Wedding With My Lecturer

Wedding With My Lecturer
Bagian 34_Lelah


__ADS_3

Eiren mengerjapkan mata perlahan, meresapi ruangan yang terasa asing untuknya. Ruangan putih dengan perabotan yang begitu lengkap. Eiren mengerjapkan kembali matanya dan menyesuaikan dengan cahaya lampu yang begitu silau. Sampai matanya kembali terbuka lebar dan memperhatikan dengan seksama.


“Ini di mana?” tanya Eiren yang memang asing dengan kamar yang ditempatinya.


Eiren masih bingung ketika hembusan angin menerpa wajahnya, membuatnya merasa penasaran dengan sesuatu yang ada di luar. Eiren menurunkan kakinya dan melangkah mendekat ke asal angin datang. Eiren menyingkap tirai besar yang menutupi aksesnya untuk melangkah dan melihat Elio tengah berdiri dengan mata menatap lurus ke depan dan tangan yang disedekapkan.


“Elio,” panggil Eiren yang sudah berada di balkon kamar tersebut.


Elio yang tengah asyik melamun langsung menatap ke sumber suara dan melihat Eiren sudah berdiri dengan menatapnya tajam. “Kamu sudah bangun?” tanya Elio dengan suara dan wajah datar.


Eiren mengangguk dan berdiri di sebelah Elio. “Ini di mana, Elio?” tanya Eiren merasa asing dengan tempat yang dipijakinya saat ini.


“Kamu gak ingat?” Elio balik bertanya dan menatap Eiren tajam. Melihat wajah wanita di sebelahnya seperti bingung, dia tersenyum dan melembutkan tatapannya. “Ini rumahku,” jawab Elio pelan. Rasanya sakit ketika Eiren melupakan kejadian yang masih diingatnya.


“Lalu apartemen?” Eiren menatap Elio dengan wajah yang masih bingung.


“Itu juga milikku,” ucap Elio singkat.


Eiren yang mendengar hanya ber-Oh ria. Dia kembali menatap ke arah yang sama dengan Elio dan diam membisu. Dia bingung apa yang harus dikatakan untuk memulai percakapan. Rasanya semua syarafnya mati begitu saja. Padahal begitu banyak pertanyaan yang berkecambuk dalam benak pikirannya.


Suasana kembali hening. Semua hanya berkutat dengan pikirannya masing-masing. Eiren dengan pertanyaan yang tidak terlontarkan dan Elio yang masih meyakinkan diri dengan pilihannya. Sampai sebuah deheman membuyarkan lamunan Elio.


“Elio, aku mau bertanya denganmu,” tanya Eiren dengan suara lembut.


Elio menatap Eiren dengan wajah sedingin es dan mengangguk. “Apa?”


Eiren menghela napas dan menatap Elio tajam. “Kenapa kamu sebegitu ngototnya untuk menikahiku? Apa sebenarnya tujuanmu, Elio? Aku merasa bukan hanya sekedar bertanggung jawab saja. Aku merasa kamu memiliki tujuan lain dalam pernikahan ini,” jelas Eiren dengan wajah serius. Dia tidak mau jika nantinya akan menyesal telah menikah dengan Elio.


“Apa itu penting untukmu?” tanya Elio dengan tatapan tajam.

__ADS_1


“Jelas penting,” jawab Eiren tanpa tahu apa yang ada dalam benak pikirannya. Terlalu sulit untuk mengatakannya.


“Kenapa?” tanya Elio dengan pandangan lekat.


Eiren mengangkat pundaknya santai. “Entahlah, aku merasa penting saja,” jawab Eiren karena dia sendiri tidak percaya dengan sebuah ikatan yang dinamakan pernikahan. Menurutnya, pernikahan hanya janji membual yang dinyatakan dengan kepercayaan mereka. Namun, setelah itu pernikahan hanya tinggal nama karena buktinya, semua janji yang dinyatakan tidak pernah terbukti sama sekali.


Eiren menghela napas perlahan dan membalik badan. Dia hendak pergi ketika dirasa Elio tidak akan memberikan jawaban sama sekali. Namun, baru juga membalik tubuh, tangannya sudah digeggam Elio yang langsung menarik Eiren dalam pelukannya.


Elio menghela napas perlahan dan memeluk Eiren erat. “Aku benar-benar hanya ingin bertanggung jawab, Eiren. Aku tidak memiliki tujuan lain. Aku merasa tidak bisa melihatmu terluka. Itu sebabnya aku memaksamu dan mengatakan di depan Alex kalau kamu adalah kekasih dan calon istriku. Aku ingin Alex tahu bahwa kamu benar-bnar berarti. Tetapi, mengenai ucapanku, aku benar-benar serius akan menikahimu,” jelas Elio panjang lebar.


Eiren yang mendengar hanya diam memejamkan mata. Dia bingung harus percaya atau tidak. Dia sudah terlalu banyak merasakan luka yang menutup rasa bahagia dan percayanya.


Aku bahkan bingung untuk membedakan mana yang tulus dan mana yang bukan, batin Eiren merasakan luka yang tertahan.


_____


“Alex,” panggil Dora pelan.


“Alex, kamu di sana?” tanya Dora ketika dia melihat siluet seorang pria tengah menidurkan kepalanya di meja. Dora menelan salivanya susah dan melangkah semakin mendekat ke arah Alex.


Dora tersenyum ketika mendapati Alex tengah duduk di sana dan menegak minumannya. Perasaan lega berkecambuk dalam hati yang sejak tadi gelisah.


“Kamu ngapain ke sini?” tanya Alex dengan suara lemah tanpa mengalihkan pandangannya.


“Aku mencarimu,” jawab Dora pelan. Dia masih melangkah mendekati Alex dan menyentuh pundak pria tersebut.


“Alex, aku tahu kamu merasa terluka karena Eiren menghianatimu. Tetapi kamu tidak perlu bersedih lagi. Ada aku yang akan mencintaimu dengan tulus. Aku sangat mencintaimu,” ucap Dora dengan wajah menatap lekat dan tersenyum ke arah Alex.


Praangg..

__ADS_1


“Aaaa,” teriak Dora sembari menutup telinga. Jantungnya berdetak dengan begitu cepat dan diambang batas normal. Matanya menatap Alex dengan mata membelalak.


Bukannya jawaban yang didapat, Alex malah melemparkan gelas yang sejak tadi digenggamnya ke arah Dora berdiri. Masih untung gelas tersebut meleset dan mengenai tembok di belakang Dora.


Alex yang mendengar Dora berteriak langsung tertawa kecil dan segera bangkit. Dengan badan sempoyongan, dia mendekat ke arah Dora yang saat ini berdiri ketakutan. Dora mencium bau alkohol yang begitu menyengat.


“Kamu bilang akan mencintaiku dengan tulus?” tanya Alex dengan senyum sinis yang menghiasi bibirnya. Dia terus melangkah sampai membuat Dora mundur hingga ke menbentur tembok. Membuat wanita tersebut tidak memiliki ruang untuk kabur karena Alex yang sudah mengurungnya dengan tangan diletakan di kanan kiri.


Alex menatap Dora dengan pandangan tajam dan mengejek. “Kamu tahu? Semua ini karena ulah kamu,” bentak Alex dengan emosi meningkat. “Jika kamu tidak datang dan mengacau, Eiren tidak akan pergi dariku,” teriak Alex tepat di depan wajah Dora.


Dora yang baru pertama kali melihat Alex meneriakinya hanya diam dengan bibir mengatup rapat. Air matanya bahkan sudah mengalir dengan begitu deras melewati pipinya.


“Kamu benar-benar membuatku muak, Dora. Aku muak denganmu dan semua yang kamu lakukan!” seru Alex yang menatap Dora dengan pandangan tajam.


“Aku tidak salah apa pun, Alex. Aku hanya mengambil apa yang menjadi milikku. Kamu tidak berhak menyalahkanku,” sangkal Dora dengan suara keras dan berusaha meredam ketakutannya dengan sikap Alex.


“Kamu menyalahkan Eiren sedangkan kamu yang salah?” desis Alex dengan mata menajam. “Kamu mau aku bertahan denganmu, kan? Akan aku tunjukan bagaimana mempertahakanku.”


Alex mengakhiri ucapannya dan menarik Dora dengan paksa. Dia membawa Dora ke tengah ruangan dan langsung membanting tubuh Dora ke sofa. Dengan cepat dia melepaskan pakaiannya dan menatap Dora dengan pandangan membunuh.


“Akan aku beritahukan bagaimana harusnya aku memperlakukanmu sejak dulu,” celetuk Alex dengan suara penuh penekanan.


Dora membelalak menatap Alex yang sudah mendekat ke arahnya. Bukan seperti ini yang diinginkannya. Dia tidak mau berakhir dengan mengenaskan. Dia tidak mau melakukan hal tersebut ketika Alex dalam keadaan mabuk. Namun semua terlambat karena Alex sudah melepaskan semua pakaian Dora tanpa sisa.


“Alex,” pekik Dora ketika pria tersebut sudah berhasil menerobos masuk dan menyatukan diri dengannya.


Alex hanya diam dan menatap sinis Dora. “Aku melakukan apa yang kamu inginkan sejak dulu, Dora,” ujarnya dengan wajah tanpa dosa. Dia sudah kehilangan Eiren. Untuk apalagi dia mempertahankan semuanya? Bahkan semua usahanya terasa sia-sia karena pada akhirnya Eiren pergi.


Aku akan melakukan hal yang sama denganmu, Eiren. Aku akan menikah dengan Dora, putus Alex yang sedang dipenuhi emosi dan kesadaran yang menipis karena pengaruh alkohol yang sejak tadi ditenggaknya.

__ADS_1


_____


__ADS_2