Wedding With My Lecturer

Wedding With My Lecturer
Bagian 36_Meminta Restu


__ADS_3

Eiren memutuskan untuk tetap berangkat ke kampus setelah perdebatannya dengan seorang wanita yang tidak dikenalnya. Namun, yang dia tahu hanya gadis tersebut terlihat begtiu membencinya. Jujur, bahkan Eiren tidak tahu apa yang salah dengannya. Semua orang terasa begitu membencinya. Termasuk pandangan menusuk yang sejak ditemuinya di sepanjang lorong.


Eiren menghembuskan napas kesal ketika seisi kampus seakan mengoloknya. Namun, menjelaskan apa pun juga tidak akan pernah berguna untuknya. Karena semua hanya berfokus pada satu kenyataan yang jelas mereka lihat waktu itu.


“Eiren.”


Sebuah panggilan membuat Eiren menghentikan langkah tanpa minat yang sejak tadi dibawanya menyusuri lorong. Dia berbalik dan menatap ke belakang, tepat di mana seorang Jessi berdiri.


Jessi yang melihat Eiren langsung mendekat dan tersenyum. “Kamu datang ke kampus?” tanya Jessi dengan wajah sumringah, “aku senang kamu tidak kenapa-kenapa. Aku takut terjadi apa-apa karena kamu sudah tidak di kosan,” lanjut Jessi degan pandangan menujukan kebahagiaan.


Eiren yang mendengar hanya tersenyum sejenak dan menatap Jessi pelan. “Aku baik-baik saja, Jessi. Tidak perlu merasa khawatir,” ujar Eiren merasa tidak enak hati.


“Ayo ke kantin. Aku traktir deh,” ajak Jessi yang langsung membawa Eiren ke kantin.


Seluruh pandangan terasa semakin menusuk ketika dilihat Jessi memperlakukan Eiren dengan baik. Eiren hanya mampu diam dan meresapi semuanya. Dia sudah tidak peduli dengan semua mata yang memang merendahkannya.


“Eiren, kamu mau pesan apa?” tanya Jessi yang sudah menatap Eiren dengan pandangan lekat. Sejak tadi senyumnya masih tidak luntur sama sekali.


“Jus jeruk saja,” jawab Eiren dengan senyum kecil.


Setelah Jessi memesan makanan dan minuman, Eiren kembali diam. Apa aku menang tidak berhak bahagia, batin Eiren dengan rasa yang mulai bercampur aduk.


“Eiren, kamu beneran pacaran sama Mr. Adelio? Sejak kapan? Bukannya kamu sudah memiliki Alex,” tanya Jessi beruntun.


Eiren yang mendengar hanya memejamkan mata meresapi pertanyaan yang sama. Sejak kapan dan sejak kapan. Hanya itu saja dan tidak ada yang lain. Rasanya Eiren sendiri lelah mendengarkannya.


Eiren menatap ke arah Jessi dan hendak menjawab, tetapi dering ponselnya menghentikan aktivitas Eiren. Eiren segera meraih ponsel yang disimpannya di tas dan menatap siapa yang menelfon. Elio. Eiren yang tengah malas mengangkat hanya mengabaikan begitu saja. Namun, namanya Elio, dia tidak akan pernah menyerah begitu saja. Dia tetap saja menelfon sampai Eiren sendiri merasa bosan dan mengangkatnya.


Eiren tersenyum menatap Jessi yang sejak tadi memperhatikannya dan mengangkat panggilan tersebut.


“Hal....”

__ADS_1


“Kamu tidak bisa, ya, angkat yang cepat?” celetuk Elio ketika baru saja tersambung ke panggilan.


Eiren yang mendengar menghela napas perlahan. “Ada apa?” tanya Eiren merasa malas mendengar suara Elio.


“Kamu di mana?” Elio malah balik bertanya.


“Aku di kampus.”


“Cepat pulang ke rumah. Aku sudah di rumah orang tuamu dan akan menemui keduanya,” jelas Elio membuat Eiren membelalak.


“Apa?” teriak Eiren yang merasa begitu kaget.


“Apa selain tadi pagi kamu tidak bisa membaca, sekarang kamu juga mulai tuli, Eiren?” sindir Elio dengan suara tajam.


Eiren berdecak kesal mendengarnya. “Ngapain kamu di sana?” tanya Eiren tidak seberapa peduli.


“Aku ingin bertemu dengan calon mertua. Aku rasa mereka harus tahu anaknya akan menikah. Jadi, bisa kamu pulang sekarang? Aku menunggumu di sana,” jawab Elio dengan tegas.


Eiren yang mendengar memejamkan mata lelah dan menutup panggilan tanpa berpamitan dengan Elio. Langusng saja ponselnya dimasukan ke dalam tasdan menatap ke arah Jessi yang masih memperhatikan lekat.


“Oh, teman,” jawab Eiren singkat dan dengan senyum canggung. Dia sendiri bingung menyebut Elio sebagai apa. Eiren mengemasi tasnya dan menatap ke arah jessi yang masih asyik menikmati makanannya.


“Jessi, aku harus pulang lebih dulu. Aku ada urusan,” ucap Eiren yang langsung pergi,


Jessi yang melihat hanya menatap bingung ketika dirinya masih asik memakan pesannya. Dia bahkah belum sempat bertanya apa pun kepada Eiren mengenai hubunga adis tersebut dengan Elio.


Jessi berdecak kesal ketika Eiren sudah tidak ada dalam jangkauan pandangannya. “Dasar kurang aja,” gerutu Jessi yang merasa begitu diabaikan.


"Aku harus mendapatkan Elio," gumam Jessi dengan tangan mengepal. Dia benci dengan Eiren yang selalu disukai oleh semua orang. Bahkan Alex yang pernah disukainya juga menyukai Eiren.


_____

__ADS_1


“Aku ingin bertemu dengan calon mertua. Aku rasa mereka harus tahu anaknya akan menikah. Jadi, bisa kamu pulang sekarang? Aku menunggumu di sana.”


Elio yang mendengar panggilannya di matikan hanya tersenyum kecil dan melihat kedua orang yang sudah menatapnya dengan pandangan menunduk. Bukan hormat, lebih tepatnya takut. Bahkan, sebelum pria tersebut mengatakan apa pun kepada keduanya.


Orang tua Eiren hanya diam. Mereka masih shock ketika Elio datang ke rumahnya. Mulut mereka seakan membeku menyadari seorang Adelio Cetta datang ke rumahnya.


“Om, Tante, kenapa kalian terlihat begitu takut kepadaku? Aku bahkan tidak melakukan apa-apa,” ujar Elio merasa heran. Apa dia semenakutkan itu?


Arda yang mendengar hanya terkekeh kecil mendengar ucapan Elio. “Kami hanya merasa begitu terkejut dengan kedatangan anda, kami tidak menyangka jika anda akan datang ke rumah kami,” jawab Arda dengan suara sopan yang masih dipertahankan ketegasannya.


Elio yang mendengar hanya tertawa kecil dan mengangguk. Dia tahu alasan kedua orang tua Eiren menunduk takut ketika menatapnya. Semua karena perusahaan papa Eiren yang memiliki begitu banyak hutang kepada perusahaannya. Namun, Elio menatap cuek dan tidak peduli dengan urusan tersebut. Karena baginya, akan ada hal lain yang perlu dilakukannya. Lagi pula perusahaan papannya belum diserahkan kepada dia sepenuhnya.


“Kalian tidak perlu merasa terkejut. Aku rasa kalian akan lebih sering bertemu denganku setelah ini,” ujar Elio dengan pandangan penuh percaya diri.


“Oh iya?” sahut Arda dengan wajah yang lebih kaku. Dia benar-benar tidak berniat bertemu dengan Elio setiap hari.


“Tentu. Karena sebentar lagi aku akan menikahi anak kalian. Eiren,” jelas Elio tanpa rasa bersalah.


“Apa?” balas kedua orang tua Eiren dengan pandangan tidak percaya. Matanya bahkan membelalak dan siap kelar dari tempatnya.


“Apa yang kamu katakan benar? Kamu akan menikah dengan anak kami? Tetapi, bagaimana bisa?” tanya Audi dengan mata menatap tdiak percaya. “Anak kami sudah memilik kekasih. Alex,” tambah Audi yang tahu sedikit mengenai anaknya.


Elio hanya tersenyum kecil dan membenarkan. “Itu memang benar, tetapi sekarang dia adalah calon istriku. Jadi, aku harap kalian akan merestui hubungan kami.”


Audi yang mendengar hendak menjawab, tetapi Arda sudah lebih dahulu menghentikannya. Pria tersebut menatap Elio dengan senyum smringah dan menunjukan kebahagiaan.


“Apa yang anda katakan benar? Kami sangat bahagia mendengarnya. Jelas kami akan sangat merestuinya,” jawab Arda dengan penuh semangat.


Audi yang mendengar mengerutkan kening bingung dengan tingkah suaminya. Dia pikir Arda akan menolak, tetapi melihat senyum itu dia mulai berpikir ulang. Apa suaminya mulai gila? Bukankah dia memiliki masalah dengan kelarga Cetta sebelumnya? Masalah yang sebenarnya menjadi penyebab Audi menggila.


Eiren yang mendengar hanya diam dan mengatur perasaan kecewa yang muncul begitu saja. Dia berharap orang tuanya akan menolak Elio. Namun, nyatanya semua hanya harapan kosong. Orang tuanya menerima dengan tangan terbuka.

__ADS_1


Apa aku tidak berarti apa pun untuk kalian, batin Eiren nelangsa.


_____


__ADS_2