
Setelah perdebatan kecil dengan kelarganya, Eiren jauh lebih memilih untuk ikut dengan Elio kembali ke rumahnya. Dia tahu, jika di rumah terus-menerus, dia akan selalu bertengkar dengan kedua orang tuanya.
Sepanjang perjalanan dia hanya diam dan asyik menatap pepohonan yang ada di sebelahnya. Merasa tenang dan juga begitu damai. Sampai sebuah deheman membuatya menatap ke arah Elio yang mencoba meraih perhatiannya.
“Apa, Elio?” tanay Eiren yang tidak menatap sama sekali.
“Kamu marah denganku?” Elio menatap gadis yang ada di dekatnya sekilas.
Eiren tersenyum kecil. “Kalau aku marah, apa peduli kamu? Aku tahu kamu tidak akan peduli sama sekali. Jadi jangan sok menjadi seorang yang peduli dengan perasaanku,” jawab Eiren lembut, tetapi terkesan sinis.
Elio yang mendengar menghela napas perlahan dan menatap Eiren. Dia tahu, kesalahannya memang sudah begitu besar. Dia merebut keperawanan Eiren dan sekarang malah mengancam gadis tersebut untuk menikah dengannya.
“Eiren,” panggil Elio pelan dan mendapat gumaman dari Eiren. “Aku sudah menyuruh anak buahku untuk membawa pakaianmu ke apartemen. Tidak masalah, kan, kamu tinggal di apartemen?” imbuh Elio dan menatap Eiren dengan senyum kecil.
Eiren yang sejak tadi mengacuhkan Elio akhirnya menatap ke arah pria tersebut dengan kening berkerut. “Kenapa aku harus pindah?” tanya Eiren penasaran dan menatap Elio dengan pandangan menyipit. Pria di sebelahnya sudah menatap jalanan dan membiakannya untuk berpikir lebih keras.
Setelah dirasa dia tahu apa penyebabnya, Eiren menunduk dan tertawa kecil. “Karena kejadian tadi pagi, ya? Aku tahu aku cukup salah. Aku hanya ingin tahu mengenai isi rumahmu saja,” terang Eiren dengan wajah datar.
“Bukan,” sahut Elio tegas, “bukan karena itu. Karena aku tidak enak jika kamu menjadi gunjingan para pegawai. Akan aman jika kamu tinggal di apartemenku. Tenang saja, aku akan sering-sering datang apartemen menjenguk. Di sana kamu juga bisa mengerjakan skripsi yang tertunda. Aku menunggu itu, Eiren.”
Eiren yang mendengar hanya mengabaikan begitu saja. Dia malah berharap Elio tidak pernah datang untuk menemuinya kembali. Eiren merasa muak dengan sifat Elio yang selalu berubah. Kadang baik, kadang manis, pemaksa, dan berbagai sifat lain yang menurutnya terlalu absurd untuk dijelaskan.
“Terserah. Akan jauh lebih baik jika kamu membiarkan aku tinggal di kosanku yang dulu,” jawab Eiren datar.
Elio yang mendengar tertawa kecil dan menatap Eiren. “Jangan bermimpi,” balas Elio yang kembali fokus dengan jalanan.
_____
Abian masih duduk di bangku ruang kerjanya ditemani dengan tumpukan berkas yang sudah membuatnya merasa frutasi. Matanya bahkan tidak beralih sama sekali dari berkas yang sejak tadi diperiksa. Sampai sebuah ketukan ringan membuatnya mendongak dan menatap ke arah pintu. Menunggu siapa yang datang ke ruangannya.
__ADS_1
Widya mulai masuk dan melangkah mendekat ke arah Abian. Dia berhenti tepat di depan meja kerja pria tersebut. “Maaf, Tuan. Ada Boy yang mencari anda,” ucap Widya dengan kepala tertunduk.
“Biarkan dia masuk,” jawab Abian menatap Widya lekat.
Widya yang mengerti segera undur diri. Dia pergi dari ruangan Abian dan kembali ke ruangannya. Setelah itu, Boy masuk dengan wajah datar dan menunduk hormat kepada tuannya.
“Apa yang kamu dapat, Boy?” tanya Abian setelah Boy berdiri di hadapannya.
“Dia Eiren Azura, salah satu mahasiswi di kampus tuan muda. Sudah memasuki semester akhir. Dia merupakan mahasiswi biasa da tidak memiliki prestasi apa pun, tetapi juga tidak memiliki pelanggaran serius selama berkuliah. Dia merupakan anak tunggal dari pasangan tuan Arda Ferandez dan Audi Azura. Pacarnya bernama Alex, tetapi akhir-akhir ini mereka sudah tidak bersama,” jelas Boy dengan pandangan tegas.
Abian yang mendengar menatap Boy dengan senyum sinis. “Jadi dia anak Arda Fernandez? Sungguh mengejutkan. Anakku bertemu dengan mantan musuh yang sekarang ada dalam genggamanku,” lanjut Abian dengan senyum sinis.
“Ada lagi?” tanya Abian menatap ke arah Boy. “Apa dia memang gadis penggoda seperti yang ada di rekaman saat itu?” tanya Abian merasa penasaran.
“Tidak, Tuan. Eiren terkenal sebagai gadis baik yang tidak pernah menggoda tuan muda sama sekali. Bahkan menurut laporan, keduanya jarang sekali akur.”
“Cukup, Tuan,” sahut Boy tegas.
“Baik. Kamu boleh kembali.”
Boy yang mendengar langsung mengangguk dan segera keluar dari ruangan atasannya. Abian yang mendengar penjelasan langusng tersenyum senang. “Dulu kamu pernah merebut Audi dariku dan malah berpacaran dengan istriku, Arda. Sekarang anakmu bersama dengan anakku. Apakah akan menjadi baik jika kita berbesan? Aku ingin melihat bagaimana jika kamu dipertemukan dengan Farah, mantan selingkuhanmu,” ujar Abian dengan senyum setan. Dia tahu, Arda pasti berpikir dia sudah bercerai karena kabar palsu yang bertebaran.
“Kita lihat, seperti apa jadinya hubunganmu dengan Audi,” lanjut Abian merasa senang.
_____
Setelah mengantar Eiren kembali ke apartemen dan menunjukan kata sandi apartemen, Elio segera pergi. Dia segera melajukan mobilnya dengan kecepatan di atas rata-rata dan menembus jalanan ramai yang menyesakan menuju ke rumah. Dia baru saja menerima kabar dari Rega yang menyuruhnya untuk pulang tanpa membawa Eiren.
Setelah sampai di rumah, Elio segera memarkirkan mobil di depan rumahnya dan segera masuk ke dalam. Langkahnya menaiki tangga dengan terburu dan segera masuk ke dalam ruangan yang menjadi tempat Rega biasanya bekerja.
__ADS_1
Elio membuka pintu ruangan dengan berbagai alat yang sudah disiapkan guna memperlancar pekerjaan Rega. Matanya menatap gadis tirus yang sudah lama terpejam karena koma. Gadis yang diharapkan matanya terbuka dan menjelaskan semua yang membuatnya merasa muak.
“Kamu sudah datang?” tanya Rega ketika melihat Elio masih berdiri di ambang pintu, “apa kamu tidak mau mausk?”
Elio yang mendengar menelan salivanya susah payah dan segera melangkah. Dia tidak pernah masuk ke dalam ruangan tersebut karena dia merasa hatinya akan sakit ketika mengingat kenangan beberapa tahun lalu, masa di mana dia merasa hancur dan terpuruk.
Rega melangkah mendekat ke arah gadis yang masih berbaring dengan mata terpejam. “Kamu tahu, Elio? Jemari Firda mampu bergerak meski matanya belum terbuka dan hanya beberapa detik,” jelas Rega tanpa mengalihkan pandangan.
Elio yang mendengar membelalak dan menatap Firda dengan pandangan serius. “Apa dia ada perkembangan?” tanya Elio mulai penasaran.
Rega mengangguk. “Tidak terlalu besar, tetapi dia beberapa kali menggerakan jarinya, seakan mengerti dengan ucapan kita.”
Elio yang mendengar hanya diam dan menatap ke arah Firda dengan pandangan tajam. “Aku tidak akan membiarkan kamu pergi sebelum menjelaskan semuanya,” desis Elio dengan wajah serius.
Rega yang mendengar menghela napas. “Elio, kamu sudah akan menikah dengan Eiren. Akan lebih baik jika kamu melepaskan Firda dan fokus dnegan Eiren,” ucap Rega dengan tatapan serius.
“Tidak,” sahut Elio tegas, “bagaimana pun aku akan tetap membuat Firda bangun. Dia harus menjelaskan mengenai penghianatannya beberapa tahun lalu. Dia bahkan hamil dari pria lain dan aku tidak akan tenang jika tidak menanyakan dengannya secara langsung,” tegas Elio dengan mata menatap tajam.
Rega menghela napas lelah dan menatap ke arah Elio. “Bagaimana jika penjelasannya ternyata berbeda dengan kenyataan yang selama ini kamu percayai? Apa yang akan kamu lakukan?” tanya Rega.
Elio yang mendengar langsung diam dan menunduk. “Entahlah. Aku hanya ingin tahu kebenaran mengenai hal tersebut dan aku tidak mau memikirkan apa pun yang menurutku tidak penting,” jawab Elio yakin dengan pemikirannya. Dia bahkan melihat hasil test kehamilan ketika dia mendapati Firda mengalami kecelakaan ketika baru saja keluar dari rumah sakit bersama dengan pria lain.
Elio menghela napas keras dan menatap ke arah Firda. “Aku tidak akan membiarkanmu mati begitu saja, Firda. Masih banyak hal yang belum kamu selesaikan.”
Setelah itu Elio segera melangkah keluar. Dia harus ke apartemen karene Eiren ada di sana. Rega yang malihat hanya diam dan menatap Elio datar.
"Aku harap kamu tidak akan melukai keduanya, Elio," ucap Rega pelan. Membuat Firda yang masih berbaring menitikan air mata lemah.
_____
__ADS_1