
“Kamu mau pulang bareng?” tanya Saka sembari mematikan mesin mobil, menatap ke arah Feli yang tengah melepaskan sabuk pengaman.
Feli menatap ke arah Saka dengan wajah berpikir. Dia ingin menajwab iya, tetapi ada hal lain yang membuatnya menggelengkan kepala. “Tidak, Saka. Aku lelah dan ingin kembali ke apartemenku saja,” jawab Feli dengan tatapan menenangkan.
Saka yang mendengar hanya mengangguk patuh, membuat Feli yang melihat mengerutkan kening bingung.
“Kamu tidak menanyakan kenapa aku ingin ke apartemen dari pada pulang ke ruman?” tanya Feli dengan pandangan lekat.
Saka menggeleng dan tersenyum. Tangannya terulur dan mengelus pelan puncak kepala kekasihnya. “Kamu tadi bilangnya lelah. Jadi, aku tidak menanyakan lebih lanjut mengenai alasanmu karena aku mau kamu beristirahat dengan baik,” jelas Saka dengan senyum lembut.
Feli mengerti dan mengangguk patuh. Setelahnya, mereka keluar dari mobil dan melangkah meninggalkan parkiran. Namun, baru setengah jalan, Feli menghentikan langkah Saka yang berada di depannya.
“Ada apa?” tanya Saka dengan wajah bingung. Pasalnya, Feli berhenti dan menatap sekeliling seakan takut ada yang melihatnya.
Feli menghela napas perlahan dan menatap Saka lekat. Jemarinya mulai mengelus pelan punggung tangan Saka dan melepaskannya secara perlahan, membuat tatapan Saka beralih ke arah genggamannya yang sudah terlepas.
“Kita masuk sendiri-sendiri, ya?” pinta Feli dengan tatapan lembut.
“Kenapa? Kita bisa berangkat bersama. Bukankah kita sekarang kekasih,” ucap Saka dengan wajah tidak suka. Dia ingin masuk bersama dengan Feli seperti kekasih lainnya. Bergandengan tangan dan menunjukan kebahagiaannya.
Feli yang mendengar menggeleng pelan dan tersenyum. “Jangan, Saka. Apa kata mereka kalau sampai melihat kita berangkat bersama. Apalagi kalau kita terlihat sangat dekat. Jadi, aku mohon kamu bisa mengertiku,” kata Feli berharap Saka akan mengerti maksudnya.
Saka menghela napas panjang. Ada rasa sakit yang perlahan menjalar, seakan Feli enggan dekat dengannya. Sampai sebuah elusan ringan mampir di lengannya, membuat pikiran Saka buyar seketika.
“Bagaimana pun kita adalah saudara, Saka. Akan ada banyak omongan tidak mengenakan jika kita terlalu dekat. Apalagi jika seisi kantor mengetahui aku kekasihmu, aku tidak yakin akan bisa bertahan di sini lagi,” ucap Feli. Dia masih sangat ingat siapa Saka bagi semua karyawan di kantornya, terutama wanita. Saka merupakan atasan dengan penggemar terbanyak dan dia enggan mencari masalah dengan karyawan lain.
“Please,” tambah Feli dengan tatapan memohon.
Saka hanya diam dan perlahan mendekat, meraih tengkuk Feli dan memeluk erat. Feli yang merasakan dekapan erat hanya diam dan mengelus pelan punggung Saka lembut.
“Saka, nanti ada yang melihat,” ujar Feli dengan mata mengamati sekitar.
__ADS_1
“Sejenak, sayang. Aku ingin sejenak bersamamu. Kalau sudah masuk nanti, kita akan kembali seperti tidak saling mengenal lagi dan aku yakin akan sangat merindukanmu,” cicit Saka dengan mata terpejam, seakan meresapi kebersamaannya dengan Feli yang terasa singkat.
Feli hanya terkekeh kecil dan membiarkan Saka mendekapnya erat. Sampai dering ponsel Saka membuatnya mengumpat kesal dan melepaskan pelukannya. Dengan perasaan kesal yang tengah berada di ubun-ubun, Saka segera mengambil ponsel dalam kantong celamanya an menatap nama sang penelpoon.
“Halo, Elio,” ujar Saka dengan rahang mengeras. Dia hanya terdiam dan bergumam, membuat Feli yang ada di dekatnya menatap dengan wajah bingung. Sampai akhirnya, Saka mematikan panggilan dan menatap ke arah Feli lekat.
“Sayang, kamu disuruh ke ruangan Elio,” kata Saka dengan tatapan santai.
“Aku? Kenapa?” tanya Feli dengan telunjuk mengarah kepadanya.
Namun, bukan jawaban yang didapat, Saka hanya mengangkat kedua bahu ringan, membuat Feli berdecak kesal. Saka hanya diam dan meraih jemari Feli, menariknya untuk tetap melangkah bersama, mengabaikan rontaan Feli yang mengingatkan mengenai ucapan yang baru saja dikatakan. Sampai akhirnya, Saka melepaskan genggamannya ketika sudah sampai di dekat pintu masuk, membuat Feli menatap dengan penuh kekesalan.
“Kamu mengenyebalkan,” ucap Feli yang langsung berlari, membiarkan Saka yang ada di belakangnya terkekeh kecil.
“Aku akan segera memberitahukan mama dan papa mengenai hubungan kita, sayang,” ujar Saka dengan tawa kecil, mengingat gadis yang bersamanya seperti salah tingkah.
_____
Elio tengah sibuk dengan berkas ketika sebuah ketukan kembali terdengar. Sejenak, dia memberi intruksi agar masuk dan kembali berkutat dengan kertas paling menyebalkan menurutnya.
Elio yang tengah membaca berkas segera mendongak dan menatap Feli tegas. “Duduk,” ucap Elio dingin.
Feli hanya menurut dan melangkah semakin masuk ke dalam ruangan atasannya. Perlahan, dia menarik kursi yang tepat berhadapan dengan Elio dan diam, menunggu apalagi yang akan di katakan atasannya.
Elio menghela napas perlahan dan meninggalkan urusannya sejenak. Matanya menatap ke arah Feli yang masih saja bungkam di hadapannya.
“Feli, mulai besok kamu aku tugaskan mengawal Eiren. Dia akan melanjutkan kuliahnya kembali dan aku mau kamu menemaninya,” perintah Elio tidak mau diganggu gugat.
“Kenapa harus dikawal, Pak?” tanya Feli tanpa sadar, membuat Elio mendongak dengan tatapan tidak suka.
“Maaf,”cicit Feli menyadari bahwa dia telah bersalah.
__ADS_1
“Kamu urusan dan awasi dia. Jangan sampai ada pria yang mendekatinya. Jangan sampai dia lelah dan yang pasti, kamu harus memastikan dosen Eiren ada setiap dia menghadap,” ucap Elio tegas.
Oh, begini toh sifat posesif Elio, batin Feli sembari mengulum senyum.
Elio hanya diam tidak menanggapi. Matanya kembali fokus dan menyuruh Feli keluar ruangannya. Feli hanya mengangguk dan menurut. Sampai langkahnya kembali ke luar dan menghela napas perlahan.
Setelah pintu ruangan Elio tertutup, menyisakan Feli yang ada di lorong ruangan Elio, dia segera menghela napas perlahan.
“Hampir saja aku dipecat sama Elio,” gumam Feli dengan perasaan lega. Kakinya kembali melangkah menyusuri lorong menuju ke lift karyawan dan segera kembali ke ruangannya. Matanya masih menatap lurus, sampai sebuah tangan menariknya, membawa Feli ke sudut ruangan yang jarang dilewati karyawan lain.
“Lepas,” ronta Feli ketika merasa pelukan seseorang di belakangnya semakin erat. Dia baru akan berteriak ketika sebuah kecupan ringan mampir di pipi sebelah kanan, membuat Feli terdiam dan menatap ke arah sang pelaku.
“Saka,” teriak Feli sedikit tertahan.
Saka yang mendengar hanya terkikik kecil dan menatap ke arah Feli tanpa dosa. “Kamu ngapain di ruangan Elio, sayang?” tanya Saka dengan mata yang masih mengamati Feli lekat.
“Lepas dulu,” kata Feli dengan tangan yang masih meronta. Tetapi, bukannya melepaskan, Saka malah semakin mengeratkannya. Membuat Feli hanya bisa pasrah dan menatap Saka tanpa minat.
“Jadi, apa yang dikatakan Elio?” tanya Saka dengan rasa penasaran menggebu.
Feli menghela napas perlahan dan menerima apa yang dilakukan Saka terhadapnya. “Aku hanya disuruh mengawal Eiren mulai besok, Saka. Tidak ada yang lain,” jelas Feli dengan wajah sumringah. Dia akan bisa bercerita banyak hal kepada sahabatnya mulai besok.
Saka yang mendengar segera melepaskan pelukannya dan membalik tubuh Feli. Wajahnya sudah tampak murung dengan wajah ditekuk. “Kalau kamu mengawasi Eiren, terus aku sama siapa? Kalau aku rindu gimana?” ucap Saka sembari mendekatkan kepalanya.
Feli baru akan mengatakan protesnya ketika Saka mulai mengecup bagian lehernya dalam. Namun, sebuah deheman membuat keduanya berhenti dan menatap ke asal suara.
“Kalau kalian mau bermesra-mesraan jangan di tempat speerti ini. Gak baik kalau karyawan lain yang melihat,” tegur Elio ketika tanpa sengaja melihat perbuatan sahabatnya.
Feli yang melihat Elio mulai melangkah meninggalkannya dengan Saka hanya tersenyum kikuk. Malunya aku, batin Feli yang ikut meninggalkan Saka seorang diri. Dia tidak mau jika nantinya ada orang lain yang melihatnya dengan Saka.
_____
__ADS_1
Halo kesayangan Kim. Bertemu lagi dengan Kim di sini. Ada yang rindu? Kagak ya? Haha gak apalah. Selamat membaca ya sayangkuh, jangan lupa tinggalkan like, comment dan tambah ke favorit. Baca juga cerita Kim yang berjudul “Relationship Goals” ya sayang. Jangan lupa tinggalkan like, comment dan tambah ke favorit. Selamat membaca dan sampai jumpa di next chapter.
_____