Wedding With My Lecturer

Wedding With My Lecturer
Bagian 47_Cemburu


__ADS_3

Eiren menatap deretan kalimat di buku tebal di hadapannya. Sudah dua jam dia duduk di perpustakaan dan membca buku yang berhubungan dengan skripsinya, setelah itu mencatat di latop yang sudah menyala di sebelahnya. Seperti yang dikatakan Elio, dia harus segera melengkapi bahan di skripsi agar segera selesai. Meski pagi harinya harus dimulai dengan banyak sekali pertentangan ringan dengan Elio.


Eiren menatap laptop yang ada di dekatnya dan menekan keyboard demi keyboard, menyusun kalimat indah yang nantinya akan dijadikan syarat kelulusannya. Dengan semangat menggebu, ditamabah karena tujuan yang semakin berkobar, Eiren terus mengerjakannya dengan tekun. Mengabaikan masalahnya dengan Alex yang sebenarnya sudah selesai waktu itu.


“Rajin banget, buk,” tegur Feli dengan senyum ramah.


Eiren yang tengah fokus segera mengalihkan pandangan ke asal suara dan tersenyum. “Hai Fel,” sapa Eiren kembali meneruskan jemarinya untuk mengetik.


“Kamu rajin banget. Ada apa ini?” tanya Feli merasa penasaran. Biasanya Eiren tidak sesemangat seperti saat ini.


Eiren menghela napas dan meninggalkan tugasnya, beralih menatap Feli yang masih memandangnya dengan penuh selidik. “Aku harus segera lulus, Feli. Aku mau terpisah dengan orang tuaku, mencari pekerjaan yang layak dan tidak lagi bergantung kepada mereka. Aku sudah cukup lelah dengan itu,” jelas Eiren dengan wajah malas.


Feli yang mendengar tersenyum kecil dan mengangguk. “Iya, aku tahu. Tetapi aku pikir kamu sudah melupakan niat konyolmu itu, Eiren.”


“Aku gak akan lupa dengan itu, Feli,” jawab Eiren denan mata menatap kosong ke arah Feli, “lagi pula aku memiliki tujuan lain sekarang,” gumam Eiren tidak jelas.


“Kamu bicara apa, Eiren?” tanya Feli dengan kening berkerut heran.


Eiren kembali tersadar dan tersenyum. “Lupakan. Aku akan mengerjakan tugasku. Kalau gak Elio akan mengomel nanti,” ujarnya mengalihkan pembicaraan. Dia tidak mau Feli mengetahui tujuannya.


“Kamu sama Mr. Elio....” Feli menghentikan ucapannya dan menatap Eiren ragu. Rasanya dia juga mulai penasaran dengan hubungan keduanya.


Eiren yang mengerti tersenyum tipis dan menepuk pelan pundak sahabatnya. “Tenang, Feli. Mr. Elio sangat baik denganku.”


“Dia tidak macam-macam, kan?” tanya Feli dengan tatapan khawatir.


Eiren mengangguk. “Dia tidak pernah macam-macam,” jawab Eiren meyakinkan. Meski kami sering tidur bersama, lanjutnya dalam hati.

__ADS_1


Feli yang mendengar menghela napas lega dan segera mencari buku. Masih asyik berdiskusi sebuah suara membuat percakapan keduanya terhenti dan menatap ke asal suara. Eiren menyipitkan mata melihat pria dengan pakaian sedehana yang berdiri sembari menatapnya.


“Eiren. Kamu bener Eiren, kan?” tanya pemuda tersebut dengan wajah sumringah.


Eiren mengangguk dan mencoba mengingat siapa pemuda di depannya. Setelah itu dia tersenyum dan tampak begitu antusias. “Venda, kan?” kata Eiren memastikan.


“Betul. Masih ingat saja,” jawab Venda yang langsung duduk di bangku sebelah Eiren yang masih kosong.


Eiren menatap pria tersebut dan tersenyum. “Kamu kuliah di kampus ini?” tanya Eiren dengan wajah sumringah. Dia masih ingat dengan sopir taksi yang pernah mengatar ke rumah neneknya dan memberi nasihat. Benar-benar sangat berkesan. Sedangkan Feli, dia hanya diam dengan mata menatap lekat.


Eiren yang sadar ada Feli diantara keduanya langsung memperkenalkan sahabatnya. Setelah itu dia asyik dengan perbincangan dengan Venda. Melupakan tugasnya dan mengabaikan tatapan tajam yang sudah memperhatikannya dari belakang.


_____


Niat awal Elio datang ke kampus, selain untuk mengajar, dia juga ingin mendampingi Eiren yang tengah mencari bahan untuk pembahasannya di skrispi. Namun, ketika dia menuju ke perpustakaan dan hendak membantu Eiren, matanya malah disuguhkan dengan pemandangan yang membuat hatinya memanas. Eiren tengah bersama dengan pria lain.


Siapa dia?, batin Elio penasaran.


Elio membuka pitnu dan langsung duduk di sofa ruangannya. “Siapa pemuda itu? Aku terasa tidak asing dengan wajahnya,” gumam Elio dengan wajah serius.


Elio menghela napas dan mengambil ponsel untuk menghubungi seseorang . Wajahnya sangat mengeras ketika panggilannya tidak mendapat jawaban. Tanpa pantang menyerah, dia kembali menelfon dan untungnya mendapat jawaban.


“Aku tunggu di apartemen secapatnya,” geram Elio tanpa mau berlama-lama berbicara dengan sang pelaku. Dia langsung menutup panggilannya dan kembali bangkit. Elio melangkah meninggalkan kampus dan segera ke apartemen. Dia bahkan mengabaikan sapaan manja dari Gladis yang sudah bersungut kesal di belakangnya.


“Aku akan jauhkan siapa pun yang dekat denganmu, Eiren. Aku tidak suka melihat kamu dekat dengan pria lain,” gumam Elio yang langsung menancap gas kembali ke apartemen.


_____

__ADS_1


“Aku tunggu di apartemen secapatnya.”


Eiren yang menerima panggilan dari Elio menghela napas keras dan langsung mengemasi barang bawaannya. Setelah itu dia langsung berpamitan dan melangkah keluar dari kampus. Masih untung karena dia bertemu Venda. Jadi, tidak perlu sulit untuk mencari taksi.


“Kamu memangnya mau ke mana kok kayaknya buru-buru banget?” tanya Venda merasa penasraan. Matanya melirik Eiren sekilas dan kemudian kembali fokus dengan jalan di hadapannya.


“Aku ada urusan dengan orang gila,” ujar Eiren masuh kesal dengan Elio. Dia yang menyuruh berangkat, tetapi dia juga yang menyuruh pulang cepat, gerutu Eiren dalam hti.


Venda yang mendapat jawaban paten hanya tersenyum kecil dan kembali fokus. Sampai pada akhirnya dia berhenti tepat di depan gedung bertingkat. Venda yang melihat hanya diam dan mengulas senyum kepada Eiren.


“Terima kasuh, Venda,” ucap Eiren sembari meninggalkan uang ongkosnya.


Venda hendak menolak, tetapi Eiren tetap memaksa dan memilih untuk turun dan segera berlari masuk ke gedung tersebut.


Eiren melangkah semakin cepat menuju ke kamar apartemennya. Dia baru saja menutup pintu ketika suara bariton mengagetkannya. Membuat Eiren menatap dengan penuh tanya.


“Siapa pemuda itu?” tanya Elio membuat Eiren tersentak kaget.


Eiren menatap ke arah Elio dengan kening berkerut. “Apa yang kamu katakan, Elio?” tanya Eiren dengan tatapan bingung. Dia memilih mengabaikan wajah kesal Elio dan segera melangkah ke kamar.


Elio dengan cepat menarik tangan Eiren, membuat gadis tersebut menatap matanya yag masih menunjukan amarah. “Aku menyuruhmu mencari bahan bahasan dan kamu malah tertawa dan mengobrol dengan pria lain, Eiren,” tegas Elio dengan emosi menggebu.


Eiren yang diremas lengannya keras merintih sakit dan menatapa Elio dengan pandangan tajam. “Aku hanya mengobrol, apa salahnya? Kamu hanya calon suamiku dan tidak berhak mengurusi hidupku karena kamu belum sepenuhnya memilikiku, Elio,” bentak Eiren dengan wajah yang juga menunjukan kekesalan.


Elio yang mendengar hanya tersenyum kecil dan mengangguk. Dia melepaskan genggaman tangannya dan menatap Eiren datar. “Aku baru sadar seharusnya aku tidak terlalu mengurusimu, Eiren. Aku baru sadar bahwa selama ini aku belum memiliki sepenuhnya,” ucap Elio lirih.


“Elio,” panggil Eiren dengan mata menatap tajam. Dia merasa tatapan Elio seperti menunjukan kesakitan. Sampai pada akhirnya Eiren menatap Elio yang tertelan dengan pintu di hadapannya. Elio keluar dari apartemen.

__ADS_1


Eiren menghela napas pelan dan memijat keningnya lelah. “Ada apa denganmu, Elio,” gerutu Eiren merasa Elio berbeda dari biasanya.


_____


__ADS_2