Wedding With My Lecturer

Wedding With My Lecturer
Bagian 50_Tetap Santai


__ADS_3

“Sial!” geram Eiren dengan perasaan bercampur. Dia merasa benar-benar bodoh karena selalu percaya dengan ucapan Elio yang nyatanya hanya sebuah bualan.


Eiren menghela napas kasar dan melempar batu kecil ke danau di hadapannya. Rasanya dia benar-benar kesal. Ingatannya kembali pada kejadian beberapa jam yang lalu, ketika Elio memeluk wanita kurus dan mengurusinya dengan telaten.


Siapa dia, Elio. Siapa?, batin Eiren penuh rasa kecewa.


“Arrgggh” teriak Eiren sekencang mungkin dengan air mata yang mulai berlinang. “Kurang ajar kamu, Elio,” imbuhnya dengan terduduk lemah dan menunduk pilu.


“Harusnya kamu gak usah buat aku terlau berharap, Elio. Seharusnya kamu gak perlu bertingkah manis, sialan!” ucap Eiren lirih.


Eiren menghela napas dan berusaha menenangkan diri. Dia masih harus kuat untuk bisa pergi dari Elio bagaimana pun caranya. Dia enggan bersama dengan pria yang bahkan masih mengurusi masa lalunya.


“Aku harus menyelesaikan semuanya dengan cepat dan pergi dari kehidupan Elio. Aku harus benar-benar menjauh,” gumam Eiren yang menghapus air matanya kasar. Dia segera bangkit dan duduk di kursi.


Eiren memilih memejamkan mata pelan dan meresapi hembusan angin yang mulai menyapa. “Aku bahkan tidak pernah berpikir takdir akan sekejam ini kepadaku,” ucap Eiren merasa takdirnya memang tidak adil. Dia selalu saja terluka dan tidak pernah merasakan bahagia. Namun, bagaimana pun takdir menyapa, dia hanya bisa melangkah dan menjalani semuanya.


“Dunia tidak kejam, Eiren. Dunia hanya terlalu sayang kepadamu.”


_____


“Dunia tidak kejam, Eiren. Dunia hanya terlalu sayang kepadamu.”


Eiren yang mendengar suara tersebut segera menoleh dan melihat Venda ada di belakangnya dengan kedua tangan dimasukan ke dalam saku celana. Senyumnya terukir indah dan menatap Eiren lekat.


“Venda,” panggil Eiren dengan wajah terkejut. “Kamu di sini?”


Venda mengangguk dan mulai melangkah mendekat. “Aku kebetulan lewat setelah mengantar penumpang. Terus aku lihat kamu. Jadinya aku berhenti untuk menyapa,” ucap Venda yang langsung duduk di sebelah Eiren.

__ADS_1


Eiren yang mendengar hanya mengangguk mengerti. Dia tidak berniat mengatakan apa pun setelahnya, membuat suasana sepi kembali melanda keduanya. Dia menatap danau kecil yang dengan pandangan datar.


Venda melirik ke arah Eiren dan menatap wajah Eiren lekat. “Kamu menangis lagi?” tanya Venda. Ini kedua kalinya dia melihat Eiren yang tengah menangis. “Sepertinya pertemuan kita memang ditakdir dengan air mata,” celetuk Venda membuat Eiren mengerutkan kening bingung.


“Maksudnya?” tanya Eiren mulai penasaran.


“Ya memang begitu, kan? Kamu selalu saja menangis ketika bertemu denganku. Apa aku sebegitu tidak ingin kamu temui, Eiren,” canda Venda dengan wajah dibuat kesal.


Eiren yang mendengar tertawa kecil. Apalagi melihat tingkah Venda yang sudah memainkan wajahnya, mulai dari cemberut sampai hal lain yang membuat Eiren tertawa dan mulai melupakan masalahnya.


Venda yang melihat wajah bahagia Eiren langsung menghela napas pelan. “Aku jauh lebih suka melihatmu tersenyum, Eiren,” ucap Venda tanpa mengalihkan pandangan dari Eiren.


Eiren langsung diam dan menatap Venda dengan senyum tipis.


“Jangan pernah bersedih lagi, ya? Kalau ada masalah, kamu bisa ceritakan sama aku,” tambah Venda dengan suara lembut.


Eiren menganguk paham. Setidaknya Venda tidak akan pernah melukainya karena dia yakin, Venda tidak akan mencintainya.


“Baiklah. Ayo antar aku pulang,” jawab Eiren dengan tawa kecil.


Venda langsung bersorak riang dan melangkah menuju ke arah taksinya diparkir, diikuti Eiren yang ada di belakang. Eiren hanya mengeleng heran ketika melihat Venda yang tampak bahagia, menari ke sana kemari.


Aku akan jalani hariku seperti biasa, Elio. Aku akan tunjukan bahwa aku bukanlah wanita yang berharap belas kasihan dari siapa pun, ucap Eiren dalam hati.


_____


“Aku akan tinggalkan kalian berdua di sini,” ucap Rega menatap Elio dan Firda dengan senyum ramah.

__ADS_1


Elio memutuskan untuk diam dan menatap kolam kecil yang ada di hadapannya. Dia terpaksa datang ke rumah dan menemui Firda. Bagaimana pun, Firda adalah orang yang juga perna ada di hatinya. Dia hanya ingin melihat perkembangan Firda yang masih terasa lemah.


Firda yang ada di kursi roda menatap Elio dengan senyum tipis dan mata teduh yang masih terlihat lemah. Rasanya dia merindukan wajah pria yang selalu menjadi alasannya untuk kuat selama ini.


“E..e..lio,” panggil Firda dengan susah payah.


Elio yang sejak tadi enggan menatap Firda langsung menghela naps dan menatap ke arah wanita tersebut. “Ada apa, Firda?” tanya Elio dengan suara datar. Sebenarnya dia malas bertemu dengan Firda karena dia akan mengingat masa lalu yang terasa menyakitkan.


“Ti..dak..ad..a..ci..um?” tanya Firda dengan senyum tipis. Biasanya Elio selalu mencium keningnya ketika bertemu. Namun, dia merasa pria di sebelahnya berubah. Tidak pernah ada kecupan manis ketika Elio bertemu dengannya.


Elio menghela napas pelan dan mencium kening Firda sejenak. Tidak ada perasaan apa pun selama dia melakukan itu. Dia hanya ingin agar Firda tidak terlalu banyak pikiran dan segera pulih. Dia ingin menuntaskan rasa penasaran yang sudah menggerogotinya akhir-akhir ini.


Firda seperti menelan pil pahit ketika Elio mengecupnya. Tidak seperti dahulu. Tidak ada kehangatan sama sekali dalam ciuman yang diberikan Elio. Bahkan terkesan seperti terpaksa. Matanya menatap Elio dengan pandangan lemah.


“A..ak..u..i...ngin...bic...ara denganmu,” ucap Firda dengan napas tersengal.


Elio yang melihat membelalak kaget dan mendekat ke arah Firda. “Jangan terlalu banyak berbicara, Firda. Kamu belum sepenuhnya sehat. Kita akan bicara lain kali, sekarang kamu masuk saja dulu,” ucap Elio dengan tangan yang hendak membawa Firda masuk. Namun, wanita tersebut mencegahnya dan menggeleng.


“A..ku..ti..d..ak..mau kam..u..benci..a..ku ter..us,” ujar Firda sembari menatap Elio dengan wajah penuh harap.


Elio akhirnya diam dan duduk kembali. Matanya menatap lekat wanita yang ada di hadapannya. Menunggu apa yang akan dikatakan Firda.


Firda menarik napas dalam dan menghembuskannya pelan. “A..ku ti..dak berse..lingkuh, Elio,” ucap Firda membuat Elio membelalakan mata. “Ak..u, men..cin..***, kamu.”


Elio tertawa kecil mendengar ucapan Firda dan menggeleng pelan. “Kamu bilang cinta aku? Terus lelaki yang ada di kecelakaan bersamamu itu siapa? Belum lagi kamu mengandung anak dari pria lain. Atau jangan-jangan itu adalah anakku?” tanya Elio dengan wajah pucat pasi. Selama ini dia berpikir hal yang sama. Apa itu adalah anakku?


Firda menghela napas pelan dan menggeleng. “Bu..kan. Itu adalah an..nak dari pri..a yang ber..sam..aku. Ak..u dijeb..ak oleh papa kamu.”

__ADS_1


“Apa?” teriak Elio dengan wajah mengeras. Dunianya langsung terasa gelap seketika dan menatap Firda yang tengah mengatur napas sembari mengangguk. Setitik air mata mengalir di pipi Firda mengingat perbuatan Abian yang membuatnya sampai kehilangan cinta Elio.


_____


__ADS_2