
Arda menghela napas perlahan ketika melihat kobaran api di hadapannya. Matanya sudah menitikan air mata menyadari kini anaknya tidak lagi bersamanya. Padahal dia baru saja berbaikan dengan Eiren. Rasa perih terasa menyayat hatinya saat ini.
“Mas, Eiren masih hidup, kan?” tanya Audi dengan mata dipenuhi air mata. Segala sesal mengantui hatinya ketika mengingat ketidakpeduliannya kepada Eiren dahulu.
Arda menatap istrinya dan meraih bahu Audi pelan. Jemarinya menggenggam pelan istrinya dan masih menatap lurus. “Kita harus merelakannya, sayang.”
“Aku bahkan tidak mengurusnya dengan benar, Mas. Aku malah sibuk sendiri dengan urusanku tanpa memikirkannya,” keluh Audi dengan air mata mengalir.
Arda hanya memejamkan mata dan menatap dengan wajah pedih. Dia tahu apa yang dirasakan oleh istrinya karena itu juga yang terjadi padanya. Dia mengalami penyesalan karena menyiakan Eiren kali ini.
Di sisi lain, Feli hanya mampu menutup mulut dengan air mata yang terus mengalir. Kepedihan terasa mencekam malam itu. Malam di mana Eiren pergi meninggalkan semuanya dalam kejadian tragis.
“Aku bahkan baru melihat Eiren tadi, Alex,” ucap Feli dengan suara lemah.
Alex yang menerima kabar tersebut juga langsung datang bersama dengan Feli. Hatinya sakit menyadari nasib tragis yang tengah melanda Eiren, wanita yang tetap dicintainya.
Alex menatap Feli dan memandang pilu. “Aku bahkan tidak pernah menyangka kejadian seperti ini akan terjadi, Feli. Aku belum siap mendengar kabar kepergiannya,” ucap Alex dengan suara tertahan.
Feli menghela napas perlahan dan memilih berbalik. Dia sudah tidak tahan melihat kenyataan pahit di depannya. Dengan perlahan, dia mulai meninggalkan lokasi dan segera kembali ke kosan. Dia berharap, pencarian sahabatnya memberikan kabar baik untuknya dan semua.
_____
Rega berlari keluar rumah Elio ketika mendengar suara mobil berhenti tepat di depan rumah Elio. Dia baru saja menerima kabar mengenai kecelakaan Eiren yang tidak pernah disangkanya sama sekali. Rega menghentikan langkah ketika sampai di pintu ruang depan dan menatap Elio yang pulang bersama dengan kedua orang tuanya.
“Elio,” panggil Rega dengan wajah cemas. Pasalnya, Elio kembali dengan keadaan yang cukup kacau.
Elio yang merasa lelah menatap Rega dengan pandangan tajam. Hatinya merasa sakit ketika melihat Rega berdiri di depannya. Namun, dia memilih untuk pergi dan mengabaikan Rega begitu saja. Langkahnya mulai membawa masuk ke dalam rumah dan melewati Rega begitu saja.
Rega menatap Elio dan menghela napas perlahan. “Elio, mengenai Eiren...”
“Apa?" potong Elio dengan suara tegas. Matanya melirik ke arah Rega dan menatap tajam. “Apa yang mau kamu katakan, Rega?”
Rega menghela napas perlahan dan menatap Elio lembut. “Aku tahu, Eiren sudah tidak ada, Elio.”
“Siapa bilang?” sahut Elio cepat. Dia segera membalik badan menatap Rega dengan tatapan lekat. “Siapa yang bilang kalau Eiren sudah tidak ada, Rega? Tubuhnya bahkan belum ditemukan dan kamu tidak berhak mengatakan itu.”
Elio mendekatkan tubuh dan menatap Rega dengan penuh permusuhan. “Selama tubuh Eiren belum ditemukan, jangan pernah mengatakan kalau dia sudah tidak ada,” desis Elio dengan wajah tegas.
“Elio, berhenti bertingkah bodoh dan terima....”
__ADS_1
“Aku sudah menerima kenyataannya, Rega! Aku masih yakin jika Eiren masih hidup. Jadi, jangan pernah menyebutnya tidak ada di dunia ini! Aku yakin Eiren masih hidup!” teriak Elio menggelegar di seluruh ruangan. Farah dan Abian yang melihat hanya mampu diam dan menatap keduanya.
Elio menarik napas dalam dan menghembuskannya perlahan. Dia menatap Rega dengan permusuhan. Dia merasa kesal dengan sifat Rega yang selalu saja mengaturnya. Dia bahkan masih ingat jika kecelakaan Eiren terjadi karena saudaranya tersebut.
“Kamu tahu, Rega? Semua ini terjadi karena kamu. Jadi, untuk sementara aku mohon jangan dekati aku karena aku benar-benar tidak mau melihatmu,” ucap Elio yang langsung melangkah meninggalkan Rega.
Rega awalnya hendak memprotes ucapan Elio, tetapi sebuah elusan ringan membuatnya berhenti dan menatap ke arah tangannya. Di sana sudah ada Farah dan Abian yang menatapnya dengan lembut.
“Sudah, Rega. Jangan kamu paksakan apa yang menurutmu benar. Sekarang Elio sudah dewasa dan dia mampu menentukan pilihannya,” ujar Farah dengan begitu lembut.
“Tetapi, Tante. Firda memang jauh lebih baik dari Eiren. Setidaknya Firda lebih penurut dari pada Eiren, Tante,” kekeh Rega dengan wajah serius.
Abian yang mendengar tersenyum kecil dan mengelus pelan pundak Rega. “Mungkin itu memang benar, Rega. Tetapi seiring berjalannya waktu, semua bisa berubah dan kamu harus tahu itu. Mungkin sekarang hati Elio memang tidak lagi untuk Firda dan kamu tidak perlu memaksakan hal itu.”
“Tetapi, Om. Ak....”
“Apa yang terbaik untuk Elio, hanya dia yang tahu, Rega. Jadi tante mohon, jangan lagi paksakan dengan siapa Elio harus hidup. Dia tahu kebahagiaannya dan jika itu bukan Firda, biarkan saja dia meraih cintanya,” tegas Farah dengan senyum menenangkan.
Rega yang mendengar hanya diam dan menyerah. Dia menerima nasihat yang dikatakan oleh kedua orang tua Elio dengan perasaan tidak rela. Namun, dia hanya bisa pasrah dan kembali ke dalam ruangannya. Mengbaikan mata lain yang tengah menatapnya dengan pilu.
_____
Gadis berambut sebahu itu mulai membuka mata teduhnya dan menatap sekitar. Manik matanya mengawasi bangunan tua yang saat ini menjadi tempatnya singgah. Tubuh lemahnya merasa seperti baru saja terhantam batu besar dan remuk seketika.
“Perkenalkan, aku Rifa. Apa ada yang sakit?” tanya Rifa dengan wajah cemas. Matanya menatap tubuh yang sudah terasa rapuh di depannya. Banyak sekali goresan dan juga darah di bagian tubuhnya.
“Oh iya, apa kamu masih ingat siapa nama kamu?” Rifa menatap gadis yang tengah berbaring di depannya dengan begitu antusias.
Gadis tersebut mengangguk dan menatap Rifa lekat. “Anita,” jawab gadis tersebut dengan suara lemah.
Rifa memenyatukan kedua telapak tangannya dan menatap Anita dengan senyum lebar. “Baiklah Anita. Apa kamu merasa sakit?" tanya Rifa dengan wajah meneliti.
Anita menggeleng pelan dan tersenyum. “Aku baik-baik saja.”
“Syukurlah. Awalnya aku berniat membawamu ke rumah sakit, tetapi karena jarak yang jauh aku merawatmu dan memanggil dokter sekitar untuk mengecek keadaanmu. Untung kamu tidak kenapa-kenapa.”
“Sudah berapa lama aku di sini?” tanya Anita dengan wajah mengamati Rifa.
“Baru beberapa hari,” jawab Rifa dengan wajah ceria. Dia merasa bahagia karena mendapat teman di rumahnya kali ini.
__ADS_1
“Baiklah, aku akan ke dapur dan membuatkanmu makanan. Kamu jangan ke mana-mana. Aku akan segera kembali,” ucap Rifa dengan wajah senang dan melangkah keluar kamar.
Anita hanya diam dengan mata menatap Rifa dan tersenyum. Setelah itu, matanya menatap sekeliling dan mengamati rumah Rifa lekat. Namun, tiba-tiba kepalanya terasa pusing dan berdenyut. Ada hal yang seperti terlewatkan dalam benak pikirannya.
Anita memilih diam dengan tangan yang memijat pelan keningnya. Matanya memejam, melupakan hal yang seperti terlintas dalam otaknya. “Apa aku melupakan sesuatu?” batin Anita dengan bibir menahan sakit.
_____
Satu minggu kemudian
“Kamu sudah menemukannya?” tanya Elio sembari menatap Roby yang ada di dekatnya. Matanya masih menatap tempat kejadian dengan pandangan tajam. Wajahnya kembali datar dan tidak menunjukan emosi sama sekali.
“Belum, Boss. Mobil Eiren hancur lebur dan tidak tersisan apa pun. Jadi, kami sulit untuk mencari keberadaannya,” jawab Roby dengan wajah tertunduk.
Elio melirik kejam ke arah Roby dan mengeraskan rahang. “Aku menyuruhmu bukan untuk mendengar kabar menyedihkan, Rob,” desis Elio dengan wajah sangar. “Ini sudah satu minggu dan kamu belum menemukannya? Sebenarnya apa yang kalian lakukan, hah!” bentak Elio dengan emosi menggebu. Dia bahkan sudah tidak sabar ingin bertemu dengan Eiren, tetapi anak buahnya tidak memberikan kabar bahagia sama sekali.
“Maaf, boss. Kami sudah berusaha keras untuk menemukannya,” sahut Roby dengan rasa takut.
Elio menghela napas perlahan dan menarik kerah Roby erat. “Aku tidak menerima alasan dari sebuah kegagalan, Roby. Aku mau kamu mendapatkan Eiren apa pun caranya,” ucap Elio tepat di depan wajah Roby.
Roby menelan salivanya kasar dan mengangguk. Dia merasa kali ini kemarahan bossnya sudah diambang batas. Genggaman di kerahnya terlepas dan meninggalkan wajah Elio yang masih mengeras.
“Cepat suruh semua anak buah kita untuk membantumu. Temukan Eiren secepatnya karena aku yakin, Eiren masih dalam keadaan hidup,” ujar Elio dengan tegas.
Roby menganguk dan mundur perlahan. Dia mulai meninggalkan Elio yang masih menatap hamparan pepohonan di hadapannya. Setelah kepergian anak buahnya, Elio memejamkan mata, meresapi kehadiran Eiren yang masih melekat dalam hatinya.
“Eiren, kamu mendengarku? Aku merindukanmu. Cepatlah kembali, Eiren,” ucap Elio dengan hati tulus.
“Aku ingin meminta maaf untuk semuanya. Aku pernah melukainya, tetapi sekarang aku benar-benar mencintaimu. Sampai saat ini, aku masih menyayangimu,” lanjut Elio yang tanpa sadar menitikan air mata. Sejak kepergian Eiren, dia merasa begitu lemah dan sering menunjukan isi hatinya. Meski melalui air mata.
Elio menghela napas perlahan ketika dirasa hatinya mulai terasa berat. Ada beban mendalam yang ada di dalam pikirannya. Matanya menatap pilu bongkahan yang ada di hadapannya.
“Aku yakin, kamu masih hidup, Eiren,” putus Elio dengan keyakinan.
“Jangan membuat seseorang yang sudah tidak ada menjadi ada, Mr. Elio, karena sampai kapan pun, yang sudah tidak bernyawa akan tetap tidak bernyawa.”
Elio yang mendengar ucapan tersebut langsung berbalik dan menatap ke asal suara. Matanya menatap pria dengan senyum meremehkan dengan tatapan tajam. Wajah datar Elio kini bertambah dingin dan tidak ada keramahan sama sekali.
“Jangan membuat Eiren merasa terbebani dengan pikiran anda kali ini. Biarkan dia pergi dan lepaskan dia sepenuhnya, karena sampai kapan pun, Eiren tidak akan kembali.”
__ADS_1
_____