Wedding With My Lecturer

Wedding With My Lecturer
Bagian 44_Terbangun


__ADS_3

Eiren menggeliat dalam tidurnya. Kepalanya sedikit pusing karena terkena air hujan. Matanya sudah membuka lebar dan memperhatikan ruangan yang sudah tidak asing lagi untuknya. Perlahan, Eiren mulai mengangkat tubuhnya dan bersandar di kepala ranjang. Tubuhnya lemas seketika.


“Ke mana Elio,” pikir Eiren sembari menempelkan telapak tangannya di kening. Panas.


“Kenapa Elio bisa ada di sana? Apa dia mengikutiku? Rasanya aneh jika kita bertemu di satu tempat seperti itu,” gumam Eiren merasa kepalanya nyeri.


Eiren segera turun dan melangkah menuju pintu keluar. Mengabaikan pakaian yang sudah berganti. Dia hanya terus melangkah dan membuka pintu. Sebelum demamnya semakin naik, dia harus segera meminum obat.


Eiren baru memegang gagang pintu dan menghentikan langkah ketika sayup-sayup terdengar suara seorang wanita dan Elio tengah berbincang. Eiren menghela napas dan membuka pelan pintu kamar tersebut. Berharap diantara keduanya tidak ada yang menyadarinya.


“Lalu, kapan kamu dan Eiren akan segera menikah? Mama harap secepatnya,” tanya Farah masih dengan wajah yang tampak berpikir.


Eiren yang siap melangkah langsung berhenti dan menatap kedua manusia yang tengah berbincang. Matanya menatap Elio yang diam dengan wajah tidak bersemangat sama sekali. Elio baru akan menjawab, tetapi mamanya sudah jauh lebih dulu menyela dengan wajah bersemangat. Membuat Eiren menghela napas perlahan dan siap mengabaikan perbicanga keduanya. Namun, lagi-lagi ucpan Farah membuatnya berhenti dengan mata membelalak.


“Bagaimana kalau dua bulan lagi?” tanya Farah meminta pendapat.


“Apa?” ucap Elio dan Eiren bersamaan.


Eiren tanpa sadar menjaeab ucapan Farah, membuat Farah dan Elio langsung menatap ke arahnya. Dia masih sock dengan permintaan mama Elio. Padahal dia berecana pergi setelah wisuda nanti.


“Eiren,” panggil Elio dengan wajah terkejut. Dia mengira bahwa Eiren masih tertidur di kamarnya.


Farah yang melihat tersenyum dan bangkit. Dia mulai melangkah ke arah Eiren dan menggiring calon menantunya untuk duduk di dekat Elio. Eiren hanya mengikuti begitu saja. Dia masih bingung dengan apa yang akan dikatakan nantinya.


“Nah, kalau begini sudah lengkap, kan? Sudah ada Eiren dan Elio. Jadi kita bisa bicarakan ini dengqn baik,” ujar Farah dengan senyum bahagia. Matanya menatap ke arah Elio dan Eiren dengan penuh kebahagiaan.


Elio menghela napas keras dan menatap Eiren yang hanya diam. Dia tahu apa yang ada di pikiran Eiren saat ini. Eiren berusaha menolak permintaan mamanya.

__ADS_1


“Jadi, katakan sama mama, kapan kalian akan menikah?” ulang farah dengan wajah bersemangat.


“Ma, bisa kita bicarakan ini lain kali? Elio pikir itu sudah terlalu jauh. Belum lagi Eiren belum lulus kuliah, kan?” tanya Elio dengan wajah serius.


Farah menengus kesal dan menatap Eiren dengan wajah lembut. “Kalau Eiren pengennya menikah kapan?” tanya Farah lembut.


Eiren yang ditanya menatap Farah dengan pandangan bingung. Kapan dia ingin menikah dengan Elio? Jawabannya satu. Tidak akan pernah ada keinginan untuk menikah dengan Elio.


“Eiren maunya menikah setelah lulus kuliah, Ma. Eiren ingin fokus dengan kuliah dan juga hal lainnya. Eiren gak mau nantinya malah Elio gak terurusan sama sekali,” ujar Eiren dengan senyum canggung.


Farah semaikin dibuat lemas dengan jawaban Eiren. Sedangkan Elio hanya menatap dengan kening berkerut. Rasanya dia melihat ada hal yang disembunyikan Eiren darinya. Namun, dia mengabaikan begitu saja karena dia tidak mau mamanya merasa curiga.


“Yah, kalian gimana, sih? Padahal mama pengen punya cucu cepet loh,” gerutu Farah dengan bibir manyun dan wajah yang menunjukan kekesalannya.


“Sabarlah, Ma. Nanti juga Eiren bakal lulus dan kita akan menikah,” celetuk Elio santai.


Elio hanya tertawa kecil melihat tingkah mamanya yang seperti bocah. Namun, tawanya terhenti karena getar ponsel yang membuatnya tidak fokus. Sudah berulang kali dia mengabikan panggilan Rega, tetapi saudaranya tetap saja menelfon tiada henti. Matanya melirik Eiren dan mamanya yang masih asyik mengobrol dan menghela napas panjang.


“Aku keluar sebentar. Ada telfon masuk,” ucap Elio yang langsung bangkit dan segera keluar.


Eiren menatap sekilas dan kembali asyik dengan Farah. Namun, pikirannya masih berputar dengan Elio yang keluar dengan tergesa-gesa


Apa yang kamu sembunyikan, Elio, batin Eiren merasa tidak enak. Dia merasa ada ribuan rahasia yang sengaja ditutupi oleh pria tersebut.


_____


Rega melangkah masuk ke dalam ruangan pribadinya. Di ruangan gelap dengan pencahayaan minim membuatnya merasa nyaman. Hanya ada alat-alat kesehatan dan juga tabung yang digunakan sebagai tempat seseorang berbaring selama beberapa tahun belakangan.

__ADS_1


Rega menutup pintu dan menatap Firda, mantan kekasih Elio yang sampai saat ini masih menjalani koma pasca kecelakaan, menghilangkan seorang pria selingkuhannya dan janin berusia dua bulan. Dalam hal ini, jelas Elio sangat marah. Tetapi, Elio tidak akan pernah merasa tenang jika tidak menanyakannya secara langsung. Jadilah sekarang Firda berada di rumah Elio dalam kondisi memperihatinkan.


Rega mentap Firda dengan pandangan tajam. “Apa yang sebenarnya terjadi, Firda. Sudah bertahun-tahun kamu hanya diam dan tidur di tabung ini. Memupuk kebencian Elio terhadapmu,” ucap Rega dengan suara lirih. Bahkan, rasanya dia sudah tidak sanggup melihat gadis berbadan kurus di hadapannya. Hanya cairan dari selang infus yang memberikannya asupan makanan di tubuhnya.


“Mau sampai kapan kamu tetap seperti ini? Bangunlah dan katakan semua yang sebenarnya terjadi,” ujar Rega dengan nada frustasi.


Rega menatap lekat wajah Firda dengan pandangan nanar. “Kalau kamu tidak bangun, Elio akan segera menikah dengan Eiren. Aku tidak mau jika apa yang terjadi bukanlah yang sebanarnya. Jadi aku mohon, jangan siksa dia dengan kebimbangan yang besar.”


Rega menghela napas lelah. Dia selalu saja berbicara seorang diri, tetapi dia merasa Firda mengerti maksud ucapannya. Dia mengerti apa yang dikatakan Rega dan meski tidak meresponnya.


Rega baru akan berbalik ketika matanya menatap jemari kurus yang perlahan bergerak, membuat matanya menatap dengan lekat. Dia menghentikan langkahnya dan masih tetap memandang lekat Firda, berharap ada kabar baik dari gadis di hadapannya.


Rega masih menunggu dengan penuh perasaan cemas. Sampai akhirnya, mata yang sudah lama terpejam kembali membuka setengahnya.


“Firda, kamu sadar?” tanya Rega dengan wajah penuh kebahagiaan. Rega langsung bergerak memeriksa Firda yang hanya diam


Memastikan bahwa gadis tersebut baik-bqik saja.


Setelah selesai, Rega langsung menghubungi Elio dengan penuh perasaan haru. Namun, sayangnya Elio hanya mengabaikannya begitu saja.


“Ayo Elio, angkat telfonnya,” gumam Rega dengan wajah penuh kebahagiaan dan kembali menatap Firda. Berharap mata itu tidak akan terpejam kembali.


Sampai pada pangglilan ke lima belas, Elio baru mengangkat panggilannya.


“Halo, Rega. Ada apa?” tanya Elio dari seberang telfon dengan nada ketus.


“Elio, Firda sudah siuman. Dia sadar,” ucap Rega dengan tergesa-gesa. Dia merasa begitu bahagia dan merasa terharu. Semua perjuangannya dan Elio terasa tidak sia-sia sekarang.

__ADS_1


_____


__ADS_2