Wedding With My Lecturer

Wedding With My Lecturer
Bagian 23_Menjauh


__ADS_3

“Menikah? Konyol. Aku bahkan tidak ingin terikat dengan siapa pun mulai sekarang. Hubunganku dengan Alex saja sudah membuat lelah bukan main. Ditambah satu lagi masalah dengan Elio. Bisa gila aku lama-lama,” gerutu Eiren yang sudah begitu kesal.


Eiren duduk di gazebo kampus. Sudah satu minggu sejak kejadian, dia mencoba menjauhi interaksinya dengan Elio. Dia enggan mendengar niat konyol Elio yang selalu mengatakan akan menikahinya. Rasanya masalah dalam hidupnya bukannya berkurang malah terus menerus bertambah.


Eiren meletakan kepalanya di meja yang terbuat dari batu bata dan semen. Matanya memejam sejenak dan meresapi hawa sejuk dari pepohonan sekitar. Dia enggan memikirkan masalahnya yang tidak pernah ada penyelesaian sama sekali. Dia bahkan melupakan apa yang pernah terjadi padanya di malam itu.


“Kenapa masalah hidupku terus bertambah dan bukannya berkurang,” gumam Eiren dengan tampang kesal.


“Hey, masih pagi sudah menggerutu aja. Gak baik,” tegur Feli yang baru saja datang dan memukul pelan lengan Eiren.


Eiren yang melihat sahabatnya langsung berdecak kesal. Apalagi ketika Feli yang sudah duduk mulai meminum jusnya tanpa meminta izin terlebih dahulu dan mulai memakan makanan ringan yang baru saja dibeli.


“Ngapain kamu itu gak masuk kelas?” tanya Eiren dengan pandangan kesal.


“Memangnya kenapa?” tanya Feli dengan mata menyelidik. Mulutnya masih sibuk mengunyah makanan yang disiapkan Eiren.


“Aku itu mau tidur sebentar. Eh, kamu malah datang duluan,” gerutu Eiren dengan decihan kecil dan kembali meletakan kepalanya di meja yang sama.


Feli menelan makanannya dan menatap Eiren dengan pandangan menyelidik. Keningnya berkerut bingung dan menatap Eiren dengan pandangan menyelidik. “Eiren, kamu belum masuk ke kampus?” tanya Feli dengan wajah serius.


Eiren menggeleng dan memejamkan mata. “Aku hari ini gak ada mata kuliah.”


“Astaga,” kata Feli dengan nada meninggi dan menepuk jidatnya pelan. Matanya menatap Eiren dengan gemas dan menahan tangan yang sudah siap untuk menghabisi Eiren.


“Kamu itu niat kuliah gak sih, Ei?” tanya Feli dengan suara kesal.


“Ya niatlah. Kalau gak, ngapain berangkat terus,” gerutu Eiren kesal. Dia merasa seperti orang yang selalu melakukan kesalahan.


Feli yang mendengar berdecih kesal dan memukul pelan kepala Eiren, membuat sahabatnya mengaduh dan segera bangkit.


“Kalau emang niat kuliah, cepat masuk terus lihat siapa pembimbing skripsimu. Jangan cuma leyeh-leyeh di sini,” ucap Feli dengan nada kesal.


“Emangnya sudah keluar?” tanya Eiren dengan mata membelalak. Pasalnya sejak tadi tidak ada yang memberitahu sama sekali.

__ADS_1


Feli mengangguk dan menghela napas kasar. Eiren yang melihat langsung berkemas dan segera berlari. Dia bersyukur karena lebih sering menggunakan celana dari pada androk. Setidaknya itu akan mempermudah gerakannya.


Eiren segere menuju ke papan pengumuman yang masih ramai.


“Permisi,” ucapnya mencoba menyela untuk masuk dan melihat namanya.


Ketika Eiren sudah sampai di depan papan besar, matanya mulai mencari namanya dari ribuan mahasiswa dan mahasiswi yang tertera. Matanya masih asik menikmati pemandangan membosankan ketika dia menemukan namanya. Eiren Azura. Eiren tersenyum dan menatap deretan yang sama. Dia ingin mencari siapa nama dosen yang akan menjadi pembimbingnya nanti. Namun, setelah ditemukan senyumnya memudar dan malah menunjukan wajah tidak percaya.


“Adelio Cetta?” ucap Eiren dengan perasaan yang langsung malas.


Eiren menghela napas kasar dan keluar dari kerumunan. Rasa malasnya mulai menjalar mengingat dia akhirnya berurusan lagi dengan pria yang coba dijauhi selama ini. “Sial,” gerutu Eiren dengan wajah masam. Namun, dia tidak bisa melawan ketentuan yang dibuat pihak kampus. Eiren akhirnya memilih untuk ke ruang jurusan dan mengambil surat tugas yang harus diberikan kepada Elio.


_____


Elio baru saja hendak membuka ruangannya ketika seorang gadis mencekal lengannya dengan manja. Elio yang melihat hanya menatap datar dan menyingkirkan jemari salah satu mahasiswi yang sangat dikenal. Elio menghadap ke arah Gladis yang sudah tersenyum dengan tatapan menggoda.


“Apa yang kamu lakukan, Gladis?” tanya Elio dengan suara dingin.


“Elio, aku ingin mengatakan sesuatu. Tetapi boleh aku masuk ke ruanganmu dulu?” ucap Gladis dengan suara memohon.


“Gladis, lepaskan,” ucap Elio dengan tangan yang menyentak kasar pelukan Gladis di tubuhnya.


Elio berbalik dan menatap mahasiswinya dengan pandangan yang tidak suka. “Apa yang kamu lakukan, Gladis? Aku adalah dosenmu,” tegas Elio dengan suara menajam.


Gladis yang baru saja diperingatkan malah tersenyum dan melangkah mendekat ke arah Elio yang saat ini berdiri. Jemarinya mengukir pelan bagian tubuh Elio dari balik kemeja yang digunakan. Gladis mengukir senyum ketika Elio hanya diam dan terasa menikmati sentuhannya.


“Aku merindukanmu,” bisik Gladis dengan suara manja.


“Apa yang kamu inginkan, Gladis?” tanya Elio dengan mata menajam. Nada bicaranya bahkan masih terdengar begitu dingin dan tidak bersahabat sama sekali. Namun, Gladis mengabaikan semua itu. Dia masih tetap mencoba menggoda Elio yang hanya diam dengan semua tingkah lakunya.


Gladis mengalungkan tangannya di lehar Elio dan tersenyum manis. “Aku mau kamu. Bagaimana kalau malam ini kita pergi bersama? Sudah lama rasanya aku tidak jalan denganmu, Elio,” ujar Gladis dengan jemari yang masih mengusap setiap inci wajah Elio dengan lembut.


“Untuk apa kita jalan, hah? Ada yang mau coba kamu rayu?” tanya Elio lagi dengan senyum setan.

__ADS_1


Gladis yang mendengar langsung tertawa kecil dan menatap Elio kembali. Dia mulai mencondongkan tubuh agar semakin dekat dengan Elio. Bahkan, saat ini kakinya sudah berjinjit untuk menyamakan tinggi badan dengan Elio.


“Aku hanya mau kamu meluluskan aku dalam mata kuliahmu. Aku akan melayanimu sampai kamu benar-benar puas,” ucap Gladis dan meniup bagian telinga Elio pelan.


Ceklek.


Elio baru akan menjawab, tetapi suara pintu membuatnya diam mematung. Matanya menatap ke raah pintu dengan Gladis yang masih dekat dengannya. Namun, seseorang yang masuk ke dalam ruangannya benar-benar membuat matanya membelalak kaget.


“Eiren,” gumam Elio dengan mata menatap Eiren.


_____


Eiren diam mematung dan mulai merutuki dirinya sendiri. Dia sudah mengetuk pintu ratusan kali dan tidak mendapatkan jawaban. Itu sebabnya dia memilih membuka dan akan meletakan surat tugas Elio sebagai pembimbing skripsinya. Dia bersyukur karena Elio tidak ada di dalam. Namun, setelah pintu terbuka, matanya kembali disuguhkan dengan pemandangan yang pernah dilihat sebelumnya. Matanya menatap Gladis yang masih merangkul Elio dan mendekap dengan begitu manja.


Ini pria yang pernah berkata akan bertanggung jawab dan menikahinya? Rasanya Eiren benar-benar merasa konyol ketika mengingat ucapan Elio yang tanpa pikir panjang terlebih dahulu.


“Eiren,” gumam Elio masih terdengar oleh Eiren.


Eiren kembali tersadar dan mulai masuk. Dilihatnya Elio sudah menyentak tangan Gladis, membuat gadis tersebut mundur beberapa langkah. Eiren mengabaikan semua itu dan mendekati Elio, mengulurkan kertas yang sejak tadi digenggam.


“Maaf menggaggu. Saya hanya ingin memberikan surat tugas dari fakultas kepada anda,” ucap Eiren dengan nada sopan.


Elio yang melihat langsung menerima dan menatap Eiren dengan pandangan lekat. Apa wanita di hadapannya sudah merasa baik-baik saja? Apa dia mengalami kesulitan dan yang pasti, apa Eiren mengandung? Beberapa pertanyaan terus terngiang dalam otaknya karena Eiren selalu saja menjauhinya.


“Eiren, aku....”


“Maaf, Pak. Saya hanya mau memberikan ini. Jadi saya undur diri. silahkan lanjutkan apa yang sempat tertunda,” potong Eiren dengan nada datar dan segera melangkah untuk keluar.


Sepeninggalan Eiren, Elio menatap Gladis dengan wajah kesal dan pandangan tajam. “Keluar,” tegas Elio sembari mengacungkan tangan menunjukan arah pintu keluar.


“Elio, aku....”


“Keluar!” bentak Elio membuat Gladis yang hendak mendekat langsung mengurungkan niat. Gladis memilih untuk keluar dan menutup pintu rapat. Dia masih cukup bisa berpikir untuk tidak mengganggu Elio ketika sedang dalam kondisi marah.

__ADS_1


“Sial!” geram Elio dengan rahang mengeras.


_____


__ADS_2