Wedding With My Lecturer

Wedding With My Lecturer
Bagian 88_Perdebatan Tidak Penting


__ADS_3

“Saka, bisa kamu lepaskan pelukanmu?” ucap Feli yang masih berbaring membelakangi Saka. Sudah satu jam dia terbangun, tetapi tidak juga beranjak dari ranjang. Tangan Saka masih saja mendekap dengan erat, membuat Feli hanya diam dan pasrah dengan apa yang dilakukan kekasihnya.


“Sebentra saja, sayang. Aku masih merindukamu,” gumam Saka dengan nada suara tidak jelas.


Sebentar? Lalu, satu jam yang lalu itu namanya apa?, gerutu Feli dengan bibir memberengut kesal. Namun, dia hanya membiarkan apa yang diinginkan Saka. Dari pada nanti ketika di kantor Saka terus saja mengganggunya.


Feli menghela napas perlahan ketika merasakan deru napas Saka mengenai kulit mulusnya. Perlahan, dia mulai menatap ke arah Saka pelan, memperhatikan wajah yang terlihat begitu damai di belakangnya. Sampai senyum tipis di bibir Feli mulai mengembang dengan sendirinya.


Dasar manja, batin Feli sembari mengelus pelan punggung tangan Saka.


“Saka,” panggil Feli dengan suara lembut.


Saka yang tengah memejamkan mata hanya bergumam tidak jelas dan mengeratkan pelukannya. Dia selalu saja merasa nyaman ketika dekat dengan Feli.


“Kamu mau berangkat ke kantor jam berapa? Ini sudah hampir jam delapan. Kalau nanti kamu gak lepasin pelukannya, kita bisa terlambat,” celetuk Feli membuat Saka membuka mata. Perlahan, dia mulai menatap ke arah jam dinding yang terpasang tepat di depannya dengan tatapan lekat.


Jam tujuh lebih dua puluh menit.


“Tenang saja, sayang. Dia tidak akan marah denganku,” jawab Saka enteng.


“Iya, kamu gak dimarah. Kalau aku ya langsung dipecat,” jelas Feli membuat Saka membuka matanya kembali.


Saka menghela napas kasar. Perlahan, pelukannya terlepas. Namun, belum juga Feli mampu melarikan diri, Saka sudah lebih dulu bangkit dan berada di atasnya. Mebuat Feli berteriak kencang karena perbuatan Saka yang terasa tiba-tiba. Matanya menatap Feli yang tengah membelalak dengan senyum misterius.


"Saka!” teriak Feli sembari memukul pelan lengan pria tersebut. “Minggir, aku mau mandi.”


Saka yang mendengar hanya diam, tetapi juga tidak mengindahkan ucapan Feli. Dia masih asyik menatap gadis di bawahnya dengan senyum tipis, membuat Feli merasa putus asa.


“Saka, aku harus segera berangkat ke kantor,” ujar Feli dengan tatapan memelas.


“Boleh. Tetapi, ada syaratnya,” kata Saka dengan wajah tanpa dosa.


“Syarat?” ulang Fei dengan kening berkerut. “Syarat apalagi? Aku cuma mau bangun dan berisap untuk ke kantor,” jawab Feli dengan nada suara kesal.


“Beri aku ciuman pagi ini dan janji kamu akan memanggilku dengan sebutan sayang, di mana pun dan kapan pun kita bertemu,” sahut Saka dengan tatapan penuh harap.


“Kamu gila? Mana mungkin aku memanggilmu sayang ketika di kantor. Jangan konyol,” tolak Feli terang-terangan.

__ADS_1


“Terserah. Aku hanya memberimu syarat. Kalau kamu gak mau ya terserah. Aku hanya menawarkan dan siap mengurungmu di sini sampai besok lagi, sayang.”


Feli yang mendengar menghela napas pelahan. Sepanjang yang dia tahu, Saka memang selalu saja bertingkah seenaknya. Hingga pada akhirnya, Feli kembali mengalah. Perlahan, tangannya mulai meraih tengkuk Saka dan mendaratkan kecupannya di pipi pria tersebut. Namun, baru saja dia beralih dan hendak mengakhiri kecupannya, Saka beralih menarik tengkuknya, mendaratkan kembali bibirnya dan ******* pelan bibir merah milik Feli.


Lama keduanya saling mengecup, sampai pada akhirnya, Saka melepaskan ciumannya, menatap Feli dengan seyum tipis. “Manis,” ucap Saka dengan ibu jari mengelus bekas ciumannya.


Feli yang diperlakukan demikian hanya bisa parah dan mendengus kesal. Setelah Saka pergi dari atas tubuhnya, segera dia turun dan menuju ke kamar mandi untuk membersihkan diri dan berangkat ke kantor.


_____


“Sayang, tunggu,” teriak Saka ketika Feli keluar dari mobilnya secepat kilat.


Feli yang ada di depan segera melangkah cepat. Dia tidak mau jika Saka masuk bersama dengannya. Namun, langkahnya terhenti ketika beberapa karyawan berada di depanya dengan kening berkerut heran. Pasalnya, di belakang Saka tetap saja memanggilnya dengan sebutan ‘sayang’.


Diam, Saka, batin Feli merasa begitu kesal karena Saka tidak mengerti apa maksud ucapannya. Saka selalu saja seenak sendiri tanpa memikirkan apa yang orang lain katakan.


“Sayang?” sindir salah satu wanita dengan kaca mata di depan Feli. Matanya menatap ke arah Saka yang masih jauh di belakang. “Jadi kamu masih saja berpacaran dengan pak Saka, Feli?”


Feli hanya diam dengan wajah dibuat secuek mungkin. Ini yang membuatnya malas jika berangkat dengan Saka. Akan ada saja yang mengatainya dengan kalimat menyakitkan nanti.


“Iya, kenapa juga kamu masih berusaha mendekatinya, Feli? Kamu terlihat seperti wanita murahan saja,” celetuk wanita berkaca mata dengan tawa kecil. Tawa mengejek.


Feli baru akan menyanggah ucapan rekan kerjanya ketika dirasakan sebuah lengan sudah mempir di bahunya pelan, membuat matanya menatap ke arah Saka yang ternyata sudah sampai di sebelahnya.


Masalah, batin Feli paham dengan sikap Saka.


“Kalian bilang apa tadi? Kalian bilang Feli murahan?” tanya Saka dengan wajah menahan kesal. “Bakan kalian jauh lebih murahan.”


“Loh, kok jadi kamu yang marah, Saka. Atau jangan-jangan kalian beneran pacaran?” tanya wanita berkaca mata dengan padangan lekat.


“Tidak.”


“Iya,” jawab Saka tegas. Membuat Feli menatap dengan pandangan lekat. Saka mengabaikan jawaban Feli yang masih menyangkal huhungannya. Kali ini, dia hanya ingin bergerak sendiri tanpa mempedulikan ucapan Feli yang selalu mengabaikan hubungannya.


“Kami memang berpacaran dan sebentar lagi akan menikah. Jadi, jangan coba ganggu hubungan kami dan kalau sampai kalian ada yang menghinanya, aku yang akan bertindak. Aku yakinkan kalian akan menyesal telah menghinanya,” ancam Saka dengan tatapan tegas.


Kedua wanita yang ada di depannya tertawa kecil dan menatap Saka dengan pandangan meremehkan. “Jadi, benar apa yang dikatakan seisi kantor? Aku awalnya menyangka jika itu hanya gosip belaka, tetapi hari ini aku membuktikannya sendiri,” celetuk salah satu wanita di dekat sang kaca mata dan beralih menatap Feli yang hanya diam dengan perasaan kacau.

__ADS_1


“Ternyata kamu benar-benar gak punya harga diri sama sekali, Feli.”


Saka yang mendengar membelalak dengan rahang mengeras. Namun, sebelum dia mampu menjawab, wanjta dengan kacamata di depannya sudah lebih dulu menyela.


“Seisi kantor selalu membicarakannya, Saka. Mereka mengatakan bahwa Feli pernah menjadi taruhan. Dan sekarang dia dengan gampangnya menerima maafmu dan bahkan menikah dengammu? Aku rasa dia memang sudah tidak menganggap harga diri sebagai hal penting,” jelas wanita tersebut dengan tatapan merendahkan. “Kalau begitu, aku harap kalian bahgia.”


Saka hanya diam mendengarnya. Setelah kepergian dua rekan kerjanya, Saka menatap Feli yang masih diam terpaku di sebelahnya. “Apa benar yang dikatakannya, sayang? Apa benar mereka selalu membicarakanmu?”


Feli yang mendengar perlahan mengangguk. Percuma dia menutupi semuanya. Buktinya, saat ini Saka sudah mengetahuinya.


Lemas. Itulah yang dirasakannya saat ini. Dia bahkan tidak tahh jika selama ini Feli menyembunyikan hal tersebut darinya. “Sudah berapa lama mereka selalu membicarakanmu?”


“Sejak aku masuk mereka sudah mengetahui itu, Saka,” jawab Feli dengan senyum tipis.


“Astaga. Kenapa kamu tidak bilang dan membela diri?” protes Saka dengan wajah yang sudah terlihat kacau.


Feli menatap ke arah Saka lekat. “Aku bisa apa jika memang itu adanya, Saka? Aku hanya tidak mau kamu mengetahuinya. Aku tidak mau melihatmu terus-terusan menyalahkan diri sendiri. Aku mau kamu mulai menjalani hari tanpa penyesalan. Aku dan kamu. Aku ingin kita kembali melangkah bersama dan melupakan masa lalu.”


Saka yang mendengar menghela napas pelahan dan menarik Feli dalam dekapannya. “Maafkan aku, sayang. Maaf karena aku membuatmu susah,” cicit Saka dengan wajah penuh peyesalan.


Feli hanya diam, merasakan dekapan erat dari pria yang dicintainya. Sekarang, dia merasa lega. Sudah tidak ada lagi rahasia yang harus disembunyikannya lagi. Sedangkan di sudut lain, Eiren tengah menatap keduanya dengan senyum penuh kebahagiaan.


“Benarkan apa kataku, sayang. Kita tidak perlu membantu Feli. Sekarang dia sudah memiliki tempat berlindungnya sendiri,” kata Elio yang ada di dekat Eiren dengan wajah bangga.


Eiren tersenyum kecil dan mengangguk. Tangannya mendekap Elio dan dan menatap Feli lekat. Awalnya, dia memang ingin membalas para karyawan yang mengatai Feli, tetapi terhenti karena Elio mencegahnya.


Eiren menatap ke arah Elio dan mengumbar senyum termanisnya. “Sama sepertiku yang sudah menemukan tempat berlindungnya.”


“Betul,” jawab Elio dengan tatapan gemas.


_____


Yuhuurr....selamat membaca sayangkuh. Jangan lupa tinggalkan like, commet dan juga tambah ke daftar favorit. Jangan lupa juga baca cerita Kim yang berjudul “Relationship Goals” dan “Wedding Drama 2”. Tinggalkan like, comment dan juga tambah ke daftar favorit kalian ya. Kim sangat menunggu kehadiran kalian. 🥰🥰🙏


See you next chapter dan jangan lupa jaga kesehatan sayangkuh.🤗🤗


_____

__ADS_1


__ADS_2