Wedding With My Lecturer

Wedding With My Lecturer
Bagian 86_Rencana Pernikahan Feli


__ADS_3

Feli menatap ke arah Saka yang tengah fokus dengan setirnya. Senyumnya tidak pernah luntur sama sekali sejak papanya memberi restu, membuat Feli yang bersamanya ikut tersenyum karena ulah kekasihnya.


Apa ini adalah hal yang benar?, batin Feli takut jika nantinya Saka akan menyesal karena sudah menikah dengannya. Namun, sejenak kemudian dia mulai mengabaikan pikirannya dan yakin dengan apa yang dijalaninya saat ini. Saka sudah memperjuankannya sejauh ini, bukankah itu menandakan keseriusan dari pria tersebut?


Saka menatap ke srah Feli yang sejak tadi diam dengan kening berkerut. Pasalnya, itu bukan hal biasa yang terjadi dengan gadis di dekatnya. Perlahan, Saka menyentuh pelan punggung tangan Feli, membuat kekasihnya yang tengah asyik melamun tersentak seketika dan menatapnya bingung.


“Kamu kenapa? Diam terus dari tadi,” kata Saka sembari mengelus pelan punggung tangan Feli.


Feli yang mendengar tersenyum manis dan menggeleng. “Tidak apa-apa, Saka. Aku hanya memikirkan mengenai mama yang sepertinya kurang suka dengan rencanamu menikahiku,” kata Feli dengan tatapan sedikit cemas.


Saka menghela napas perlahan dan mulai menepikan mobilnya, membat Feli mentapnya dengan pandangan bingung. Setelah dirasa pas, Saka menatap ke arah Feli dengan pandangan yang selalu mampu menghipnotis Feli dalam tatapannya.


“Sayang, kenapa kamu berpikir begitu? Aku merasa mama kamu juga setuju dengan rencana kita kali ini. Dua bahkan tidak mengtakan apa pun ketika papa memberikan ultimatum bahwa rencana pernikahan kita disetujui,” ujar Saka tidak mau ambil pusing.


Feli berdecih kesal sembari menatap Saka lekat. “Saka, aku tidak tahu apa itu benar atau hanya pikiranku saja. Tetapi, mama terlihat murung saat aku menerimamu. Apa ini salah?” tanya Feli dengan wajah cemas.


Saka lagi-lagi tersenyum. Kali ini tanganya berpindah mengelus pipi Feli lembut, memberikan kenyamanan untuk gadis yang masih saja terlihat cemas. Perlahan, tubuhnya semakin mendekat dan memberikan kecupan ringan utuk Feli tepat dibagian kening.


Saka menarik tengkuk Felivpelan dan mulai mendekap lembut. “Jangan berpikir yang aneh-aneh, baby. Itu hanya pikiran kamu saja. Aku yakin mama juga senang dengan hal ini. Dia hanya membutuhkan waktu untuk menerima kita,” ujar Saka menenangkan Feli.


Feli yang mendengar menghela napas dan membalas pelukan Saka erat. “Aku harap memang begitu, Saka.”


Saka hanya diamketika Feli memeluknya erat. Sampai dirasa tenang, Saka melepaskan pelukanya dan menatap Feli dengan senyum tipis. “Sudah baikan?” tanya Saka dan mendapatkan anggukan dari arah wanitanya.


"Kalai gitu kita ke suatu tempat yang bisa membuatmu lebih baik. Kamu bisa mengeluarkan semua yang ada di perasaanmu saat samoai nanti. Aku janji, aku tidak akan menggangu,” kata Saka sembari menjalankan mobilnya kembali. Mengabaikan tatapan Feli yang mengandung banyak tanya.


_____


“Mas, aku mau makan sate. Tetapi, aku mau kamu yang buatkan,” rengek Eiren dengan wajah penuh permohonan.

__ADS_1


Elio yang mendengar menghela napas perlahan sembari menatap Eiren lekat. Sudah puluhan kali istrinya merengek meminta hal yang menurutnya tidak masuk akal. Dia membuat sate? Rasanya dia juga tidak pernah membayangkan sama sekali.


“Mas,” rengek Eiren dengan bibir yang sudah dimanyunkan.


Elio menatap istrinya dengan padangan lembut, mengalihkan matanya dari tumpukan tugas yang masih begitu banyak. “Sayang, Mas belikan saja, ya?”pinta Elio dengan tatapan tegas.


“Gak mau,” tolak Eiren dengan tatapan tegas. “Maunya dibuatin sama Mas.”


Elio lagi-lagi hanya mampu menghela napas keras dan siap membujuk istrinya, tetapi terhenti karena asisten rumah tangganya datang dan menyela dengan wajah menunduk.


“Ada tuan Saka dan nona Feli di luar, Tuan,” kata pelayan Elio, membuat Eiren yang tengah duduk di dekatnya bangkit.


Tanpa mengatakan apa pun, Eiren segera melangkah, diikuti Elio dari belakang. Matanya menatap ke arah Eiren yang tampak semangat. Sampai akhirnya, terdengar suara teriakan Eiren yang tengah berpelukan dengan Feli erat, membuat Elio menghela napas perlahan.


“Hai, ada apa?” tanya Elio ketika melihat Saka yang datang dengan wajah sumringah.


Saka menatap ke arah Elio dan mengumbar senyum. “Suntuk banget nih. Ada apa?” tanya Saka sembari tertawa kecil.


“Mas, aku sama Feli ke belakang, ya. Aku mau bercerita banyak hal sama dia,” ucap Eiren membuat Elio mengangguk pelan. Dalam hati dia bersyukur atas kedatangan Feli dan Saka kali ini. Setidaknya itu akan membuat Eiren melupakan keinginan konyolnya.


“Jangan capek-capek ya sayang,” peringat Elio ketika melihat Eiren sudah meninggalkannya.


Eiren hanya mengacungkan jempol dan meninggalkan Elio yang sudah duduk di depan bersama dengan Saka. Elio menatap Saka dengan tatapan menyelidik. Pasalnya, Saka terlihat tertawa terus sejak datang ke rumahnya.


“Aku rasa ada yang aneh denganmu, Saka. Apa kamu mulai gila sekarang?” sindir Elio membuat Saka menatap dengan wajah malas.


“Jangan menghinaku, Elio. Aku bahagia karena pada akhirnya aku akan menikah,” ucap Saka dengan wajah bangga.


“Apa? Kamu akan menikah?” tanya Elio dengan wajah tidak percaya. Matanya menatap Saka dengan wajah mengamati.

__ADS_1


Saka mengangguk mantap dan tersenyum. “Secepatnya aku akan menikah dengan Feli.”


“Apa?” teriak Elio dengan mata membelalak. “Bukankah dia adik tirimu?”


“Iya. Tetapi aku mencintainya. Sangat,” aku Saka dengan wajah teduh.


Elio yang mendengar menghela napas perlahan dan menatap ke arah Saka lekat. “Aku harap itu adalah pilihan yang benar,” ucap Elio merasa pasrah. Memberi nasihat kepada Saka pun tidak akan membuat keputusan sahabatnya berpindah. Saka hanya mengangguk dan mulai menceritakan mengenai kelakuannya yang mengancam kedua orang tuanya, membuat Elio hanya mampu berdecak tidak percaya.


_____


“Apa? Dia mengatakan akan menghamilimu?” ucap Eiren dengan pandangan tidak percaya. Feli baru saja menceritakan mengenai ide konyol Saka yang tidak mengtakan apa pun kepadanya.


Feli hanya mengangguk pelan dan menatap Eiren dengan wajah sendu. Dia masih merasa tidak nyaman dengan keputusan Saka yang terlalu memaksakan kehendak. Namun, di lain sisi dia juga ingin merasakan bahagia bersama dengan orang yang dicintainya.


“Lalu kamu sendiri bahagia dengan keputusanmu?” tanya Eiren yang mulai merasa sejak tadi Feli hanya diam dengan mata mentap lurus ke depan.


Feli menarik napas panjang dan menundukan kepala perlahan. Matanya menatap rumput hijau yang terlihat indah di halaman belakang rumah Eiren. “Aku ingin bahagia, Eiren. Aku ingin mendapatkan apa yang aku inginkan, termasuk bersama dengan Saka. Tetapi, aku melihat ada hal lain yang mama tunjukan. Dia tidak suka aku bersama dengan Saka.”


Eiren yang mendengar tersenyum tipis dan menepuk pundak sahabatnya, membuat Feli menatap ke arahnya dengan tatapan lekat. “Jangan pikirkan apa pun, Feli. Kamu hanya perlu pikirkan apa yang membuatmu bahagia. Percayalah jika Saka akan mampu membahagiakanmu.”


Feli yang mendengar menatap ke arah Eiren dan mengumbar senyum tipis. “Aku rasa tidak percaya jika wanita di hadapanku ini pernah pergi lama hanya untuk menjauhi seorang Elio,” celetuk Feli dengan wajah sumringah.


Eiren yang mendengar terkikik geli. Dia masih ingat bahwa dirinya pernah berlaku bodoh dengan meninggalkan Elio, berharap bahwa dia akan bisa melupakannya. “Itu adalah hal terbodoh dalam hidupku, Feli. Tetapi, aku tidak menyesal telah melakukannya. Aku jadi tahu sebesar apa Elio mencintaiku,” ujar Eiren dengan senyum tipis.


Feli hanya mengangguk mengiyakan. Setelah dirasa sudah cukup, Feli mengajak Eiren kembali ke ruang tamu. Sepanjang perjalanan, dia hanya tertawa kecil dan bercanda dengan Eiren. Sampai langkahnya terhenti tepat di ruang tamu. Matanya menatap Saka yang tengah tertawa dengan gadis yang pernah dilihatnya.


“Saka,” panggil Feli dengan mata menatap lekat tangan yang digenggam Dinda dengan penuh manja. Ada rasa ingin mengusir wanita yang saat ini dekat dengan kekasihnya. Tetapi, dia mengurungkan dan hanya diam terpaku di tempatnya.


Kamu bener mencintaiku, kan, Saka, batin Feli berteriak.

__ADS_1


_____


__ADS_2