Wedding With My Lecturer

Wedding With My Lecturer
Bagian 51_Apa Maumu Eiren?


__ADS_3

Elio melangkah memasuki kantor papanya dengan emosi menggebu. Setelah mendengar penjelasan Firda jika semua dalang yang ada di balik kejadian tersebut papanya, dia segera menuju menemui papanya. Dia akan meminta penjelasan dari orang yang begitu dihormatinya.


“Selamat siang Tuan, Elio. Tuan Abia....”


Elio mengabaikan sapaan dari Widya yang tengah duduk di belakang meja kerjanya. Dia segera melangkah tanpa menunggu lebih jauh apa yang ingin dibicarakan oleh sekretaris papanya. Dengan emosi yang memuncak, Elio segera membuka pintu keras, sedikit membanting, membuat kedua orang yang tengah berbincang menatap dengan wajah bingung. Namun, Abian berbeda. Dia tetap santai.


“Maaf, Tuan. Tuan Adelio tidak mendengar saya sama sekali,” ucap Widya dengan wajah takut.


“Tidak masalah. Silahkan kamu keluar, Widya,” jawab Abian sembari menatap anaknya lekat. Setelah dirasa sudah membaik, Abian menatap lawan bicaranya dan menunjukan wajah ramah.


“Kamu bisa keluar. Aku akan menghubungimu nanti,” ujar Abian dengan tegas dan langsung diikuti.


Pria berbadan kecil tersebut segera keluar ruangan dan meninggalkan Abian bersama dengan Elio. Setelah dirasa sudah aman, Abian segera menatap anaknya dengan pandangan tajam dan duduk santai di singgahsana kebesarannya.


“Apa yang membuatmu marah, Elio? Datang ke kantor dan membuat keributan. Jelaskan apa yang membuatmu menjadi seseorang tanpa sopan santun sama sekali,” ucap Abian dengan nada tegas dan enggan dibantah.


Elio mengeratkan kepalan tangannya dan menatap Abian dengan rahang mengeras. “Setelah melakukan kejahatan terhadap Firda, Papa masih bisa mengatakan mengenai sopan santun? Jangan melawak,” jawab Elio dengan suara tajam.


“Apa maksud kamu?” tanya Abian dengan wajah dibuat bingung.


“Jangan berpura-pura bodoh, Pa. Papa dengan tega menjebak Firda bersama dengan pria lain sampai dia mengandung. Apa yang sebenarnya Papa inginkan?” desis Elio dengan wajah tegang. Dia benar-benar ingin menghajar wajah papanya yang masih tampak santai setelah melakukan kesalahan.


Abian yang awalnya bingung kembali menatap dingin anaknya. “Jadi dia sudah siuman?” tanya Abian dengan mata menatap lekat.


“Iya,” tegas Elio dengan suara lantang, “dia sudah siuman dan menceritakan semuanya. Papa sudah tidak bisa mengelak lagi sekarang dan asal Papa tahu, selama ini Elio membenci seseorang yang salah hanya karena papa.”

__ADS_1


“Aku tidak akan mengelak, Elio. Aku memang melakukannya,” aku Abian dengan nada bicara santai. Tidak ada rasa kecewa atau bersalah sama sekali.


“Kenapa?” sahut Elio dengan pandangan tajam. “Kenapa Papa lakukan hal itu? Padahal Papa tahu, aku begitu mencintainya.”


“Karena sejak awal kalian berpacaran, Papa sudah tidak pernah menyukai wanita yang tidak jelas asal usulnya. Kamu tahu, Elio, Papa tidak pernah memberi restu pada hubungan kalian,” jawab Abian dengan suara tegas.


“Dan Papa tega lakukan itu?” Elio menatap papanya dengan pandangan tidak percaya. Seseorang yang telah melakukan kesalahan masih dengan rasa percaya diri berdiri dan menunjukan wajah angkuh? Benar-benar tidak memiliki hati.


“Iya. Papa rela melakukan apa pun asal dia tidak bersama denganmu.”


Elio tersenyum kecil dan menggeleng pelan. “Aku benar-benar tidak menyangka jika aku selama ini salah mengenal Papa. Papa jauh lebih kejam dari yang mereka katakan.”


“Dan apa kabar denganmu? Kamu akan menikahi Eiren dan masih mengurusi masa lalu. Kamu pikir Eiren akan terima dia seperti ini? Aku rasa sekarang saatnya kamu memilih, Elio. Kamu memilih Firda dan tidak mendapat bagian dari Papa, atau kamu bersama dengan Eiren sampai kelak dan mendapat semua warisan papa. Bukankah kamu berniat menikah dengan Eiren hanya karena kamu membutuhkan warisan papa dan selama ini kamu tidak pernah mencintainya sama sekali, kan? Jadi, di sini siapa yang dikatakan kejam?”


Elio yang mendengar langsung diam. Dia langsung teringat dengan Eiren yang pasti mencarinya. Dia memiliki janji dengan gadis tersebut untuk melihat hasil kerjanya hari ini. Elio lebih memilih keluar dari ruangan papanya dan berlari dengan cepat. Namun, sebuah pesan membuatnya kembali menghentikan langkah dan membuka isi pesan tersebut.


“Sial!” Elio meremas ponselnya dan segera melangkah. Dia akan melihat sampai di mana Eiren tahu masalahnya.


Sedangkan di ruangan, Abian menghela napas perlahan dan duduk lemah dengan mata memejam. “Kamu harus mulai bertingkah dewasa, Elio. Aku tidak yakin jika harus melepaskanmu bersama dengan Firda,” gumam Abian dengan nada lemah.


_____


Eiren menatap Venda yang masih sibuk menyetir dengan musik masih mengalun. Senyumnya mengembang ketika melihat gerakan Venda yang berjoget seperti cacing. Rasanya dia mulai mengerti asal masalahnya. Semua bermula darinya yang terlalu lemah dalam bertindak. Dia terlalu mudah jatuh dalam pelukan pria yang sudah jelas sifat busuknya. Dia terlalu lemah dalam menyikapi masalahnya dan patuh begitu saja.


Mulai sekarang aku tidak akan takut dengan ancamanmu, Elio. Aku akan melakukan apa yang aku mau dan kamu mau, batin Eiren dengan wajah mengeras.

__ADS_1


Venda yang merasakan hal aneh langsung menatap Eiren yang ada di dekatnya. “Eiren, kamu baik-baik saja?” tanya Venda dengan kening berkerut. Pasalnya, beberapa jam yang lalu dia melihat Eiren menangis dan begitu lemah, tetapi sekarang dia sudah tanpak bersemangat dengan api yang mengobar.


Eiren menatap Venda dengan tatapan santai dan mengangguk. “Aku baik-baik saja,” jawabnya dengan nada bahagia.


“Wuah, kamu benar-benar seperti bunglon, Eiren. Kamu bahkan bisa bahagia dan sedih dalam hitungan detik,” goda Venda dengan tawa kecil.


Eiren terkikik mendengar ucapan Venda yang terasa benar. Dia memang baru saja meraung menangisi hatinya hingga lelah. Tetapi, sekarang dia sudah begitu bersemangat untuk membalas perbuatan Elio yang selama ini mempermainkan hatinya.


“Ada yang membuatmu bahagia?” tanya Venda dengan mata menyelidik.


Eiren menatap Venda dan mengangguk. “Ada. Kamu,” jawab Eiren membuat Venda diam seketika.


Venda langsung menatap fokus ke depan dan mencoba menenangkan hatinya. Ucapan Eiren membuatnya semakin tidak karuan dan benar-benar gugup. Sampai akhirnya, dia membelokan mobil ke sebuah gedung mewah dan behenti.


Eiren tersenyum manis dan menatap Venda yang masih saja diam. “Terima kasih. Aku harap kita bisa bertemu lagi lain kali.”


“Aku bisa menjemputmu besok,” ujar Venda dengan wajah penuh harap.


“Boleh. Aku akan menunggumu. Hubungi aku setelah kamu datang.”


Eiren langsung keluar dari mobil Venda dan melangkah masuk dengan wajah riang. Entah apa yan membuatnya bahagia. Namun, dia masih ingin terus melenggang dengan lagu yang mengalun dari mulutnya.


“Sebenarnya, apa maumu, Eiren?”


Eiren yang mendengar langsung menghentikan langkah dan membalik badan. Matanya menatap Elio yang sudah berdiri di depannya dengan tatapan mata tajam. Namun bedanya, saat ini, tatapan itu bukanlah hal yang menakutkan untuk Eiren.

__ADS_1


“Pergi bersama dengan pria lain sampai malam, diantar pulang dan tampak begitu dekat. Sebenarnya apa yang sedang kamu rencanakan?” tanya Elio dengan mata menatap tegas.


_____


__ADS_2