
“Kamu sudah, Eiren?” tanya Feli sembari menatap ke arah Eiren lekat. Sudah tiga puluh menit dia bersama dengan Eiren dan menunggunya di depan ruangan dosen.
Eiren yang baru saja keluar tersenyum dan duduk di dekat Feli. Matanya menatap lurus ke depan dengan pandangan bingung. Pasalnya, dia merasa ada hal aneh yang terjadi kepadanya.
Hanya kebetulan atau memang ada yang aneh?, batin Eiren dengan kening berkerut dalam.
“Hey, kenapa?” tanya Feli sembari menyenggol Eiren yang saat itu tengah melamun.
Eiren sedkit tersentak dan menatap ke arah Feli, masih dengan wajah yang sama. Sampai helaan napas keras terdengar dari arahnya. “Ini hanya perasaan aku saja atau memang ada yang aneh dengan kuliahku ya, Feli?” ucap Eiren dengan mata menatap ke arah lain.
Feli meneguk salivanya kasar dan menatap Eiren, berusaha menenangkan isi hatinya. Dia tahu semua sudah diatur oleh Elio sebaik mungkin. Ya, tujuannya hanya satu. Dia tidak mau Eiren terlalu lama di kampus dan menunggu. Dia ingin istrinya mendapat perlakuan sebaik mungkin dan tidak mengalami kesusahan.
“Kenapa aku merasa semua yang aku kerjakan terlalu mudah?” gumam Eiren dan lansung menatap ke arah Feli lekat. “Kamu tahu? Aku bahkan dengan mudah mendapat pembimbing lagi untuk skripsiku. Aku bisa masuk dan melanjutkan kuliah dengan begitu gampangnya. Belum lagi, dosen yang terkenal galak dan juga sibuk selalu ada setiap kali aku mengajukan bimbingan. Apa menurutmu itu tidak aneh, Feli? Apa dulu kamu juga begitu?” tanya Eiren dengan wajah serius.
Jelas saja tidak. Aku harus berusaha keras untuk menyelesaikan skripsiku, batin Feli kesal mengingat perilaku dosen pembimbingnya yang sangat sulit untuk ditemui.
Feli mengulas sneyum ke arah Eiren yang masih saja menatapnya lekat. “Kamu tahu, Eiren? Zaman sekarang dan dulu jelas berbeda. Aku dulu masih sangat sulit dan butuh perjuangan, tetapi sekarang semua berbeda. Universitas kita memiliki peraturan lain dan kamu tahu? Setiap pembimbing dari staf yang tidak cekatan akan mendapat hukuman,” jelas Feli dengan menutupi sedikit kebenaran yang diketahuinya.
Dan itu hanya berlaku untukmu, lanjut Feli dalam hati.
Eiren yang mendengar hanya mengangguk mengerti. Dia juga tiak mengerti peraturan kampus yang tengah disinggahinya saat ini. Sampai akhirnya Feli menepuk pelan pundaknya, membuat jantungnya seakan berhenti berdetak.
“Ayo pulang. Aku rasa Elio akan mencarimu,” celetuk Feli dengan bibir menahan tawa. Dia masih merasa tidak percaya dengan sifat Elio yang terlalu takut kehilangan Eiren.
Eiren yang mendengar mendengus kesal dan bangkit. “Jangan meledek Elio. Dia hanya terlalu mencintaiku, Feli. Itu sebabnya dia takut aku kenapa-kenapa. Nanti kalau kamu sudah menikah, kamu juga akan mengerti apa yang aku rasakan,” celetuk Eiren dengan wajah menunjukan kebanggaan.
Menikah? Feli hanya diam dan melangkah mengikuti Eiren yang sudah ada di depannya, bersenandung penuh kabahagiaan. Membuat bibir Feli yang tadinya tersenyum menjadi sedikit muram.
“Apa aku akan bisa menikah? Aku bahkan tidak yakin,” gumam Feli.
_____
“Elio,” panggil Saka dengan nada tinggi. Matanya sudah membelalak kesal menatap pria yang dengan santainya tengah memainkan ponsel.
Elio meletakan ponselnya dan menatap Saka dengan wajah datar. Lalu, sejenak kemudian dia kembali meriah ponsel, mengabaikan Saka yang sudah ada di depannya dan duduk dengan rahang mengeras. Dia tahu, sahabatnya tengah menahan kesal.
__ADS_1
“Elio, aku datang tidak untuk melihatmu bermain ponsel. Jadi, bisa hargai aku yang ada di depanmu?” ujar Saka dengan rasa dongkol yang sejak tadi ditahan.
Elio yang mendengar hanya terkekeh geli dan meletakan ponselnya. Dia segera membenarkan duduknya dan menatap ke arah Saka dengan wajah yang dibuat seserius mungkin.
“Jadi, apa yang ingin kamu katakan?” tanya Elio dengan wajah serius.
Saka yang melihat menghela napas panjang dan mulai menyandarkan tubuh di punggung kursi. “Aku bingung denganmu, Elio. Kenapa harus Feli yang harus mengawal Eiren? Bukannya kamu bisa menyuruh pengawal-pengawalmu untuk mengawasinya?” protes Saka dengan pandangan memprotes.
Elio yang mendengar mengerutkan kening heran karena sahabatnya terlihat begitu kesal. “Memangnya kenapa, Saka? Kamu ada masalah dengan hal itu?” tanya Elio dengan pandangan mengamati.
Saka diam seketika. Matanya mengalihkan pandangan dari tatapan Elio yang terasa menusuk untuknya.
“Kenapa malah diam?” tegur Elio masih tetap mengamati wajah Saka.
Aku rasa mengatakannya dengan Elio juga tidak akan bermasalah, batin Saka.
Saka baru akan membuka mulut dan hendak menceritakan semuanya. Namun, niatnya terhenti dengan suara pintu yang tiba-tiba terbuka, membuat Elio yang ada di sana juga menatap ke arah suara tersebut berasal.
“Mas,” panggil Eiren yang baru datang.
Elio tersenyum senang dan bangkit, melangkah mendekati Eiren yang sudah merentangkan tangan. Elio segera mendekap istrinya dengan sangat erat, melepaskan rindu yang sejak tadi ditahan.
Eiren mendongakan kepala dan mengangguk beberapa kali, sembari menatap Elio yang saat itu sedang menatapnya lembut. “Sudah, Mas sayang,” jawab Eiren sembari mengelus pelan pipi suaminya.
Saka yang melihat kemesraan keduanya hanya mendengus kesal dan menatap ke arah lain, melihat Feli yang saat itu ada di ruangan Elio. Aku merindukanmu juga, batin Saka kesal melihat sikap Eiren dan Elio yang terasa memamerkan kemersaannya.
Sampai Elio memutuskan agar Daka dan Feli kembali ke ruangannya, meninggalkan Eiren dan Elio yang tengah memadu kasih.
_____
Tepat pukul 19.30 Feli membuka pintu apartemen yang sudah disiapkan oleh Elio. Hanya beberapa orang yang tinggal di sana, termasuk Feli yang saat itu enggan bersama dengan Saka. Bahkan, setelah semuanya sudah jelas pun Feli tetap merasa enggan berada di rumah yang sama dengan Saka.
Feli baru saja menutup pintu dan bersiap untuk membersihkan badan ketika sebuah ketukan mengintrupsinya untuk kembali ke arah pintu. Feli meletakan tas kerjanya dan kembali melangkah dengan langkah malas. Namun, hal berbeda terjadi ketika jemarinya sudah membuka pintu.
“Saka,” ucap Feli dengan pandangan tidak percaya. Matanya mengamati sekitar, memastikan tidak ada yang melihat pria di depannya. Setelah dirasa aman, Feli menarik Saka agar masuk ke dalam apartemen dan menutup pintu rapat.
__ADS_1
“Saka, kamu ngapain ke sini?” tanya Feli dengan tatapan kesal. Saka seperti tidak mengerti dengan nasibnya.
Saka hanya diam ketika Feli masih sibuk dengan ocehan yang menerangkan mengenai hal yang sama. Nasibnya yang bahkan belum diketahui. Dengan cepat, Saka medekatkan tubuh ke arah Feli dan mengecup cepat pipi gadis tersebut. Membuat Feli yang tengah berbicara langsung diam dengan pandangan terkejut.
“Saka,” cicit Feli memandang Saka dengan wajah terkejut.
“Sudah ngomelnya, sayang?” tanya Saka dengan suara lembut.
Feli menatap lekat mata Saka dan mengangguk pelan. Sampai sebuah kecupan lain datang ke arah keningnya, membuat Feli semakin terhipnotis dengan perlakuan pria di depannya.
Saka mulai menarik Feli dan mendekat ke dalam pelukannya. Matanya memejam, menikmati kebersamaan bersama dengan Feli yang sejak tadi sudah dirindukan.
“Saka,” cicit Feli tidak tega melihat Saka yang tengah mendekapnya erat.
“Biarkan begini saja, Feli. Sebentar, saja,” ucap Saka lembut, membuat Feli langsung diam dan menikmati kebersamaannya.
Feli mengelus pelan punggung Saka yang sudah memejamkan mata. Sampai beberapa menit kemudian, Saka melepaskan pelukannya dan menatap Feli lekat.
“Aku merindukanmu, Feli,” ujar Saka dengan tatapan kesal.
Feli yang mendengar tertawa kecil dan mengalungkan tangan di leher Saka. Matanya mengamati wajah Saka yang tengah merajuk seperti anak kecil. “Hey, kita baru saja ketemu dan kamu rindu? Jangan membohingiku, Saka,” celetuk Feli diiringi tawa kecil.
Saka berdecak kesal dan melepaskan pelukannya. Perlahan, dia mulai menggenggam jemari Feli dan mengajaknya duduk di sofa ruangan tersebut. Feli hanya diam dan menurut, duduk dengan kepala bersandar di dada bidang kekasihnya.
“Kenapa kamu ke sini, Saka? Nanti kalau ada yang lihat gimana?” ujar Feli masih merasa takut.
“Memangnya kenapa, sayang?Aku itu rindu sama kamu. Bahkan aku sangat kesal ketika tahu kamu menerima tawaran Elio,” jawab Saka dengan wajah yang menggambarkan mengenai perasaannya.
Feli yang mendengar tertawa kecil dan menatap Saka santai. “Memangnya apa yang bisa aku lakukan, Saka? Aku menolak? Bukannya sama saja aku mencari masalah dengan atasanku?”
“Iya, tetapi kamu....” Saka menghentikan perkataannya ketika Feli membungkam dengan bibir. Feli mulai merasakan daging kenyal yang sekaan menghipnotisnya. Saka tersenyum tipis dan mulai memperdalam ciumannya. Sampai akhirnya, Feli melepaskan dekapannya dan menatap Saka lekat.
“Bagaimana jika secepatnya kita mengatakan sama mama dan papa kalau kita akan menikah? Bukankah itu lebih baik?” ujar Saka membuat Feli diam seketika.
_____
__ADS_1
Yuhuurr...apa kabar semua. Selamat menikmati hidangan malam ini. Jangan lupa tinggalkan like, comment dan tambah ke favorit. Baca juga cerita Kim yang berjudul “Relationship Goals” ya sayangkuh. Jangan lupa tingalkan like, comment dan tambah ke daftar favorit kalian. See you next chapter.
_____