Wedding With My Lecturer

Wedding With My Lecturer
Bagian 62_Kebahagiaan dan Kehancuran


__ADS_3

Dua tahun kemudian.


Elio menatap hamparan hutan yang semakin lebat di hadapannya dengan wajah datar. Dua tahun yang lalu, dia menyaksikan wanita yang dicintainya hilang di tempat yang sama. Bahkan, dalam dua tahun dia tidak berhenti mencari Eiren. Namun, hasilnya masih sama. Eiren seakan hilang dimakan waktu.


“Ke mana lagi aku harus mencarimu, Eiren,” gumam Elio dengan tangan dimasukan ke dalam kantong celana. Dia sudah bangkit setelah terpuruk dalam pencariannya. Hatinya masih yakin bahwa Eiren masih hidup. Namun, dia tetap tidak mendapatkan kabar terbaru mengenai Eiren. Padahal, dia sudah menyusuri sepanjang hutan dan berharap menemukan kabar tentang Eiren.


Elio menghela napas perlahan dan menatap hutan tersebut dengan wajah frustasi. Mulutnya kembali terkunci dengan otak yang mulai berpikir untuk mencari Eiren. Dia sudah menemui keluarga Eiren dan hasilnya sama. Mereka bahkan mencari Eiren ke seluruh penjuru hutan dan tidak menemukannya.


“Anda selalu datang ke tempat ini, Mr. Elio.”


Elio yang mendengar menatap ke asal suara. Di sana sudah ada Venda dengan kemeja rapi dan juga celana dasar. Dengan perlahan, dia mulai melangkah mendekati Elio yang hanya diam dengan wajah yang sama datarnya.


“Selama dua tahun anda tidak pernah telat datang ke tempat ini. Apa yang anda pikirkan, Mr, Elio?” tanya Venda dengan nada suara ditahan. Matanya menatap Elio yang sudah jauh berbeda. Banyak sekali bulu halus yang dibiarkan tumbuh di sekitar dagu sampai telinga.


Elio mengabaikannya dan hendak berbalik ketika sebuah suara kembali mengintrupsinya. Dia memutuskan kembali menatap Venda dengan tatapan penuh tanya.


“Anda bisa menolong saya?” tanya Venda dengan wajah ramah.


Elio tidak langsung menjawab dan menatap Venda dengan kening berkerut. Dia tidak mengenal pria di hadapannya dengan baik dan sekarang dia meminta pertolongan? Rasanya begitu aneh menyadari hal tersebut.


“Maaf, aku tidak mengenalmu dan aku tidak mau melakukan apa pun yang kamu minta,” jawab Elio dengan suara tegas.


Venda yang melihat Elio hendak melangkah pergi menghela napas perlahan. Dia mulai berlari kecil menghentikan Elio dengan menghadangnya dari arah depan. Matanya menunjukan wajah penuh keseriusan.


“Aku mohon. Untuk kali ini. Ibuku meminta untuk membelikan bunga lili, tetapi aku ada wawancara pekerjaan. Aku melihat anda di sini. Jadi, aku berniat meminta bantuan dari anda,” jelas Venda dengan tatapan mengiba.


Elio menghela napas perlahan dan hendak menolak. Tetapi kembali matanya menatap Venda yang sudah menangkupkan kedua telapak tangan dan memandangnya dengan tatapan mengiba.


“Saya mohon, Mr. Ibu saya sedang sakit keras dan dirawat di rumah sakit,” pinta Venda sedikit memaksa.


Elio menghela napas perlahan dan mengalah. Dia merasa tidak tega jika menyangkut mengenai seorang ibu. Apalagi Venda mengatakan bahwa ibunya masih di rumah sakit. Hati batunya kembali mencair dan pasrah mengikuti kemauan Venda.


“Berikan aku alamatnya,” ucap Elio dengan tegas.


Venda tersenyum senang dan memberikan kartu nama yang langsung diterima Elio. Matanya mengamati nama yang tertera dan menatap ke arah Venda lekat. “Setelah ini aku harus mengantarnya ke rumah sakit?” tanya Elio dengan tatapan lekat.


“Tidak perlu. Anda hanya perlu mengambilnya dan aku akan kemari untuk menemui anda.”

__ADS_1


“Baiklah. Aku akan mengambilnya,” jawab Elio dengan wajah dingin.


Elio segera melangkah meninggalkan Venda yang sudah tersenyum dengan wajah menang. Setelah Elio pergi, Venda segera mengeluarkan ponsel dan menekan salah satu kontak yang ada di ponselnya.


“Halo. Aku memesan bunga lili. Nanti temanku yang akan mengambilnya,” ucap Venda dengan serius.


______


Eiren mematikan ponsel dan menghela napas perlahan. Wajahnya menatap dengan penuh bahagia karena hari ini, toko miliknya banyak pembeli. Ya, Eiren memutuskan untuk membuka toko bunga sendiri setela uang dari kerja kerasnya sudah terkumpul. Hanya toko bunga kecil, tetapi dia sudah banyak sekali bersyukur. Ditambah dengan Venda yang banyak merekomendasikan toko bunganya kepada teman satu kantor.


Eiren menatap bunga lili yang ada di hadapannya tersenyum. Namun, ketika dia hendak merangkainya, dia kembali teringat dengan sosok lain yang ada di tokonya. Matanya mencari gadis kecil yang selalu mewarnai harinya.


“Vita,” panggil Eiren dengan mata mengamati sekitar. Namun, dia tidak menemukan sosok yang dicari.


Eiren menghela napas perlahan dengan wajah cemas. “Ke mana Vita,” gumamnya dengan penuh kecemasan.


Eiren segera melangkah meninggalkan toko dan mencari gadis kecilnya. Dia bertanya kepada setiap orang yang melintas dan mereka tidak mengetahui keberadaan Vita. Rasanya, dia kembali dibuat pusing dengan kondisi toko yang masih ramai dan kehilangan Vita.


“Ke mana kamu, Vita?” ulang Eiren dengan wajah cemas. Namun, dia tidak menitikan air mata sedikit pun dan memilih mencari Vita ke sekitar toko. Dia masih bisa berpikir jernih meski gadis kecil tersebut tidak ada bersamanya.


_____


Elio menghentikan mobil ketika sudah sampai di alamat yang dimaksud. Dia tidak menemukan toko yang dimaksud Venda. Anita flowers. Matanya menatap beberapa toko bunga yang ditemuinya dan kembali menjalankan mobil karena tidak menemukannya.


“Menyusahkan,” gumam Elio dengan wajah kesal.


Elio baru akan menginjak gas ketika matanya menatap seorang anak dengan kuncir kuda tengah menatap bingung dan berjalan di tepi jalan. Matanya menatap lekat dan entah dorongan dari mana, Elio memutuskan untuk keluar dari mobil, mendekati anak tersebut dengan wajah ramah.


“Hallo gadis kecil,” sapa Elio dengan wajah ramah, membuat anak tersbeut berhenti melangkah dan menatap dengan pandangan lekat.


“Kamu sendiri?” tanya Elio sembari menatap sekeliling, menyadari tidak ada orang dewasa yang menemaninya.


Ke mana orang tuanya, batin Elio kembali menatap ke arah anak kecil tersebut lembut. Dia segera berjonglok, menyamakan tinggi badannya dengan perempuan kecil di depannya.


“Om mau cuyik Pita?” tanya anak tersebut dengan mata menatap lekat.


Elio yang mendengar tersenyum kecil dan menggeleng. “Tidak. Om bukan orang jahat,” jawab Elio tidak tersinggung sama sekali. Matanya menatap anak kecil tersebut dengan tatapan gemas.

__ADS_1


“Jadi, kenapa pita ada di sini?”


Anak kecil tersebut menatap Elio lekat, seakan mengamati wajah yang terlihat sangar di hadapannya. “Pita cari ibu,” jawab anak tersebut dengan wajah yang hendak menangis.


“Kamu tahu di mana rumahmu?”


Anak tersebut kembali menggeleng dan menatap Elio dengan mata yang sudah siap mengalirkan air mata. Namun, ketika Elio menarikntengkuknya dan mulai memeluk lembut, tangisnya kembali meredam dan malah memeluk Elio erat.


“Om, ancar Pita puyang,” ucap anak tersebut tidak jelas.


“Ke mana?” tanya Elio juga mulai bingung. Namun, ketika dia mulai diambang kebingungan, sebuah suara membuatnya marasa lega.


“Vita,” panggil seseorang dari belakang Elio.


Vita melepaskan pelukannya dan menatap wanita di belakang Elio dengan senyum sumringah. “Ibu,” teriak vita yang langsung berlari meninggalkan Elio.


Elio bangkit dan berbalik. Matanya mengamati wanita yang tegah memeluk Vita dengan begitu erat, tetapi tidak menunjukan wajahnya sama sekali. Dengan perlahan, dia mulai melangkah dan henak mendekat ke arah wanita tersebut. Namun, baru dua langkah dia berhenti dan menatap wanita tersebut dengan pandanga tajam.


“Kamu itu jangan pergi jauh-jauh. Ibu sulit mencarimu ke mana-mana,” protes Eiren dengan wajah kesal.


Elio membelakak menyadari siapa yang ada di hadapannya. “Eiren,” pangil Elio dengan nada suara seakan tidak percaya. Jantungnya berhenti berdetak. Ada rasa bahagia ketika menyadari wanita tersebut masih hidup dan dalam kondisi baik-baik saja.


Eiren merasa namanya dipanggil mendongak, menatap siapa yang mengenalnya. Namun, setelah dia melihat siapa pelakunya, dia segera merutuki kebodohannya dan menatap Elio dengan pandangan yang sama terkejutnya.


“Kamu beneran masih hidup?” tanya Elio dengan wajah haru. Dia hendak melangkah mendekat, tetapi kembali berhenti karena cicitan kecil di sekitarnya.


“Ibu, pita mau ketemu papa,” cicit Vita dengan tangan merengek ke arah Eiren.


“Dia anakmu?” tanya Elio dengan pandangan tidak percaya sama sekali. Eiren sudah menikah?, batin Elio dengan hati yang mulai terasa remuk.


Eiren menghela napas perlahan dan segera mengangkat Vita, menatap Elio dengan pandangan datar. “Ibu akan membawamu ke papa,” jawab Eire mengabaikan pertanyaan Elio.


Eiren segera melangkah meninggalkan Elio yang masih saja diam di tempat. Dia masih enggan sadar dengan kenyataan yang ada di haapannya. Kenyataan bahwa sekarang Eiren tidaklah sendiri. Rasanya, penantiannya benar-benar tidak membuahkan hasil sama sekali.


Setelah sekian lama aku menunggumu, aku hanya menemukan kehancuran dalam hatiku, Eiren.


_____

__ADS_1


__ADS_2