Wedding With My Lecturer

Wedding With My Lecturer
Bagian 67_Hari Penting


__ADS_3

Eiren menghela napas perlahan ketika memasuki mobil Elio. Pagi-pagi sekali dia sudah dibangunkan dengan suara Elio yang begitu tergesa. Padahal jam masih menunjukan pukul enak pagi. Namun, Elio tetap kekeh menarik Eiren turun dari ranjang dan mengguyur tubuh wanita tersebut dengan air dingin.


Eiren masih merasa kesal karena pada akhirnya tidak ada pagi romantis seperti yang terdapat dalam novel percintaan. Yang ada emosinya malah semakin meningkat karena ulah pria yang saat ini tengah berada di sebelahnya dengan pandangan fokus dan pakaian rapi. Eiren mengerutkan kening heran ketika melihat Elio yang merapikan wajahnya.


Kapan dia melakukannya?, batin eiren penasaran. Pasalnyam Elio selalu saja menepel dengannya.


“Sial. Kenapa malam macet sih,” gerutu Elio ketika dia berada di tengah kemacetan.


Eiren yang mendengar umpatan hanya menghela napas perlahan dan menatap ke arah Elio dengan wajah cuek. “Sabar, Elio. Jalanan ini bukan milik nenek moyangmu,” sindir Eiren membuat Elio menatap ke arahnya.


“Kalau ini milik nenek moyangku, aku tidak akan membiarkan siapa pun keluar dari rumah hari ini. Setidaknya itu tidak akan membuatku terlambat memberimu kejutan,” jawab Elio dengan wajah yang menunjukan kekesalannya.


Eiren yang mendengar hanya mengabaikan jawaban pria tersbut dan memilih kembali fokus dengan jalanan ramai. Sampai akhirnya, mobil Elio mulai melaju meski dengan begitu pelan. Eiren masih saja diam. Namun, ketika matanya melirik ke arah Elio yang ternyata menatap jalanan dengan begitu cemas, Eiren mulai bertanya-tanya.


“Elio, sebenarnya kita mau ke mana?” Eiren memutuskan bertanya langsung dengan pria tersebut.


Elio menatap ke arah Eiren sekilas dan kembali dengan jalanan ramai. “Nanti juga kamu akan tahu,” jawab Elio dengan cuek.


Eien akhirnya memilih kembali diam. Bertanya pun tidak akan mendapat jawaban. Dia hanya menikmati jalanan yang mulai terhidar dari kemacetan dan membuat laju mobil Elio kembali normal.


Sebenarnya mau di bawa ke mana aku, batin Eiren masih merasa kesal.


Elio yang sejak tadi tidak memperhaikan Eiren mulai tertarik dengan wajah murung wanita tersebut dan mulai mengulum senyum. Dia tahu sejak tadi Eiren merasa kesal dan juga bosan. Namun, dia sengaja melakukan itu semua.


Maafkan aku, sayang. Setelah ini aku janji kamu akan bahagia, ucap Elio dengan penuh rasa percaya diri.


_____


Setelah perjalanan panjang yag membuat Eiren merasa begtiu lelah, akhirnya Elio mulai membelokan mobilnya ke sebuah gedung mewah yang sudah dihias dengan sangat indah. Di sana juga ada banyak mobil terparkir. Eiren menatap dengan wajah terkejut. Dia yakin bahwa pakaiannya kali ini tidak pantas untuk masuk ke dalam acara tersebut.

__ADS_1


"Eiren, ayo masuk,” ajak Elio sembari melepaskan sabuk pengamannya.


Eiren menatap Elio dengan tatapan kesal. “Aku tahu, Elio. Selama dua tahun ini aku memang sudah menyusahkanmu. Tetapi bukan begini caramu untuk membalas dendam,” teriak Eiren dengan pandangan penuh rasa kecewa.


Elio yang mendengar langsung menatap Eiren dengan wajah bingung. “Maksudmu apa, Eiren?” tanya Elio benar-benar tidak paham.


Eiren menghela napas kasar dan menatap Elio dengan air mata yang menggenang di pelupuk mata. “Kamu membawaku datang ke acara seresmi ini dan tidak mengatakannya kepadaku? Pantas saja kamu terlihat begitu rapi pagi ini. Sedangkan aku, aku hanya mengenakan celana jeans dan kemeja lusuh. Sekarang kamu mengajakku masuk? Terima kasih, elio. Terima kasih untuk kejutan yang kamu berikan, aku sangat bahagia,” celetuk Eiren yang langsung keluar dari mobil Elio.


Elio menghela naps kasar da segera turun dari mobil. Matanya menatap Eiren yang siap menghentikan taksi. Dengan cepat, dia berlari dan meraih tangan wanita tersebut ketika Eiren akan pergi menaiki taksi.


“Lepas,” bentak Eiren sembari mengibaskan tangan Elio. Matanya menunjukan kepedihan yang tergores nyata di wajahnya, membuat Elio merasa semakin serba salah.


Elio tahu, saat ini berbicara dengan Eiren bukanlah hal baik. Gadis tersebut tidak akan pernah mendengarkannya. Akhirnya, Elio langsung menarik Eiren dan mengendongnya ala bridal style. Membuat Eiren membelalakan mata karena terkejut.


“Elio, turunkan,” teriak Eiren tidak mendapat jawaban.


Elio masih terus melangkah memasuki gedung megah yang ada di hadapannya. Mengabaikan pukulan-pukulan kecil yang terus saja dilancarkan untuknya. Eiren sendiri masih tidak berhenti berteriak sampai pada akhirnya, dia masuk sepenuhnya.


Pelaminan? Eiren menatap bingung Elio yang masih diam di depannya. Ada banya pertanyaan yang melintas dalam benak pikirannya saat ini. Terlebih hampir seisi ruangan adalah orang yang dikenalnya. Di sana juga sudah ada kedua orang tuanya, Venda, Feli dan juga kedua orang tua Elio.


“Elio, ada apa ini?” tanya Eiren dengan tatapan bingung.


Elio menghela napas perlahan dan menatap Eiren dengan mata yang memancarkan ketegasan. “Eiren, aku pernah mengatakan bahwa aku mencintaimu, kan? Aku juga pernah mengatakan bahwa aku tidak akan bisa hidup tanpa kamu. Kamu ingat? Aku juga pernah melamarmu, tetapi kamu menolakku,” ucap Elio dengan wajah serius.


Eiren menunduk malu melihat Elio yang mengungkapkan segalanya di depan umum. Dia memang menolak Elio dan berharap pria di hadapannya akan berusaha untuk meyakinkannya. Namun, hari ini dia dibuat malu karena tingkah pria tersebut yang membeberkan semuanya di depan umum.


Elio menghela napas perlahan dan menatap Eiren dengan senyum tipis. “Selama dua tahun aku mencarimu, Eiren. Aku mengabaikan semua ucapan mereka yang menanggapmu mati. Aku bahkan pernah putus asa dalam pencarianku. Tetapi, aku cukup bahagia karena kamu yang saat ini ada di hadapanku. Aku bangga dengan hatiku yang mampu merasakan kehadiranmu.”


Elio menghentikan ucapannya sejenak dan meraih jemari Eiren. “Eiren, aku pernah membuatmu berada dalam masalah, memaanfaatkanmu hanya untuk kepentinganku. Namun, hari ini, di tempat ini, dengan mereka yang menjadi saksi, aku ingin mengatakan bahwa saat ini aku benar-benar mencintaimu. Aku sudah tidak memikirkan harta kedua orang tuaku. Mulai hari ini aku berjanji akan membahagiakanmu.”

__ADS_1


Eiren masih diam, dia mencoba menelaah apa yang akan dilakukan pria tersebut. Elio melepaskan genggaman tangannya dan duduk dengan satu kaki yang menyangga tubuhnya. Perlahan, Elio mengeluarkan kotak beludru berwarna merah dan membukanya.


“Elio,” panggil Eiren dengan wajah terkejud. Di dalam kotak terdapat cincin dengan berlian di atasnya. Matanya menatap Elio dengan tatapan tidak percaya.


“Aku selalu mengatakan bahwa aku akan menikahimukan, Eiren? Tetapi, aku tidak pernah menunjukannya dengan serius. Hari ini, aku ingin menayakan hal yang sama. Eiren, maukah kamu menikah denganku? Hari ini, di gedung ini dengan mereka yang menjadi saksi?” tanya Elio sembari menatap Eiren lekat. Senyumnya tidak luntur sama sekali dari wajahnya.


Eiren hanya diam dan menatap seisi tamu undangan yang juga menatapnya dengan rasa penasaran. Dia masih bingung apa yang harus dijawab. Matanya menatap sang papa yang juga menyaksikan tingkah Elio. Sampai pada akhirnya, Elio memasukan cincin ke jari manisnya dan bangkit. Membuat Eiren tersentak kaget.


“Kamu terlalu lama, sayang. Aku rasa kamu memang akan menerimanya,” ucap elio dengan rasa percaya diri.


“Kenapa kamu bisa seyakin itu?” tanya Eiren dengan tatapan penuh selidik.


“Karena aku tidak menerima penolakan. Mau atau tidak, kita akan tetap menikah hari ini,” paksa Elio dengan wajah tanpa dosa.


Eiren berdecih kesal, tetapi setelahnya dia kembali tersenyum dan menatap Elio lekat. Elio hanya menghela napas perlahan dan menarik tengkuk Eiren lalu memeluknya erat. Dia tahu, wanitanya hanya butuh bukti dan dia membuktikannya hari ini juga.


“Dasar pemaksa,” gumam Eiren sembari menyembunyikan wajahnya di dada bidang Elio.


“Aku tahu itu. Tetapi, aku bangga karena dengan begitu aku mendapatkanmu,” jawab Elio bahagia.


Eiren yang mendengar hanya tersenyum kecil. Kali ini dia benar-benar luluh dalam pesona Elio sepenuhnya. Dengan begitu mudah? Ya, dia mengakui itu. Eiren mengakui hatinya jatuh dengan begitu mudah kepada pria yang saat ini ada dalam dekapannya.


Seisi ruangan langsung bertepuk tangan penuh bahagia. Termasuk ke dua orang tua mereka yang sangat senang.


“Aku ingin membahagiakanmu dan anak kita kelak,” bisik Elio mengabaikan banyaknya orang di belakang.


Eiren mendongak dan menatap Elio lekat. “Kalau begitu, lakukanlah.”


Elio menganguk dengan wajah bahagia. Hari ini, dia mendapatkan cintanya dan hari ini pula dia akan mengesahkan wanitanya.

__ADS_1


Ya, aku Adelio Cetta mengakui bahwa hatiku sepenuhnya sudah menjadi milik Eiren Azura, batin Elio mengesahkan.


_____


__ADS_2