
Eiren mencoba memejamkan mata ketika rasa kantuk tidak juga datang menyapa. Rasanya dia sudah begitu lelah dan juga bosan. Biasanya selalu ada Elio yang menemaninya tidur di kamar luas yang sekarang menjadi tepat tinggalnya saat ini.
Eiren membalik tubuh dan menatap ranjang yang biasa digunakan Elio. Namun, sekarang kosong. Rasanya ada yang berbeda dengan hatinya malam ini. Seperti ada yang kurang.
Eiren menghel napas pelan dan langsung duduk. Matanya melirik jam yang sudah menunjukan pukul dua dini hari, tetapi matanya masih bertahan dan tetap terbuka lebar.
“Hah, kantuk, ayolah datang. Aku sudah lelah,” gerutu Eiren merasa frustasi. Dia semakin bosan ketika tidak ada yang bisa dikerjakannya.
Eiren mengembuskan napas pelan dan segera turun dari ranjang. Berharap udara malam akan membuatnya merasa ingin tidur. Langkahnya memutuskan untuk menuju ke arah balkon yang terhubung denga kamar Elio dan menatap pemandangan kota dengan ribuan lampu. Sangat indah.
“Aku mulai takut ketika aku merasa terbiasa denganmu, Elio. Aku takut ketika aku pergi nanti, akan sulit bagiku melupakanmu,” gumam Eiren menyadari hatinya tidak lagi seperti dulu. Ada hal kecil yang perlaan mulai berubah. Ada ketakutan yang mulai menyapa.
Eiren memejamkan mata dan menghela napas panjang. Bukannya kantuk yang didapat, dia malah merasa semaikin bimbang dengan terpaan angin malam. Perlahan, dia mulai duduk di sofa kamar dan memutar film kesukaannya melakui DVP player.
Matanya masih menatap lekat film di hadapannya, tetapi pikirannya melayang entah ke mana. Dia masih memikirkan apa yang akan dilakukan selanjutnya. Apa yang akan di perbuatnya. Terpenting adalah ke mana dia akan pergi.
“Aku akan segera menyelesaikan tugasku dan pergi. Aku harus membuat Elio tidak mencariku agar aku bisa hidup dengan tenang,” tegas Eiren denga pandangan serius.
Dia segera mengambil ponselnya dan mengotak-atik, mencari tempat dan cara terbaik untuk melarikan diri. Dia hanya ingin hidup tenang tanpa ada gangguan dari siapa pun, termasuk ke dua orang tuanya. Sampai akhirnya kantuk mulai menyerang dan membawanya ke alam mimpi. Eiren terlelap.
_____
Elio memarkirkan mobilnya di parkir apartemennya dan melangkah gontai. Jam sudah menunjukan pukul tiga dini hari dan dia baru kembali setelah mencari dokter terbaik untuk pengobatan Firda. Satu inginnya, Firda menjelaskan semuanya dan apa pun yang akan terjadi, dia akan tetap pada pendiriannya.
__ADS_1
Elio mulai melangkah menyusuri lorong menuju apartemennya dengan langkah gontai. Suasana sepi seakan menggambarkan isi hatinya yang terlalu ambigu untuk bertindak. Wajah sangar yang biasa ditunjukan sudah mulai memudar. Wajah tampannya hari ini terlihat tidak terurus sama sekali.
Elio menghela napas panjang ketika sudah sampai di depan pintu apartemennya. Perlahan, jemarinya memasukan kata sandi dan segera masuk. Ruangan gelap menyapanya. Dengan pelan Elio melangkah menuju ke ruang tidur. Dia yakin, Eiren sudah tertidur atau bahkan sudah bangun karena ini sudah hampir pagi.
Elio yang mendengar suara-suara di dalam kamarnya mengerutkan kening heran. “Jam segini belum tidur?” ucapnya pelan dan langsung melangkah cepat.
Elio segera membuka pintu kamar dan hendak menegur Eiren, tetapi niatnya diurungkan karena netranya yang tidak melihat Eiren di ranjang. Keningnya sudah berkerut bingung karena kekasihnya tidak ada di kamar. Dengan pelan, Elio masuk dan mendapati Eiren tengah meringkuk di sofa dengan wajah tenang.
Elio menghela napas lega dan segera mendekati Eiren. Matanya menatap lekat gadis di hadapannya dan mengelus pipinya pelan. “Aku rasa aku sudah gila karena benar-benar mencintaimu, Eiren. Aku takut kehilangan kamu,” ucapnya pelan.
Elio mengecup pelan kening Eiren dan mengangkat gadis tersebut, membawanya ke ranjang. Baru dia meletakan Eiren di ranjang, mata teduh gadis tersebut mulai terbuka, menatapnya dengan wajah khas bangun tidur.
“Kamu pulang?” tanya Eiren dengan suara serak.
“Aku tidak sengaja ketiduran, Elio. Sejak tadi aku tidak bisa tidur dengan tenang,” ujar Eiren dengan wajah malas berdebat.
Elio menghela napas dan mulai naik ke atas ranjang. Dengan pelan dia memeluk Eiren dan meletakan kepala gadis tersebut ke atas dada bidangnya.
“Elio,” panggil Eiren merasa tidak nyaman dengan pelukan Elio.
“Tidurlah. Besok aku harus mengajar dan kamu harus mulia melengkapi skripsimu,” jawab Elio mengabaikan Eiren yang masih saja membuka mata. Sedangkan dia sudah memejam dan mulai memasuki alam mimpi.
Eiren menghela napas perlahan dan memutuskan untuk tidur dengan pelukan Elio. Lagi pula itu sudah biasa dilakukannya. Aku harap aku tidak akan terbiasa dengan segala perilakumu, Elio, batin Eiren mengingatkan. Dia harus tetap menjalankan apa yang sudah direncanakan. Pergi sejauh mungkin.
__ADS_1
_____
“Venda, kamu sedang apa?” tanya Jessi yang melihat pemuda di hadapannya tengah memperhatikan ponselnya terus-menerus.
Jessi mulai penasaran dengan apa yang dilihat sahabatnya segera melangkah dan mendekati Venda, pria dengan mata hazel yang tengah duduk di bangku taman ketika ayam masih berkokok. Namun, ketika dia baru saja duduk, Venda mematikan layar ponselnya dan menyimpan di dalam kantong celana.
“Kenapa, Jessi? Kamu masih saja sama seperti dulu. Selalu saja penasaran dengan rahasia seseorang,” celetuk Venda dengan wajah santai.
“Hei, kita itu sudah bersaabat lama. Masa gitu aja aku gak boleh lihat, sih,” gerutu Jessi dengan wajah kesal. Pasalnya Venda tidak pernah menyembunyikan apa pun darinya.
Venda tersenyum melihat wajah lucu Jessi. Jemarinya mengacak rambut sahabatnya pelan. “Aku rasa kamu harus mulai mengurangi rasa ingin tahumu itu, Jessi. Sekarang kita sudah mulai dewasa dan ada hal yang tiak bisa kita perlihatkan kepada siapa pun. Jadi, aku mau kamu jangan terlalu mencampuri urusanku mulia sekarang,” jelas Venda dengan nada lembut.
“Kenapa?” tanya Jessi dengan mata menatap lekat, “memangnya kenapa kalau kita sudah dewasa? Ada banyak roang dewasa yang mengetahui rahasia masing-masing kok,” imbuh Jessi dengan tatapan menyelidik.
Venda hanya tersenyum kecil dan menepuk pelan puncak kepala Venda. “Setiap orang berbeda-beda. Jadi kamu jangan sama ratakan semuanya,” balas Venda yang langsung bangkit dan menatap Jessi lekat.
"Aku harus mulai jalan. Kamu pulanglah, Jessi. Besok-besok kamu gak usah datang ke sini pagi-pagi. Aku tidak masalah dengan hal ini. Aku sudah mulai terbiasa dengan kehidupanku yang baru,” ujar Venda yang langsung melangkah meninggalkan Jessi.
Jessi ikut bangkit dan menatap punggung Venda lekat. “Mau sapai kapan kamu menjadi sopir taksi? Aku bisa membantumu, Venda.”
Venda menghentikan langkah dan tersenyum tipis. Dia tidak berbalik dan berniat menatap Jessi. “Aku tidak mau menyusahkanmu, Jessi. Aku masih bisa bekerja sendiri,” kata Venda dan langsung melangkah. Meninggalkan Jessi yang masih bersungut marah.
Karena aku tahu, akan ada harga yang dibayar untuk setiap pertolonganmu, batin Venda merasa perih.
__ADS_1
_____