
Eiren masih memasukan pakaian ke dalam lemari ketika sebuah tangan mendekapnya erat, hal yang sudah terasa wajar untuk Eiren dapatkan. Pasalnya, Elio selalu saja bertingkah manja. Bahkan, Eiren sampai lupa dengan sifat kasar, keras kepala seorang Elio yang dulu pernah ditemuinya.
“Mas,” ucap Eiren dengan nada memprotes tindakan suaminya.
Elio yang mendengar protes hanya diam. Dia masih asyik memberikan jilatan ringan di leher sang istri. Hal yang selalu saja mampu membuat Eiren terus saja terbuai. Elio menatap ke arah Eiren yang sudah memejankan mata dan langsung tersenyum senang. Perlahan, dia mulai menarik Eiren ke arah ranjang, menidurkannya pelan.
“Mas, kamu mau apa?” tanya Eiren dengan pandangan lekat.
“Apa kamu tidak mau memiliki anak lagi, sayang?” Elio malah balik bertaya dengan nada manja. Sudah satu minggu dia tidak mendapatkan jatah karena harus tugas ke luar kota. Hal yang selalu saja dibenci karena sejak Eiren memiliki putra, istrinya tidak pernah mau menemani tugas ke luar kota.
Kasihan El kalau diajak ke luar kota terus, Mas. Nanti sekolahnya terganggu.
Selalu hal yang sama yang dijadikan alasan. Namun, Elio mengerti apa yang dipikirkan istrinya. Meninggalkan sang anak dengan orang lain juga bukan hal yang benar. Elio hanya memaklumi apa yang dimau istrinya. Menjadi istri dan ibu bukanlah hal yang mudah.
“Mas,” tegur Eiren yang sudah berniat bangkit. Tetapi dihentikan oleh Elio yang ada di atasnya.
“Mas, aku mau turun. Ini masih siang dan Elard belum tidur,” protes Eiren takut jika nantinya perbuatan keduanya diketahui sang anak.
“Aku sudah menyuruh mama mengajak Elard pergi, sayang. Jadi, kamu tenang saja, oke. Tidak akan ada yang menganggu kita hari ini,” jawab Elio dengan senyum kemenangan.
“Apa? Mama menjemput El? Kapan?” tanya Eiren dengan wajah terkejut. Pasalnya, dia tidak mengetahui kedatangan mama mertuanya.
“Beberapa menit yang lalu. Aku yang menghubunginya.”
“Kenapa?”
Elio yang mendengar menarik napas dalam dan mengembuskannya perlahan. Matanya menatap ke arah Eiren yang hanya dia di bawahnya. “Karena aku mau El memiliki adik, sayang. Aku mau kamu mengandung lagi. Bahkan Feli sudah mengadung anak mereka yang kedua,” jelas Elio dengan penuh permohonan.
Eiren yang mendengar mengulas senyum tipis dan menatap Elio lekat. Rasanya dia tahu apa yang apa yang menjadi alasan sikap Elio saat ini. Membuat ingatannya kembali mengulang pertemuan yang tidak disengaja siang ini.
__ADS_1
Flash back
Eiren melangkah menyusuri lapangan basket di sekolah El menuju ke arah mobil. Acara pertemuan dan juga pentas seni di sekolah anaknya sudah selesai tiga puluh menit yag lalu. Namun, dia baru saja keluar karena tingkah anaknya yang terlalu banyak penggemar.
“Sayang, setelah ini mau ke mana?” tanya Elio yang sudah membuka pintu mobil untuk Eiren. Bibirnya masih menunjukan senyum tipis dan mengamati wajah Eiren.
“Aku rasa aku harus ke supermarket untuk mencari bahan makanan yang sudah hampir habis, Mas,” jawab Eiren yang sudah siap masuk.
Eiren baru akan masuk ketika sebuah suara membuat langkahnya terhenti. Matanya menatap ke asal suara dan tersenyum lebar. “Feli,” ujar Eiren dengan wajah tidak percaya. Matanya mengamati perut membuncit Feli.
“Kamu hamil?” Eiren memandang Feli dengan perasaan terkejut. Pasalnya, tujuh bulan yang lalu dia bersama dengan Feli yang belum mengandung anak keduanya.
Feli mengangguk. “Aku sudah hamil empat bilan ini, Eiren,” jawab Feli sembari menggandeng Queen yang ada di dekatnya.
“Selamat,” ucap Eiren yang langsung mendekap Feli erat. Rasanya dia juga ikut bahagia mendengar kabar kehamilannya sahabatnya. Sampai pelukannya terlepas.
Elio yang melihat hanya diam dan tidak berkomentar apa pun. Pikirannya masih berkutat soal kehamilan. Apa Eiren mau jika dia mengandung lagi? Tetapi aku takut ia merasa sakit, batin Elio bergejolak.
“Mungkin sekarang kamu juga harus mulai merencakannya, Eiren. Aku yakin, Elio juga pasti mau anak kedua darimu,” ucap Feli dan menatap Elio yang hanya diam tidak memperhatikan.
Elio hanya menatap keduanya dengan pandangan bingung. Dia tidak mengerti dengan apa yang menjadi topik keduanya.
“Baiklah, Eiren. Aku rasa Elio masih kurang fokus dengan itu,” putus Feli dengan pandangan mengejek. “Aku rasa kau harus segera kembali. Saka sudah menunggu di gerbang sekolah.”
Eiren mengangguk. Setelah memberikan salam perpisaan, Eiren menatap ke arah Feli dan Queen yan sudah menjauh. Sampai matanya menatap Elio yang ada di dekatnya. Apa benar Mas Elio juga mau seorang anak lagi, batin Eiren.
“Ayo ke supermarket,” ajak Elio.
Eiren yang mendengar menganguk dan langsung masuk. Sampai pintu di sebelahnya tertutup. Dengan cepat Elio melangkah ke sisi lain dan segera masuk, menjalankan mobil meninggalkan sekolah anaknya.
Flashback selesai
__ADS_1
“Sayang,” rengek Elio dengan wajah manja, membuat lamunan Eiren buyar seketika.
Eiren menatap ke arah Elio lekat. Ada tawa yang siap meledak melihat tingkah manja suaminya. Hal yang tidak pernah dibayangkan sama sekali. Sampai sebuah elusan ringan terasa membelai wajahnya.
“Sayang, El sudah tujuh tahun dan dia sudah sepantasnya memiliki adik. Aku rasa dia juga mau. Aku akan membant....”
Elio menghentikan ucapannya ketika tangan Eiren membekap mulutnya pelan, membuat matanya menatap ke arah Eiren dengan pandangan lekat.
“Mas, jangan bayak bicara. Aku mau,” jawab Eiren membuat Elio langsung diam.
“Kamu benar mau?”
Eiren mengangguk pelan dan mengulas senyum. Tangannya mulai mengalung indah di leher Elio yang langsung mendekatkan bibir. Meraup rasa manis yang selalu memabukan untuknya.
Eiren hanya diam ketika tangan nakal Elio mulai bekerja. Melepas satu per satu pakaiannya yang dibuang ke sembarang arah. Menikmati setiap rasa yang sudah diberikan suaminya. Sampai erangan keras terdengar ketika Elio sibuk mempermainkan seluruh titik sensitifnya.
Elio melepaskan kulumannya dan menatap ke arah Eiren dengan mata sayu. Tagannya masih sibuk mengelus pelan pipi istrinya.
“Aku mencintaimu, sayang.”
“Aku juga, Mas.”
Elio langsung tersenyum dan kembali melanjutkan aksinya. Menyentuh Eiren dan memberikan kenikmatan yang sudah lama dirindukan. Sampai akhirya, Elio mengakhiri ritual terakhirnya.
Eiren hanya menarik napas dalam ketika benda lain mulai menyatu dengannya dan mengembuskanya perlanhan. Merasakan dorongan dari tubuh Elio yang sudah melekat dengan tubuhnya. Hingga cairan keduanya keluar, bercampur menajdi satu.
Elio menarik napas dalam dan menutup mata. Memeluk Eiren yang sudah terlihat kelelahan di bawahnya.
“Aku mencintaimu, sayang. Aku harap selamanya kita akan bersama,” ucap Elio dengan senyum tipis.
Eiren hanya menangguk. Mengelus pelan wajah lelah sang suami. Hinga senyumnya mulai muncul dan memilih menyandarkan kepalanya di dada bidang Elio.
__ADS_1
Aku sangat berterima kasih untuk semua yang engkau berikan, Tuhan. Aku bersyukur memiliki Elio sebagai pelindungku. Pria yang bahkan pernah aku benci. Terima kasih telah menyelipkan kebahagiaan di dalam luka yang pernah aku coba obati. Terima kasih telah menunjukan rasa patah yang membuat takdir menuntunku kepadanya. Selamanya, aku harap dia yang akan menjadi pelengkapku. Semoga, akan ada malaikat kecil dari rahimku yang akan mewarnai hidup kami semua.
SELESAI