
“Jangan membuat seseorang yang sudah tidak ada menjadi ada, Mr. Elio, karena sampai kapan pun, yang sudah tidak bernyawa akan tetap tidak bernyawa.”
Elio yang mendegar ucapan tersebut langsung berbalik dan menatap ke asal suara. Matanya menatap pria dengan senyum mengejek dan tatapan tajam. Wajah datarnya kini bertambah dingin dan tidak ada keramahan sama sekali.
“Jangan membuat Eiren merasa terbebani dengan pikiran anda kali ini. Biarkan dia pergi dan lepaskan dia sepenuhnya, karena sampai kapan pun, Eiren tidak akan kembali.”
Elio mengeraskan rahang ketika mendengar ucapan pria tersebut. Matanya bahkan sudah menunjukan kemarahan yang tergambar jelas di matanya. Dengan emosi yang siap meledak, Elio melangkah menuju ke arah pria tersebut. Namun, ketika tangannya hendak meraih kerah pria tersebut, tangannya hanya mengapung di udara karena pria tersebut melangkah menjauhi Elio.
“Jangan mencoba memegang saya, Mr,” ucap pria tersebut dengan wajah datar.
“Jaga bicaramu, anak muda. Aku bahkan tidak mengenalmu dan asal kamu tahu, sampai kapan pun Eiren tidak akan pernah meninggalkanku,” tegas Elio dengan penuh keyakinan.
Pria tersebut tersenyum kecil dan menatap ke arah Elio tegas. “Aku Venda, sahabat Eiren. Asal anda tahu, Mr. Aku juga salah satu mahasiswa di kampus anda mengajar. Aku pria yang sama dengan pemuda yang anda ikuti ketika bersama dengan Eiren.”
“Oh, jadi itu kamu?” sahut Elio dengan wajah kesal. Dia masih ingat Eiren berdandan hanya untuk pria yang saat ini berdiri di hadapannya.
“Ya, aku pria itu,” tekan Venda dengan wajah datar, “aku pria yang bahkan hampir menerima pukulan dari orang suruhan anda.”
“Aku berharap saat iu bukan hanyabhampir, tetapi kamu memang mendapat pukulan itu.”
“Tetapi maaf, Mr. Aku memberikan kabar lain untuk itu.”
Elio menghela napas perlahan dan membuang wajah dari Venda. Dia merasa sudah tidak memiliki urusan apa pun dengan pria tersebut. Bahkan, dia memilih untuk mengabaikan dan melangkah menjauh.
Venda menghela napas perlahan dan menatap Elio tengah melangkah menjauh. Matanya memejam, mengingat ucapan Eiren dengannya beberapa waktu lalu. Ucapan sebelum Elio datang dan membawa Eiren pergi dari hadapannya.
Flashback
Eiren tengah duduk di hadapan Venda dengan wajah serius. Matanya menatap pria di hadapannya dengan segudang beban yang ditunjukan. Entah mengapa, rasanya dia percaya dengan Venda yang baru saja dikenalnya dan hendak mengatakan apa saja yang menjadi pikirannya kali ini.
“Eiren, kamu tampak begitu tegang. Ada masalah?” tanaya Venda sembari menatap ke arah gadis tersebut. Matanya menyipit dengan kening berkerut, mengamati wajah Eiren yang tidak terlihat santai di depannya.
Eiren menghela napas perlahan dan menatap Venda semakin lekat. Dia mengangguk dan siap mengatakan apa pun kepada pria tersebut. “Venda, aku merasa sudah tidak tahan berada di dekat Elio,” ucap Eiren dengan wajah serius.
“Maksudmu?” tanya Venda dengan tatapan menyelidik.
“Aku tahu, kekasih Elio sudah kembali dan aku tidak berhak untuk tetap bersamanya. Tetapi, aku merasa berat meninggalkannya. Selain itu, dia seperti tidak memberikan ruang untukku pergi,” jelas Eiren dengan wajah gusar. Pasalnya, dia takut jika ada yang mendengar ucapannya.
Venda mengulas senyum tipis dan menggenggam jemari Eiren. “Apa yang bisa aku bantu, Eiren? Aku tidak tahu apa masalahmu, tetapi melihat dari seberapa takutnya kamu dengan Elio, aku yakin ada hal yang membuatmu tetap berada di sampingnya.”
Eiren mengangguk setuju. “Aku dan dia pernah melakukan hal yang tidak kami harapkan sama sekali. Aku menghabiskan malam pertamaku dengannya dan itu tanpa kesadaran. Dia memiliki foto dan vidio malam tersebut dan berniat memaksaku menikahinya. Aku awalnya pasrah saja dan berpikir, setelah pernikahan aku bisa pergi darinya. Namun,...” Eiren menghela napas perlahan dan menatap lemah. “Aku malah mencintainya. Aku menaruh hatiku padanya,” lanjut Eiren dengan wajah sendu.
__ADS_1
Venda yang mendengar menghela napas perlahan dan menatap Eiren dengan senyum tulus. Sebisa mungkin dia menekan hatinya yang terasa terluka. Ya, dia mencintai Eiren sejak pertama kali melihat gadis tersebut. Cintanya jatuh pada pandangan pertama dan hancur sebelum dikatakan. Namun, dia tidak menunjukan hal tersebut sama sekali. Venda memilih untuk menyimpan rapat hatinya.
“Jika kamu mencintainya, kenapa kamu tidak mengatakannya, Eiren?” tanya Venda memastikan.
"Aku tidak bisa, Venda,” sahut Eiren yang kembali mendongak dan menatap Venda, “Elio sudah menemukan hatinya. Dia sudah bersama dengan mantan kekasihnya dan aku tidak bisa membuat mereka berpisah. Aku tidak setega itu untuk memisahkannya. Jadi, aku harus pergi dan aku membutuhkan bantuanmu.”
Namun, belum juga Eiren mengatakan apa yang dapat dibantu Venda, sebuah tangan menghentikannya. Elio datang dengan wajah mengeras dan menarik Eiren pergi. Awalnya Venda hendak mengikuti Elio, tetapi dihentikan karena tatapan memperingati dari Eiren.
Flashback selesai
Venda menghela napas perlahan ketika dirasa air matanya mulai mengalir lembut. Matanya menatap bekas kejadian yang membuat Eiren terasa ditelah oleh bumi. “Bukan begini cara menghilang, Eiren,” gumam Venda dengan senyum tipis.
_____
Firda menatap hamparan bunga mawar di hadapannya. Senyumnya terukir sempurna ketika sebuah kupu-kupu hinggap di atas bunga tersebut. Hatinya menghangat ketika matahari siang kembali menyinarinya.
Sebuah suara membuat fokus Firda beralih. Matanya menatap ke arah suara tersebut berasal dan menarik kedua ujung bibirnya hingga membentuk senyum. Perlahan, dia mulai bangkit ketika sebuah mobil berwarna silver berhenti dan memunculkan sosok Elio.
“Elio,” panggil Firda ketika Elio sudah turun dari mobil dan tengah melangkah masuk.
Elio menghentikan langkah dan menatap ke arah Firda dengan tatapan datar. “Ada apa, Firda?” tanya Elio dengan suara dingin.
“Aku tidak lapar.”
“Bisa temani aku makan? Hanya sebentar. Aku janji.”
Elio menghela napas perlahan dan menatap Firda lekat. “Maaf, Firda, aku tidak bisa. Mungkin kamu bisa mengajak Rega untuk makan. Aku ingin istirahat,” ucap Elio segera melangkah menjauh.
Firda yang menatap Elio menghela napas perlahan. “Sejak Eiren pergi, kamu bahkan tidak mengurus diri dengan benar, Elio,” celetuk Firda membuat Elio menghentikan langkah dan menatapnya. “Apa sebegitu besar arti Eiren untukmu? Bahkan, kamu tidak memperhatikan dirimu sendiri dengan benar. Kamu tidak makan dengan benar. Kamu bahkan seperti tidak pernah tidur sama sekali. Siangmu, malammu dan bahkan hidupmu seperti hanya tentang Eiren,” lanjut Firda dengan mata berkaca.
“Apa kamu juga melakukan hal yang sama ketika aku dalam masa koma?” tanya Firda dengan suara lemah. Dia juga ingin mendengar hal yang sama terjadi kepada Elio. Kekacauan hidup dan merasa paling berarti dalam hidup seorang Elio.
Elio menghela napas perlahan dan menatap Firda lekat. “Kita akan membahas ini lain kali. Sekarang aku lelah dan tidak mau membahas apa pun,” jawab Elio tidak mau memperkeruh suasana.
“Kenapa? Apa karena kamu memang tidak pernah membuat hidupmu seperti itu?"
“Firda,” peringat Elio pelan.
Firda mengulum senyum tipis dengan luka yang tampak di wajahnya. “Aku tahu, aku tidak pernah berarti dalam hidupmu. Aku tidak bisa menjadi Eiren meski dia belum hadir dalam kehidupanmu. Aku pernah membuat kesalahan dengan tidak jujur kepadamu, Elio. Seharusnya aku jujur ketika papa kamu menjebakku. Tetapi, aku memilih diam dan berakhir dengan aku kehilanganmu.”
Firda menarik napas dalam dan menghembuskannya perlahan. Matanya menatap manik mata Elio dengan wajah serius dan menghela napas pelan. “Apa setelah Eiren tidak lagi ada, aku bisa menggantikan posisinya?” tanya Firda mengabaikan tatapan tajam dari Elio.
__ADS_1
“Firda!” bentak Elio dengan wajah tidak suka. Dia tidak suka mendengar kata bahwa Eiren sudah tidak ada. Firda yang mendengar bentakan Elio tersentak kaget dan menatap Elio dengan rasa tidak percaya.
“Maaf, aku hanya tidak suka mendengar ucapan bahwa Eiren sudah tidak ada,” ucap Elio dengan emosi mereda. Dengan cepat, dia segera meninggalkan Firda dan masuk ke dalam kamar. Dia tidak mau memperkeruh suasana hatinya sendiri dengan mendengar ucapan Firda. Elio tidak mau membuat Firda merasa terluka karenannya.
Firda yang mendengar dentuman keras yang berasal dari kamar Elio hanya mampu memejamkan mata. Tubuhnya lemah seketika dan terduduk di lantai. Ini adalah pertama kalinya dia mendapat bentakan dari Elio.
“Meski Eiren tidak ada, aku tetap tidak bisa menggantikannya. Kamu memang sudah tidak membutuhkanku lagi, Elio,” gumam Firda dengan air mata mengalir.
Rega yang ada di belakang Firda hanya bisa bersembunyi dari balik tembok dan menutup mata pelan. “Semua karenamu, Eiren. Semua memang karena kamu. Kenapa juga kamu harus hadir dalam kehdiupan Elio,” ucap Rega dengan tangan mengepal.
_____
“Kamu tinggal di sini sendiri?” tanya Anita ketika melihat Rifa yang hanya sibuk sendiri. Matanya tidak menatap anggota keluarga lain selain Rifa.
Rifa yang tengah sibuk mempersiapkan obat Anita menghentikan aktivitasnya dan menatap dengan wajah ceria. “Iya. Aku hanya sendiri. Orang tuaku sudah tidak ada,” jawab Rifa dan memperbaiki duduknya sehingga menatap Anita lekat. “Kalau kamu, bagaimana? Kamu ingat dengan keluargamu?”
Anita diam seketika dan menunjukan wajah berpikir. Namun, setelahnya dia tersenyum dan menatap ke arah Rifa dengan kepala menggeleng. “Aku tidak memiliki orang tua.”
“Ah, kita sama. Kalau begitu kamu bisa tinggal di rumah ini selama yang kamu mau. Aku suka kamu di sini. Aku jadi memiliki teman,” ujar Rifa dengan penuh semangat.
“Kamu tidak merasa terganggu denganku?” tanya Anita dengan wajah meneliti.
Rifa menggeleng dan menunjukan senyum tulus. “Aku malah suka kamu di sini. Setidaknya aku jadi tidak sendiri lagi. Di rumah sendirian itu tidak enak. Sepi.”
Anita mengangguk dan mengulum senyum. “Kalau begitu aku akan di sini selama yang aku mau. Terima kasih karena telah menolongku.”
“Tidak masalah. Aku melakukannya dengan sangat tulus. Jadi, jangan sungkan dan anggap saja seperti rumahmu sendiri.”
Anita membenarkan duduknya dengan melipat kedua kaki. Tangannya bertumpu pada bantal yang diletakan di depannya dan menatap Rifa lekat. “Jadi, apa kegiatanmu sehari-hari?"
“Aku memiliki satu toko bunga. Yah, meski tidak seramai toko lain. Tetapi, aku cukup bahagia. Setidaknya ada satu atau dua orang yang datang untuk membelinya,” jelas Rifa dengan penuh antusias.
“Boleh aku ikut ke toko? Aku bosan di rumah,” pinta Anita dengan wajah memelas.
“Baiklah. Aku akan mengajakmu ke toko besok.”
Anita yang mendengar bersorak senang dan memeluk Rifa erat. Dia merasa lega menemukan orang baik dalam hidupnya. Perlahan, dia melepaskan pelukannya dan menatap Rifa lekat. Setelah itu, keduanya kembali asyik membicarakan mengenai kehidupan mereka, terutama Rifa yang dengan penuh semangat berbincang mengenai masa kecilnya.
Anita menghela napas perlahan dan mengabaikan hatinya yang terasa kosong. “Kamu bisa membuang semuanya,” batin Anita denga penuh keyakinan.
_____
__ADS_1