
“Dia adalah calon istri Elio.”
Firda yang mendengar menegang seketika. Jantungnya berhenti berdetak saat itu juga, tubuh lemahnya semakin lemah dan terasa tidak bertulang sama sekali. Ada kepedihan yang langsung dirasakan. Perlahan, Firda memberanikan diri menatap ke sumber suara. Matanya menatap pria dengan wajah menua yang juga menatapnya datar.
“Tuan Abian,” panggil Firda pelan. Suaranya tercekat dengan air mata yang mulai mengalir dengan perlahan bersama dengan kepedihan yang mulai menyeruak dalam hatinya.
Abian yang tengah berdiri melangkah mendekat ke arah Firda duduk saat ini. pandangannya dialihkan dari wanita yang saat itu menatapnya dan berbalik menatap ke arah bingkai foto tersebut diletajan. Jemarinya mulai meraih dan menatapnya lekat. Membuat Firda menatap Abian dengan mata yang masih mengabur karena air mata.
Abian menghela napas perlahan dan menatap ke arah Firda saat ini duduk. “Apa kabar, Firda?” sapa Abian dengan nada suara datar, “tidak menyangka kita bisa kembali bertemu.”
Firda kembali bungkam. Ingatannya kembali berputar pada saat di mana dia pernah mendengar penolakan dan larangan dari Abian mengeai hubungannya dengan Elio. Namun, melihat Abian menatap gadis di foto tersebut dengan lembut, seperti tidak ada penolakan dalam hubungan itu membuatnya semakin tertohok dengan kenyataan bahwa semua sudah berubah. Termasuk hati prianya.
“Namanya Eiren dan Elio berencana menikahinya,” ucap Abian dan menatap ke arah Firda lekat. Helaan napas terdengar lelah dan kembali meletakan bingkai tersebut di tempatnya.
“Aku tidak tahu apa yang akan dipilih Elio sekarang, Firda, tetapi ada hal yang harus aku katakan kepadamu,” imbuh Abian dengan wajah serius. “Mungkin aku memang pernah melarangmu berhubungan dengannya. Namun, sekarang anakku sudah menjadi pria dewasa yang mampu memilih dengan siapa dia akan berdampingan. Dia bisa memilih siapa yang nantinya akan dijadikan kekasih olehnya. Itu sebabnya, aku ingin memperbaiki masalahku denganmu terlebih dahulu.”
“Maksud anda?” tanya Firda tidak mengerti. Matanya menatap Abian dengan kening berkerut bingung.
“Aku pernah membuat salah denganmu. Tetapi, aku tidak pernah berencana merenggut hidupmu. Aku hanya membuatmu menjauh dari Elio dan sekarang aku minta maaf untuk semuanya. Aku sudah terlalu banyak membuat kalian berada dalam masalah. Sekarang, aku menyerahkan semua keputusan kepada Elio. Entah dia memilihmu atau Eiren, aku hanya akan mendukung,” celoteh Abian dengan sungguh-sungguh.
Firda yang mendengar diam dan menatap foto Elio bersama dengan Eiren. Matanya kembali memejam dengan tetes air mata yang masih saja mengalir. Perlahan, helaan napas terdengar, bersamaan dengan mata yang terbuka sempurna.
Firda menatap Abian yang sudah mulai melangkah menjauh. “Tuan,” panggil Firda dengan nada lembut, membuat Abian menghentikan langkah dan menatap ke arah Firda.
“Apa, Firda?”
“Kenapa dulu anda tidak menyukai saya?” tanya Firda merasa penasaran.
“Karena kita berbeda, Firda. Aku terlalu malu mengakuimu di hadapan para rekan bisnisku. Namun, sekarang aku sadar, Elio punya jalannya sendiri,” jawab Abian dengan penuh kejujuran.
Firda hanya diam dengan senyum tipis. Apa gadis yang bersama Elio kali ini sepadan dengan anda? Rasanya Firda ingin menanyakan hal tersebut, tetapi terlalu takut dengan jawaban yang membuat hatinya belum siap.
“Eiren, dia adalah gadis yang mampu membawa Elio bangkit darimu,” cetus Abian menbuat Firda menatap dengan rasa penasaran, “selama kamu koma, Elio seperti menyalahkan dirinya sendiri, meski dia hanya diam dan tidak mengatakan apa pun. Ditambah dengan kabar kehamilan kamu bersama dengan pria lain. Dia bahkan tidak pernah berhubungan secara benar dengan wanita di luar sana. Sampai akhirnya, Eiren datang dan mengubah kehidupannya,” jelas Abian tanpa rasa berdosa. Menurutnya, Firda pantas tahu semuanya.
Firda tersenyum tipis dan mengangguk. Perlahan, dia mulai bangkit dan melangkah mendekati Abian yang masih menatapnya datar. “Apa dia gadis yang baik?” tanya Firda dengan lirih.
__ADS_1
“Aku rasa begitu.”
“Kalau begitu, bisa pertemukan aku dengannya?” pinta Firda dengan hati yang semakin dikuatkan. Ada yang yang menggores perasaannya. Dia berharap ketika bangun kelak akan mendapatkan Elio. Namun, kenyataannya salah. Elio benar-benar sudah tidak peduli lagi dengannya.
“Kamu bisa bertanya itu dengan Elio, Firda. Aku tidak memiliki hak untuk itu,” jawab Abian tegas.
Firda kembali diam. Sedagkan Abian segera melangkah keluar. Dia datang hanya untuk meminta maaf kepada Firda dan itu sudah dilakukan. Dia bahkan tidak peduli mendapat maaf atau tidak.
_____
Rega baru saja masuk dari pintu utama rumah Elio. Dia hanya keluar sebentar dan kembali dengan cepat. Namun, manik matanya menangkap bayangan pria yang begitu dikenalnya tengah menuruni tangga. Dengan cepat dia segera menghampiri pria tersebut dengan pandangan tegang.
“Om Abian,” panggil Rega dengan wajah tegang.
Abian menghentikan langkah dan menatap Rega. “Jangan terlalu takut, Rega. Aku hanya datang untuk sedikit berbincang dengannya,” protes Abian yang mengerti dengan tatapan Rega.
Rega tersenyum kecil dan mengangguk. Abian yang melihat hanya kembali melangkah keluar dari rumah anaknya. Rega melihat sekilas dan segera melangkah ke kamar Elio. Dia tahu di sana Firda berada karena sebelum dia pergi, Firda mengatakannya.
Rega segera membuka pintu kamar Elio dan menatap Firda dengan mata membelalak. “Firda,” teriak Rega yang langsung masuk.
“Apa yang kamu lakukan? Tanganmu terluka,” ucap Rega dengan wajah cemas ketika melihat ada goresan di tangan Firda.
“Maaf, Rega. Aku tidak sengaja memecahkan bingkainya dan pecahannya mengenai tanganku,” jawab Firda dengan wajah penuh penyesalan.
Rega yang mendengar menghela napas perlahan dan menatap Firda dengan lembut. “Lain kali hati-hati. Aku akan mengobatimu,” balas Rega dan mendapat anggukan dari Firda.
Rega segera menuntun Firda kembali ke kamarnya dan mulai mengobati luka di tangan wanita tersebut. Dia bahkan mengabaikan pecahan kaca di kamar Elio.
Aku harus memberitahukan ini kepada Elio, batin Rega.
_____
Elio mengacak rambutnya kasar dan mendesah keras. Dia menyandarkan tubuh di kursi kerja. Ingatannya berkutat kesal setiap mengingat Eiren yang tengah bersama dengan pria lain di luar sana. Bahkan, Eiren dengan khusus berdandan pagi ini hanya untuk pria tersebut.
“Aku seperti pernah melihatnya. Tetapi, di mana?” gumam Elio dengan mata memejam. Pikirannya tidak bisa fokus dan memilih untuk melupakannya sejenak. Elio membiarkan pekerjaannya terlantar begitu saja.
__ADS_1
Elio masih pusing dengan seluruh masalahnya dan juga Eiren memilih bangkit dan keluar kantor. Dia ingin sedikit menghirup udara segar guna menjernihkan pikiranya. Namun, pikirannya salah karena ketika dia memberhentikan mobil di depan cafe, matanya menatap Eiren dan juga pria tengah berbincang hangat. Hal yang membuat hatinya semakin memanas.
“Kurang ajar,” geram Elio dengan tangan mengepal. Dia baru akan keluar ketika ponselnya berdering. Dengan malas dia segera mengambil ponsel dan mengangkat panggilan masuk.
“Halo,” sapa Elio anpa menatap siapa sang penelfon.
Elio diam seketika dan menghela napas. Matanya memejam mendengarkan cerita seseorang di seberang.
“Baiklah, aku tahu,” ucap Elio sembari mematikan panggilan.
Elio menghela napas perlahan dan membuka pintu mobil. Dengan cepat dia melangkah memasuki cafe tersebut dan menuju ke arah Eiren.
“Ikut aku,” tegas Elio ketika sudah berada di sebelah Eiren. Bahkan, tangannya sudah mencengkram erat lengan Eiren dan menarik gadis tersebut untuk ikut bersama dengannya.
Eiren membelalak kaget ketika Elio menariknya keluar dari cafe, meninggalkan Venda yang menatap bingung.
“Elio, lepas,” teriak Eiren membuat pengunjung cafe menatap ke arahnya.
Elio mengabaikannya dan membawa Eiren masuk ke dalam mobil. Namun, Eiren menolak dan menatap Elio dengan pandangan tajam.
“Kamu ini apa-apaan, hah? Aku masih makan dan kamu benar-benar tidak sopan dengan menarikku keluar,” tegas Eiren dengan emosi menggebu.
“Kamu yang apa-apaan, Eiren? Kamu pergi dengan pria lain dan tidak menghiraukan laranganku sama sekali.”
“Memangnya kenapa?” bentak Eiren dengan mata menatap nyalang, “aku tidak boleh pergi dengan pria lain, sedangkan kamu masih mengurusi mantan kamu dan menyembunyikannya di rumah. Lalu apa bedanya kita, Elio?” desis Eiren sinis.
"Ah, aku tahu," sambung Eiren dengan tawa mengejek, "kamu masih mencintainya dan aku lupa bahwa semua yang kita lakukan hanyalah permainan."
Elio diam seketika. Matanya menatap Eiren dengan begitu lekat. “Aku akan membawamu bertemu dengannya,” ucap Elio penuh keyakinan.
Eiren yang awalnya menatap tajam mulai menyipitkan mata dan menatap lurus. Dia masih memperhatikan wajah Elio yang tidak menunjukan tingkah jenaka sama sekali.
“Aku akan mempertemukanmu dengan Firda. Aku tidak mau ada kesalah pahaman lagi diantara kita,” ujar Elio benar-benar serius.
“Kalau begitu, pertemukan aku dengannya,” jawan Eiren yang tidak kalah serius. Dia ingin tahu seperti apa seorang Firda.
__ADS_1
_____