
Eiren menghela napas perlahan ketika taksi yang ditumpanginya sudah berhenti tepat di depan kosannya. Dengan perlahan, dia mulai turun dan mengambl kopernya. Sejenak, hatinya menguatkan untuk masuk ke dalam bangunan bertingkat tersebut.
“Yakinlah, Eiren. Elio hanya datang sekejap dan kamu akan terbiasa tanpanya,” ucap Eiren pelan.
Eiren melangkah sembari menarik kopernya. Namun, baru beberapa langkah, dia kembali berhenti ketika terdengar suara menyapa dari belakang.
“Eiren.”
Eiren membalik badan dan menatap siempunya suara. Matanya menatap pria dewasa yang tengah menatapnya dengan penuh kerinduan. Eiren yang melihat langsung diam dengan wajah datar.
“Papa,” ucap Eiren pelan. Matanya menatap Arda yang sudah berada di hadapannya.
Arda tersenyum kecil dan menghampiri anaknya. Dia menghentikan langkah tepat di depan Eiren dengan tatapan lembut. “Akhirnya papa menemukanmu, Nak.”
“Untuk apa Papa datang ke sini?” tanya Eiren merasa bingung. Untuk apa papanya datang?
“Sudah lama papa mencarimu, Eiren. Kamu seperti hilang ditelan bumi. Tiak ada kabar dan bahkan nomormu sudah tidak bisa dihubungi,” jelas Arda dengan wajah lega karena sudah menemukan anaknya.
Eiren ersenyum kecil. Nomornya? Memang orang tuanya tahu mengenai nomor ponselnya? Arda yang mengerti senyum anaknya hanya diam dan mengabaikannya. Jemarinya terulur menyentuh puncak kepada Eiren, membuat anak semata wayangnya diam seketika.
“Papa bukannya melepasmu sepenuhnya, Eiren. Papa hanya terlalu sibuk dengan urusan papa sampai lupa memperhatikanmu. Papa pikir dengan uang kamu akan bisa melakukan semuanya. Ternyata papa salah. Bagaimana pun kamu membutuhkan kami untuk mendampingimu,” ucap Arda membuat Eiren menatap semakin lekat. Bahkan, mata anaknya tidak beralih darinya sama sekali.
“Papa minta maaf untuk itu semua, Eiren,” imbuh Arda dengan wajah lembut.
“Kenapa tiba-tiba? Kenapa papa melakukan ini padahal dulu selalu diam dan bungkam dengan masalah Eiren?” tanya Eiren merasa penasaran. Kenapa tidak dari dulu saja papanya sadar dan mengerti dirinya?
Arda terseyum kecil dan mengelus pipi anaknya. “Papa diam karena kamu tidak pernah mengatakannya, Eiren. Itu membuat papa merasa benar degan pikiran papa. Tetapi, setelah kamu mengatakannya, papa sadar dengan kesalahan yang papa perbuat. Jadi, maafkan untuk semua, sayang. Bagaimana pun, papa sangat menyayangimu.”
Eiren merasa terharu dan menitikan air mata. Perlahan, dia mulai memeluk Arda dan menumpahkan rasa rindunya. Sudah lama dia tidak mendapat dekapan dari sang ayah. Hatinya menghangat ketika dirasa papanya mulai membalas pelukannya dan mengecup pelan puncak kepalanya.
“Ayo kita pulang, sayang. Papa mau kamu tinggal dengan mama dan papa lagi,” pinta Arda mendapat anggukan dari Eiren.
Eiren melepaskan pelukannya dan mengikuti langkah papanya. Namun, baru sejenak dia mendengar gerbang kosan yang terbuka, menghadirkan seorang gadis yang sangat dikenalnya.
"Eiren,” panggil Feli ketika melihat sahabatnya. Dengan cepat dia segera menghampiri Eiren dengan mengulas senyum. “Kamu di sini? Kamu mau kembali tinggal di kosan?”
Eiren mengangguk kecil dan tersenyum. “Awalnya iya, tetapi sekarang tidak. Papaku memintaku untuk kembali ke rumah.”
Feli yang mendengar menghela napas lega dan menatap Eiren. Ada keraguan dalam hatinya, tetapi bagaimaa pun dia harus tetap mengatakannya. Tangannya mengambil sesuatu dari dalam tas dan memberikan kepada Eiren, membuat gadis di hadapannya mengerut bingung.
"Ini apa?” tanya Eiren ketika Feli menyodorkan kertas tebal dengan ukiran indah.
__ADS_1
“Beberapa hari lalu aku bertemu dengan Alex. Dia bilang akan segera menikah dan menitipkan undangan ini untukmu. Dia berharap kamu akan datang ke resepsi pernikahannya,” jelas Feli dengan mata menatap Eiren lekat.
Eiren menghela napas perlahan dan menerima undangan tersebut. Dia hanya mengulum senyum dan mengangguk pelan. “Terima kasih,” ucapnya dengan senyum dipaksakan.
“Kamu baik-baik saja?” tanya Feli merasa tidak yakin dengan kondisi temannya.
Eiren mengerti kekhawatiran Feli dan mengangguk meyakinkan. “Aku akan baik-baikbsaja, Feli. Alex sudah menemukan kebahagiaannya,” jawab Eiren menguatkan.
“Dan kamu juga?” Feli menatap Eiren dengan tatapan penuh selidik. Dia berhatap Eiren juga merasa bahagia dengan Elio.
“Iya. Aku juga,” sahut Eiren dengan mata menatap kosong. Dia bahkan baru saja kehilangan kebahagiaan yang dimaksud oleh Feli dalam sekejap. Namun, bagaimana pun Eiren tetaplah Eiren. Dia jauh memilih menyimpan masalahnya dari pada menceritakan kepada siapa pun isi hatinya.
_____
“Eiren pulang dengan papanya.”
“Baik, tetap awasi dia dan pastikan pria tersebut tidak mengikuti Eiren,” peritah Elio sembari mematikan panggilan.
Elio menghela napas perlahan menyadari kekosongan yang tercipta di apartemennya. Kehangatan dan juga tawa yang biasanya ada menghilang dengan seketika. Rasanya ada bagian hidupnya yang perlahan menguap pergi.
“Harus dengan apa aku memberimu pengertian, Eiren. Aku bahkan sudah benar-benar memilihmu menjadi pendamping hidupku,” ucap Elio dengan lemah.
Elio mendongakan kepala dan menatap langit-langit ruang tamu dengan pandangan nanar. “Apa yang bisa aku lakukan sekarang? Kamu bahkan pergi dan tidak mempercayaiku. Aku hanya butuh sedikit waktu hingga Firda merasa baikan. Setelah itu aku berniat menikah denganmu.”
Setelah sampai di parkiran, dengan cepat dia segera masuk ke dalam mobil dan mengemudikan dengan cepat. Dia tidak sabar untuk sampai di kediaman Eiren. Bahkan, hanya dalam tiga puluh menit dia sudah sampai di rumah megah yang ada di hadapannya.
Elio segera keluar dari mobil dan melangkah masuk. Tangannya mengetuk pintu ruang tamu pelan, menunggu pintu tersebut terbuka. Tidak butuh waktu lama hingga akhirnya pintu tersebut terbuka, menghadirkan sosok yang sangat dirindukannya.
"Elio,” panggil Eiren dengan wajah terkejut. Dia merasa aneh karena pria tersebut ada di rumahnya.
"Eiren,” panggil Elio dengan senyum manis. Dia melangkah mendekat ke arah Eiren dan berniat memeluk, tetapi Eiren memilih mundur, membuat Elio menghentikan langkah dan menatap bingung.
“Eiren, kamu tidak merindukanku?” ucap Elio dengan pandangan tidak percaya.
“Untuk apa kamu datang kemari, Elio?” tanya Eiren mengabaikan ucapan Elio.
“Aku merindukanmu. Aku ing...”
Ucapan Elio terhenti ketika dering ponsel terdengar. Dengan perlahan, dia mulai mengambil ponselnya dan mengerutkan kening bingung. Jemarinya segera menggeser tombol berwana hijau dan mendekatkan ponsel tersebut ke telinga.
“Hal...” Elio menghentikan ucapannya dan membelalak kaget. Bibirnya bungkam, bahkan sampai panggilan di seberang sudah berakhir.
__ADS_1
Elio segera membalik badan dan melangkah meninggalkan Eiren. Hal yang membuat Eiren diam seketika. Bahkan, pria tersebut tidak mengucapkan selama tinggal sama sekali.
“Elio,” panggil Eiren lemah dan menatap kepergian Elio dengan pandangan bingung.
Eiren menghela napas perlahan. Dia berniat mengabaikan begtiu saja apa yang sudah dilakukan Elio, tetapi hati kecilnya mengatakan hal lain. Dengan cepat dia mengambil kunci mobil dan segera mengikuti Elio dengan rasa penasaran yang membuncah.
“Kamu mau ke mana, Elio?” gumam Eiren dengan pandangan lekat. Dia tidak mau kehilangan jejak Elio yang tanpak terburu-buru.
_____
Elio melupakan masalahnya dengan Eiren yang sejak tadi menghantui pikirannya. Dengan cepat dia mengemudikan mobil menuju ke tempat yang sudah dikatakan oleh seseorang tersebut.
Elio membelokan mobil dan menghentikannya ketika sudah sampai di parkiran rumah sakit. Dengan cepat dia segera keluar dan mengabaikan seseorang di sekitarnya. Kakinya segera melangkah memasuki bangunan tersebut dengan wajah cemas. Tujuannya adalah ruang rawat yang sudah diberitahukan.
Tidak butuh waktu lama hingga Elio sampai di ruangan tersebut. Dengan cepat dia segera membuka pintu ruangan dan masuk. Matanya menatap gadis dengan perban di kepala dan tengah tertidur dengan tenang. Membuat napasnya lega seketika.
“Kamu sudah datang?” tanya Rega yang saat itu tengah duduk di ujung ruangan.
Elio mengangguk dan mendekat ke arah Firda yang masih tidur. Matanya menatap wajah tenang yang saat ini tengah berbaring lemah di ranjang rawat.
“Firda baru saja jatuh dari tangga. Kamu tahukan kalau itu tidak mungkin sebuah kebetulan,” ucap Rega sembari bangkit dan melangkah mendekati Elio.
Elio mengangguk mengerti. “Dia pasti sengaja melakukannya.”
Rega mengangguk setuju dan menghentikan langkah ketika sampai di dekat Elio. “Dia masih sangat lemah dan kamu malah menemukannya dengan Eiren, Elio. Kamu seperti menghancurkan hidupnya setelah dia berusaha bangkit untukmu,” ujar Rega dengan mata menatap Firda penuh rasa simpati.
“Aku tahu,” jawab Elio pelan.
“Kalau kamu tahu, kenapa kamu masih mengejar Eiren dan memilih meninggalkan Firda, Elio? Dia membutuhkanmu dan Eiren, dia masih terlalu sehat meski kamu tidak bersama dengannya,” celetuk Rega menbuat Elio menatap ke arahnya dengan pandangan lemah.
“Tetapi aku yang tidak akan bisa hidup pada akhirnya, Rega,” sahut Elio dengan pandangan bingung.
Rega menghela napas perlahan dan menepuk pundak Elio pelan. “Kamu pernah mencintai Firda, Elio. Aku rasa tidak akan sulit bagimu mencintainya kembali. Sedangkan dengan Eiren, kamu baru mengenalnya. Kamu bisa melupakan dia dan bersama dengan Firda kembali. Lagi pula kamu berniat menikahinya karena kalian sudah tertangkap tidur bersama oleh om Abian, kan? Kamu menikahinya hanya karena kamu tidak mau membuat keluarga malu dan dengan begitu, kamu akan tetap mendapat harta dari om Abian sepenuhnya.”
Elio yang mendengar menatap Rega dengan pandangan tajam. Dia bahkan sudah tidak mementingkan hal itu sama sekali.
“Aku tahu itu karena tanpa sengaja mendengar ucapan kalian waktu itu. Aku tahu, kamu tidak pernah mencintainya, Elio. Jadi, kamu bisa lepaskan Eiren karena sekarang om Abian akan merestuimu dengan siapa pun nantinya. Dia akan tetap menyerahkan hartanya meski kamu tidak menikahi Eiren.”
Praangg...
Suara nyaring yang membuat Elio mengalihkan pandangan dari Rega menuju ke asal suara. Matanya menatap gadis yang sudah membeku tepat di depan pintu ruangan Firda dan menitikan air mata.
__ADS_1
“Eiren,” panggil Elio dengan wajah yang sama terkejutnya.
_____