Wedding With My Lecturer

Wedding With My Lecturer
Bagian 85_Semakin Cinta


__ADS_3

“Kalau Papa gak mau kasih restu, gampang. Saka tinggal hamili Feli dan semua beres. Kalian akan merestui hubungan kami.”


Rino yang mendengar ucapan Saka membelalak seketika. Matanya menatap Saka dengan rahang mengeras. Tanganya bahkan sudah mengepal dan siap melayangkan pukulan di wajah santai anak semata wayangnya.


“Kamu bilang apa, Saka?” geram Rino dengan suara ditekan. Matanya menatap Saka dengan emosi meningkat.


Saka menarik napas dalam dan mengembuskannya perlahan, menegakan tubuh dan menatap papanya lekat. “Aku akan menghamili Feli jika Papa tetap tidak memberi restu,” jawab Saka dengan serius. Dia memang sudah memikirkan hal semacam ini sejak lama. Bahkan, otaknya sudah berpikir licik jika nantinya Feli akan menolak hal tersebut.


“Dasar gila!” bentak Rino masih mengepalkan tangan, menahan emosi yang siap meledak. “Kamu itu gila, Saka. Kamu bahkan tidak memikirkan bagaimana pandangan orang luar jika mengetahui ini semua. Bagaimana pun juga, Feli tetaplah adikmu dan tidak sepantasnya kamu berniat menikahinya,” tegas Rino membuat Feli diam.


“Meski dia hanya sudara tiri? Bakhkan kita tidak memiliki hubungan darah, Pa. Jadi, jangan mempersulit kami untuk menikah,” ujar Saka masih dengan suara santai.


“Papa tetap tidak akan menyetujui pikiran bodohmu itu,” tolak Rino masih kekeh dengan pendiriannya.


Saka berdecak kesal dan menarik lengan Feli agar berada di dekatnya, membuat lamunan Feli buyar seketika. Feli hanya diam, menatap mama dan papanya dengan tatapan penuh rasa bersalah.


Maafkan Feli Ma, Pa, batin Feli dengan wajah tertunduk.


Rino menatap Saka yang sudah mendekap Feli dari samping. Sesekali tangannya meremas pinggang Feli, membuat gadis tersebut menatap ke arah pria di dekatnya dengan pandangan bingung karena Saka hanya diam danbtidak menatapnya sama sekali.


Nabila yang melihat keduanya sudah semakin menegang mulai menarik napas dalam dan mengembuskannya perlahan. “Saka,” panggil Nabila degan suara lembut, membuat Saka yang tengah menatap papanya menjadi teralih ke arah mamanya.


“Kamu mencintai Feli?” tanya Nabila lembut dan mendapat aggukan. Nabila tersenyum tipis dan melangah mendekati suaminya, menatap anaknya dari jarak yang semakin dekat. Jemarinya sudah terulur, mengelus pelan pipi kedua anak yang ada di depannya.


“Mama tahu kalian saling mencintai. Tetapi, sekali saja mama mohon, pikirkan mengenai masyarakat yang akan memandang kalian nantinya. Mereka akan beranggapan apa mengenai kalian nantinya?” ucap Nabila dengan penuh pengertian. Dia tahu jika dengan kekeras, Saka malah akan semakin menjadi-jadi. Dia sangat mengenal Saka yang enggan mendapat paksaan apalagi dibantah.


“Tetapi aku mencintainya, Ma,” lirih Saka membuat Feli yang sejak tadi diam mulai menatapnya lekat. Ada rasa bahagia karena Saka mampu memperjuangkannya sampai sejauh ini. Namun, ada perasaan lain yang mulai melanda ketika melihat wajah kecewa papa dan mamanya.


Apa yang harus aku pilih sekarang?, batin Feli mulai tidak tenang.


“Tetapi dia juga adikmu, sayang. Feli juga pasti akan menerima cemoohan dari orang-orang karena hal ini,” ujar Nabila membuat pendirian Saka mulai goyah.


Saka menatap ke arah Feli yang hanya diam dengan pandangan lekat. Ada banyak pertanyaan yang mulai dirasakan ketika wajah kekasihnya tidak menunjukan ekpresi apa pun. Saka menggeggam erat tangan Feli, membuat gadis yang ada di dekatnya mulai mengalikan fokus.


Saka tersenyum tipis dan kembali menatap ke arah kedua orang tunya lekat. “Aku tetap akan menikahinya. Aku yakin akan bisa menghadapinya bersama dengan Feli,” tegas Saka tidak mau melepaskan Feli sama sekali.

__ADS_1


“Dan kami tetap tidak akan merestuinya,” desis Rino membuat Saka menatapnya dengan senyum miring.


“Kita akan lihat sampai mana Papa akan tetap teguh dengan pendirian itu,” kata Saka seperti sebuah ancaman.


Belum juga Rino mengatakan sepatah kata untuk menyadarkan Saka, Saka sudah lebih dulu melangkah dengan tangan menarik Feli. Feli membelalak dan menatap Saka.


“Jangan, Saka. Aku gak mau kalau kamu begitu,” ucap Feli dengan wajah cemas. Dia tidak berniat memberikan kesuciannya tanpa ikatan resmi.


Saka menulikan pendengarannya dan memilih tetap melangkah. Karena kesal Feli terus saja memberontak, Saka berhenti dan dengan cepat dia mulai menarik Feli. Tanpa aba-aba, dia sudah memindahan Feli ke dalam gendongannya.


“Saka, turunin. Aku memamg mencintaimu. Tetapi bukan begini caranya. Aku tidak mau melakukannya,” teriak Feli dengan wajah semakin panik.


“Saka, jangan, Nak,” ucap Nabila yang ikut melangkah ke arah Saka dan berniat menghentikan perbuatan putranya.


Rino semakin gusar melihat tingkah Saka yang tidak dapat dihentikan. Matanya menatap ke arah anaknya yang memang keras kepala sudah melangkah menaiki tangga. Hinga akhirnya, dia pasrah dengan apa yang ada di depanya.


“Baik,” teriak Rino mulai mengambil keputusan, “aku akan merestui hubunganmu dengan Feli. Kita akan atur hari pernikahan kalian,” lanjut Rino dengan tatapan kesal.


Saka yang mendengar tersenyum kecil dan mulai menurunkan Feli. Matanya menatap Feli yang sudah memberengut kesal. Sampai ucapan Rino kembali mengalikan perhatiannya.


“Papa akan merestui dengan syarat, Feli juga mau menikah denganmu,” kata Rino sembari menatap Feli yang langsung diam. “Apa keputusanmu, Feli? Sejak tadi Saka yang berbicara dan kamu hanya diam. Apa kamu juga mau menikah dengannya?”


Feli menarik napas dalam dan mengembuskannya perlahan. Dia mulai menatap ke arah Saka yang sudah penuh harap dan terseyum manis. “Maaf Ma, Pa. Feli menerimanya. Feli juga mencintainya,” jawab Feli mencoba mencari kebahagiaannya sendiri.


Saka yang mendengar langsung bersorak bahagia. Tanpa rasa malu dia segera meraih tubuh Feli dan mendekapnya erat. “Terima kasih, sayang,” ucap Saka dengan wajah berbinar.


Feli hanya tersenyum tipis dan menatap ke arah papnya yang ikut tersenyum. Namun, wajah sedih terlihat dari wajah mamanya, membuat Feli menahan penuh permohonan maaf.


Maafkan Feli, Ma. Sekali saja, Feli ingin merasakan bahagia, batin Feli.


_____


Elio menghela napas perlahan ketika Eiren memutuskan untuk keluar dari ruangannya. Perlahan, dia mulai bangkit dan melangkah ke arah jendela ruangannya. Matanya menatap ke arah bangunan di depan dengan pandangan lekat. Pikirannya masih melayang memikirkan Rega yang menelfon sampai berulang kali. Hingga helaan napas terdengar dari arahnya.


Dengan perlahan, tangannya mulai mengambil ponsel di saku celananya dan menekan nomor Rega yang sudah terpampang di layar. Hanya sejenak sampai suara Rega terdengar dari arah seberang.

__ADS_1


“Ada apa, Rega? Kenapa kamu menelfonku sejak tadi?” tanya Elio dengan suara dingin. Matanya menatap datar lurus.


“Kamu ke mana saja, Elio? Sejak tadi aku mengubungimu dan malah kamu tolak. Kenapa?” protes Rega merasa kesal dengan tingkah sepupunya.


Elio mengembuskan napas perlahan. “Aku sedang bersama dengan Eiren. Ada hal penting apa sampai kamu menelfonku sebanyak itu?”


“Firda baru saja melukai dirinya setelah melihat kabar pernikahanmu di surat kabar pagi ini,” jelas Rega dengan suara memelas. “Dia membutuhkanmu, Elio. Dia sangat membutuhkanmu.”


Elio yang mendengar memejamkan mata, merasakan hal lain di hatinya. Sampai matanya kembali terbuka, beriringan dengan helaan napas keras, seakan menghilangkan rasa yang sejak tadi menekannya erat.


“Apa dia sudah kamu obati, Rega?” tanya Elio dengan pelan.


“Iya. Aku sudah mengobati luka di telapak tangannya. Dia sengaja memegang gelas kaca yang pecah di dapur,” sahut Rega terdengar santai.


“Lalu, apalagi yang harus kamu khawatirkan?” celetuk Elio dengan wajah sinis.


“Apa?”


“Iya. Apa lagi yang harus kamu khawatirkan, Rega? Dia sudah memiliki jalan hidupnya dan aku dengan jalan hidupku. Sekarang aku bukan lagi kekasihnya yang harus tahu mengenai semua kondisi dan selalu ada untuknya. Sekarang aku adalah suami Eiren. Aku sudah menetapkan pilihan dan aku sangat mencintainya,” ujar Elio menegaskan perasaannnya kepada Firda yang sudah mulai lenyap.


“Elio. Meski begitu, dia tetap saja mantan kekasihmu,” kekeh Rega tidak menerima ucapan Elio.


“Kamu harus mulai mengingat dan menetapkan dalam pikiranmu, Rega. Dia hanya mantan. Sedangkan sekarang aku sudah memiliki istri dan aku tidak mau dia menjadi salah paham dengan hal ini. Aku benar-benar tidak mau jika nanti Eiren pergi dari hidupku seperti waku itu, Rega. Jadi, apapun yang berhubungan dengan Firda, tolong jangan katakan kepadaku. Aku hanya mau keluargamu tetap utuh tanpa ada pihak lain yang mengganggu kami.”


Elio menarik napas panjang dan mengembuskannya perlahan. Jemarinya langsung mematikan panggilan sepihak. Aku harap ini adalah yang terbaik, batin Elio dengan mata terpejam. Sampai sebuah tangan mendekapnya dari belakang, membuat mata Elio kembali terbuka.


“Aku mencintaimu, Mas. Sangat,” cicit Eiren dengan air mata berlinang. Dia sudah mendengar semua perkataan Elio yang menyentuh hatinya. Dia memang sengaja mengatakan akan ke toilet karena penasraan dengan sang penelpon yang diabaikan suaminya.


Elio yang mendengar tersenyum kecil dan melepaskan pelukan istrinya. Tubuhnya segera berbalik, menatap ke arah Eiren lembut. Sampai kepalanya mulai mendekat dan mengecup pelan bibir Eiren, merasakan manisnya daging kenyal yang sangat dirindukan olehnya. Eiren sendiri memilih mengalungkan tangan di leher Elio, menikmati kecupan lembut yang diberikan suaminya.


Aku harap selamanya aku akan merasakan bahagia bersamamu, batin Eiren dengan penuh harap.


_____


Eeeaa..Kim mau minta suami secinta Elio, bukan selabil Elio ya Tuhan. Hehe.

__ADS_1


Selamat membaca sayang-sayangkuh. Jangan lupa tinggalkan like, comment dan tambah ke daftar favorit ya. Jangan lupa juga baca cerita Kim berjudul “Relationship Goals” ya sayangkuh. Jangan lupa tinggalkan like, comment dan tambah ke daftar favorit. See you next chapter baby.


______


__ADS_2