
Eiren memilih diam ketika berada di dalam mobil bersama dengan Elio. Sejak perjalanan, dia hanya bungkam dengan semua pikirannya. Beberapa kali Elio menyapa juga tidak didengarkan sama sekali. Rasanya seperti serba salah dengan keadaannya saat ini. Banyak pertanyaan yang mulai timbul dalam otaknya.
Apa Firda merupakan sosok istimewa untuk Elio? Apakah dia sudah tega melihat hatinya sendiri hancur? Masih banyak hal yang dipikirkan oleh Eiren sebelum bertemu dengan Firda.
Elio yang menyadari kediaman Eiren memilih untuk tidak menegur sama sekali. Dia lebih memilih untuk sibuk dengan pikirannya dan berharap ini adalah jalan yang terbaik. Rasanya begitu lelah ketika melihat Eiren menatapnya dengan penuh kebencian. Dia hanya berharap, setelah ini hubungannya kembali membaik dengan Eiren.
Elio membelokan mobil ketika sampai di gerbang rumah yang terbuka. Rumah yang tidak asing lagi untuk Eiren. Setelah sampai di depan rumah, Elio menghentikan mobil dan mematikan masin. Matanya menatap Eiren yang masih saja bungkam.
“Mau turun sekarang?” tanya Elio meminta persetujuan.
Eiren mentap tajam ke arah Elio dan mengangguk. “Aku mau bertemu dengannya. Wanita yang begitu kamu cintai.” Eiren menekankan suaranya pada kalimat terakhir.
Elio menghela napas keras mendengar ucapan Eiren. “Terserah apa katamu,” ucap Elio yang memilih langsung keluar.
Eiren mengikuti langkah Elio dan melangkah masuk ke dalam rumah. Namun, baru sampai di mulut pintu, sebuah teriakan membuatnya menghentikan langkah dengan ekpresi datar.
“Elio.”
Eiren hanya diam ketika Firda datang menghapiri Elio dengan tertatih. Hatinya terasa nyeri ketika Elio memilih berlari menghampir Firda dan mendekap gadis tersebut.
Dia sama saja dengan yang lain, Eiren, batin Eiren meyakinkan diri.
_____
“Elio.”
Elio yang melihat Firda melangkah dengan tertatih tersenyum lembut. Langkahnya semakin dipercepat dan segera meraih tubuh lemah Firda karena wanita tersebut hampir saja jatuh.
“Kamu harus hati-hati,” kata Eio mengingatkan.
Firda yang mendengar mengangguk dan tersenyum senang. Matanya berbinar menatap Elio yang saat ini ada di depannya. “Kamu datang?” tanya Firda dengan wajah dipenuhi kebahagiaan.
Elio mengangguk. “Bersama Eiren,” jelas Elio sembari membalik badan, menatap Eiren yang hanya diam di tempat.
Firda mengikuti arah pandang Elio dan menatap Eiren lekat. Matanya meneliti dari atas sampai bawah. Rasanya kecewanya kembali muncul ketika senyum manis terlukis di bibir tipis Eiren. Hal yang membuatnya merasa semakin lemah.
Perlahan, Firda melepaskan genggaman tangannya di lengan Elio dan melangkah tertatih. Dia mencoba mendekat ke arah Eiren yang sudah melangkah mendekatinya. Namun, karena kaki yang masih terlalu lemah, tubuhnya mulai goyah dan hampir jatuh, tetapi sebuah tangan menguatkannya.
“Hati-hati,” ucap Eiren menangkap tubuh Firda dan menegakan kembali.
Firda yang mendengar tersenyum lemah. “Terima kasih.”
Eiren hanya mengangguk dan menuntun Firda duduk di kursi ruang tamu. Selanjutnya, dia duduk berseberangan dengan Firda. Elio yang melihat ikut duduk di kursi bersama dengan Eiren.
“Kamu Eiren?” tanya Firda dengan suara lemah.
Eiren mengangguk canggung dan menatap ke arah Elio. Dari mana dia tahu mengenaiku?
“Senang bertemu denganmu,” imbuh Firda dengan senyum manis. Tangannya mengepal menahan hati yang kian terasa sakit. Ada hal yang membuatnya merasa begitu terluka. Eiren terlalu baik untuk dijadikan musuh.
Firda menatap ke arah Elio dan tersenyum. “Dia gadis yang baik. Aku yakin dia akan membahagiakanmu,” kata Firda dengan suara kecewa tertahan.
__ADS_1
“Maaf karena aku mencintainya, Firda. Maaf karena ternyata aku yang mengingkari janji kita,” jawab Elio dengan rasa menyesal yang cukup mendalam.
“Tidak masalah, Elio. Aku tahu itu. Dia sudah menjadi rumahmu dan bukan lagi aku.” Firda menghapus air matanya dan menatap Eiren dengan senyum manis. “Bahagiakan dia, Eiren. Aku yakin, kamu akan bahagia dengannya.”
Eiren hanya tersenym tipis dan menatap Elio. Dia masih tidak yakin bisa hidup dengan Elio ketika pria tersebut masih saja memikirkan Firda. Eiren baru akan membuka mulut ketika sebuah seruan membuatnya kembali bungkam.
“Firda,” teriak Elio dengan wajah cemas.
Eiren menatap ke arah Elio dan beralih menatap Firda yang menutup mulut, menahan isak tangis yang dirasa. Matanya menatap tangan Firda yang sudah menegang dengan beberapa tetes darah mengalir dari sela jemarinya. Hal yang baru pertama kali dilihatnya.
Eiren beralih menatap Elio yang sudah tampak begitu cemas dan bangkit. Dia baru akan beranjak menolong ketika seseorang menghentikan gerakannya.
“Jangan dekati dia. Semua ini karena kamu,” tegas Rega yang langsung mendekat ke arah Firda.
Eiren kembali membeku. Semua ini karena aku? Rasanya sekarang dia tahu seperti apa perasaan Dora ketika berada di posisi saat ini. Hina. Itu yang membuatnya semakin merasa pilu.
Elio menatap ke arah Eiren ketika akan melangkah membawa Firda masuk ke dalam. “Bisa kamu pulang sendiri dulu? Aku akan ke apartemen setelah Firda membaik,” ucap Elio meminta pengertian.
Eiren hanya mengangguk dan menatap kepergian Elio bersama dengan Rega dan juga Firda. Setitik air mata mulai membasahi sudut matanya dan langsung dihapus. Eiren memilh melangkah pergi meninggalkan rumah Elio sebelum perasaannya semakin tidak karuan.
“Aku bukan rumahmu, Elio. Aku sadar itu,” ucap Eiren dengan lemah.
_____
“Firda, jangan lakukan itu lagi. Kamu tidak boleh menyakiti dirimu sendiri,” ucap Elio dengan penuh kekhawatiran.
Firda yang berada di ranjang menatap Elio dan mengangguk. “Maafkan aku, Elio. Aku tidak akan mengulanginya lagi.”
“Sudah,” potong Firda dengan wajah cemberut, “aku bukan anak kecil lagi. Aku akan baik-baik saja. Lebih baik kamu jangan terus mengkhawatirkan aku dan kejar Eiren. Dia pasti berpikir macam-macam tentang kita. Aku tidak mau dia pergi dari kamu.”
“Tidak. Aku yakin Eiren pasti akan mengerti kondisi saat ini,” ujar Elio dengan wajah santai. Dia yakin, Eiren pasti mengertinya.
Firda menggeleng pelan dan mengusap tangan Elio lembut. “Itu menurutmu, Elio. Kamu tidak tahu apa yang sebenarnya dia pikirkan, kan? Aku yakin, dia masih berpikir kita memiliki hubungan. Aku tidak mau mengganggu pernikahan kalian.”
Elio yang mendengar diam seketika. Dia masih mencoba berpikir mengenai apa yang dikatakan Firda. Benarkah Eiren seperti itu? Bahkan, dia merasa tidak yakin jika Eiren memiliki perasaan dengannya. Ketika pikirannya masih berkecambuk dengan hal yang sama, sebuah elusan lembut membuat Elio menatap dengan wajah penuh tanya.
“Pergilah. Aku sudah merelakanmu dengannya. Aku berjanji akan baik-baik saja,” tambah Firda mencoba meyakinkan.
Elio menghela napas perlahan dan mengangguk. Dia bangkit dan mulai meninggalkan kamar Firda. Sedangkan Firda, dia hanya mampu menatap ketika pintu tersebut tertutup. Perlahan, air matanya turun dan mulai membahasahi pipinya.
“Sekarang aku bahkan tidak memiliki alasan untuk ada di sini, Elio,” bisik Firda dengan rasa pilu yang menggebu.
_____
Sekali lagi, Eiren menghela napas perlahan ketika matanya menatap ruangan apartemen Elio. Ruangan yang sudah berulang kali meninggalkan kenangan mengenai dirinya dan juga Elio. Senyumnya perlahan bangkit ketika melewati ranjang Elio, tempat di mana dia biasa menghabiskan waktu bersama dengan pria tersebut.
Manik matanya kembali menatap sekitar dan mengamati dengan lekat, menyimpan hal tersebt dalam benak pikirannya.
“Mungkin ini terakhir kali aku ada di sini,” ucap Eiren dengan lemah. Ya, setelah Eiren kembali ke apartemen, dia memilih berkemas dan juga memutuskan untuk pergi dari apartemen tersebut. Dia memilih untuk tinggal di kosannya dulu dan akan hidup seperti biasa.
“Sebelum aku mencintaimu, aku harus pergi darimu,” ujar Eiren dengan tawa ringan.
__ADS_1
Eiren menghela napas perlahan dan bangkit dari ranjang. Dia mulai melangkah keluar dari kamar dan menuju ke kamarnya. Perlahan, tangannya meraih koper besar dan menariknya keluar. Eiren masih menutup pintu ketika suara lain terdengar. Dengan cepat dia menatap ke asal suara dan langsung diam.
“Eiren, kamu mau ke mana?” tanya Elio dengan kening berkerut.
“Hai, Elio,” sapa Eiren dengan senyum tanpa rasa bersalah. Dengan perlahan, dia menarik koper dan melangkah mendekat. Dia menghentikan langkah ketika sudah berada di jarak dekat dengan Elio.
“Kamu mau ke mana?" ulang Elio karena tidak juga mendapat jawaban.
“Aku sudah memutuskan untuk pergi dari apartemen kamu. Aku akan kembali ke kosan dan tinggal di sana. Aku akan menemuimu untuk bimbingan di kampus,” jelas Eiren dengan senyum manis.
Elio yang mendengar mengeraskan rahang dan menatap Eiren kejam. “Apa yang kamu pikirkan, Eiren? Kamu mau meninggalkanku?” geram Elio dengan tangan mengepal.
“Aku tidak meninggalkanmu, Elio. Selama ini aku hanya menjalankan bagianku dan sekarang semua sudah selesai. Jadi, aku akan kembali ke posisiku.”
“Maksudmu?” tanya Elio dengan mata menyipit.
“Firda sudah bangun dan semua perjanjian kita berakhir. Aku tahu, bukan di sini tempatku,” jelas Eiren dengan senyum yang mulai melemah. Entah mengapa, rasanya menyakitkan ketika mengatakannya.
“Kamu pikir aku main-main denganmu, Eiren?” tegas Elio sembari menatap Eiren tajam, “aku bahkan sudah benar-benar mencintaimu.”
Eiren yang mendengar tertawa kecil dan menatap Elio dengan tawa jenaka. “Jangan bercanda, Elio. Aku bahkan tidak bisa mempecayai ucapanmu.”
“Aku serius, Eiren! Aku serius mencintaimu.”
Eiren memejamkan mata dan menghela napas perlahan. Dia kembali membuka matanya dan menatap Elio dengan air mata yang menggenang di pelupuk mata. “Hentikan ucapanmu, Elio. Aku bahkan tidak akan pernah mempercayainya,” desis Eiren yang langsung menarik kopernya.
Elio yang melihat menghentikan langkah Eiren dan menatap tajam. “Aku tidak akan membiarkanmu pergi.”
“Aku mohon, lepaskan aku. Jangan buat aku semakin menderita dengan sikapmu, Elio. Kamu seakan-akan mencintaiku, tetapi kamu akan berbeda ketika bersama dengan Firda. Jangan buat aku seakan menjadi rumahmu, Elio,” ucap Eiren dengan nada lemah. Dia sudah terlalu sakit menghadapi tingkah absurd Elio.
“Kamu memang rumahku, Eiren. Kamu adalah tempatku kembali,” jawab Elio dengan nada pelan.
Eiren mendongak, menghentikan laju air mata yang mulai mengalir dan tersenyum. “Jika aku rumahmu, lepaskan Firda sepenuhnya dan jangan pernah urusi dia,” tegas Eiren dengan penuh keyakinan. Sekali saja, dia ingin menjadi sosok yang egois dan mulai memikirkan dirinya sendiri.
Elio diam sejenak dan menatap Eiren bingung. Ada kebimbangan yang melekat dalam hatinya. Dia masih memikirkan kondisi Firda yang menurutnya belum cukup baik. Namun, dia juga merasa tidak sanggup jika Eiren meninggalkannya.
“Aku tidak bisa memilih, Eiren. Firda sakit dan aku harus membantu menyembuhkannya,” ucap Elio dengan wajah lemah.
“Kalau kamu masih ragu, jangan tahan aku, Elio.”
“Firda mengidap penyakit self harm, Eiren.”
Eiren yang mendengar menghela napas perlahan dan menatap ke arah Elio lemah. “Kalau begitu jangan tinggalkan dia. Tetaplah berada di dekatnya karena dia jauh lebih memubutuhkanmu. Aku masih jauh lebih sehat dan bisa hidup meski tanpa kamu,” tegas Eiren dengan mata penuh keyakinan.
Eiren kembali melangkah menuju ke pintu masuk. Elio yang melihat hanya mampu menatap nanar kepergian wanita terrsebut. Pikirannya berkecambuk menghadapi kenyataan yang terasa begitu runyam untuknya. Hal yang tidak pernah dipikirkannya sama sekali. Dia hanya berpikir, kalau Firda bangun, kenyataan yang digenggamnya adalah benar. Jadi, dia akan dengan tega meninggalkan wanita tersebut dengan mudah. Namun, kenyataan berkata lain.
Sedangkan di lain sisi, Eiren mulai menitikan air mata ketika memasuki taksi dan meninggalkan apartemen Elio. “Semua memang salahku, Elio. Sejak awal kamu hanya mengatakan semua sebagai perjanjian, tetapi aku malah mencintaimu. Aku terlalu menikmati peranku sebagai wanitamu.”
“Dasar bodoh,” ucapnya dengan tangis tertahan.
_____
__ADS_1