan tangan meremas pelan gelas yang ada di tangannya. Matanya tampak menunjukan emosi yang menggebu. Tanpa sadar, dia segera meneguk habis minuman yang dibawakan Jessi dan langsung disambut dengan senyuman sinis.
“Ah, aku rasa kamu sedang tidak enak hati, Eiren. Jadi, aku akan biarkan kamu sendiri. Aku akan menyapa yang lain,” ucap Jessi disertai tepukan ringan di pundak Eiren.
Jessi melangkah dan berhenti ketika sudah jauh dari Eiren. Matanya menatap dengan senyum sinis yang sudah ditunjukan. “Kita lihat saja, Eiren. Apa yang akan terjadi dengan gadis yang selalu diagungkan oleh mereka,” desis Jessi dengan senyum licik.
Sedangkan Eiren, dia hanya diam dan meresapi semua kekesalannya. Sampai sebuah gelenyar aneh muncul dalam tubuhnya. “Shit. Kenapa ini?” gerutunya dan segera menjauh dari kerumunan.
_____
__ADS_1