
“Halo, Rega. Ada apa?” tanya Elio dengan wajah malas. Dia sudah berdiri di lorong apartemen dan menatap sekitar dengan wajah santai.
“Elio, Firda sudah siuman. Dia sadar,” ucap Rega membuat Elio langsung tercengang dengan mata membulat.
Elio menegakan badan yang sejak tadi disandarkan di tembok. Matanya membulat sempurna mendengar kabar yang diberikan Rega kali ini. Rasanya dia seperti tidak percaya dengan hal tersebut. Wanita yang dinantikan akhirnya terbangun.
“Kamu tidak sedang menipuku, kan, Rega?” tanya Elio merasa tidak percaya. Jantungnya bertalu lebih kencang.
“Iya. Dia benar-benar bangun,” ucap Rega dengan suara yang menunjukan kebahagiaannya.
Elio menarik napas dalam dan mengembuskannya perlahan. Meski selama ini dia sudah tidak lagi mencintai Firda, tetapi tetap saja hatinya merasa senang mendengar kabar Firda yang sudah siuman.
“Elio,” panggil Rega pelan, “kapan kamu akan ke sini?” tanya Rega dengan suara pelan.
Elio menatap lurus dengan wajah datar. “Segera. Aku akan ke sana menemui Firda,” jawab Elio dengan tenang.
“Lalu bagaimana dengan Eiren?” tanya Rega merasa penasaran.
Elio kembali mengembuskan napas lelah dan kembali menyandarkan tubuhnya di tembok. “Aku akan tetap mempertahankan hubunganku dengan Eiren, Rega. Aku akan menikahinya,” jawab Elio tegas.
“Tetapi Firda sudah siuman. Apa kamu akan membiarkan dia pergi begitu saja? Kamu sudah berusaha keras untuk membuatnya sadar kembali, ” ujar Rega kekeh.
“Sudahlah, Rega. Jangan campuri urusanku. Aku akan menyelesaikan semuanya dengan caraku. Lagi pula Firda hanya masa laluku,” balas Elio dan langsung mematikan panggilan.
Elio mendongak dengan pikiran melayang. Ada hal yang membuatnya takut. Bagaimana jika memang Firda tidak pernah berselingkuh darinya? Sedangkan dia sudah memberi harapan untuk Eiren, entah dianggap atau tidak oleh gadis tersebut.
“Aku tidak mungkin menyakiti Eiren hanya untukmu, Firda. Aku merasa sudah mulai mencintainya sekarang. Aku bahkan takut dia pergi dariku,” gumam Elio menyadari tingkah absurd yang dilakukannya barusan. Dia menguntit Eiren yang sudah meminta izin kepadanya untuk pergi.
Elio menghela napas panjang dan mulai melangkah, menghilangkan semua pikirannya yang semakin runyam. Aku terlalu lelah untuk memikirkan hal lain.
__ADS_1
“Aku akan segera pulang ke rumah,” ucap Elio sembari membuka pintu apartemen dan menatap dua wanita yang tengah asyik berbincang.
Elio melangkah dengan langkah santai dan menunjukan wajah tanpa masalah. “Aku harus pergi sekarang. Mama masih mau di sini apa mau pulang? Biar Elio antar sekalian,” ucap Elio embuat Farah yang tengah asyik berbincangmenatapnya.
Farah mengerutkan kening sembari menatap serius ke arah Elio. “Kamu mau ke mana?” tanya Farah mulai penasaran.
“Elio ada urusan di kantor,” jawabnya berbohong. Bola matanya menatap Eiren yang sudah memperhatikannya.
“Kamu mau ke kantor? Ada urusan apa?” Eiren mulai angkat bicara dan menatap Elio dengan wajah meneliti.
Elio diam sejenak dan tersenyum. “Ada sedikit masalah. aku harus mengurusnya, Eiren.”
“Kamu akan pulang?” tanya Eiren dengan pandangan meneliti.
“Aku tidak bisa janjikan itu. Aku akan pulang ketika urusanku selesai. Aku harap kamu baik-baik saja di sini,” kata Elio menatap Eiren lekat.
Eiren yang mendengar mengangguk dan tersenyum senang. Ini yang diharapkan dari awal dia tinggal di apartemen Elio. Dia ingin pria tersebit tidak tidur di apartemen bersamanya.
Farah mentap ke arah Eiren dan tersenyum manis. Memeluk Eiren yang langsung membeku karena perbuatan wanita tersebut. “Hati-hati di sini ya, sayang. Jaga diri baik-baik," ucap Farah dan melepaskan pelukannya.
Eiren hanya mengangguk. Matanya menatap kepergian Farah dan Elio secara bersamaan. Sampai pintu apartemen tertutup, meninggalkannya seorang diri di dalam ruangan besar tersebut.
Eiren menghela napas keras dan langsung membanting tubuhnya di sofa ruang tamu. “Aku harus segera mempersiapkan semuanya. Aku harus secepatnya pergi dari Elio,” gumam Eiren merasa ada hal aneh yang mulai merasukinya.
_____
Setelah hampir tiga puluh menit Elio mengendarai mobilnya dengan ugal-ugalan, akhirnya dia sampai di bangunan megah di depannya. Sudah ada penjaga yang menunduk ketika melihatnya datang. Elio mengabaikannya begitu saja dan segera masuk ke dalam rumah.
Elio menaiki tangga dengan langkah lebar dan menuju ke ruangan yang menjadi tempat Firda berada. Dia harus segera menemui wanita tersebut dan meminta penjelasan mengenai kejadian beberapa waktu silam.
__ADS_1
Elio yang sudah sampai di depan pintu ruangan tersebut segera membuka pintu dengan tergesa dan menutupnya rapat. Matanya menatap wanita yang masih membuka mata dan memperhatikan sekitar. Di dekatnya ada Rega yang masih setia mengecek kondisi wanita tersebut.
“Rega,” panggil Elio dengan suara tegas. Matanya menatap dengan tajam dan rahang mengeras.
Rega yang masih asyik dengan tugasnya menatap ke arah Elio dan tersenyum kecil. Rasanya dia senang melihat Elio yang masih peduli dengan Firda yang jelas dibencinya.
“Elio, kamu sudah datang?” celetuk Rega membuat Firda menatap ke arah pria tersebut dengan mata mengamati. Mulutnya hanya diam terkunci rapat.
Elio mengabaikan Firda dan melangkah mendekati Rega. “Bagaimana kondisinya?” tanya Elio dengan serius.
“Dia sudah membaik, meski harus menjalani serangkaian pengobatan sampai kembali normal,” jelas Rega masih menampilkan wajah bahagia.
Elio menatap ke arah Firda dengan tatapan benci. Dia masih mengingat bagaimaan rasa sakitnya ketika menyadari Firda mengandung anak dari pria lain. Sedangkan dia, mati-matian mempertahankan hubungannya meski kedua orang tua tidak merestui sama sekali.
“Elio,” panggil Rega pelan. Sudah sejak tadi dia memperhatikan Elio yang hanya diam dengan pandangan menakutkan.
Elio tidak menjawab sama sekali dan malah melangkah mendekati Firda. “Setelah sekian banyak yang aku lakukan, akhirnya kamu terbangun juga, Firda. Aku sudah menantikan saat di mana mata kamu terbuka,” ucap Elio tanpa ekspresi.
“Elio, jangan katakan macam-macam. Dia baru saja bangun dari koma,” cegah Rega yang tahu tujuan Elio.
Elio mengabaikan peringatan Rega dan malah mendekatkan wajah menatap Firda yang hanya diam. Hanya matanya yang mengikuti ke mana arah pandang Elio.
“Aku tidak pernah menyangka kamu akan melakukan hal konyol seperti itu, Firda. Kamu hamil dengan....”
“Elio!” bentak Rega dengan emosi menggebu.
Elio yang mendengar memejamkan mata dan mengembuskan napas kasar. Mata yang sejak tadi menatap Firda kini beralih menatap Rega yang sudah berdiri dengan tangan mengepal.
“Aku sudah bilang, kan, dia baru saja siuman. Aku minta jangan katakan apa pun mengenai hal itu. Kamu bisa mengatakannya nanti ketika dia sudah sehat sepenuhnya,” ucap Rega merasa kesal.
__ADS_1
“Aku tidak akan pernah bisa menunggu lagi, Rega. Aku sudah menunggunya begitu lama dan kamu pikir aku masih siap menunggu? Aku mau dia menjelaskan apa yang pernah dilakukannya secepat mungkin,” tegas Elio dengan wajah serius. “Berikan pengobatan terbaik agar dia bisa segera berbicara. Aku hanya butuh dia bisa berbicara dan menjelaskan semuanya,” geram Elio membuat Firda yang masih tertidur menitikan air mata.
_____