
“Saka.”
Sebuah panggilan kecil membuat Saka menghentikan tawa dan menatap ke asal suara. Matanya menatap Feli yang tengah berdiri dengan ekpresi yang sulit diartikan. Saka masih bingung dengan hal tersebut, sampai matanya menatap gerakan mata Eiren yang mengode untuk kembali peka. Denga cepat dia menatap ke arah yang dimaksud Eiren dan sedikit tersentak karena tangan Dinda tengah menggandenganya manja.
Saka tersenyum canggung dan melepaskan gengaman tangan Dinda, membuat gadis yang ada di dekatnya mengerutkan kening heran.
“Sayang, kenapa dilepas?” tanya Dinda meledek Saka yang terlihat salah tingkah di depan Feli.
Saka menatap Feli yang hanya diam dengan mata menatap lekat. Dalam hati dia benar-benar merutuki Dinda yang selalu saja bertingkah manja dengannya meski sudah memiliki calon suami.
Feli yang melihat Saa berulang kali melepaskan genggama tangan Dinda dan menatapnya dengan was-was, hingga helaan napas berat kembali terdengar dari arahnya, membuat Eiren yang masih di dekatnya menatap dengan tatapan cemas.
Bagaimana jika Feli marah?, itu yang dipikiran Eiren saat ini. Sampai matanya menatap langkah Feli yang mulai mendekati Saka dengan pelan.
“Dinda, lepas,” gumam Saka ketika Feli sudah dekat dengannya. Dia benar-benar tidak mau jika pada akhirnya Feli marah dengannya.
“Kenapa? Biasanya juga aku pelu-peluk gak masalah,” ucap Dinda dengan senyum tanpa dosa, membuat Eiren yang tidak seberapa mengenal mendengus kesal.
Saka baru akan membuka mulut ketika Feli duduk di dekatnya dan dengan cekatan memegang pundaknya, melempar senyum manis yang membuat semakin merasa tidak enak hati.
Please, jangan marah, baby, batin Saka dengan tatapan memohon.
Feli mengelus pelan pundak Saka dan menatap lembut. “Sayang, pulang yuk. Aku rasa aku mau di rumah saja,” ucap Feli membuat Saka yang awalnya cemas menjadi terkejut.
Elio hanya diam dengan senyum ditahan dan mengalihkan pandangannya ke arah Eiren yang mengerutkan kening heran. Dia tidak menyangka jika sahabatnya bisa bertingkah seperti sat ini.Menjadi gadis lembut dengan penuh pengertian.
Apa dia Feli yang sama?
“Kamu tadi bilang apa, baby?” tanya Saka merasa heran. Bukan ajakan Feli yang membuatnya sampai tercengang, tetapi panggilan yang dilontaran Feli membuatnya seakan berbunga.
Feli menghela napas perlahan dan menatap Saka kembali. “Sayang, ayo pulang. Urusanmu sudah selesai, kan?”
“Kamu siapa?” tanya Dinda sembari menatap Feli dengan pandangan menyelidik. Dia sudah beberapa kali melihat Feli bersama dengan Saka, tetapi dia hanya berpikir jika itu hanya kebetulan karena mereka berada di satu persuahaan. Namun, hari ini dia mulai bertanya. Siapa gadis yang tengha menempel dengan Saka?
Feli mengalihkan pandangan ke arah Dinda dan tersneyum manis. “Saya Feli, calon istri Saka.”
Dinda yang mendengar mengangguk mengerti, perlahan dia melepaskan genggaman tangannya dan menatap ke arah double E yang sedang menahan tawa, membuatnya mendengus kesal. Rasanya dia ingin memaki Eiren dan Elio yang saat ini sedang berbahagia.
Saka menatap Feli dan mengegnggam jemari wanitanya erat. “Sudah selesai, kok. Ayo aku antar kamu pulang,” kata Saka dengan penuh kebahagiaan. Pasalnya, ini pertama kali Feli memangilnya dengan sebutan syang.
__ADS_1
Belum selesai pun aku akan bilang selesai, batin Saka dan langsung bangkit.
Setelah berpamitan dengan sahabat-saabatnya, dia segera melangkag keluar bersana dengan Feli yang tidak mau melepaskan genggaman tangan sama sekali. Hingga beberapa saat kemudian, terdengar suara mobil yang keluar dari halaman rumah Elio. Dengan cepat Elio dan Eireb tertawa keras, mengeluarkan semua tawa yang sejak tadi ditahan keduanya.
Dinda yang mendengar mendengus kesal ke arah kedunya. “Kalian bisa diam gak?” teriak Dinda dengan wajah kesal, tetapi tidak menyurutkan Eiren dan Elio yang masih menertawakannya. Hingga pada akhirnya, Dinda memilh pasrah hingga keduanya berhenti dengan sendirinya.
Memang ya, jodoh itu cerminan diri, batin Dinda sembari menatap Eiren dan Elio yang memiliki sifat sama.
_____
Saka melirik ke arah Feli yang diam. Sejak keluar dari rumah Elio, kekasihnya memilih menutup mulut rapat, bahkan tifak menatapnya sama sekali. Dia sendiri masih mengulum senyum sejak Feli memanggilnya dengan sebutan sayang.
Saka berdehem pelan, membuat fokus Feli kembali teralih ke arahnya. Saka menatap ke arah Feli dan tersenyum lembut.
“Kamu kenapa diam saja, sayang? Kamu capek?” tanya Saka dengan suara lembut.
Feli yang mendengar menggeleng pelan, menutupi wajahnya yang sejak tadi menahan malu. Namun, Saka yang dapat melihat hanya tersenyum kecil dan membelokan mobilnya memasuki parkiran gedung apartemen Feli.
Saka menatap ke arah Feli yang berusaha keluar ketika mobil berhenti, tetapi tiak bisa karen sudah dikunci olehnya. Perlahan, Saka meraih jemari Feli lembut, membuat Feli tampak salah tingkah.
“Hey, baby, kamu kenapa? Ada masalah?” tanya Saka dengan suara yang teramat lembut.
Feli yang mendengar akhirnya pasrah dan menghela napas perlahan. Feli membenarkan duduknya dan menatap ke arah Saka dengan tatapan bingung. Dia bahkan sudah menggigit bibir bagian bawah untuk mengurangi kegugupannya. Sampai usapan lembut dari Saka membuatnya melepaskan gigitan bibir pelan.
Feli menarik napas dalam dan mengembuskannya perlahan, matanya menatap ke arah Saka lekat. “Aku tadi malu-maluin banget ya di depan wanita itu?” tanya Feli dengan suara pelan. Sejak perjalanan dia memikirkan hal yang tidak penting sama sekali.
Saka yang mendengar mengulum senyum dan menggeleng. “Kamu tidak malu-maluin kok. Aku malah suka kamu yang begitu. Aku jadi tahu, kalau kamu memang mencintaiku juga. Buktinya tadi cemburu,” jelas Saka tanpa malu-malu.
Feli berdecak kecil dan menatap ke arah Saka lekat. “Aku gak cemburu kok,” celetuk Feli dengan wajah yang diusahakan senormal mungkin.
Saka yang mendengar semakin terkekeh dan segera mendekatkan tubuhnya di dekat Feli, membuat gadis tersebut terkurung dalam kukungannya.
"Aku suka kalau kamu cemburu begitu, sayang. Aku suka dicemburui,” ucap Saka lirih, tepat di depan wajah Feli.
“Saka,” cicit Feli yang mulai merasa dalam bahaya.
“Panggil aku sayang. Kalau gak mau aku gak bakal lepasin. Aku rela kok kurung kamu di mobilku sampai kapan saja,” celetukSaka membuat Feli menatap dengan mata melebar.
Feli menghela napas perlahan, merilekskan tubuhnya. Perlahan, tangannya mulai mengelus pelan pipi Saka, membuat pria tersebut menutup mata, merasakan sentuhan yang membutanya menjadi ketagihan.
__ADS_1
“Sayang, aku mau keluar,” kata Feli dengan wajah yang langsung memerah. Dia belum terbiasa menyebut Saka dengan panggilan ‘sayang’.
Saka yang mendengar mengulum senyum dan segera menjauhkan tubuhnya. Perlahan, ia mulai membuka kunci di mobilnya, mebuat Feli langsung keluar dengan langkah setengah berlari. Saka yang melihat hanya terkekeh kecil dan mengikuti langkah Feli.
“Dasar Feli,” gumam Saka dengan bibir mengembangkan senyum bahagia.
_____
Feli baru saja hendak menutup pintu jika saja Saka tdiak menghentikannya. Dengan kening berkerut, Feli menatap ke arah Saka yang sudah menghentikan laju pintunya.
“Astaga, Saka,” pekik Feli dan langsung memubak pintu lebar. Matanya menatap tangan Saka yang tampak memerah karena gesekan dari pintunya.
“Kamu ngapain ke sini?” tanya Feli dengan wajah cemas. Tangannya bahkan sudah memegang tangan Saka dengan sedikit darah di punggung.
“Aku mau ikut kamu,” cicit Saka sembari menatap ke arah Feli memelas.
Feli menghela napas perlahan dan menatap Saka dengan tatapan lelah. “Sudah aku bilang berapa kali, Saka. Jangan ke sini, nanti ada karyawan yang tahu, kamu akan mendapat nasalah. Sudahlah, kita bisa bertemu di rumah atau di luar kantor dan apartemen,” ujar Feli denggan jika Saka juga terkena masalah.
Saka mengeleng pelan. “Aku mau sama kamu. Kalau kamu gak mau pulang ke rumah, aku yang akan datang ke sini dan tidur di sini. Kagi pula, Elio tidak akan memarahiku.”
“Aku yang akan mematuhimu, Saka. Aku mohon, jangan di sini atau karyawan lain akan menggosipkanmu yang tidak-tidak,” ucap Feli dengan penuh permohonan.
Saka mengerutkan kening heran dan menatap Feli lekat. “Apa kamu malu denganku, Feli? Apa kamu tidak mau ada yang tahu tentang hubungan ini?”
Feli segera menggeleng dan menatap ke arah Saka lekat. “Saka, aku bukannya malu denganmu. Aku hanya....”
“Lalu kenapa kamu tidak mau ada yang tahu mengenai hubungan kita? Padahal aku benar-benar serius ingin menikah denganmu. Apa terlalu sulit untuk tidak memperhatikan mereka yang tidak penting untuk kita?”
Feli yang mendengar merasa terenyuh. Dia memang tidak malu, hanya saja dia tidak ingin Saka menjadi bahan gosipan di kantor. Dia ingin Saka tetap pada nama baiknya dan biarkan dia sediri yang menanggung bebannya. Ya, seisi kantor memang selalu membicarakan Feli yang saat itu menjadi bahan pertaruhan Saka. Namun, Feli hanya memilh diam dan mengabaikannya begitu saja.
Feli mendekap Saka erat, meletakan kepalanya di dada bidang Saka dengan mata terpejam lelah. “Aku mencintaimu, Saka. Aku tidak pernah merasa malu denganmu. Aku malah bahagia karena kamu sudah sejauh ini memperjuangkanku.”
“Kalau begitu, mau menikah denganku dua minggu lagi?” celetuk Saka sembari mengelus pelan puncak kepala kekasihnya.
Feli hanya mengangguk tanpa mengatakan apa pun. Namun, bagi Saka itu sudah cukup untuk dijadikan sebagai jawaban atas ajakannya.
“Aku akan membuatmu bahagia, sayang. Aku janji,” bisik Saka sembari mengeratkan pelukannya.
Feli hanya diam. Air mata bahagianya perlahan mulai menitik. Aku harap kamu tidak akan pernah tahu mengenai masalahku di kantir, Saka. Aku tidak mau kamu terbebani dan merasa bersalah. Aku ingin kamu tetap hidup tenang seperti saat ini.
__ADS_1
_____
Loha sayang Kim. Jangan lupa tinggalkan like, comment dan juga tambah ke daftar favorit kalian ya. Jangan lupa baca juga cerita Kim yang berjudul "Relationship Goals" dan "Wedding Drama 2". tinggalkan like,comment dan juga tambah ke daftar favorit kalian ya. See you next chapter sayangkuh 😘😘