
Sepanjang jalan, Alex terus menggenggam tangan Eiren. Rasanya dia enggan melepaskannya, sampai mereka memasuki restoran favorit mereka. Setelah memasan makan, Eiren menatap jalanan yang tampak begitu ramai. Dia masih malas mengatakan apa pun dan memilih untuk diam tanpa memperhatikan Alex sama sekali.
“Eiren, ada yang kamu pikirkan?” tanya Alex yang sejak tadi memperhatikan kekasihnya. Sejak pertama melihat, dia memang sudah merasa ada hal aneh yang dirasakan. Eiren lebih banyak diam dari pada berbincang seperti biasanya.
Eiren yang ditanya menatap Alex dengan senyum tipis. “Tidak. Aku sedang tidak berniat memikirkan apa pun, Alex.”
“Kamu yakin? Aku melihat sejak tadi kamu diam. Apa kamu sakit?” tanya Alex dengan wajah cemas.
Iya, aku sakit karenamu, batin Eiren berontak. Namun, dia tidak cukup tega untuk membuat pria di hadapannya bertambah beban pikiran. Eiren memutuskan untuk menggeleng dan menatap Alex lekat. “Tenanglah, aku menjaga diri dengan baik.”
“Kamu yakin? Aku benar-benar khawatir,” celetuk Alex dengan wajah yang benar-benar menunjukan kecemasan.
Jangan terlalu khawatir, Alex. Aku takut jika nanti aku sulit melupakanmu.
Eiren hanya tersenyum kecil dan kembali menatap jalanan dengan pandangan datar. Entah mengapa, rasanya jauh lebih tenang dari pada menatap wajah Alex yang sebenarnya dirindukan. Namun, mengingat apa yang dilakukan tunangannya semalam dan kabar yang sampai di telinga anak-anak kampus, hatinya kembali menciut.
Apa sebenarnya kamu memang tidak mau mengakuiku lagi, Alex? Aku mulai goyah untuk percaya dan terus menunggumu, ucap Eiren dalam hati.
“Eiren, kamu yakin tidak sakit?” Alex menatap Eiren yang mengabaikannya dengan pandangan tajam.
Eiren mengalihkan pandangan dan menatap Alex lembut. “Iya, Alex. Aku baik-baik saja. Kamu ini yang kenapa?”
“Kamu yakin tidak ada yang kamu sembunyikan?” Alex maih merasa Eiren menyembunyikan sesuatu yang jelas sudah diketahui olehnya. Namun, Alex memilih untuk diam dan tidak mengatakan apa pun sebelum Eiren mengatakannya sendiri.
Eiren menghela napas dan menatap ke arah Alex. “Kamu berharap apa, Lex? Kamu berharap aku akan mengatakan mengenai kedatangan Dora ke kosan dan mengancamku?” Eiren lelah menyembunyikan sesuatu dari Alex karena dia tahu, pemuda di hadapannya pasti bisa menebak dengan tepat.
__ADS_1
“Jadi benar dia melakukan hal itu,” ujar Alex merasa pasrah. “Jadi itu yang membuatmu mendiamkanku sejak tadi? Apa yang dia katakan kepadamu?”
Eiren tersenyum tipis dan menunduk sejenak. “Aku hanya ingin menenangkan pikiran, Alex. Aku tidak bermaksud mendiamkanmu atau apa pun itu yang kamu maksud,” jawabnya datar, “dan mengenai pembicaraanku dengan Dora, kamu bisa tanyakan sendiri kepadanya. Aku tidak mau dikatakan mengadu dan menjadi perusak hubungan orang lain.”
Alex langsung menggeleng dan menatap Eiren lekat. Tangannya menggenggam jemari Eiren erat. “Kamu tidak akan merusaknya sayang. Yang ada, dia yang merusak hubungan kita.”
Eiren diam sejenak, meresapi sentuhan lembut di tangannya. Senyumnya terukir miris menyadari ucapan Alex yang membuatnya semakin merasa sakit. Eiren menarik tangan pelan, membuat Alex yang tengah menatapnya menjadi bertanya-tanya.
“Apa pun yang kamu katakan, tetap saja aku yang akan terlihat salah, Alex. Aku hanya kekasih, sedangkan dia adalah tunanganmu,” kata Eiren pelan.
Alex menghela napas keras dan menatap Eiren dengan wajah yang bingung. Dia bingung harus menjelaskan dalam bentuk bagaimana agar Eiren bisa mengerti maksudnya. “Eiren, aku mohon kamu untuk bersabar, sebentar lagi. Aku akan kembali kepadamu setelah semuanya selesai.”
“Maksud kamu?” tanya Eiren dengan kening berkerut.
Eiren menghela napas keras menyadari kebodohan yang diderita kekasihnya. “Mereka memberikanmu gaji besar, bahkan untuk anak yang belum lulus kuliah dengan posisi bagus, kamu tahu apa maksudnya, Lex?” tanya Eiren dalam hati, “itu artinya kamu memang tidak akan bisa kembali padaku.” Eiren tidak sanggup mengatakan semuanya kepada Alex. Dia takut kekasihnya akan merasa begitu sedih karena dia tidak mempercayainya.
“Aku akan kembali, Eiren. Aku begitu mencintaimu,” ulang Alex dengan rasa khawatir karena Eiren hanya diam.
Eiren mengangguk dan tersenyum. “Aku akan coba percaya dan tetap menunggumu, Lex. Aku harap kamu akan kembali. Dan mengenai pesta....”
“Maaf,” poton Alex bahkan sebelum ucapan Eiren berhenti sepenuhnya, “untuk pesta kampus kali ini. Aku....”Alex tidak melanjutkan ucapannya dan menatap Eiren dengan wajah bingung. Dia bingun harus bagaimana mengatakannya.
Eiren yang mengerti maksud Alex langsung tersenyum dan mengelus pelan punggung tangan Alex. “Aku tahu. Aku hanya mengaatakan untuk memberi tahu kamu saja.”
Alex menghela napas dan menggenggam tangan Eiren. “Maaf karena aku tidak mendampingimu.”
__ADS_1
“No problem,” ucap Eiren dan mendongak, menatap sekitar. Sampai matanya menemukan seseorang yang juga menatapnya, membuat Eiren diam dengan mata menatap tajam.
“Elio,” gumannya tidak jelas.
_____
Elio awalnya menolak untuk pergi bersama dengan Rega. Dia masih ingat seberapa susahnya jika berjalan-jalan dengan Rega. Apalagi jika wanita tersebut sudah mengajak untuk berbelanja. Rasanya dia ingin kabur dan menghilang dari dunia.
Elio menghela napas keras ketika mendapati tempat yang dikunjungi kali ini adalah restoran. Langkahnya mengikuti Rega yang sudah lebih dulu berjalan di depannya. Suara lonceng yang terdengar merdu menandakan bahwa pintu telah dibuka. Seorang waithers segera mendatangi keduanya ketika sudah mendapatkan meja.
“Selamat sore. Selamat datang di restoran kami. Silahkan pilih menu yang akan dipesan. Jika sudah ada, silahkan panggil saya kambali,” ucap gadis dengan seragam hitam dan langsung berlalu.
Rega memilih makannnya dan segera menyerahkan kepada Elio. Setelah selesai memesan, Elio segera memanggil waithers yang sama. Setelahnya, mereka menunggu makanan yang tengah disiapkan.
Elio memandang sekitar dengan tatapan biasa. Manurutnya tidak ada yang istrimewa dengan restoran yang dijadikan tempat singgah kali ini. Sampai pada akhirnya, dia menatap sepasang kekasih tengah berada di bangku tepat deretannya. Netranya mencoba mengamati lebih teliti.
“Eiren,” ucapnya pelan, bahkan Rega sampai tidak mendegar.
Elio maish mengamati semua yang dilakukan keduaya dan terhenti ketika Rega menyuruh untuk makan. Meski demikian, dia masih tetap menatap lekat ke arah Eiren berada.
“Elio, kalau makan itu jangan belepotan,” ucap Rega kesal dan segera meraih tisu, mengelap mulut adiknya yang belepotan. “Lagian makan lihatnya ke mana-mana. Ada apa sih emangnya?” Rega membalik tubuh dan menatap sekitar yang menurutnya tidak ada yag menarik.
“Bukan apa-apa,” jawab Elio pelan dan kembali fokus makan. Hal yang sama dilakukan oleh Rega yang juga tampak tidak peduli.
_____
__ADS_1