Wedding With My Lecturer

Wedding With My Lecturer
Bagian 61_Terasa Hancur


__ADS_3

Iya, aku Eiren. Dulu aku Eiren, tetapi sejak kecelakaan Eiren sudah mati bersama dengan kenanganya.


Venda memejamkan mata mengingat ucapan Eiren. Sekarang dia tengah duduk di depan toko dan menatap wanita tersebut dengan pandangan tajam. Ada rasa perih mengetahui fakta bahwa Eiren telah menipu seluruh dunia. Membuatnya seakan mati.


Eiren menghela napas perlahan ketika menyadari tatapan Venda terlalu mengntimidasinya. Perlahan, dia mulai mendongak dan menatap pria tersebut tepat di manik mata teduhnya.


“Aku membutuhkan penjelasan tentang ini semua, Eiren,” kata Venda dengan nada pelan. Ada kesan hancur karena wanita tersebut tidak jujur dengannya. Setidaknya, dia bisa menjadi seseorang yang pertama kali ditelfon ketika Eiren sadar.


“Apa yang harus aku jelaskan, Venda? Aku tidak memiliki penjelasan tentang semuanya dan aku pikir, kamu tidak perlu tahu apa alasanku pergi,” jawab Eiren dengan nada tajam.


“Memalsukan identias, membuat kamu seakan mati dalam sebuah kecelakaan, kamu membohongi semua orang, bahkan orang tuamu sendiri, Eiren. Apa kamu tidak mau menjelasakn apa pun mengenai pemikiran konyolmu ini?” jelas Venda dengan nada tajam.


“Aku hanya ingin hidup tenang, Venda,” ucap Eiren dengan santai.


“Dan melihat semua yang menyayangimu menjadi terluka? Orang tua, sahabat dan juga Elio,” ujar Venda dengan nada pelan. Dia tahu seberapa hancurnya Elio kali ini karena dia melihat raut berbeda dari biasanya.


Mendengar nama pria tersebut disebut, Eiren langsung menghela napas kasar dan menatap tanpa minat. Tujuannya pergi adalah untuk menghindari Elio, tetapi Venda datang dan membahasnya lagi. Bahkan, untuk memulai hidup yang baru seperti sekarang bukanlah hal mudah untuk Eiren. Dia harus meninggalkan semua kehiudpannya dan mengesampingkan hatinya yang juga hancur.


“Eiren, kamu tahu? Elio tampak begitu hancur. Dia seperti orang yang tidak terurus sama sekali. Bahkan, sudah dua minggu dia tidak masuk kampus dan mendapat surat teguran. Ada kemungkinan dia akan dikeluarkan dari kampus,” kata Venda memberikan informasi.


Eiren menatap tidak peduli dan memandang Venda lekat. “Apa pun mengenainya bukan lagi urusanku, Venda. Kamu tahukan apa tujuanku pergi? Aku ingin melepaskan diriku darinya. Aku ingin hidup tenang seperti dulu, Venda,” sahut Eiren dengan wajah memelas.


“Tetapi kamu mengorbankan banyak orang, Eiren,” tegas Venda dengan tatapan tidak suka. Eiren bisa memberitahukan semuanya kepada orang tuanya, setidaknya jika dia mau.

__ADS_1


Eiren menarik napas perlahan dan mengembuskannya pelan. “Aku tahu, Venda. Tetapi, kita butuh pengorbanan untuk sebuah kebahagiaan, kan?”


Venda yang mendengar hanya dapat diam dengan mata menatap Eiren lekat. Ini pertama kalinya dia melihat Eiren dalam sosok lain. Biasanya dia selalu memikirkan orang lain sebelum dirinya sendiri. Namun, sekarang rasanya dia melihat Eiren dalam wujud yang tidak lagi mementingkan orang lain.


“Kamu yakin dengan itu, Eiren? Kamu tidak memikirkan orang tuamu yang juga merasa hancur?” tanya Venda memastikan.


“Apakah mereka pernah memikirkan aku yang dulu membutuhkannya?” Eiren balik bertanya dan menatap Venda dengan tatapan santai. “Mereka bahkan tidak memikirkanku sama sekali, Venda. Sekarang aku hanya mau memikrikan hdiupku sendiri. Melupakan Elio dan membiarkannya hidup bersama dengan Firda.”


“Aku harus melupakan cintaku kepadanya, Venda,” tegas Eiren.


Venda yang mendengar menghela napas perlahan dan bangkit. Tangannya terulur dan mengikur senyum penuh luka. “Aku harap pilihanmu benar, Eiren. Aku rasa sekarang kamu bukannya mencapai kebahagiaanmu, tetatpi kamu mengukir luka yang baru. Aku harap kamu akan baik-baik saja,” ucap Venda dengan wajah datar.


Eiren hanya diam mengabaikannya. Sampai pada akhirnya Venda melangkah meninggalkannya. Setelah itu, dia hanya bisa menghela napas dan memandang langit yang saat ini terlihat begitu cerah.


_____


“Elio,” panggil Farah dengan suara pelan. Jemari lentiknya beberapa kali mengetuk pintu kamar anaknya dan berharap ada sahutan dari dalam.


Farah menghela napas perlahan ketika dirasa anaknya tidak juga menjawab. Namun, ketika dia hendak pergi dari depan kamar Elio, sebuah suara menghentikannya. Telinganya mendengar suara kunci pintu yang terbuka dan tidak berselang lama, pintu kamar di hadapanya terbuka. Helaan naaps lega terdengar ketika Elio mulai membuka pintu dan menatap mamanya dengan pandangan lemah.


“Sayang,” panggil Farah dengan mata menatap pedih. Anaknya tampak tidak terurus dengan rambut yang acak-acakan. Bahkan, wajahnya sudah dihiasai dengan bulu-bulu halus yang membuatnya terlihat lebih tidak terurus.


Farah mengelus pelan wajah anaknya, mengamati wajah Elio yang terlihat berantakan. “Kamu kenapa, Nak? Beberapa hari kamu tidak makan dan hanya mengurung diri di kamar.” Farah hendak menitikan air mata, tetapi ditahan. Sebisa mungkin dia harus tegar di depan anaknya.

__ADS_1


Elio menghela napas perlahan dan memeluk mamanya erat. Air matanya sudah menggenang, menyadari betapa dia merindukan Eirennya.


Farah mengelus pelan punggung anaknya, menyalurkan ketenangan yang dimilikinya agar Elio kembali seperti dahulu. “Kamu harus bangkit, Elio. Kamu bilangkan kalau Eiren masih hidup? Kamu yakin dengan itu, kan? Jadi, kamu harus berusaha mencarinya dan tetap tegar, sayang,” ucap Farah memberikan semangat.


“Elio ingin menyerah, Ma. Sampai saat ini Roby tidak memberitahukan mengenai perkembangan Eiren. Eiren masih tetap tidak ditemukan,” jawab Elio dengan nada lemah. Dia merasa lelah berpura-pura menjadi kuat ketika kenyataannya dia terlalu lemah untuk menatap dunia.


“Semua butuh proses, sayang. Jika hatimu yakin dengan hal tersebut, kamu harus menyakininya. Cari Eiren dan jangan pernah menyerah. Kamu harus tetap tegar apa pun yang terjadi, sayang.”


Elio memejamkan mata, meresapi kebersamaannya bersama dengan mamanya. Sejak dahulu, wanita dalam dekapannya adalah satu-satunya tempatnya untuk menumpahkan semuanya. Kepedihan, kebahagiaan dan bahkan kehancuran. Semua tercurahkan kepada sang mama.


Farah melepaskan pelukan anaknya dan menangkup wajah Elio dengan lembut. Matanya memancarkan kepercayan dengan isi hati anaknya. “Mama percaya denganmu, sayang. Mama percaya kamu akan bisa mendapatkan cintamu. Kamu akan bisa menemukan Eiren. Dan saat dia ditemukan, mama pastikan kalian akan selalu bersama. Mama tidak akan membiarkan apa pun membuat kalian berpisah. Mama tidak mau melihat anak mama seperti ini lagi. Mama ingin kamu bahagia, sayang.”


Elio menghela napas perlahan dan menitikan air mata. “Andai saja Elio tidak pernah menjadikan Eiren sebagai alat mendapatkan kekayaan papa. Andai saja Elio lebih tegas dengan hubungan ini dan tidak memikirkan Firda. Semua tiak akan menjadi seperti ini, Ma,” sesal Elio dengan nada lemah.


Farah mengelus pelan wajah anaknya dan mengulas senyum tipis. “Jangan menyesali apa yang sudah terjadi, Nak. Kamu hanya butuh bangkit untuk memperbaikinya. Kamu harus tetap tegar dan mencari Eiren. Ikuti kata hatimu dan kamu akan mendapatkan apa yang dipercayainya,” sahut Farah dengan senyum tulus.


Elio yang mendengar mengangguk dan menghapus setitik air mata yang mengalir. Rasanya lega ketika mengatakan semua kepada mamanya. “Terima kasih, Ma. Aku akan mencari Eiren sendiri,” jawab Elio dengan penuh keyakinan.


“Mama akan membantumu, sayang.” Farah tahu kepada siapa dia harus mencari tahu mengenai keberadaan Eiren.


Elio mengangguk setuju. Bagaimana pun dia membutuhkan bantuan dari semuanya. Aku akan menemukan, Eiren. Aku yakin kamu masih hidup dan saat kamu kembali, aku tidak akan membiarkan sedikit ruang untukmu meninggalkanku. Aku akan tetap memperjuangkanmu dan mendapatkan cintamu, batin Elio seperti ancaman.


_____

__ADS_1


__ADS_2