
“Kamu baik-baik, ya?” ucap Alex yang sudah mengantarkan Eiren ke kosan. Matanya menatap gadis yang saat ini berdiri di hadapannya dan mengumbar senyum paling manis. Hatinya merasa ragu untuk meninggalkan Eiren. Entah mengaapa, dia merasa setelah ini akan sulit menemui Eiren seperti biasanya.
“Kamu kenapa?” tanya Eiren yang merasa risih karena pandangan Alex yang terlalu lekat, bahkan pemuda tersebut seperti tidak berkedip.
Alex menggeleng dan tersenyum manis. “Aku gak kenapa-kenapa, Eiren. Aku hanya ingin melihatmu lebih lama.”
Eiren menaikan kedua alis menatap Alex yang menjadi berbeda. “Kamu ini kenapa, hah?” ujarnya sembari mengelus pelan pipi Alex.
Alex merasa dia akan merindukan semua tentang Eiren. Tangannya mendekap tangan Eiren yang masih di pipinya. Meresapi kehangatan yang diberikan kekasihnya. Dengan perasaan yang menggebu, Alex menarik tubuh Eiren hingga mendekat ke arahnya dan memeluk erat.
“Alex, kamu baik-baik saja?” tanya Eiren merasa heran dengan tingkah kekasihnya.
Alex mengangguk. “Aku hanya takut kalau nantinya sulit untuk menemuimu. Aku yakin akan merindukanmu. Jadi, biarkan aku seperti ini dulu,” ucapnya sembari menghirup bau harum dari tubuh Eiren, menyimpannya dalam-dalam.
Eiren yang diperlakukan demikian hanya pasrah dan mengelus pelan punggung Alex. Dia sendiri yakin kan merindukan Alex nantinya. Meski pemuda di hadapannya mengatakan akan kembali, hatinya kembali meragukan ucapan tersebut. Dia tidak yakin jika Alex akan kembali lagi padanya.
“Eiren, kamu akan tetap menungguku, kan?” tanya Alex disela pelukannya.
Eiren hanya diam. Dia bingung harus mengatakan apa. Apa dia akan menunggu? Entalah. Jika hatinya sendiri merasa goyah, untuk apa dia berjanji?
Alex melepaskan pelukannya dan menatap Eiren lekat. Perlahan, Alex mendekatkan kepalanya dan mulai menempelkan pelan ke bibir Eiren. Mengecup ringan bibir tipis yang selalu dirindukan olehnya. Sampai ciumannya mulai berubah menjadi lumatan yang membuat Eiren merasa mabuk.
Eiren mengalungkan tangannya dan menikmati setiap sentuhan Alex di dalam mulutnya. Setelah lama saling menyecap, Alex melepaskan ciumannya dan menempelkan keningnya dengan Eiren. Napas mereka beradu menghirup oksigen malam itu.
Alex tersenyum tipis dan mengelap sudut bibir Eiren. “Aku sangat mencintaimu, Eiren. Sangat. Jadi kau mohon, jangan tinggalkan aku.”
Aku tidak pernah meninggalkanmu, Alex. Kamu yang meninggalkanku, jeritnya dalam hati.
“Tunggu aku,” ucap Alex dan langsung menyerang kembali bibir Eiren dengan ganas. Eiren sendiri hanya diam dan pasrah menerima semua serangan Alex yang membuatnya merasa tidak sadar diri.
__ADS_1
Aku harap kamu benar kembali, pinta Eiren dalam hati.
_____
Dora sudah membongkar begitu banyak pakaian yang baru saja dibelinya. Dia memang sengaja tidak memberitahukan kepada Alex apa saja yang dibeli. Bibirnya bahkan sudah tersenyum dengan begitu lepas mengingat apa rencananya kali ini.
“Alex, jika kamu tida bisa bersamaku, aku akan membuatmu bersamaku. Apa pun caranya,” ucapnya dengan senyum sumringah.
Dora masih asyik memilih pakaian ketika pintu kamar terbuka. Tampak seorang wanita yang sudah menatap lembut tengah tersenyum dan mulai melangkah mendekatinya.
“Hai, Tante. Mau ke mana udah rapi gitu?” tanya Dora dengan senyum ramah.
“Kamu masih akan di sini, kan, Dora? Tante sama om mau keluar sebentar ini. Kamu bisa jagain rumah sampai Alex datang, kan?” tanya Chyntia dengan wajah memohon.
Dora yang mendengar langsung tersenyum. “Iya, tante. Kalau harus menginap juga gak masalah,” ujarnya dengan senyum senang. Dora menang sudah di rumah Alex sejak siang karena dia memang sengaja mengajak mama Alex untuk berbelanja bersama.
“Syukurlah. Tante pikir kamu akan menolak,” ujar Chyntia dengan wajah lega.
Setelah itu, Chyntia segera melangkah keluar dan pergi bersama dengan suaminya. Dora langsung berjingkat senang dan segera masuk ke dalam kamar Alex. Dia bahkan sudah mengganti pakaiannya dengan pakaian malam dan menatap tubuh indahnya dalam cermin.
“Cantik,” ucapnya memuji diri sendiri.
Dora memutuskan untuk tidur di ranjang Alex dan menutupi tubuhnya. Dia menunggu pria tersebut dengan perasaan berdebar. Namun, ketika pintu kamar tersebut terbuka dan menampilkan Alex yang masih dalam balutan pakaian kerja, dia langsung tersenyum senang.
“Dora, ngapain kamu di sini?” tanya Alex dengan pandangan tajam.
“Menurutmu?” Dora mlah bertanya balik. “Aku sedang menunggumu untuk malam ini. Aku ingin tidur bersama.”
“Konyol!” benta Alex kesal. “Kita bahkan belum menikah dan kamu menyerahkan tubuhmu dengan begitu gampang? Dasar gila.”
__ADS_1
Alex memilih untuk keluar kamar. Dia engan berdebat dengan Dora yang tidak akan ada habisnya. Dora yang melihat langsung mengejar Alex yang memilih untuk tinggal di kamar tamu. Dora baru saja akan ikut masuk ke dalam, tetapi gerakannya kalah cepat dengan gerakan Alex yang sudah menutup pintu dan menguncinya.
“Alex, buka!” teriak Dora dengan emosi menggebu.
“Gak akan. Dasar cewek gila,” jawab Alex ketus. Langkahnya membawanya menjauh dari pintu dan segera merebahkan diri ke atas ranjang dan mulai memejamkan mata. Menikmati mimpi indah.
_____
“Kamu mau yang mana, Ei?” tanya Feli yang menyodorkan beberapa pakaian yang diletakan di tubunya.
Eiren hanya diam karena dia sendiri tidak berniat untuk membeli pakaian baru. Namun, karena Feli memaksa, akhirnya dia memilih untuk menurut dari pada terus mendengar sahabatnya merengek memintanya untuk menemani. Eiren menatap sekeliling dan tetap tidak menemukan pakaian yang diinginkan.
“Mungkin aku akan memakai pakain tahun lalu saja,” ucapnya lirih dan memilih untuk duduk di kursi tunggu.
Matanya menatap Feli yang masih asyik mencoba berbagai pakaian. Sampai akhirnya, Feli datang kepadanya dengan gaun berwarna tosca di depannya. Dress yang hanya selutut dan tanpa kerah, membuat leher jenjangnya terlihat jelas.
“Aku cantik, gak?” tanya feli dengan pandangan antusias.
Eiren diam sejenak dan mencoba mengoreksi. Namun, setelahnya dia mengangguk dan menyunggingkan senyum. “Banget. Kamu cocok pakai itu.”
Feli yang mendengar merasa senang dan beberapa kali memutar tubuh. Mengamati penampilannya yang memang lebih terkesan anggun.
“Kamu yakin gak mau beli, Ei?” tanya Feli sembari menatap ke arah Eiren yang hanya diam.
Eiren menggeleng. “Tidak. Aku tidak menemukan yang aku inginkan,” jawabnya malas.
“Apa kamu mau mencari ke desainer lain? Aku akan dengan senang hati menemanimu,” ujar Feli dengan wajah sumringah.
Eiren berdecih kesal dan menatap kearah Feli masih berdiri. “Waktu itu ada yang bilang, katanya gak mau beli baju. Sekaramg malah gak mau berhenti.”
__ADS_1
Feli yang mendengar hanya tertawa kecil, memamerkan deretan gigi rata. “Aku cuma gak mau aja sih bareng sama dia. Repot dan biang gosip,” celetuk Feli membuat keduanya tertawa cekikikan.
_____