
“Jangan mencoba kabur, sayang. Aku hanya ingin membuat Elio junior agar kamu tidak kabur lagi seperti sekarang.”
Eiren yang mendengar langsung membelalak tidak percaya. Dengan cepat dia segera menyingkirkan tangan Elio yang melingkari pinggangnya dan menjauh dengan cepat. “Gila kamu, Elio. Aku bahkan tidak mau bersamamu.”
“Aku memang gila dan itu semua karenamu, Eiren. Apa kamu tidak sadar dengan itu?” celetuk Elio membuat Eiren diam seketika.
Jangan bertingkah seakan kamu mencintaiku, Elio, batn Eiren masih tiak percaya dengan ucapan Elio.
“Aku mencarimu ke mana-mana seperti orang gila dan kamu bahagia di sini, Eiren. Kamu bahkan tidak memikirkanku sama sekali. Jadi, sekarang di sini siapa yang bisa dikatakan kejam, hah?” tanya Elio dengan kilat penuh kecwa. Kakinya terus melangkah, mendekati Eiren yang juga tengah mundur menjauhinya.
Eiren menghela napas perlahan ketika kakinya berhenti tepat di ujung ranjang. Matanya semakin membelalak karena pria di hadapanya masih saja maju. Eiren baru akan melarikan diri ketika tangan kekar Elio menggenggamnya, membanting tubuhnya sehingga terlentang di ranjang. Secepat kilat, Eiren segera bangkit dan hendak melaikan diri. Namun, semua terlambat karena pria tersebut malah membungkuk di atasnya.
Elio menatap Eiren yang ada di bawahnya dengan pandangan datar. “Mungkin dengan cara seperti ini kamu tidak akan pernah pergi dariku lagi, Eiren,” ucap Elio dengan pandangan dingin.
“Elio, jangan,” ucap Eiren ketika Elio mulai mengecupi wajahnya. Eiren mencoba menghalau tubuh kekar yang saat itu menguasainya.
Elio menulikan telinga ketika mendengar ucapan Eirne yang terus memintanya berhenti. Tangannya dengan mudah melepaskan seluruh pakaian Eiren, membuat wanita tersebut menatapnya dengan penuh kebencian.
Aku harus menjadikanmu milikku, Eiren, batin Elio menguatkan.
Elio kembali menundukan diri dan mengecup pelan bibir Eiren. Meresapi kebersamaan yang sudah lama dirindukan. Eiren yang sudah pasrah di bawahnya hanya mampu diam, menikmati setiap sentuhan yang diberikan oleh Elio. Bahkan, dia hanya mampu menggeram ketika tangan pemuda tersebut mulai menyentuh semua titik sensitifnya. “Elio,” ucap Eiren menahan gairah yang mulai menanjak.
Elio melepaskan kulumannya, menatap Eiren yang memejamkan mata di bawahnya. Senyum tipis terukir melihat wanita tersebut mulai pasrah di bawahnya. Hal yang membuat Elio begitu bahagia karena Eiren tetap saja sama seperti dulu.
“Jangan ditahan, sayang. Keluarkan semuanya,” bisik Elio ketika dirasa Eiren menahan gejolak yang siap meledak.
Bagaikan sebuah hipnotis, Eiren mengikuti kata-kata Elio. Dia mulai mencapai puncak pertamanya dengan begitu hebat. Elio yang melihat tersenyum puas. Dengan cepat dia melepaskan pakaiannya sendiri dan mendekat ke arah Eiren yang masih memejamkan mata dengan rasa lelah.
“Dulu aku pernah merebutnya darimu ketika kamu tidak sadar, Eiren. Sekarang aku akan melakukannya lagi. Bedanya, sekarang kamu akan mengingatnya sampai kapan pun,” ujar Elio dengan suara lembut.
Eiren yang merasakan gesekan di bagian bawah segera membuka mata dan kembali mencegah Elio. Namun, semua terlambat karena keduanya sudah menyatu sempurna. Sampai sebuah lolongan keras menandakan penyatuan keduanya yang sudah mencapai puncak.
“Elio,” teriak Eiren sembari mendekap tubuh Elio erat.
“Ahh.” Elio mengeluarkan semuanya dan menatap Eiren yang tenga memejamkan mata, merasakan cairan yang mulai membasahi bagian dalamnya.
Elio mulai melepaskan diri dari Eiren, menatap wanitanya yang sudah berkeringat dan mengcecup pelan. “Tidurlah, Eiren,” ucap Elio sembari menarik selimut dan menutupi tubuh keduanya.
Eiren hanya diam dan mulai memejamkan mata. Sedangkan Elio, bibirnya tersenyum pelan dan menatap ke arah Eiren lekat. Sebuah ciuman kembali mampir di kening Eiren sebelum akhirnya Elio memilih berbaring di dekat Eiren dan memejamkan mata.
Tangannya mengelus pelan perut rata Eiren dan tersenyum dalam tidurnya. “Aku harap kamu segera hadir, Nak. Dengan begitu aku bisa memiliki ibumu dengan sempurna,” batin Elio dengan wajah bahagia.
_____
__ADS_1
Rega menghela napas perlahan ketika mendapat kabar dari anak buahnya mengenai Eiren. Dia tidak menyangka jika selama ini Eiren telah membohongi dunia. Bahkan, dia merasa bahwa wanita tersebut sudah meninggal dunia.
“Ternyata dia masih hidup,” ucap Rega dengan tatapan yang sulit diartikan.
Rega baru membalik badan dan siap pergi ke kamar. Namun, matanya menatap gadis yang ada di hadapannya dengan pandangan tajam. “Firda,” paggil Rega ketika matanya melihat Firda ada di belakangnya. Kondisinya sudah membaik dari sebelumnya.
Sejak kapan dia di belakangku? Apa dia mendengar semuanya?, batin Rega dengan senyum canggung.
Firda menatap Rega dengan tatapan lemah. “Siapa yang masih hidup, Rega?” tanya Firda dengan tatapan lekat.
“Bukan siapa-siapa, Firda. Ini sudah malam, lebih baik kamu segera tidur karena besok kamu harus bekerja,” jawab Rega dan mengalihkan pembicaraan.
Firda hanya diam dan menatap ke arah Rega masih dengan pandangan penuh tanya. Rasanya dia tidak percaya dengan jawaban Rega yang memang terkesan canggung. Ditambah dengan senyum tipis wanita tersebut. Firda semakin tidak percaya.
Rega masih mau melangkah masuk ke dalam rumah ketika Firda menghentikannya. “Ada apa, Firda?” tanya Rega dengan tatapan yang dibuat biasanya.
“Yang kamu maksud adalah Eiren, bukan?” tanya Firda menebak karena setahunya Rega tidak menyukai Eiren sama sekali. “Jadi, dia masih hidup?”
Rega yang mendengar menghela napas perlahan dan mengangguk. Rasanya memang sulit untuk berbicara bohong kepada Firda.
Firda tersenyum tipis dan menatap Rega dengan pandangan lembut.”Syukurlah. Dengan begitu Elio tidak akan pernah merasa sedih lagi. Sekarang dia sudah mendapat kebahagiaannya,” ucap Firda dengan lembut.
Rega menatap Firda dengan pandangan prihatin. Dia masih mencari di mana tatapan penuh kebohongan Firda, tetapi tidak ditemukan sama sekali. Dia hanya melihat ketulusan dari setiap ucapan dan pandangan Firda kali ini.
Firda yang berniat pergi menghentikan langkah dan menatap ke arah Rega lembut. “Aku sudah tidak ada di hatinya, Rega. Selama ini aku sudah cukup bersyukur karena dia mau menampungku dan memberikanku pekerjaan. Dan aku tidak pernah memaksakan hatinya untukku.”
“Tetapi kamu masih mencintainya,” tegas Rega dengan pandangan serius.
Firda yang mendengar tersenyum kecil. “Cinta itu tidak untuk satu orang saja, Rega. Keduanya harus memiliki rasa yang sama. Jika salah satunya tidak memiliki rasa yang sama, kita harus merelakannya. Sama sepertiku yang harus merelakan Elio untuk Eiren.” Firda melangkah mendekat ke arah Rega dan menepuk pundak wanita tersebut pelan.
“Kalau kamu sudah menemukan cintamu, kamu akan tahu bahwa dalam cinta harus ada sebuah pengobanan. Dan sekarang adalah waktuku untuk berkorban. Aku akan pergi dari rumah ini karena penghuni sesungguhnya akan datang.”
Rega yang mendengar menatap Firda dengan tatapan tidak percaya. Selama dua tahun Elio membirakan Firda tingal di rumahnya. Namun, ada yang berbeda sejak kepergian Eiren. Elio tidak pernah datang ke rumahnya lagi.
“Kamu mau ke maan?” tanya Rega dengan tatapan menyelidik.
“Aku akan pergi ke mana pun yang aku bisa. Yang terpenting sekarang, aku tidak mau membuat Eiren kembali meninggalkan Elio hanya karena aku yang masih berada di samping Elio,” jawab Firda dengan wajah santai.
Rega hanya mampu menghela napas ketika mendengar ucapan Firda. Matanya menatap Firda yang sudah melangkah masuk ke dalam rumah dan mulai memasuki kamarnya.
Mungkin memang sekarang saatnya aku merelakan hubungan Firda dan Elio. Aku rasa benar kata Firda. Elio memiliki jalan kebahagiaannya sendiri. Aku harap Eiren tidak akan menyusahkannya, batin Rega yang langsung menyusul Firda masuk.
_____
__ADS_1
Eiren mulai membuka mata ketika cacing dalam perutnya mulai berdemo. Sejak sore dia tidak memakan apa pun. Namun, gerakannya terhenti ketika menyadari sebuah tangan yang melingkar di perutnya, membuat matanya beralih menatap tangan tersebut.
Eiren menghela napas perlahan dan mencoba melepaskan tangan Elio. Namun, bukannya terlepas, tangan tersebut semakin kuat mendekapnya, membuat Eiren semakin sulit untuk melepaskannya. Hingga pada akhirnya dia pasrah dan membiarkan Elio memeluknya erat.
“Lepaskan, Elio. Aku lapar,” ucap Eiren menyadari bahwa Elio sebenarnya sudah bangun.
Elio membuka mata perlahan dan menatap punggung wanitanya dengan tatapan lekat. “Jangan pergi lagi, Eiren. Aku tidak bisa jika tanpamu.”
Eiren yang mendengar menghela napas perlahan dan menatap Elio dari kaca besar yang ada di depannya. Matanya melihat wajah sendu yang juga tengah menatapnya.
“Aku lapar, Elio. Aku hanya mau ke dapur untuk memasak,” gerutu Eiren merasa Elio terlalu posesif terhadapnya.
Elio melepaskan pelukannya dan membalik Eiren perlahan, sehingga matanya menatap tepat di manik mata wanita tersebut.
Eiren mengelus pelan wajah Elio yang tampak tidak terawat sama sekali. Banyak jambang yang menghiasi wajah pria tersebut. Hal yang tidak pernah dilihatnya selama ini. Bahkan, ketika pertama Elio datang pun dia tidak terlalu memperhatikan.
“Kenapa wajahmu menjadi begitu berantakan, Elio?” tanya Eiren dengan tatapan kaget.
Elio menghela napas perlahan dan memeluk Eiren kembali. “Aku sibuk mencarimu sampai lupa merawat diriku, Eiren,” jawab Elio dengan nada lemah. “Itu sebabnya, jangan pergi lagi dariku. Aku begitu mencintaimu.”
Eiren yang mendengar hanya mengabaikannya saja dan tidak berniat menjawab. Dia merasa masih ada kebohongan yang terdapat dari kalimat Elio. Dia begitu sulit untuk mempercayai pria yang saat ini tengah bersamanya. Bagaimana pun, Elio telah menorehkan luka terdalam di hatinya.
“Aku tahu bagimu semua terasa bohong, Eiren. Tetapi asal kamu tahu, aku benar-benar mengatakan apa yang ada di hatiku, Eiren. Aku mencintaimu,” ulang Elio berharap Eiren akan percaya dengannya.
“Jangan membahas itu dulu, Elio. Aku masih malas,” celetuk Eiren tidak menanggapi kalimat Elio.
Elio melepaskan pelukannya dan menatap Eiren dengan tatapan kecewa. Awalnya dia mengira Eiren akan percaya dengannya. Namun, sepertinya perjalanan untuk meluluhkan hati wanita tersebut baru akan dimulai.
Eiren memilih bangkit dari tidurnya dan turun, mencari pakaiannya dan segera mengenakannya. Dengan perlahan, dia mulai keluar dari kamar menuju ke arah dapur. Dia harus segera memberi asupan kepada para cacing dalam perutnya. Dia juga harus mulai mengecek toko bunga yang tadi belum sempat ditutupnya dengan benar. Namun, ketika baru akan melangkah ke arah dapur, matanya melihat Elio yang sudah berdiri di pintu dapur.
Eiren menghela napas lelah dan menatap Eiren dengan pandangan datar. “Menyingkirkanlah dari situ, Elio. Aku mau memasak,” ucapnya segera mencoba menyingkirkan Elio. Namun, bukannya pergi Elio malah semakin tegak berdiri dan menghadangnya agar tidak masuk.
“Ada hal yang harus aku katakan kepadamu, Eiren,” ujar Elio dengan wajah serius. Eiren awalnya hendak menolak, tetapi diurungkan karena wajah serius Elio yang membuatnya penasaran. “Apa yang mau kamu katakan, Elio?”
“Aku tahu aku bukanlah pria baik. Aku banyak sekali melakukan dosa. Aku juga sudah menyakitimu terlalu dalam. Aku berniat menikahimu hanya karena harta keluargaku. Namun, itu dulu. Sekarang, aku mencintaimu dengan setulus hatiku, Eiren. Aku mencarimu ke mana-mana hanya untuk mengatakan semua isi hati.”
Elio menghentikan ucapannya dan menatap Eiren dengan wajah yang semakin serius. “Eiren Azura, aku Adelio Cetta mengakui semua perasaanku yang begitu mencintaimu. Aku ingin hidup selamanya bersamamu. Menua dan bahagia bersama.”
Elio melangkah mendekat dan menggenggam jemari Eiren. Matanya menatap lekat manik mata yang juga masih meneliti wajahnya.
“Eiren, will you marry me?” tambah Elio membuat Eiren langsung membeku seketika.
Elio melamarku?, batin Eiren masih tidak percaya.
__ADS_1
_____