
Eiren, will you marry me?
Eiren masih terngiang dengan kalimat pria tersebut. Namun, Eiren memilih untuk mengabaikannya begitu saja. Bagaimana pun, dia masih terlalu sulit untuk mempercayai ucapan pria tersebut. Terlebih dengan semua yang pernah dilakukan Elio terhdapnya. Bahkan, rasa kecwa itu masih terasa ada.
Lupakan, Eiren. Jangan percaya dengannya. Jangan sampai kamu tertipu untuk kesekian kalinya, batin Eiren memperingatkan.
Eiren menatap ke meja makan, tempat di mana Elio berada. Sejak Eiren memutuskan untuk mengabaikan ucapan pria tersebut, Elio hanya diam dan tidak membahas apa pun. Wajahnya terlihat memikirkan sesuatu yang Eiren sendiri tidak tahu apa itu.
Eiren menatap masakannya yang sudah matang. Setelah dirasa pas, dia segera menuangkan ke mangkuk bening yang sudah disiapkan. Tidak butuh waktu lama untuknya membawa ke meja makan.
Eiren meletakan makanannya di meja dan segera menarik kursi. Matanya menata Elio yang hanya melamun tidak jelas di hadapannya. “Elio, cepat makan,” kata Eiren membuat lamunan Elio buyar.
Elio menatap Eiren dan mengamati wajah wanita tersebut. “Kamu tidak ingin mengambulkan makanan untukku?” tanya Elio dengan tatapan memohon. Eiren yang mendengar hendak memperotes ucapan Elio, tetapi terhenti karena pria tersebut sudah lebih dulu menyelanya.
“Please,” mohon Elio dengan tatapan memelas.
Eiren yang melihat memilih mengalah dan menuruti kemauan Elio. Dia mulai menyiapkan sarapan untuk pria tersebut. Setelah semua sudah ada di piring Elio, dia segera memberikannya.
“Terima kasih,” ucap Elio dengan senyum manis.
Eiren yang mendengar hanya bergumam dan mengabaikan ucapan Elio. Dia hanya fokus menghabiskan makanannya dan harus segera membuka toko bunganya. Kemarin dia tutup terlalu cepat karena ulah Elio yang menemukannya. Jika mengingat itu dia benar-benar dongkol setengah mati. Bahkan dia ingin melempar Venda karena pria tersebut yang memberitahukan kepada Elio mengenai keberadaannya.
Elio mendongakan kepala, menatap Eiren yang hanya sibuk mengunyah makanannya. “Eiren,” panggil Elio pelan.
“Jangan banyak berbicara, Elio. Kamu makan saja makananmu dan segeralah pergi. Aku tahu kamu sibuk,” jawab Eiren dengan wajah cuek.
Elio yang mendengar mengerutkan kening dalam dan menatap Eiren lekat. “Kamu mengusirku?” jelas Elio merasa saki hati.
Eiren yang mendengar menghentikan aktivitasnya dan menatap ke arah Elio lekat. “Aku tidak mengusirmu, Elio. Aku mengatakan itu karena aku tahu kamu sibuk. Kamu harus segera ke kampus dan mengajar. Belum lagi kamu harus ke kantor,” jelas Eiren tidak mau Elio salah paham dengan maksudnya.
Tidak mau? Eiren menghela napas keras ketika menyadari pikirannya yang ternyata masih memikirkan pria tersebut. Dengan perlahan, dia mulai mengalihkannya dengan kembali menguyah makananya. Dia harus bisa melupakan Elio apa pun caranya.
“Aku sudah tidak mengajar lagi, Eiren,” celetuk Elio dengan wajah datar.
Eiren yang mendengar menatap ke arah Elio lekat. “Kamu keluar?” tanya Eiren mulai penasaran.
Elio mengangguk cepat dan menatap Eiren lekat. Tangannya segera terulur dan menggenggam jemari Eiren erat. “Aku dikeluarkan dari kampus, Eiren. Aku lama sekali tidak mengajar di sana.”
“Kenapa?” tanya Eiren dengan mata menyipit, memperhatikan Elio yang masih tersenyum lembut ke arahnya.
“Bagaimana aku bisa mengerjakan banyak hal jika pikiranku terlalu fokus mencarimu,” jawab Elio dengan wajah kesal, tetapi senyumnya masih terukir.
“Aku mencarimu ke mana-mana, Eiren. Aku bahkan lupa menjaga diriku sendiri. Aku sering keluar malam untuk mencarimu. Tidurku? Jangan kamu tanyakan lagi. Dalam dua tahun ini aku benar-benar susah tidur. Satu-satunya cara agar aku bisa terlelap adalah dengan obat tidur yang diberikan oleh Rega,” jelas Elio dengan begitu lembut.
Apa semua yang kamu katakan benar?, batin Eiren masih meragukan. Namun, jika semua benar, Eiren merasa ada begitu banyak bunga yang bertebaran di hatinya kali ini.
Elio menghela napas perlahan dan melepaskan jemari Eiren. Matanya menatap Eiren dengan penuh kelembutan yang tidak pernah ditunjukan kepada siapa pun. “Kamu boleh tidak percaya denganku, Eiren. Aku cukup sadar dengan apa yang pernah aku lakukan. Tetapi ada hal yang harus kamu percaya bahwa aku benar-benar mencintaimu. Aku serius dengan ucapanku mengenai pernikahan kita. Aku ingin membangun rumah tangga hanya bersamamu,” tegas Elio berhara Eiren akan mempercayaiya. Sejak tadi dia hanya melamun, memikirkan bagaimana cara menaklukan Eiren-nya.
Deg.
Lagi-lagi Eiren merasakan hal lain dalam hatinya. Namun, ketika dia coba menghalau pikirannya, sebuah panggilan masuk di ponsel Elio membuat Eiren menatap lekat. Terdapat nama Firda di sana. Membuat hatinya yang belum sepenuhnya membentuk kembali hancur.
Elio melirik sekilas dan melihat Eiren yang tidak memperhatikannya. Tanpa berpamitan, dia segera pergi membawa ponselnya dan menerima panggilan dari Firda. Eiren yang melihat langsung menghela napas perlahan ketika menyadari hatinya kembali hancur.
__ADS_1
“Bagaimana aku bisa percaya denganmu, Elio. Bahkan kamu masih bersama dengannya, menyuruhku melupakan semua yang telah terjadi,” gumam Eiren sembari mendongak, menatap langit rumahnya dan mencoba menghalau air mata yang sudah siap turun.
Eiren, kamu dilarang cengeng. Kamu kuat, kamu bisa, batin Eiren menyemangati diri sendiri. Kali ini dia tidak akan pergi lagi, tetapi akan menjalani semuanya. Dia akan menjalani takdirnya, meski sehancur apa pun nanti.
_____
“Halo, Firda,” sapa Elio ketika sudah mengangkat panggilan wanita tersebut. Dia memilih menjauh dari rumah Eiren karena tidak mau wanita tersebut berpikir macam-macam. Sekarang dia masih berusaha meraih hati Eiren yang sudah menjadi sekeras batu.
“Elio, kamu sudah menemuan Eiren?” tanya Firda dengan suara lembut.
Elio yang mendengar bergumam dengan wajah datar. Dia enggan memikirkan dari mana Firda mengetahui semuanya. m
Menurutnya itu tidaklah penting sekarang.
Terdengar helaan Firda dari seberang yang membuat Elio mengerutkan kening heran. “Aku cukup bersykur dengan kabar tersebut, Elio. Aku berharap kamu akan bahagia dengannya,” ucap Firda dan tidak mendapat jawaban apa pun.
“Sekarang, karena kamu sudah menemukannya, sudah waktunya aku pergi,” imbuh Firda dengan nada suara yang terdengar sedih.
“Pergi? Maksudnya?” tanya Elio dengan wajah bingung.
“Elio, apa selama ini kamu tidak sadar bahwa alasan Eiren pergi adalah aku? Apa kamu tidak mengerti jika dia masih berpikir kamu mencintaiku? Jadi, aku tidak bisa tetap tinggal di rumahmu karena Eiren sudah kembali, Elio. Aku harus bisa memulai kehidupanku sendiri mulai sekarang,” jelas Firda.
Elio yang mendengar menghela napas keras. “Aku tahu semua itu, Firda. Tetapi kamu akan pergi ke mana?” tanya Elio penasaran. Setahunya Firda tidak memiliki siapa pun. Dia hanya hidup sebatang kara.
“Ke mana aku pergi bukan lagi menjadu tanggung jawabmu, Elio. Tanggung jawabmu sekaranga adalah membahagiakan Eiren. Jangan biarkan dia kabur lagi darimu. Jaga dia baik-baik,” pesan Firda membuat Elio tersenyum ringan.
“Baiklah, Firda. Aku harap kamu akan tetap baik-baik saja. Jaga dirimu dan aku berdoa kelak kamu akan menemukan pria lain yang mencintaimu.”
“Semoga,” jawab Firda lirih.
“Venda,” gumam Elio ketika menyadari siapa yang datang.
_____
Eiren masih menata bunga-bunga segar miliknya ketika sebuah mobil berhenti tepat di depan tokonya. Dengan pandangan lekat dia mulai menunggu siapa pemilik mobil tersebut. Namun, ketika pintu terbuka, Eiren segera membelalakan mata tidak percaya dengan apa yang dilihatnya
“Feli,” seru Eiren dngan wajah bahagia. Dengan cepat dia segera keluar dari dalam toko dan mendekap Feli erat. Dia merindukan sahabatnya yang satu ini.
Feli yang merasakan pelukan erat di tubuhnya hanya tersenyum kecil dan membalasnya. Dia juga merindukan Eiren yang sudah dua tahun menghilang dari perputaran bumi. Semua orang bahkan sudah menganggapnya tiada. Namun, sekarang Feli merasa lega melihat sahabatnya baik-baik saja.
Feli melepaskan pelukannya dan menatap Eiren lekat. Matanya berkaca melihat Eiren yang tampak sehat di hadapannya. “Eiren, kamu benar-benar jahat ya. Kamu masih hidup dan tidak memberiku kabar sama sekali. Aku bahkan sampai masuk rumah sakit karena memikirkanmu,” adu Feli dengan air mata tidak terbendung.
Eiren yang mendengar merasa terharu dan menghapus air mata Feli pelan. “Aku minta maaf untuk itu, Feli,” ucap Eiren dengan wajah penuh penyesalan.
Feli menghapus sisa air mata yang ada di matanya dengan kasar. Dia mengabaikan pakaian seksi yang membuatnya terlihat lebih dewasa dari dua tahun yang lalu. “Kamu tahu, Eiren? Ketika ada kabar korban kecelakaan di rumah sakit, aku datang ke sana bersama Mr. Elio. Dia terlihat begitu cemas dan tidak terawat sama sekali,” ucap Feli membuat Eiren kembali diam.
Eiren tidak menjawab dan hanya tersenyum tipis. Ada hal yang membuanya enggan membicarakan mengenai Elio. Namun, baru saja dia ingin melupakan sosok tersebut, sebuah dekapan dari belakang membuat Eiren terasadar. Di tambah dengan napas mint yang jelas siapa pemiliknya.
“Mr. Elio,” panggil Feli dengan wajah terkejut ketika melihat Elio ada di belakang sahabatnya.
Elio mendongak dan menatap Feli dengan senyum tipis. “Apa kabar, Feli?” tanya Elio dengan tatapan tegas.
Feli yang mendengar tersenyum kecil dan menatap canggung. Dia tidak tahu jika pria tersebut ada bersama dengan Eiren. Eiren yang merasa pelukan Elio semakin mengerat di tubuhnya mencoba melepaskan genggaman tangan tersebut, tetapi gagal karena Elio yang memaksa mendekapnya.
__ADS_1
“Elio, lepas,” gerutu Eiren sembari menatap ke arah Venda dan juga Feli bergantian. Keduanya masih mengulum senyum melihat tingkah Elio yang jauh berbeda dengan biasanya.
Elio menggeleng dan mengeratkan pelukannya. “Dua tahun aku menunggumu dan sekarang ketika bertemu, memeluk pun aku tidak boleh, Eiren? Kenapa kamu begitu kejam denganku,” gerutu Elio dengan wajah kesal.
Eiren yang mendengar mengabaikannya dan memilih diam. Dia sebenarnya malu karena tingkah Elio membuatnya tidak leluasa dalam bergerak. Padahal aku ingin bersama dengan Feli, gerutu Eiren dalam hati.
Melihat tingkah Elio yang seakan enggan melepaskan Eiren membuat Feli dan Venda cukup sadar diri. Mereka memilih berpamitan meski sebenarnya masih ingin bersama. Keduanya ingin memberikan keleluasaan untuk Eiren dan juga Elio untuk bersama.
Seperti hari ini adalah waktunya Elio bersama dengan Eiren, pikir Venda dan Feli yang sepaham.
Namun, di lain sisi Eiren malah merutuki tingakah dua sahabatnya yang membawanya masuk ke dalam kandang macan.
Bersama dengan Elio saja itu bukan hal yang baik, batin Eiren mulai mengingat semua tingkah Elio yang membuatnya kesal.
_____
“Elio, kenapa kamu tetap di sini? Kamu bahkan tidak berganti pakaian sama sekali,” gerutu Eiren ketika melihat Elio masih betah di rumahnya dengan pakaian yang sama. Sejak kemarin Elio tidak pergi dari rumahnya sama sekali. Terlebih sikap posesifnya membuat Eiren merasa terganggu karena tidak bebas dengan semua geraknya. Elio selalu mengikuti ke mana saja dia pergi, kecuali ketika dia buang air besar.
Elio yang ditanya menndongak dan meletakan ponselnya di meja. “Memangnya kenapa, sayang?” tanya Eliobdengan pandangan lekat. Kakinya sudah disilangkan dan menatap dengan lembut.
"Aku bahkan tidak berpikir untuk pergi dari rumahmu,” imbuh Elio santai.
Eiren yang mendengar langsung membelalakan mata dan menatap Elio dengan pandangan tajam. “Kamu mau di sini? Sampai kapan? Kamu memiliki pekerjaan lain, Elio. Kamu bisa kembali lagi lain waktu,” ucap Eiren dengan wajah kesal. Dia merasa Elio memang selalu seenaknya saja.
“Mengenai itu gampang. Mereka bisa mengantar semua berkas yang butuh aku kerjakan kemari. Lagi pula Boy akan segera datang untuk membawakan pakaianku,” jelas Elio santai.
Eiren yang mendengar menghela napas kasar. Kenapa dia melupakan siapa pria di hadapannya kali ini? Jangankan pekerjaannya, bahkan gedungnya saja Elio mampu membawa ke hadapan Eiren dengan mudah.
“Aku tidak bodoh, Eiren. Aku tidak mau setelah menemukanmu, kamu pergi lagi dariku. Itu sebabnya aku memilih tinggal di sini sampai kamu mau menikah denganku,” celetuk Elio membuat napas Eirn semakin terhenti.
Eiren berdecak kesal dan mengumpat keras. Dia benar-benar membenci kenyataan hidupnya kali ini. Padahal dua tahun ini dia merasa bahagia dengan kehidupannya. Elio yang mendengar umpatan hanya terkekeh kecil.
Elio segera bangkit dari duduknya dan melangkah ke arah Eiren berada. Eiren hanya diam dengan wajah kesal dan tidak menyadari pria tersebut semakin mendekat. Ketika sudah sampai di hadapan wanita tersebut, Elio meundukan tubuh, menatap Eiren yang juga mulai menatapnya lembut. Manik mata teduh Elio seakan menghipnotis Eiren dalam sekejap.
Elio tersenyum tipis dan segera menempelkan bibirnya ke bibir Eiren. Elio hanya mencium singkat dan melepaskannya. Matanya mengamati wajah Eiren yang terlihat merah padam, padahal mereka sudah pernah melakukan hal lebih dari sekedar ciuman.
“Aku terlalu merindukanmu, Eiren. Aku tidak ingin kamu pergi lagi dariku,” ucap Elio dengan suara lirih.
“Lalu Firda?” tanya Eiren mencoba mengungkit masalah yang selalu dipendamnya.
“Firda hanya masa lalu dan kamu adalah masa depanku. Jadi, kenapa kita harus mengungkit masa lalu yang sudah berakhir, Eiren?”
Eiren tersenyum tipis dan menatap Elio lekat. “Kamu bilang berakhir? Kamu pikir aku bodoh, Elio? Bahkan baru saja kamu mendapat telfon dari Firda, kan?,” ucap Eiren dengan senyum mengejak.
Elio tidak menyangkal dan memilih mengangguk. “Dia hanya berpamitan untuk pergi dari rumah, Eiren. Tidak ada hal lain,” ujar Elio segera mendekatkan kepalanya ke arah leher Eiren, memberikan kecupan ringan dan meninggalkan bekasbdi sana. Eiren hanya bisa memejamkan mata ketika Elio melakukannya.
“Aku hanya mencintaimu. Jadi, kamu mau menikah denganku?” bisik Elio dengan suara menggoda.
Eiren menarik napas dalam dan mengembuskannya pelan. Dengan sekuat tenaga dia mendorong Elio agar menjauh darinya dan untung berhasil. Eiren menatap dengan pandangan tajam.
“Tidak. Aku tidak mau menikah denganmu, Elio,” jawab Eiren dengan suara tegas.
_____
__ADS_1
Yuhuurr..untuk tau informasi lainnya, kalian bisa follow ig kim ya sayang.@kimm.meili. Terima kasih dan selamat membaca 😘😘