Wedding With My Lecturer

Wedding With My Lecturer
Bagian 76_Tidak Berharap


__ADS_3

Feli masih asyik mencuci tangan ketika sebuah tepukan ringan mampir di pundaknya. Dengan segera dia menatap ke asal tersebut dan menatap seorang pria tengah berada di belakangnya, membuat gadis tersebut menghela napas keras.


Feli berbalik dan mengelap tangannya yang masih basah. Setelah selesai, dia menatap ke arah Saka yang masih saja betah berada di belakangnya dengan tatapan lekat.


“Ada apalagi, Saka?” tanya Feli dengan wajah datar. Bahkan, dia tidak berniat bersikap ramah dengan pria yang saat ini ada di depannya. Meski pun dia tahu, Saka adalah atasannya.


“Aku ingin berbicara denganmu, Feli,” jawab Saka dengan tatapan tidak kalah serius.


“Aku rasa kita sudah tidak ada yang perlu dibicarakan lagi. Jadi, bisa pergi menjauh dariku?” ujar Feli yan memang merasa bahwa semuanya sudah selesai. Bahkan, untuk berbicara dengan Saka pun dia enggan.


Feli memilih menyingkir dari hadapan Saka, melewati bagian lain yang masih begitu luas. Namun, baru beberapa langkah, gerakannya terhenti. Pria tersebut memegang lengannyanya denga sangat erat, membuat Feli menatap ke arah Saka yang masih bersikap datar.


“Aku bilang aku tidak suka diabaikan. Apa kamu lupa debgan itu, Feli?” tanya Saka setengah mendesis.


Feli menatap tajam ke arah pria tersebut. “Aku bahkan tidak lupa dengan itu, Kakak Saka,” jawab Feli dengan nada penuh penekanan.


Saka menarik napas dalam dan mengembuskannya keras. Dengan cepat dia mendorong Feli sampai punggung gadis tersebut mulai terhimpit dengan tembok di belakangnya. Saka sengaja mengurung Feli dalam dekapannya. Matanya masih menatap gadis yang ada di hadapannya dengan pandangan dingin. Mengabaikan Feli yang mulai merasa gelisah.


“Ada apa, Feli? Kamu takut denganku?” celetuk Saka dengan wajah menyeringai penuh kebanggaan.


“Saka, lepaskan. Ini di rumah Eiren,” ucap Feli dengan wajah gelisah. Rasanya dia ingin memukul keras pria yang saat ini ada di hadapannya. Namun, tangannya sudah digenggam dan diletakan di sebelah telinginya. Membuat ruang geraknya terhenti seketika.


Saka yang mendengar malah menatap dengan senyum licik. “Bukankah itu akan jauh lebih baik, sayang? Aku bahkan ingin seluruh kantor tahu bahwa kamu adalah kekasihku,” jelas Saka dengan tawa menyebalkan.


Kekasih? Rasanya Feli ingin tertawa keras ketika mendengar pria tersebut mengatakannya dengan sangat lantang. Namun, dia hanya berdecih meremehkan dan membuang wajahnya ke arah lain. Membuat Saka menghentikan tawa puasnya dan menatap Feli lekat.

__ADS_1


“Ada yang lucu, baby?”


“Tentu,” jawab Feli dengan pandangan tajam, “kamu lupa bahwa aku bukanlah kekasihmu, Saka. Aku adalah adik tiri yang selalu kamu manfaatkan kebodohannya,” tegas Feli sembari menekankan pada sebutan ‘adik tiri’.


Saka mengeraskan rahang keras ketika mendengar Feli yang menyebutkan posisi dirinya. Dengan secepat kilat dia mendekat dan hendak mencium wanita tersebut, membuat Feli memejam dengan mulut tertutup rapat. Namun, belum juga Saka mampu menyatukan bibirnya dengan daging kenyal yang sangat dirindukannya, sebuah teriakan membuatnya mengalihkan pandangan.


“Mas, aku ke dapur dulu ya. Sepertinya Feli mengalami kesusahan.”


Saka yang mendengar segera melepaskan kungkungannya pada gadis di hadapannya. Dengan tatapan yang masih menunjukan kekesalan, Saka melangkah menjauh dan meninggalkan ruangan tersebut. Dia memilih kembali ke ruang tamu dan bergabung bersama dengan Dinda dan juga Elio.


Feli seketika langsung luruh ke lantai dengan air mata berderai. Rasa sakit yang pernah dirasakannya kembali terulang.


“Awalnya aku berharap tidak akan bertemu denganmu lagi, Saka. Tetapi salah, aku malah bertemu denganmu di tempat yang tidak pernah terbayangkan sama sekali,” gumam Feli dengan air mata yang mulai menetes.


_____


Eiren yang tanpa sengaja mendengar ucapan Feli ketika dia hendak ke dapur segera menghentikan langkahnya. Matanya menatap beku ketika mendengar Feli yang tengah berbicara dengan Saka. Dengan perlahan, dia mulai melangkah mendekat. Rasa penasarannya semakin menggebu ketika dia tidak juga mendengar apa pun dari arah Feli berada.


“Apa terjadi sesuatau di dalam,” batin Eiren yang segera melangkah masuk. Namun, langakahnya terhenti ketika melihat Saka yang hendak mencium Feli. Dengan perlahan, dia mulai mundur dan menghela napas lelah.


“Mas, aku ke dapur dulu ya. Sepertinya Feli mengalami kesusahan,” teriak Eiren mencoba mengalihkan fokus dari Feli.


Eiren segera bersembunyi dan menanti kejadian setelahnya. Perlahan, matanya menatap ke arah Saka yang keluar dari dalam dapur. Setelah dirasa sudah cukup jauh, dia mulai melangkah masuk ke dalam dapur.


Eiren menatap lemah ketika sahabatnya masih terduduk lemah di lantai dapur.

__ADS_1


“Feli,” panggil Eiren dengan suara lembut.


Feli yang tengah menunduk kembali mendongak dan menatap Eiren. Sebisa mungkin dia mengulum senyum dan menghapus air matanya cepat. Feli kembali bangkit dan menampilkan wajah cerianya.


“Kamu ngapain ke dapur, Eiren? Kamu kan masih hamil. Mestinya jangan ke sini. Biar aku yang kerjakan,” kata Feli mencoba mengalihkan pandangan Eiren yang masih menatapnya lekat.


Eiren menghela napas keras dan menunjukan wajah serius. “Feli, berhenti menyembunyikan semuanya dariku. Bukannya aku sahabatmu,” ucap Eiren dengan pandangan tajam.


“Kamu ini ngomong apa sih, Eiren. Aku bahkan tidak menyembunyikan apa pun darimu,” kata Feli dan berniat menjauh dari Eiren. amun, baru dua langkah dia merasa tangannya yang tengah digenggam Eiren.


Feli berbalik menatap sahabatnya dan menghela napas lelah. Dia benar-benar tidak mau menceritakan semuanya kepada Eiren. Dia tidak mau jika sahabatnya yang tengah mengandung menjadi terganggu.


“Kamu adalah sahabat terbaikku, Eiren. Apa yang membuatmu bahagia, saat itu aku juga merasa bahagia. Jadi, bisa kamu tunggu sampai kelahiran anakku. Aku berjajanji akan menceritakan semuanya,” ucap Feli berharap pengertian dari sahabatnya. Bagaimana pun itu juga untuk kebaikan sahabatnya.


Eiren menggeleng lemah dan menatap lekat ke arah Feli. “Aku mau mendengarnya darimu, Feli. Sejak Saka datang kamu bahkan diam. Kamu memiliki hubungan dengannya? Aku rasa banyak sekali hal yang kamu tutupi dariku,” paksa Eiren dengan wajah penuh keseriusan. “Apa dua tahun kepergianku membuatmu kehilangan rasa percaya kepadaku?”


Feli kembali menghela napas dan menatap Eiren lemah. “Aku sangat ingin bercerita denganmu, Eiren. Tetapi aku tidak mau jika nantinya kandunganmu menjad tergangu karena ceritaku. Aku mau bayi dalam rahimmu bisa lahir dengan selamat dan semuanya baik-baik saja. Hanya itu tujuanku dan tidak ada hal lain yang aku pikirkan,” jelas Feli dengan pandangan lekat.


Eiren tersenyum tipis dan menghapus air mata yang keluar dari sudut mata Feli. “Kamu tahu, Feli. Aku bisa menjaga diriku sendiri dan aku yakin anakku juga akan mendengarkan semuanya dengan baik. Jadi, kamu bisa cerita semuanya.”


Feli diam seketika. Matanya menatap Eiren yang terlihat begitu meyakinkan. “Semua bermula dari dua tahun yang lalu, Eiren. Saat kamu memilih pergi dari kami semua,” celetuk Feli dengan suara lemah, membuat Eiren merasa penasaran.


_____


Haloo sayang Kim, pada rindu gak nih? Rindunya sama Kim apa sama Eiren dan Elio? Hehe. Jangan lupa ikuti kisah mereka terus ya. Tinggalkan like, comment dan tambah ke daftar favorit. Selain itu, jangan lupa baca cerita kim yang lain ya. Judulnya “Relationship Goals.” Tinggalkan like, comment dan tambah ke daftar favorit.

__ADS_1


Eits, suka dengan cerita yang sudah tamat. Kim juga ada loh. Yuks mampir ke “Wedding Drama”. Tinggalkan like, comment dan tambah ke daftar favorit. Buat yang sudah tambah ke daftar favorit, jangan dihapus ya baby. Terima kasih dan selamat membaca.


_____


__ADS_2