
Elio menatap Eiren yang tengah berjalan di pinggir trotoar. Sejak keluar dari apartemen, gadis tersebut tidak juga menghentikan tangisnya. Padahal sudah hampir tiga puluh menit Eiren berjalan. Bahkan, gadis tersebut masih setia dengan langkahnya di bawah nauangan langit mendung.
“Itu anak apa gak niat buat naik taksi?” tanyanya kepada diri sendiri.
Elio mempercepat laju mobilnya, menjadi di depan Eiren. Dia tidak tahu apa yang terjadi sebenarnya. Tetapi, yang dia tahu, Eiren dalam keadaan yang tidak baik-baik saja. Dengan gerakan tergesa, dia mulai membuka pintu dan keluar dari mobil. Segera dia melangkah mendekati Eiren yang masih melangkah tanpa tujuan.
“Eiren,” panggil Elio dengan wajah kaget karena keadaan Eiren tidak seperti biasanya. Air mata masih mengalir dan pandangan yang seakan tidak memiliki kehidupan sama sekali.
“Kamu kenapa?” tanya Elio dengan wajah cemas.
“Kenapa kamu masih ada di sini? Aku butuh waktu sendiri,” ucap Eiren dengan suara pelan. Dia sedang tidak bersemangat untuk melakukan apa pun.
“Hey, kamu kenapa?” tanya Elio sembari menggoyangkan tubuh Eiren pelan.
Eiren langsung mendorong Elio sekeras mungkin. Matanya menatap dengan kebencian yang ditunjukan. “Pergi!” bentaknya dengan amarah menggebu, “pergi dari sini. Pergi saja semuanya. Tinggalkan aku sendiri dan jangan ada yang mendekat!” teriak Eiren mengabaikan jalanan yang memang sepi. “Pergi dari sini. Aku tidak mau bergantung pada siapa pun,” lanjutnya dengan air mata meleleh.
Elio yang mendengar merasa begitu iba. Tanpa aba-aba dia langsung memeluk Eiren erat. Dia merasa terluka melihat Eiren yang menangis tergugu di hadapannya. Ada apa dengannya? Rasanya dia benar-benar penasaran dengan kehidupan Eiren.
“Tenanglah. Tidak akan ada yang pergi meninggalkamu,” ucap Elio sembari menopang tubuh Eiren yang hampir luruh di tanah.
“Tetapi dia akan meninggalkanku. Aku akan sendiri lagi,” adu Eiren dengan tubuh melemah. Tangannya menggegam erat pakaian Elio.
“Aku tidak tahu apa maksudmu, tetapi jika dia meninggalkanmu, masih ada aku yang akan mendengarkan ceritamu,” ucap Elio tanpa sadar.
Eiren yang mendengar mengabaikan begitu saja dan memeluk Elio erat. Dia bingung harus melakukan apa. Biasanya, setiap dia mengalami kesulitan, Alex yang akan memeluk dan menenangkannya. Setelah itu, semua terasa baik. Namun sekarang, dia berada dalam dekapan pria lain. Eiren mengabaikan fakta bahwa pria di hadapannya adalah seorang dosen yang juga mengajarnya. Dia hanya ingin menuntaskan semua kepedihan yang dirasa. Pedih? Bukan. Lebih tepatnya kecewa.
Elio menegakan tubuh Eiren dan menatap mata merah yang sejak tadi mengeluarkan air mata. “Aku akan mengantarmu pulang.”
__ADS_1
“Antar aku ke rumah orang tuaku,” jawab Eiren masih dengan suara serak.
“Kamu punya rumah di sini?” tanya Elio dengan kening berkerut. Dia pikir Eiren tidak memiliki rumah.
Eiren hanya mengangguk. Elio sendiri tidak ingin terlalu ikut campur dalam hal ini. Dia hanya diam dan menuntun Eiren ke mobilnya. Setelah menanyakan alamat, Elio segera melaju dan mengantar Eiren. Selama perjalanan, gadis di sebelahnya hanya diam sembari menatap jalanan.
Jika kamu akan bertunangan dengannya, bagaimana dengan kita?, batin Eiren resah. Dia sudah terbiasanya selalu bersama dengan Alex.
Eiren menghela napas keras dan memandang hujan yang mulai turun. Pada akhirya aku kembali sendiri lagi.
_____
“Kamu itu kerjaannya main, ngabisin duwit sama keluyuran ke sana-sini, ya.”
“Heh, kamu pikir aku suruh ngapain kalau gak gitu? Aku bosan di rumah kayak tahanan.”
“Kamu bisa, kan, lakukan hal lain yang jauh lebih manfaat. Gak usah ngabisin duwit suami aja.”
“Kamu pikir selama ini aku....”
“Ma, Pa,” potong Eiren dengan wajah tidak bersemangat, “bisa kalian lanjutkan perdebatan tidak penting ini di luar? Eiren butuh ketenangan.”
Eiren baru saja sampai dan kembali melihat pertengkaran orang tuanya. Hal lazim yang selalu dilakukan dan itu membuatnya bosan. Hidup tanpa kasih sayang orang tua yang selalu sibuk dengan dunia mereka sendiri membuat Eiren muak pada kehidupan. Terkadang dia iri dengan teman-teman yang menceritakan mengenai keluarga yang begitu damai. Sedangkan dia, hidup dengan kemewahan berlimpah, tetapi tidak pernah merasakan kebahagiaan seperti semua temannya.
Eiren menaiki tangga dengan langkah lesu dan wajah yang sudah acak-acakan. Dia lelah dan ingin beristirahat, tetapi kedatangannya hanya disambut dengan suara pertengkaran kedua orang tuanya. Tidak ada pelukan hangat dan senyum ceria yang menyambut.
“Aku berharap kalian tidak akan pernah pulang,” ucapnya sembari melemparkan tas tersebut ke kasur.
__ADS_1
Setelahnya, Eiren merebahkan tubuh dan menatap langit-langit rumah. “Lagi pula siapa yang mau menikah dengan gadis yang memiliki keluarga penuh masalah?” tanya Eiren dengan mata menatap ke atas. “Jelas saja mama Alex tidak mau aku menjadi kekasih anaknya.”
Eiren menghela napas keras. “Mama sibuk dengan kekasihnya, Papa juga gila kerja dan bahkan suka main wanita. Lalu kenapa pernikahan ini masih tetap dipertahankan?” tanya Eiren tanpa mendapat jawaban, “aku berharap kalian segera berpisah dan membiarkan aku seorang diri di rumah ini.”
Eiren memejamkan mata. Malam ini pikirannya benar-benar kacau. Dia harus menghadapi kenyataan bahwa Alex memiliki tunangan lain dan kehidupan yang akan berubah nantinya.
“Aku harus mulai menjalani hari-hari sendiri lagi, kan?” ujar Eiren dengan tawa hambar.
_____
Alex memasuki rumah dengan emosi menggebu. Dia baru saja menyakiti perasaan orang yang paling berarti untuknya. Langkahnya semakin cepat menuju ke arah ruang keluarga, tempat di mana orang tuanya tengah berbincang dengan santai tanpa memikirkan nasibnya. Hatinya bahkan merasakan sakit yang teramat.
Bagaimana aku akan bisa menatapnya? Apa dia akan mengerti maksudku?, batin Alex takut jika Eiren akan memutuskannya.
Alex berhenti ketika melihat orang tuanya tengah bercengkrama di depan televisi. Langkahnya semakin cepat dan berhenti tepat di sebelah keduanya. Membuat tawa damai di ruangan tersebut terhenti dan beralih menatapnya.
“Kamu sudah pulang, sayang?” sapa Chyntia dengan wajah ramah.
Alex menghela napas keras dan menatap mamanya tajam. “Jelaskan dengan Alex, Ma. Apa yang sebenarnya kalian sembunyikan. Apa yang Alex tidak tahu dan kenapa tiba-tiba Mama dan Papa menjodohkanku dengan Dora?” tanyanya tanpa basa-basi.
Robert-papa Alex langsung melirik ke arahnya dengan wajah dingin. "Tidak ada yang kami sembunyikan. Papa hanya tidak mau anak papa terus berhubungan dengan gadis yang dalam keluarganya tidak ada keharmonisan sama sekali.”
“Bohong,” sahut Alex cepat, “apa benar semua karena Papa memiliki hutang dengan keluarga Dora? Apa itu alasan kalian menjodohkanku dengannya?”
Robert menghela napas keras dan segera bangkit. “Iya,” jawabnya dengan tegas, “itu sebabnya kamu jangan mencari masalah dan menolak perjodohan ini. Kalau kamu menolak, kamu akan tahu akibatnya,” ancam Robert dengan wajah dingin dan langsung menuju ke kamar.
Chyintia yang melihat hanya bisa diam. Dia tahu Alex begitu tersiksa, tetapi dia jauh tidak rela jika anaknya menikah dengan Eiren.
__ADS_1
Alex menggeram kesal dan langsung menendang meja keras. “Ahh,” teriaknya sembari berlalu masuk ke dalam kamar.
_____