
Semua bermula dari dua tahun yang lalu, Eiren. Saat kamu memilih pergi dari kami semua.
Saat mendengar kalimat tersebut, Eiren memilih untuk mengajak Feli menjauh dari keramian. Dia sengaja membawa Feli ke sebuah gubuk kecil di belakang rumahnya. Tidak banyak yang akan datang ke sana, termasuk Saka yang tengah asyik bersama dengan Elio dan juga Dinda.
Eiren menatap Feli yang sudah duduk di depannya dengan mata manahan derasnya air mata yang sudah menggenang di pelupuk mata. Rasanya dia mulai merasa bersalah karena disaat kesulitan Feli, dia tidak ada untuk menjadi tempat bersandar dari temannya.
Eiren menggenggam jemari Feli erat, membuat gadis tersebut menatap ke arah Eiren dengan pandangan lekat. “Kamu bisa bercerita denganku, Feli. Aku akan tetap diam dan menjadi pendengar yang baik.”
Feli tersenyum tipis, menarik napas dalam dan mengembuskannya keras. Matanya menatap serius ke arah Eiren yang masih saja menatapnya lekat. “Kamu tahu kalau sejak dulu aku tidak memiliki keluarga?” tanya Feli dan mendapat anggukan dari Eiren. “Ternyata aku salah, Eiren. Aku memiliki keluarga. Mama mencariku. Saat itu aku benar-benar senang karena aku menemukan orang yang selama ini aku cari.”
Feli menghentikan ceritanya sejenak dan menarik napas kembali. Rasa sesak mulai memenuhi dadanya. Perlahan, dia menghela napas lirih dan kembali melanjutkan ceritanya. “Saat itu aku diajak ke rumah mama. Jelas aku sangat bahagia karena aku juga akan bertemu dengan papa. Namun, semuanya sangat disayangkan, Eiren. Aku bertemu dengan pria yang ternyata adalah ayah tiriku, ayah dari Saka.”
Eiren hanya diam sembari mengamati wajah Feli lekat. Dia sudah berjanji akan tetap diam dan menjadi pendengar yang baik dan dia akan melakukannya, meski banyak sekali pertanyaan yang muncul dari benak pikirannya.
“Semua berjalan baik seperti biasanya. Saka sangat menyayangiku sampai aku lupa dengan status saudara yang saat itu melekat pada kami. Sampai pada suatu hari, Saka menjadikanku sebagai bahan taruhan dalam sebuah permainan. Dia kalah dan pada akhirnya aku berada di tangan sahabatnya, Frengky,” ucap Feli sembari menitikan air mata yang mulai semakin deras.
“Aku masih bersyukur karena dia mau melepaskanku dan membebaskanku dari kewajiban menjalankan hukuman atas kekalahan Saka saat itu. Hingga aku memilih pergi dari rumah dan beralasan kantorku terlalu jauh. Aku sangat membenci Saka, Eiren. Rasanya begitu sakit ketika aku mencintainya, melakukan semuanya dan dia hanya menganggapku sampah,” tegas Feli dengan rahang mengeras.
Eiren yang duduk bersebrangan dengan Feli akhirnya bangkit dan meraih kepala sahabatnya, membuatnya bersandar dengan air mata berlinang. Hatinya bahkan terasa tersayat ketika mendengar cerita Feli yang terasa sangat menyakitkan.
“Aku sudah tidak mau bertemu dengannya. Aku sudah lelah dengan semua ini, Eiren. Selama ini aku hidup dengan penuh luka dan dia menambah jajaran kepedihan yang selama ini aku pendam. Dia hanya menganggapku wanita murahan yang tidak berharga sama sekali,” gumam Feli dengan nada terisak.
Eiren hanya diam dan mengelus pelan puncak kepala sahabatnya. Sampai air matanya ikut menitik seakan merasakan luka yang dialami Feli selama ini. Sampai akhirnya, gadis tersebut mulai mereda dalam dekapan Eiren.
Baik Eiren maupun Feli tidak menyadari sosok lain yang tengah mengintipnya dengan mata yang mulai berkaca.
_____
Rasanya begitu sakit ketika aku mencintainya, melakukan semuanya dan dia hanya menganggapku sampah.
Aku sudah tidak mau bertemu dengannya. Aku sudah lelah dengan semua ini, Eiren. Selama ini aku hidup dengan penuh luka dan dia menambah jajaran kepedihan yang selama ini aku pendam. Dia hanya menganggapku wanita murahan yang tidak berharga sama sekali.
Saka memejamkan mata meresapi kalimat yang baru saja dilontarkan Feli dengan air mata berlinang. Ya, Saka memang tidak sengaja melihat dua wanita yang saat itu tengah berbincang. Namun, dia tidak menyesali perbuatannya yang menjadi seorang penguntit karena dia mendengar semua yang ada di hati Feli.
__ADS_1
“Apa aku sebegitu melukaimu, Feli? Aku bahkan tidak bermaksud menjadikanmu taruhan saat itu. Dan andai kamu tahu, aku setengah mati berjuang untuk mendapatkanmu kembali. Bahkan bersujud di hadapan Frengky pun aku lakukan hanya untuk kebebasanmu,” gumam Saka dengan wajah yang mulai merasa begitu sedih.
Saka masih asyik dengan lamunannya ketika sebuah tepukan ringan berada di pundaknya, membuat Saka beralih menatap Elio yang saat itu sudah berdiri dan ikut duduk di dekatnya.
“Ngelamunin apa, Saka?” tanya Elio dengan pandangan serius.
Saka hanya menggeleng pelan dan menyembunyikan perasaannya. “Tidak ada, Elio. Aku hanya berpikir sebentar lagi kamu akan memiliki anak dan aku belum menemukan jodoh. Mungkin aku harus secepatnya mencari pasangan.”
Elio terkekeh kecil dan menatap Saka dengan pandangan meremahkan. “Siapa yang mau menikah dengan pria yang bahkan belum melupakan masa lalunya,” ejek Elio dengan tawa kecil, membaut Saka berdecih kesal.
Saka mengabaikan ucapan Elio dan kembali mengalihkan pembicaraan, sampai sebuah suara dari arah lain mulai memasuki ruang besar tersebut. Baik Elio maupun Saka segera menatap ke asal suara dan melihat Eiren dan Feli yang masih berbincang hangat ke arahnya.
Eiren tersenyum menatap suaminya. Langkahnya semakin cepat dan saat dia sudah dekat, Eiren segera mendekap Elio dari belakang, membuat pria tersebut tersenyum manis.
“Dari mana, sayang?” tanya Elio yang sejak tadi mencari Eiren.
"Aku tadi berbincang denagn Feli, Mas. Aku kan sudah lama gak ketemu sama dia,” jawab Eiren sembari memberikan kecupan pelan di pipi Elio.
Feli mengalihkan pandangan dan menatap Elio dan Eiren yang tengah bermanja, membuat hatinya merasa tercubit. Andai saat itu dia tidak mencintai Saka dan memilih pria lain, mungkin hidupnya akan menjadi lebih baik.
“Mas,” panggilan Eiren membuat lamunan Feli kembali buyar, “Feli mau izin pulang. Pak Mahmud suruh antar, ya?”
“Gak perlu,” sahut Saka dengan wajah tenang, “dia bisa pulang sama aku. Kita satu arah.”
Eiren hanya diam, tidak langsung menjawab. Matanya menatap Feli yang saat itu tengah terdiam. Dia tahu apa yang terjadi kepada sahabatnya. Namun, ketika dia hendak menolak, Elio sudah lebih dulu mencegah keinginanya.
"Baiklah, Saka. Kamu bisa antarkan Feli pulang dengan selamat. Jangan macam-macam dengannya,” kata Elio membuat Eiren diam.
Eiren menatap Feli yang sudah tersenyum tipis ke arahnya, seakan mengatakan bahwa semua baik-baik saja. Tidak lama kemudian, keduanya berpamitan pulang. Eiren hanya menatap Feli yang sudah masuk ke dalam mobil Saka yang melaju meninggalkannya.
“Aku tahu mereka ada masalah, itu sebabnya aku mengizinkannya, sayang. Aku mau mereka menyelesaikannya dengan baik-baik,” ujar Elio dan segera berlalu masuk ke dalam rumah, membuat Eiren yang ada di dekatnya tersenyum.
“Aku rasa aku memang menikah dengan seorang yang sangat cerdik,” ucap Eiren merasa begitu bahagia dengan keputusan Elio saat ini.
__ADS_1
_____
“Kamu tidak mau mengatakan apa pun, Feli?” tanya Saka sembari mengemudikan mobilnya.
Feli hanya diam dengan pandangan menatap pemandangan hitam di sebelahnya. Sejak masuk ke dalam mobil Saka, dia hanya bungkam dan tidak berniat untuk mengatakan apa pun sama sekali. Sampai pada mobil yang ditumpanginya mulai menepi dan berhenti, membuat Feli mengalihkan pandangannya.
“Kenapa berhenti?” tanya Feli dengan mata menatap lekat.
Saka menatap ke arah Feli dengan pandangan datar. “Aku rasa ada hal yang musti kita bicarakan, Feli.”
Feli menghela napas perlahan dan menatap Saka lekat. “Mau sampai berapa kali aku harus bilang, Saka. Kita sudah tidak memiliki masalah apa pun. Sekarang aku hanya menganggapmu orang asing. Sama seperti aku saat baru pertama kali datang ke rumahmu.”
“Maaf,” ucap Saka tidak menghiraukan ucapan Feli yang sebenarnya bisa menyulut emosinya, tetapi Saka menahan sekuat mungkin.
“Semua sudah terlambat, Saka. Aku membencimu. Sangat,” desis Feli dengan penuh kebencian.
Feli merasa muak dengan sikap Saka di sebelahnya. Dia hendak keluar dari mobil tersebut ketika sebuah tangan mencengkram lengannya, menariknya kuat.
Saka segera meraih tengkuk Feli dan langsung mengecup cepat bibir wanita tersebut, membuat Feli menegang seketika. Dia merasa semakin terluka dengan ciuman pria tersebut. Ya, karena sebuah ciuman konyol pula Feli terjatuh dalam pesona seorang Saka.
Saka melepaskan ciumannya dan menatap Feli lekat. Menyerap semua pandangan penuh kebencian dari wanit tersebut.
“Aku membencimu, Saka. Sangat,” ucap Feli dengan tatapan yang menunjukan ucapan tersebut.
“Dan aku sangat mencintamu, Feli. Sangat,” aku Saka untuk pertama kalinya, membuat Feli terdiam di tempatnya.
_____
Hallo sayang Kim. Selama membaca ya. Jangan lupa tingggalkan like, comment dan juga tambah ke daftar favorit. Jangan lupa juga baca cerita Kim yang berjudul “Relationship Goals”. Tingggalkan like, comment dan juga tambah ke daftar favorit.
Untuk yang belum baca cerita “Wedding Drama”, cus baca sayangkuh. Tingggalkan like, comment dan juga tambah ke daftar favorit. Sampai ketemu lagi di bab selanjutnya. Bye bye sayangkuh.
_____
__ADS_1