
Jam masih menunjukan pukul enam lewat tiga puluh menit dan Elio sudah bersiap ke kantor. Pakaiannya sudah rapi dan saat ini tengah sibuk di dapur. Dia tahu, semalam Eiren masih marah dengannya. Namun, dia yakin pagi ini Eiren sudah tidak akan marah dengannya.
“Aku yakin, dia tidak akan tahan dengan bau masakanku,” gumam Elio dengan rasa percaya diri. Dia cukup tahu dengan sifat Eiren yang begitu mudah tergoda dengan makanan yang dibuatnya.
Dengan kepercayaan diri meningkat, Elio mulai memasukan bumbu-bumbu masakannya dan mengolah cepat. Hatinya sudah tidak sabar menunggu Eiren keluar dan menyambutnya dengan riang.
Sedangkan di kamar, Eiren sedang sibuk merias diri dan berpakaian berbeda dari biasanya. Hari ini dia mengenakan androk pendek berpadu dengan kemeja yang sengaja dibuka kedua kancing atasnya. Selain itu, bagian bawahnya diikat, sehingga membuat badannya terbentuk sempurna.
“Sempurna,” ucap Eiren dengan bangga.
Eiren meraih sepatu hak tinggi dan mengenakannya , membuat kaki jenjangnya terlihat begitu menggoda. Hal yang tidak pernah dilakukan olehnya selama ini dan entah setan dari mana, pagi ini dia ingin melakukannya.
Eiren mulai mengoleskan lipstik tipis di bibirnya dan menatap takjub. “Cantik juga,” ujarnya dengan nada bangga.
Eiren baru meletakan lipstik dan siap keluar. Dia mencium bau makanan dari luar kamar, tetapi dia mash ingat dengan kekesalannya dengan Elio. Baru beberapa langkah Eiren meninggalkan meja rias, suara ponsel membuatnya berhenti. Dengan cepat dia menghampiri ponselnya dan menatap nama yang tertera. Venda. Senyumnya terukir dan langsung mengangkatnya.
“Halo, Venda,” sapa Eiren dengan nada riang.
“Hai, Eiren. Aku sudah ada di parkiran bawah. Kamu sudah siap?" tanya Venda dari seberang panggilan.
“Sudah, tunggu sebentar. Aku akan keluar,” jawab Eiren penuh semangat.
“Baiklah. Aku akan menunggumu. See you.”
Eiren mengabaikan begitu saja dan mematikan panggilan. Dia segera mengemasi barang bawaannya dan melangkah keluar. Dia mengabaikan tatapan Elio yang sudah mengamati ketika dia baru saja membuka pintu kamar.
“Eiren,” panggil Elio membuat Eiren menatap ke arahnya.
“Apa, Elio? Ada yang mau kamu katakan?” tanya Eiren dengan wajah tidak peduli.
__ADS_1
“Kamu mau ke mana pakai baju seperti itu?” Elio malah balik bertanya. Dia bahkan sudah mematikan kompor dan melangkah ke arah Eiren saat ini berdiri. Matanya mengawasi Eiren dengan tatapan tajam.
Eiren berdecak kesal dan menatap Elio tajam. “Aku mau kuliah, Elio. Mau ke mana lagi? Klub malam? Maaf jam segini belum buka dan kamu tahu itu,” celetuk Eiren dengan wajah mengejek.
“Eiren!” bentak Elio dengan mata menatap lekat, “aku hanya bertanya kamu mau ke mana dan itu menjadi masalah?”
“Sudahlah,” putus Elio dengan wajah yang sudah berusaha menahan emosi, “sekarang kita makan saja. Ini masih pagi dan aku tidak mau kita bertengkar pagi-pagi seperti ini,” lanjut Elio berusaha menarik tangan Eiren.
Eiren mundur beberapa langkah dan menatap Elio tidak suka. “Jangan pegang aku, Elio. Aku tidak sudi dipegang oleh orang sepertimu,” ucap Eiren menusuk hati Elio.
“Aku akan sarapan di kampus saja.” Eiren mengakhiri ucapannya dan memilih untuk melangkah keluar. Dia tidak mau berurusan dengan orang semacam Elio yang menurutnya begitu egois.
Elio hanya mampu diam ketika Eiren memilih keluar dari aparteman. “Sial!” geram Elio dengan mata menatap nyalang. Dia segera meraih ponselnya dan menekan nomor orang kepercayaanya.
“Ikuti ke mana Eiren pergi dan beri laporan mengenai orang yang bersamanya. Beri dia sedikit gertakan agar menjadi jera,” perintah Elio dengan suara tegas. Setelahnya dia mematikan panggilan.
“Aku akan memberimu peringatan kecil, Eiren. Aku tidak akan membiarkan apa yang menjadi milikku direbut oleh orang lain,” gumam Elio penuh ancaman.
_____
Venda yang mendengar menatap ke arah Eiren dengan kening berkerut. Namun, dia tidak mencoba menanyakan apa yang tengah dirasakan wanita tersebut. Dia hanya diam dan mulai melajukan mobil dengan pelan.
Venda melirik ke arah Eiren yang masih saja tampak tidak senang dan mengulum senyum. “Apa sekarang kamu sudah memiliki wajah lain, Eiren?” tanya Venda dengan tawa ditahan.
Eiren yang tidak mengerti menatap ke arah Venda dengan kening berkerut. “Maksudnya?”
“Ya itu,” jawab Venda sembari menunjuk raut wajah Eiren yang semakin bingung, “biasanya kamu datang dengan air mata, terus ketawa dan sekarang aku baru lihat kamu kesal. Aku rasa lambat laun aku akan tahu semua mengenaimu, Eiren,” lanjut Venda membuat Eiren sedikit terhibur.
“Aku menunggu saat itu,” jawab Eiren santai. Dia tidak meraa curiga sama sekali dengan Venda. Baginya, Venda hanyalah teman dan tidak lebih.
__ADS_1
Venda mengemudikan mobilnya dan menatap ke belakang. Matanya menyipit melihat mobil yang sejak tadi terasa mengikutinya. Perlahan, dia mulai menengokan kepala, memastikan mobil di belakangnya.
“Ada apa?” tanya Eiren dengan kening berkerut. Dia juga ikut menatap ke belakang dan tidak mengerti dengan apa yang dilihat pria tersebut.
Venda membenarkan duduknya dan tersenyum tipis. “Tidak ada apa-apa. Aku hanya ingin melihat kondisi di belakang,” jawab Venda berbohong. Dia tidak mau membuat Eiren merasa was-was karena hal tersebut.
“Kan bisa lewat kaca spion, Venda,” gerutu Eiren dengan wajah kesal.
“Kali saja di belakang ada cewek cantik. Kan mubazir kalau lihatnya lewat kaca spion,” celetuk Venda membuat Eiren diam. Namun, setelahnya Eiren tertawa keras dan menatap ke arah Venda penuh bahagia.
Venda hanya ikut tertawa kecil dan menatap Eiren yang dengan mudahnya menjadi gadis periang. Aku harap kamu bahagia selalu, Eiren, batin Venda dengan hati tulus.
_____
Firda mulai mampu melangkah dengan perlahan menyusuri rumah Elio. Rega sudah membiarkannya melangkah seorang diri dan memberi izin untuk memasuki kamar Elio. Firda menatap kamar yang terasa masih sama dengan dulu. Tidak ada perubahan yang dilakukan Elio dengan kamar tersebut.
“Aku rasa dia masih ingat dengan jam kecil ini,” gumam Firda ketika melihat jam bergambar kartun kesayangan Elio masih ada di meja kecil sebelah ranjang.
Firda memilih untuk duduk di pinggir ranjang dan menikmati kamar yang dulu selalu ditempatinya bersama dengan Elio. “Aku merindukan kamar ini. Kamar di mana kamu selalu memanjakanku,” batin Firda dengan wajah rapuh.
Firda merasa bahwa Elio sudah tidak lagi seperti dahulu. Sejak dia bangun, hanya bebarapa kali saja pria tersebut datang untuk menjenguk. Namun, setelahnya dia menghilang tidak ada kabar sama sekali.
Firda baru akan bangkit ketika matanya menatap bingkai yang membelakanginya, sehingga gambar yang ada tidak dapat dilihatnya. Firda tahu, itu adalah gambar dirinya dan Elio yang selalu dipasang dan diletakan di dekat Elio. Dengan perlahan, Firda mencoba membalik bingkai tersebut dan diam seketika. Senyumnya menghilang begitu saja.
"Siapa dia?” ucap Firda ketika menyadari bahwa bukan foto dirinya yang ada di sana. Melainkan foto Elio bersama dengan wanita lain.
Firda meletakan pelan dan menatap tajam. Kekuatannya menghilang seketika. Rasa bahagianya pergi dengan sendirinya. Sudah tidak ada lagi yang dapat dikatakannya sekarang.
“Elio tampak begitu bahagia,” ucap Firda dengan air mata yang perlahan turun. “Siapa gadis ini?”
__ADS_1
“Dia adalah calon istri Elio.”
_____