
Elio melangkah menuju ke apartemennya dengan langkah lebar. Matanya masih menunjukan aura dingin yang begitu menakutkan. Namun, beberapa pasang mata yang tidak sengaja bertemu di lorong apartemen tetap saja menatap dengan wajah mendamba. Elio hanya mengabaikan itu semua dan masih melangkah.
Setelah sampai di pintu apartemen, Elio segera memasukan sandi dan setelah bunyi bip terdengar, Elio segera masuk ke dalam apartemen. Suasana sepi menyapa pertama kali. Tidak ada Eiren di tiap sudut apartemen. Dengan segera Elio masuk dan mengunci pintunya.
“Ke mana dia?” pikir Elio dengan mata menatap sekitar.
Elio mulai mengelilingi setiap ruang apartemennya dan seger menaiki tangga, berharap Eiren masih ada di apartemen. Baru Elio hendak membukan kamar yang berada di dekat tangga, terdengar suara dari arah kamar lain yang menarik perhatiannya. Elio kembali mengurungkan niat dan melangkah ke asal suara.
Elio menatap pintu kamarnya yang sedikit terbuka. Dengan cepat dia membuka dan menatap gadis yang sejak tadi dicarinya tengah duduk dengan wajah tegang. Elio merasa penasaran dan menatap ke arah pandang yang sama dengan Eiren dan mengerutkan kening heran.
“Kamu malam-malam liat film horor?” tegur Elio membuat Eiren yang tengah asyik duduk di ranjang ukuran besar mengalihkan pandangan menatap Elio.
Elio melangkah masuk dan menutup pintu rapat. “Aku pikir kamu tidur,” ujar Elio segera naik ke atas ranjang dan duduk di sebelah Eiren.
Eiren menggeleng. “Aku belum bisa tidur,” jawabnya santai dan menatap layar televisi yang masih menampilkan film kesukaannya.
Elio menghela napas perlahan dan menarik tengkuk Eiren, menidurkan kepala gadis tersebut di pahanya. Eiren yang merasa aneh hendak bangkit, tetapi Elio mencegahnya.
“Tidurlah, Eiren. Aku tidak mau kalau besok kamu kesiangan. Ini sudah malam,” ujar Elio dengan tangan mengelus pelan kepala Eiren. Wajah datarnya masih memperhatikan adegan demi adegan yang masih terdapat di layar.
“Elio,” panggil Eiren pelan. Dia memilih pasrah dan tidur di pangkuan Elio.
Elio hanya bergumam dan tidak memperhatikan Eiren masa sekali. Matanya menatap ke depan, tetapi pikirannya masih melayang ke mana-mana. Dia masih memikirkan kemungkinan yang baru saja dikatakan Rega. Awalnya dia tidak pernah memikirkannya sama sekali, tetapi setelah Rega mengatakannya, dia menjadi serba salah.
“Kamu tahu, aku tidak menyukaimu sama sekali,” desis Eiren yang masih merasa kesal dengan keputusan Elio yang memaksa. “Kamu mengancam akan membeberkan vidio dan foto waktu itu. Padahal, aku tidak membutuhkan pertanggung jawabanmu. Lagi pula aku tidak hamil,” gerutu Eiren masih merasa ingin berontak. Namun, lagi-lagi dia teringat mengenai foto yang dimiliki Elio. Dia takut foto tersebut tersebar dan rencananya untuk pergi dari keluarganya sejauh mungkin menjadi gagal. Setidaknya dia akan bertahan hingga lulus kuliah.
__ADS_1
Sabar, Eiren. Hanya sebentar lagi, batin eiren menyemangati.
Elio yang mendengar tertawa kecil dan masih mengelus puncak kepala Eiren. “Jangan begitu, Eiren. Wanita di luar sana bahkan memohon kepadaku agar bisa mengandung benihku,” ujar Elio membangga.
“Seperti Gladis?” sindir Eiren mengingatkan Elio ketika dirinya yang memergoki Elio tengah berbuat hal tidak senonoh kepada Gladis.
“Bisa dikatakan demikian,” sahut Elio dengan wajah tenang.
Eiren yang mendengar hanya mendengus keras dan menatap ke layar televisi. Lama Eiren bercakap dengan Elio, sampai kantuk menyapanya dan mulai membawa Eiren ke dalam alam mimpi.
Elio yang mendengar napas halus menatap ke arah Eiren dan tersenyum. Matanya menatap lekat gadis yang terlihat begitu damai. Hatinya mulai merasa bersalah dengan apa yang dibuatnya. Membawa Elio kembali mengingat pertemuan dengan papanya beberapa minggu yang lalu.
_____
Elio yang duduk di kursi berseberangan mulai menunjukan wajah tanpa minat dan menatap papanya dengan wajah serius. “Sudah berapa kali Elio katakan sama Papa? Elio tidak tertarik sama sekali,” ucap Elio dengan nada tegas.
Abian yang mendengar menghela napas perlahan dan masih menatap anaknya. “Kamu tidak mau mencoba menjalaninya terlebih dahulu? Mungkin dengan begitu kamu menjadi tertarik. Lagi pula, kamu berkuliah di bidang bisnis, kenapa tidak kamu manfaatkan?”
“Elio tidak tertarik sama sekali dengan hal seperti itu, Pa. Elio hanya mau hidup dengan tenang dan tidak ingin memiliki musuh sama sekali. Elio lelah jika harus selalu bersaing dan bertingkah seperti Papa. Selalu jauh dengan keluarga dan bahkan hanya fokus dengan bisnis,” jelas Elio mengatakan alasannya. Dia memang kurang merasakan kasih sayang dari sang papa yang selalu sibuk dengan bisnisnya.
Abian mengehela napas perlahan dan meletakan map berisi kertas di dalamnya. Tangannya menyodorkan map tersebut ke arah Elio dan menatap dengan wajah serius.
“Apa ini, Pa?” tanya Elio merasa penasaran.
“Kamu bisa baca sendiri, Elio,” jawab Abian dengan wajah dingin.
__ADS_1
Elio yang mulai penasaran segera membuka map tersebut dan membaca dengan cermat. Semakin dia membaca, matanya semakin membelalak dan ketika sudah selesai, dia menutup dengan keras. Matanya menatap Abian dengan pandangan menajam dan rahang mengeras.
“Papa akan memberikan semua aset papa ke panti asuhan. Kamu hanya menerima tiga puluh persen dari harta peninggalan papa nantinya,” jelas Abian yang tahu anaknya sudah mengerti isi surat tersebut.
“Apa-apaan ini, Pa. Ini tidak lucu sama sekali,” ucap Elio dengan wajah menatap tanpa minat.
“Ini memang tidak lucu, Elio. Pewaris tunggal keluarga papa tidak mau menjadi pemimpin perusahaan. Jadi apalagi yang bisa papa lakukan selain menyumbangkannya?” tanya Abian dengan wajah tenang dan menatap raut wajah anaknya yang masih datar.
Elio mendesah pelan dan menatap papanya. “Apa yang sebenarnya Papa inginkan?” Elio balik bertanya dan menatap dengan wajah serius. Dia tidak mau jika pada akhirnya dia hanya menerima tiga puluh persen dari seluruh kekayaan keluarganya.
“Jadilah penerus papa dan kamu akan mendapatkan semua bagian yang seharusnya,” tegas Abian.
Elio yang mendengar menghela napas lelah dan memejamkan mata perlahan. Setelah dirasa yakin, Elio membuka mata dan mengangguk. “Baik. Elio siap dengan itu” putusnya dengan perasaan yang sudah benar-benar yakin.
“Tetapi ingat, Elio. Kamu tidak boleh mempermalukan nama keluarga dengan skandal percintaan kamu dengan seorang wanita seperti dulu, ketika kamu menjalin hubungan Firda. Papa tidak mau dengar dan tidak mau tahu kamu bermain wanita di luar. Jika kamu mencintainya, bawa ke hadapan papa dan nikahi dia. Papa tidak mau terjadi hal seperti yang Firda lakukan. Mengalami kecelakaan dengan pria dan dalam keadaan hamil anak pria lain. Padahal dia akan menikah denganmu. Memalukan,” celoteh Abian dengan wajah menunjukan kebencian.
“Papa harus tahu mengenai latar belakang gadis yang akan kamu nikahi. Papa tidak mau kamu menikahi gadis yang tidak jelas siapa orang tuanya,” imbuh Abian dengan wajah serius.
Elio hanya menatapa papanya dalam diam.
Gerakan Eiren membuyarkan lamunan Elio dan membawanya ke masa sekarang, masa di mana seorang Eiren yang tengah tertidur dengan pulas di pangkuannya.
Elio menghela napas pelan dan mengelus puncak kepala Eiren. “Maafkan aku telah membawamu ke dalam masalahku, Eiren. Setelah ini selesai aku akan benar-benar melepaskanmu dan menjelaskan semuanya,” ucap Elio pelan.
_____
__ADS_1