Wedding With My Lecturer

Wedding With My Lecturer
Bagian 90_Lindungi Dia, Tuhan


__ADS_3

“Sayang, kamu yakin akan datang?” tanya Elio menatap Eiren yang tengah berdandan di depan cermin.


Eiren menatap Elio dengan pandangan lembut. Bibirnya mulai menyunggingkan senyum tipis ke arah Elio yang menatapnya cemas. Perlahan, Eiren melangkah ke arah Elio dan mendekap suaminya. Matanya menunjukan tatapan yang mengatakan bahwa dia baik-baik saja.


“Sayang, aku tidak yakin akan datang ke pesta pernikahan Feli,” ucap Elio denan pandangan melemah.


“Mas, kamu tenang saja. Dokter bilang sekarang belum tanggalnya aku melahirkan. Mungkin dalam tiga atau satu minggu lagi, jika sesuai dengan perkiraan dokter,” kata Eiren dengan senyum tipis.


“Meski begtiu, aku tetap tidak tenang, sayang. Bagaimana kalau kamu nanti malah melahirkan di sana? Aku tidak mau terjadi apa-apa denganmu dan anak kita nantinya,” ujar Elio masih dengan wajah tidak tenang. Matanya menatap perut membuncit Eiren dibalut dress pamjang. Perlahan, jemarinya mengelus pelan perut Eiren dan memberikan kecupan ringan.


“Kamu baik-baik di dalam sana, kan, sayang,” ucap Elio membat Eiren tersenyum.


Setelah Elio menegakan badan dan menatapnya lemah, Eiren hanya mampu menghela napas lelah. Perlahan, tangannya mulai menangkup wajah suaminya dan menatap lekat. “Mas, ini pernikahan sahabatku. Aku ingin datang dan juga menyaksikan Feli yang sebentar lagi resmi menjadi istri Saka. Jadi, aku mohon boleh ya aku datang,” ujar Eiren dengan tatapan memohon.


Elio berdecak kesal ketika Eiren mulai menampilkan wajah memelasnya, membuat hati Elio melemah seketika. “Ya sudah, kamu boleh datang,” putus Elio enggan menyaksikan wajah sedih istrinya. “Tetapi, kalau kamu merasa ada yang aneh dengan kandunganmu, katakan saja, ya? Kita akan pulang.”


“Iya,” jawab Eiren sembari melemparkan senyum penuh rasa bahagja. Dia segera melangkah ke arah meja rias dan melanjutkan kembali langkahnya.


Elio yang melihat hanya mampu menarik napas dalam dan mengembuskannya perlahan. Matanya masih menatap Eiren dengan pandangan lekat. “Aku harap semuanya akan baik-baik saja,” batin Elio dengan tatapan lekat.


_____


Feli menarik napas dalam, mengembuskannya perlahan. Berulang kali Feli melakukannya guna menenangkan ati yang sejak tadi bergemuruh. Matanya memandang tampilan dirinya yang sudah berbalut dreess berwarna putih dengan make up tipis yang semakin mempercantik dirinya.


Aku masih tidak yakin jika sebentar lagi aku akan menikah dengan Saka, pikir Feli dengan bibir mengulum senyum.


Suara pintu terbuka membuat Feli mengalihkan pandangan. Matanya menatap ke asal suara, menatap mamanya sudah sudah berdiri dengan senyum bahagia.

__ADS_1


“Anak mama cantik banget. Sudah siap?” tanya Nabila sembari melangkah ke arah Feli.


Feli menatap ke arah pintu yag menunjukan para tamu berlalu alang, mencari seseorang yang diharapkan datang. Namun, nyatanya tetap tidak ada. Sejak pagi dia menunggu Eiren, beharap sahabatnya akan masuk dan memberi selamat untuknya


“Kamu kenapa, sayang?” tanya Nabila dengan suara lembut.


Feli menatap ke arah mamanya dan mengumbar senyum tipis. “Tidak, Ma. Feli hanya menunggu Eiren. Dia belum datang.”


“Mungkin dia sedang bersiap. Biasanya orang hamil lebih lama dalam melakukan tugasnya,” ujar Nabila dengan senyum tipis dan menatap anaknya dengan pandangan bahagia.


Feli hanya mengangguk setuju. Dia sampai lupa kalau saat ini Eiren tengah hamil besar dan juga sudah waktunya melahirkan. Mungkin dia memang sedang berjuang melahirkan anaknya, batin Feli mencoba berpikir positif.


“Kamu sudah siap? Saka sudah datang dan acara pernikahan akan segera dilaksanakan,” ujar Nabila sembari menatap anaknya lekat.


Feli mengangguk pelan. Sampai tangan Nabila mulai terulur, membuat Feli merasa begitu bahagia. Perlahan, dia mulai meraih tangan mamanya dan bangkit. Dengan penuh keyakinan, Feli mulai melangkah ke arah pintu dengan pandangan lurus. Meski masih terihat jelas ketegangan diraut wajahnya.


Feli baru akan melangkah keluar ketika Eiren datang tepat di depannya dengan wajah sumringah, membuat Feli langsung membelalak terkejut.


“Aku pikir kamu gak datang,” lanjut Feli sembari melepaskan pelukannya.


“Awalnya aku menyuruh begitu, tetapi dia ngotot untuk tetap datang,” celetuk Elio yang langsung mendapat sikutan dari istrinya.


Eiren menatap Elio dengan tatapan memprotes dan hanya diangguki oleh suaminya. Eiren kembali menatap Feli yang sudah siap melangkah ke gedung utama, tempat diadakannya resepsi pernikahan.


“Selamat ya, Feli. Akhirnya kamu menikah dengan Saka. Aku harap kalian sudah tidak akan mengalami masalah lagi dan bisa hidup akur selamanya,” ucap Eiren sembari menahan rasa aneh yang mulai menjalar. Bayinya seakan memutar di dalam perutnya. Membuatnya kehilangan fokus.


Feli mengangguk dan menatap Eiren lekat. Sampai Nabila kembali menegur Feli agar segera masuk dan melaksanakan akad. Perlahan, Eiren mengikuti Feli, masih dengan Elio yang mendampingi. Sesekali bibirnya meringis merasakan getaran aneh yang terjadi dalam perutnya.

__ADS_1


Apa aku akan melahirkan? Tetapi, perkiraan dokter masih tiga sampai satu minggu lagi, batin Eiren mencoba meredam sakit yang entah dari mana asalnya. Sampai suasana ramai mulai menyapa keduanya.


Elio dan Eiren mulai memisahkan diri, memilih tempat duduk untuk menatap Feli yang sudah berada di depan bersama dengan Saka, menjadi pusat perhatian seisi ruangan. Eiren masih menahan rasa yang terus menyerang sampai akad antara Saka dan Feli mulai terucap, berganti dengan tepukan dan ucapan selamat yang terdengar riuh.


“Mas,” panggil Eiren sembari meremas lengan Elio.


Elio menatap Eiren dengan mata membelalak. “Sayang, kamu kenapa?” tanya Elio sembari menghapus keringat deras yang keluar di kening Eiren.


“Aku rasa aku akan melahirkan,” bisik Eiren menahan sakit yang mulai tidak terkendali.


“Astaga,” ucap Elio yang langsung membopong Eiren. Dia mengabaikan tatapan mata seisi ruangan, termasuk Saka dan Feli yang ikut menatapnya dengan pandangan bingung.


Elio melangkah ke arah mobil, meletakan Eiren di bangku sebelahnya. Dengan wajah penuh kecemasan. Elio mulai melanjukan mobil, sesekali mentap Eiren yang masih meringis menahan sakit.


“Sayang, bertahanlah. Aku mohon,” ucap Elio dengan air mata yang siap turun. Dia merasa tidak tega melihat Eiren menahan sakit.


Eiren yag melihat terpaksa menahan rasa sakitnya, mengusap lengan Elio lembut. “Mas, tenang saja. Aku baik-baik saja. Jangan menangis,” ucap Eiren lembut.


“Maafkan aku, mafkan aku. Harusnya aku tidak menuruti maumu. Harusnya aku lebih tegas,” ucap Elio dengan air mata yang mengalir. Rasa takut mulai menjalar dalam tubuhnya ketika melihat Eiren mendesis menahan sakit yang entah bagaimana rasanya.


“Tenanglah. Kamu harus menenangkan dirimu. Kami akan baik-baik saja,” ucap Eireb lirih. Sejak di rumah dia memang sudah merasakan gelenyar aneh, tetapi tetap mengabaikannya.


Elio hanya diam dan menembus jalanan dengan kecepatan di atas rata-rata. Sampau akhirnya, dia mulai membelokan mobil ke arah rumah sakit dan segra memarkirkannya. Elio segera turun dan berteriak tidak sabar, membuat beberapa perawat datang dan mulai memindahkan Eiren ke ranjang rumah sakit.


Aku mohon, lundungi dia, Tuhan. Jaga dia dan selamatkan keduanya. Aku sangat mencintainya, batin Elio sembari melangkah, mengikuti Eiren yang hanya menatapnya dengan senyuman lemah. Sampai akhirnya, Eiren masuk ke dalam ruang persalinan dengan beberapa perawat dan dokter yang menangani.


_____

__ADS_1


Hallo sayang-sayangkuh. Selamat membaca dan jangan lupa tingalkan like, commet dan tambah ke daftar favorit kalian. Jangan lupa, baca juga cerita Kim yang berjudul “Relationship Goals” dan “Wedding Drama 2”. Tingalkan like, commet dan tambah ke daftar favorit kalian ya.


Agar kalian tahu info cerita baru Kim dan updatenya, kalian bisa follow akun instagram Kim di @kimm.meili ya sayangkuh. See you next chapter dan jangan lupa jaga kesehatan.😘😘


__ADS_2