
Eiren menghela napas kasar ketika sampai dalam mobil setelah dari bandara. Ya, hari ini mereka memutuskan pergi ke Bali setelah pernikahan, menuruti kemauan sang mama yang sudah disetujui. Meski sebenarnya Elio sangat tidak setuju dengan hal tersebut. Tetapi, dia mencoba menerima karena Eiren yang sudah setuju.
Eiren melirik pria yang ada di sebelahnya dengan kening berkerut. Pasalnya sejak mereka masuk ke dalam mobil yang sengaja ditugaskan untuk menjemput, Elio masih saja diam dan tidak mengatakan apa pun. Mulutnya bungkam dengan wajah datar.
“Sayang,” pangil Eiren pelan sembari menyentuh lengan Elio pelan.
Elio yang tengah menatap jalanan di depannya langsung tesentak dan menatap ke arah Eiren. “Ada apa, Darl?” tanya Elio dengan wajah bingung. Pasalnya sejak tadi dia hanya melamun dan tidak menyadari keberadan Eiren di dekatnya.
“Kamu ada masalah?” tanya Eiren merasa heran dengan sifat Elio.
Elio menggeleng dan meraih Eiren agar berada di dalam pelukannya. Helaan kasar terdengar, membuat Eiren yang sejak tadi diam menjadi mendongak dan menatap ke arahnya.
Apa ada hal lain yang disembunyikan Elio kali ini, batin Eiren merasa penasaran dengan tingkah Elio yang berbeda. Namun, semua pemikirannya tiba-tiba lenyap ketika mendapatkan ciuman pelan di keningnya, membuat Eiren semakin menatap Elio lekat.
“Jangan pikirakan apa pun, sayang. Aku hanya merasa kesal karena mama menggagalkan rencanaku untuk mengajakmu berlibur ke Paris,” ujar Elio merasa bahwa Eiren mulai curiga.
Eiren yang mendengar memilih mengulas senyum tipis dan mengangguk. Sebisa mungkin dia ingin mempercayai Elio. Apa pun yang pernah terjadi, dia yakin Elio tidak akan pernah menyembunyikan sesuatu darinya.
“Mas,” panggil Eiren dengan nada lembut dan mendapat gumaman tidak jelas dari Elio.
Eiren menghela napas perlahan dan mengeratkan pelukannya. “Kamu tidak akan menyembunyikan sesuatu dariku, kan? Aku tidak mau kalau nantinya kita seperti dulu. Jadi, aku harap apa pun yang mengganggu pikiranmu, katakan saja kepadaku, dengan begitu aku akan mencoba mengerti masalahmu,” ucap Eiren dengan tatapan teduh.
Elio yang mendengar diam seketika. Ucapan Eiren terasa seperti hantaman keras untuknya. Dia hanya mampu diam dan mulai menimang. Sebenarnya ada alasan lain mengapa dia begitu enggan untuk pergi ke Bali. Bahkan, dia ingin sekali menanyakan mengenai keputusan mamanya kali ini.
Apa yang direncanakan mama kali ini, batin Elio masih bertanya-tanya.
“Elio, kamu mendengarku, kan?” tanya Eiren karena tidak juga mendapat jawaban dari suaminya.
Elio sedikit tersentak dan menatap Eiren. Selanjutnya dia mengangguk dan tersenyum menenangkan. “Aku tidak memiliki rahasia apa pun, sayang. Aku juga berjanji akan menceritakan semuanya kepadamu,” ucap Elio dengan wajah bahagia.
Eiren yang mendengar merasa senang. Pada akhirnya keduanya hanya diam, menikmati perjalanan menuju ke arah penginapan yang sudah dipesannya. Berharap apa yang ditakutkan olehnya tidak akan pernah terjadi.
_____
Venda menyendok mie yang sudah dipesan dengan begitu lahap. Hari ini dia begitu lelah, menghadapi banyak sekali tugas dan juga Saka, pimpinan di divisinya yang benar-benar menyebalkan. Wajah dingin dan sombongnya benar-benar membuatnya merasa ingin sekali melempar Saka ke jurang yang dalam. Rasanya benar-benar memuakan. Namun, dia masih waras, sehingga tidak akan melakukan hal tersebut.
Venda menghentikan suapannya dan mengunyah makanannya cepat. Dia masih memiliki banyak tugas di hari pertama. “Dasar itu orang gak mikir apa ya. Aku bakhkan baru saja masuk ke kantor ini. Gitu sudah banyak sekali tugas,” gerutu Venda merasa kesal dengan sifat Saka yang seenaknya.
“Kalau makan itu ya makan saja, gak usah sambil ngedumel dong, Venda,” celetuk seseorang dari arah belakang.
Venda segera membalik badan dan menatap Feli yang sudah melangkah degan nampan di tangannya. Matanya menatap gadis yang sudah duduk di dekatnya dengan wajah sumringah.
“Kamu sudah istirahat dari tadi?” tanya Feli sembari menyedot es teh miliknya.
Venda mengangguk dan kembali memasukan satu sendok penuh mie ke dalam mulutnya. Feli yang melihat membelalak kaget karena ulah Venda yang menurutnya tidak wajar.
Feli mengegeleng heran dan menatap Venda dengan senyum tipis. “Kamu makan kaya dikejar setan, Venda.”
__ADS_1
Venda yang mendapat sindiran langsung menatap ke arah Feli dan menelan makanannya kasar. “Aku memang dikejar setan, Feli. Kamu tahu? Aku tidak diperbolehkan istirahat oleh atasanku. Apa gak gila? Aku juga manusia, butuh makan dan minum. Dikira robot apa ya kerja terus gak capek,” oceh Venda dengan wajah yang jelas menunjukan kekesalannya.
Feli yang mendengat tersenyum kecil, sembari mengingat siapa pimpinan Venda saat ini. Setelah otaknya sadar dan mengingtatnya, matanya membelalak dengan pandangan jijik, membuat Venda yang ada di dekatnya menjadi bingung.
“Kamu kenapa, Feli?” tanya Venda merasa penasaran.
Feli menatap ke arah Venda dengan pandangan malas. “Atasanmu Bapak Saka, ya?" tanya Feli dan mendapat anggukan.
Feli menepuk pundak Vneda pelan dan berkata, “Kamu yang tabah, ya. Dia itu selain pemaksa juga kadang menyebalkan. Mulutnya itu kalau ngomong nyerocos saja. Belum lagi wajahnya itu, benar-benar buat orang ingin menonjok. Dia itu buaya darat. Jadi, kalau kamu punya pacar, jangan kasih tahu dia,” peringat Feli dengan wajah penuh keyakinan.
Venda baru akan membuka mulut dan mengomentari ucapan Feli terpaksa berhenti karena suara lain yang ada di belakangnya.
“Jadi, Saka itu seperti itu menurutmu, sayang.”
Feli yang mendengar langsung diam mematung dan menatap ke arah belakang. Di sana sudah ada Saka yang berdiri dengan wajah sombong yang dihiasi dengan tatapan mesum. Kacamata dengan bingkai hitam bertenger manja di hidung bangirnya. Kali ini, Feli hanya bisa diam dengan mata yang mengalihkan pandangan dari pria tersebut.
Venda yang melihat akhirnya memilih bangkit dan pamit undur diri, membuat Feli yang ada di sana merutuki kebodohan Venda yang tidak membelanya sama sekali. Saka yang melihat hanya tersenyum semanis mungkin dan segera duduk di dekat Feli.
Sial kamu, Venda, batin Feli merasa begitu kesal dengan pemuda tersebut.
“Jadi, apa yang mau kamu katakan lagi? Aku akan siap mendengarnya,” ucap Saka dengan wajah berbinar.
Feli yang mendengar menelan salivanya sudah payah dan tersenyum canggung kepada Saka. “He, Pak. Maksud saya itu....”
“Pemaksa, menyebalkan, sombong, angkuh, buat orang pengen nonjok dan buaya darat,” potong Saka sembari menatap Feli dengan pandangan menusuk, “lalu, ada lagi, sayang?”
Feli baru kaan menyela ucapan pria tersebut ketika teriakan keras berasal dari pintu kantin kantor, membuat Saka yang tengah memperhatikan Feli mengalihkan fokus.
“Saka,” teriak seorang wanita dengan pakaian seksi dan senyum menawan.
Feli yang melihat bahkan sampai terpesona karena kecantikan itu. Namun, ketika dia melirik wajah Saka yang membeku dan diam, dia segera mengambil kesempatan tersebut dan berlalu menjauh. Saka yang hendak mencegah terpaksa gagal karena gadis tersebut sudah datang dan memeluknya erat.
“Saka, aku merindukanmu,” ucap gadis yang saat ini ada dalam dekapannya.
Saka menghela napas perlahan dan melepaskan pelukan di tubuhnya. Matanya menatap dengan penuh tanya. “Kapan kamu ke mari, Dinda?”
“Baru saja. Aku mencari kamu dan Elio, tetapi dai tidak ada,” celetuk Dinda dengan wajah bahagia.
Saka yang mendengar hanya menghela kembali. Dia segera bangkit dan menarik tangan Dinda erat. “Ikut ke ruanganku,” ajak Saka dengan suara tegas.
_____
“Apa mempertemukan Elio dan Dinda adalah hal yang baik?” tanya Abian ketika melihat istrinya masih santai di sofa ruang kerjanya. Dia bahkan mengentikan aktivitasnya dan mencoba mencari tahu apa yang tengah direncakan oleh Farah.
Farah menutup majalahnya dan menghela napas lembut. Matanya beralih menatap Abian yang masih begitu cemas. “Aku tahu ini bukanlah hal yang baik, Mas. Tetapi, bukankah untuk memulai hal baru, ada hal di masa lalu yang harus diperbaiki? Itu sebabnya aku menyuruh mereka datang ke Bali. Setidaknya di sana mereka bisa berbicara dengan leluasa. Aku harap semua akan membaik nantinya.”
Abian yang mendengar hanya mengusap wajahnya gusar. Dia merasa ini bukanlah hal baik. Mengingat Eiren mampu melakukan segala hal semaunya. Bahkan, dia masih ingat bagaimana ketika Eire memutuskan untuk bertaruh nyawa hanya untuk menghindari Elio.
__ADS_1
“Mas, aku mau mereka berbaikan. Aku mau, mereka melupakan masa lalu yang dulu pernah terjadi. Mereka butuh hidup tanpa beban sama sekali, Mas. Terlebih Elio, aku ingin dia bisa melupkan apa yang pernah diperbuatnya dulu,” ucap Farah dengan wajah serius. Dia benar-benar ingin Elio melupakan masa lalunya bersama dengan Dinda.
Abian yang mendengar menghela napas kasar dan menatap ke arah istrinya lekat. Dia terpaksa mengangguk dan tidak mau membuat masalahnya semakin panjang. “Aku harap mereka memang akan bisa membaik seperti dulu lagi,” sahut Abian dengan harapan penuh.
Farah yang mendengar tersenyum senang. Setidaknya satu langkah yang coba digerakannya sudah berjalan. Aku harap kalian berbaikan, sayang, batin Farah sedih mengingat hubungan anaknya dengan Dinda-sahabat Elio dari kecil.
_____
“Elio, apa kamu hanya mau tiduran di hotel dan tidak mau mengajakku jalan-jalan?” tanya Eiren dengan wajah kesal. Sejak datang, suaminya hanya sibuk berbaring dengan mata terpejam. Bahkan, sepanjang perjalan dari rumah sampai ke Bali, mereka tidak berbincang seperi biasanya, membuat Eiren merasa kesal dengan sendirinya.
Elio yang masih memejamkan mata membuka perlahan dan menatap ke arah Eiren lekat. Tangannya hanya menepuk sebelah tempat tidurnya dan menyuruh Eiren berbaring. Namun, Eiren menggeleng dan menatap Elio tajam.
“Sayang, kita disuruh ke sini untuk berduaan. Jadi, kenapa harus keluar kalau di dalam saja sudah nyaman,” celetuk Elio dengan wajah tenang.
Eiren mengerutkan kening tidak mengerti dan menatap Elio dengan mata menyipit. “Bilang saja kamu gak mau nganterin aku jalan-jalan,” ujar Eiren masih dengan perasaan kesal.
Elio berdecak kesal dan bangkit dari tidurnya. “Apa kamu tidak paham dengan maksud mama? Dia ingin kita segera memiliki momongan. Jadi, untuk apa keluar kamar kalau tugas kita di kamar,” jelas Elio dengan senyum menggoda. “Jadi, tidurlah. Aku akan berikan kenikmatan.”
Eiren mendengus kesal dan berbalik. Dia baru akan pergi ketika geraman tertahan terdengar di belakangnya. Dengan segera, Eiren membalikan tubuh dan menatap Elio dengan kening berkerut heran.
Ada apa?
“Aku bilang jangan keluar, Eiren. Jadi, jangan uji kesabaranku,” geram Elio dengan wajah datar. Berbeda degan wajah yang tadi ditunjukan olehnya.
Eiren yang mendengar mengerutkan kening heran. Pasalnya, dia tidak pernah melihat wajah Elio seperti saat ini. “Elio, kenapa?”
“Aku tidak mau kamu pergi dari kamar ini,” tegas Elio dengan napas tersengal.
“Sejak kita dari rumah, aku memang merasa ada hal yang tidak beres dengammu, Elio. Aku sudah mengatakan kamu bisa menceritakan semuanya, tetapi kamu menjawab tidak. Sekarang aku yakin, kamu tidak jujur denganku,” kata Eiren mengungkap isi hatinya.
Eiren memundurkan langkah dan dengan cepat berbalik. Dia mulai berlari meninggalkan kamar hotel dengan rasa kecewa. Sedangkan Elio, dia mulai mengacak rambutnya hingga berantakan.
“Apa yang kamu lakukan, Elio. Kenapa kamu tidak bisa berpikir dengan jernih, hah? Eiren bahkan tidak bersalah apa pun,” gumam Elio dengan perasaan bersalah. Hari ini dia tidak bisa mengintrol emosinya sendiri.
Elio akhirnya memilih turun dari ranjang dan segera keluar kamar. Dia harus mengikuti Eiren dan mengatakan apa yang sejak tadi mengusiknya.
Semoga Eiren masih tetap meneirmaku, batin Elio dengan perasaan kacau.
_____
Haloo sayang-sayang Kim. Jangan lupa tinggalkan like dan comment ya sayangkuh. Jangan lupa juga baca Relationship Goals dan tinggalkan like serta commen. Jangan lupa dijadikan favorit ya.
Untuk yang belum follow akun instagram Kim, bisa follow ya di @kimm.meili. Soalnya hari ini Kim mulai up cerita singkat di instagram. Kim sih sebutnya cerigram. Hehe.
Baiklah, selamat menjalani hari dan selamat membaca. See you next chapter tayong.
_____
__ADS_1