
Setelah kabar kehamilan Eiren, Firda dan Abian langsung menuju ke rumah Elio. Mereka benar-benar tidak sabar untuk datang dan mengucapkan selamat kepada menantu dan anaknya. Hal yang sama juga terjadi dengan orang tua Eiren yan segera datang ke rumahnya. Sedangkan Eiren, dia masih berbaring dengan mata memejam karena merasa lelah dengan Elio yang tidak hentinya mengelus perut rata Eiren.
Eiren melirik ke arah Elio yang masih betah berada di perutnya. Sesekali usapannya juga disertai dengan kecupan ringan. Eiren hanya menggeleng heran melihat tingkah suaminya yang jauh berbeda dengan rumor di luaran sana.
“Elio, kamu tidak mau pergi dari perutku? Aku merasa risih kamu melihatku seperti itu,” celetuk Eiren dengan bibir memberengut kesal.
Elio menatap ke arah istrinya dengan memamerkan deretan gigi-gigi putihnya. “Aku masih betah di sini, sayang,” jawab Elio kembali mengelus pelan perut istrinya. matanya menatap Eiren yang hanya pasrah dan diam. “Apa dia sudah bergerak?” tanya Elio seketika membuat Eiren tertawa keras.
Eiren menatap Elio dan mulai menghentikan tawanya. Dia melihat suaminya yang sudah mengerutkan kening bingung. Perlahan, dia segera duduk dan menatap Elio dengan lembut. Jemarinya meraih tangan Elio yang sudah menyingkir dari perutnya dan kembali menyentuhkan pada perut ratanya.
“Bayiku masih berumur sekitar dua minggu, Elio. Di dalam hanya masih gumpalan darah tanpa tangan dan berbagai organ lainnya. Jadi, dia belum bisa bergerak di dalam perutku,” jelas Eiren dengan nada lembut.
Elio mengangguk dan tersenym senang. Baginya, yang terpenting adalah istrinya sekarang tengah mengandung buah hatinya. Dia yakin dengan itu karena hanya memang dia yang menyentuh Eiren selama ini.
Elio menghela napas perlahan dan mendekap Eiren erat. Rasanya hari ini dia begitu bahagia. Bahkan, senyum di bibirnya tidak pernah luntur sama sekali.
“Terima kasih, sayang. Aku janji akan menjaga kalian berdua,” bisik Elio tepat di telinga Eiren.
Eiren mengulum senyum dan membalas pelukan suaminya. Rasanya dia lega melihat Elio yang begitu bahagia. Sampai sebuah ketukan menyadarkan keduanya dari rasa bahagia yang tengah disalurkan. Elio melepaskan pelukannya dan menatap ke asal suara.
“Siapa?” tanya Elio dengan suara lantang. Dia tidak berniat meninggalkan Eiren seorang diri.
“Ini mama, Elio,” jawab seseorang di luar.
Elio yang mendengar membelalak kaget dan segera turun dari ranjang. Eiren membenahi pakaiannya dan segera turun, mengikuti suaminya yang sudah membuka pintu. Tampak Farah tengah berdiri dengan wajah sumringah.
“Mama ngapa....” Elio menghentikan ucapan ketika mamanya menyingkirkannya dari depan pintu dan masuk ke dalam kamar.
Farah segera mendekati menantunya dan memeluk Eiren erat. “Terima kasih karena sudah memberi mama cucu, sayang,” kata Farah dengan senyum sumringah.
Eiren menatap suaminya yang sudah tampak kesal dan tersenyum menenangkan. Elio mengangguk mengerti dan memilih masuk ke dalam tanpa menutup pintu. Dia langsung melangkah ke arah sofa di mana mamanya mengajak Eiren untuk duduk.
“Eiren, sekarang kamu sedang mengandung. Bagaimana kalau kalian tinggal dengan mama dan papa saja?” tanya Farah takut terjadi hal-hal yang tidak diinginkan olehnya.
“Gak mau,” sahut Elio cepat. Matanya menatap Eiren yang sudah mengerutkan kening dengan bibir mengulum senyum.
Eiren tertawa kecil dan menatap mertuanya dengan pandangan lembut. “Maaf, Ma. Bukannya kami tidak mau, tetapi aku jauh lebih nyaman berada di rumahku sendiri. Aku ingin tetap di sini. Lagi pula ada Mas Elio dan juga bi Minem yang bisa menemani Eiren ketika Elio ke kantor,” jelas Eiren dengan nada lembut, tidak seperti Elio yang menolak dengan terang-terangan.
“Kamu yakin?” tanya Farah dengan tatapan menyelidik dan mendapat anggukan dari arah Eiren.
__ADS_1
Farah hanya bisa pasrah dan menerima apa keputusan anak dan menantunya. “Kalau begitu keputusanmu, mama akan terima. Tetapi, kamu harus janji akan menjaga kandungamu, oke. Jangan bekerja terlalu beraat, jangan mengangkat benda berat dan jangan turun dari tangga sendiri,” peringat Farah dengan wajah serius.
Eiren mengangguk patuh. Dia merasa bahagia dengan perhatian yang ditunjukan untuknya kali ini. Setidaknya dia beruntung mendapatkan suami dan mertua yang sudah seperti mama untuknya sendiri.
Farah menatap ke arah Elio dengan pandangan tajam. “Dan kamu, Elio. Jangan lupa pindahkan kamar kamu ini di bawah. Kalian gak boleh tinggal di lantai atas selama Eiren mengandung,” tegas Farah dengan tatapan tajam.
Elio menghela napas perlahan dan mengangguk. “Iya, Elio akan pindahkan barang yang perlu dipindahkan nanti ke kamar tamu,” jawab Elio malas berdebat. Sampai bunyi ketukan kembali terdengar.
Ketiganya segera menatap ke asal suara dan melihat Audi tengah berdiri di depan pintu kamar. Setelah mempersilahkan mertuanya masuk, Elio lebih memilih keluar kamar dan membiarkan ketiganya untuk berbincang. Di luar sudah ada papa dan juga mertuanya yang juga tengah berbincang.
Pada akhirnya Elio memutuskan untuk berada di antara kduanya dan ikut menimbrung.
_____
Feli masih asyik melangkah menuju ke ruangannya ketika Saka berdiri di depan pintu dan menghalanginya, membuat Feli mendengus kesal kar3na pria tersebut tidak juga mau pergi. Padahal, hari ini dia memiliki begitu banyak tugas yang harus dikerjakan.
“Kamu bisa menyingkir dari hadapanku, Bapak Saka yang terhormat,” celetuk Feli dengan wajah menatap kesal.
Saka hanya menatap Feli dengan pandangan datar. Tidak ada senyum sama sekali di wajahnya. Bahkan, rahangnya sudah mengeras melihat gadis tersebut. “Kamu sengaja menjauhiku seharian ini, Feli? Selalu menghindar setiap ada aku? Apa ada masalah?” tanya Saka dengan suara dingin.
Feli yang mendengar menghela napas perlahan dan membalik badan. Dia masih akan melangkah ke ruang lain ketika tangan Saka menggenggamnya dengan erat, membuat Feli mengaduh seketika.
“Saka, lepas. Sakit,” ucap Feli dengan bibir menahan sakit di pergelangan tangannya.
“Aku tidak suka diacuhkan, Feli. Katakan masalahmu dan kita selesaikan semuanya,” tegas Saka tidak memperhatikan Feli yang sudah menatapnya penuh luka.
Feli menghela napas dan menatap Saka dengan air mata menitik, membuat pria tersebut menatap terkejut. “Sudah puas menjadikanku permainan, Saka? Sudah puas kamu menyakitiku? Aku bahkan tidak pernah membuat masalah apa pun denganmu,” ucap Feli dengan suara lirih.
“Feli, aku....”
“Dalam hidupku, masalahku hanya kamu, Saka. Hanya kamu dan selalu kamu. Kamu adalah masalah terbesar dalam hidupku,” teriak Feli mengabaikan di mana dia saat ini. Air matanya luruh seketika. Dengan sekuat tenaga dia mendorong Saka menjauh darinya dan menatap dengan luka yang terlihat jelas.
“AKU BENA-BENAR MEMBENCIMU!” bentak Feli dengan emosi menggebu. Dia masih ingat ketika dia dijadikan permainan untuk seorang Saka. Rasa sakitnya mulia kembali melanda.
Saka hendak menyentuh Feli yang masih menatapnya benci, tetapi tangan gadis tersebut dengan cekatan menepis.
“Jangan pernah mendekatiku, Saka. Aku tidak mau jika nantinya di kantor ini akan ada yang mengecapku sebagai wanita murahan lagi. Cukup sekali dan aku tidak mau mengulanginya lagi,” desis Feli dan langsung keluar, membuat Saka terhenyak seketika.
Feli menarik napasnya dalam dan mengembuskannya perlahan. Dia menghapus air matanya dengan punggung tangan. “Kamu bodoh, Saka. Kamu bodoh. Harusnya aku tidak pernah bertemu denganmu,” gumam Feli dengan sisa air mata yang mengering. Sampai sebuah dering pesan terdengar. Dengan cekatan dia membuka pesan tersebut dan membaca isi pesannya.
__ADS_1
Dari: Eiren
Datanglah ke rumah, aku membuat banyak makanan untuk perayaan kehamilanku.
Feli tersenyum tipis dan membalas pesan Eiren. Setelahnya dia memilih ke kamar mandi dan membenarkan penampilannya. Dia tidak mau ada karyawan yang melihat dirinya saat ini. Kacau.
_____
Eiren menghela napas perlahan ketika makanan yang barus aja dibuat oleh mama dan mertuanya sudah selesai, bahkan tertata rapi di meja. Sejak tadi dia hanya mengamati semuanya karena dilarang utnuk melakukan ini dan melakukan itu.
Eiren baru akan bangkit dari duduknya ketika dirasa semua sudah siap. Namun, sebuah dekapan lembut membuatnya berhenti seketika. Eiren mendongakan kepalanya, menatap Elio yang suah ada di atasnya dengan senyum manis. Ya, dia sangat hapal dengan wangi parfum yang Elio gunakan.
“Murung terus. Kenapa?” tanya Elio dengan suara lembut.
“Aku bosan cuma disuruh duduk saja, Mas,” jawab Eiren dengan bibir yang dimanyunkan.
Elio terkekeh kecil dan mengecup puncak kepala istrinya. “Jangan begitu. Mama hanya tidak mau kamu kenapa-kenapa sayang. Kamu masih hamil muda dan rentan dengan keguguran. Jadi, kamu lebih baik memang beristirahat saja dan jangan melakukan pekerjaan yang berat,” jelas Elio dengan penuh kelembutan.
Eiren yang mendengar menghela napas keras dan tersenyum. Matanya menatap Elio yang masih tersenyum ke arahnya. Dengan perlahan, dia mulai menarik kepala suaminya untuk menunduk dan mengecup ringan. Namun, ketika dia hendak menjauh, Elio menahannya dan memilih mengulum bibir Eiren lembut.
Elio tersenyum di sela ciumannya, sampai suara pintu gerbang mengagetkannya. Elio melepaskan ciumannya dan menatap ke sumber suara.
“Eiren.”
Eiren yang mendengar teriakan tersebut segera menatap ke asal suara. Wajahnya langsung menunjukan kebahagiaan ketika melihat Feli tengah berlari ke arahnya. Feli mendekap Eiren dengan begitu erat, mengabaikan bos yang ada di dekat sahabatnya.
“Selamat, Eiren,” ucap Feli dengan penuh kebahagiaan. Dia bahkan begitu gemas dengan sahabatnya satu ini. Dia tidak menyangka jika Eiren akan hamil secepat ini.
Eiren tertawa kecil dan mendekap Feli erat. “Terima kasih, Feli. Aku senang kamu datang.”
“Saka.”
Masih hanyut dalam kebahagiaan, Feli mendengar Elio yang menyapa seseorang. Dengan perlahan, dia melepaskan pelukannya dan menatap mengikuti arah pandangan Elio. Di sana sudah ada Saka yang tengah berdiri dengan wanita yang pernah diliatnya. Seketika, wajah Feli yang awalnya bahagia berubah menjadi diam.
Eiren mentap sahabatnya lekat. Dia merasa ada hal yang disembunyikan Feli darinya. Sampai teriakan mama mertuanya membuatnya berisitriahat sejenak. Mereka memilih makan dan sesekali bercanda. Tetapi, Feli masih tetap diam. Membuat Eiren merasa semaikin curiga. Namun, dia tidak mau menanyakannya sekarang.
“Aku akan bertanya ketika hanya berdua denganmu, Feli. Aku merasa ada hal besar yang kamu sembunyikan,” batin Eiren dengan pandangan lekat.
_____
__ADS_1
Loha sayang-sayang Kim. Jangan lupa tinggalkan like, comment dan tambah ke daftar favorit, ya. Jangan lupa juga baca cerita Kim yang berjudul “Relationship Goals ya sayang. Tinggalkan like, comment dan juga tambah ke favorit. See you next chapter tayong.
_____