Wedding With My Lecturer

Wedding With My Lecturer
Bagian 94_Kabar Membahagiakan


__ADS_3

Elio menatap ke arah Rega dengan pandangan lekat. Sudah satu jam sejak kedatangan Rega, dia masih saja tidak mau tidur dan memilih duduk bersama dengan Rega di ruang tamu. Dia hanya menunggu Eiren yang sedang menidurkan anaknya di dalam kamar. Hingga terdengar suara pintu terbuka, menghadirkan Eiren yang hanya datang seorang diri.


“Sudah tidur, sayang?” tanya Elio ketika Eiren sudah melangkah dan duduk bersama dengannya.


“Sudah, Mas. Aku rasa dia lelah,” jawab Eiren dengan senyum tipis.


Elio yang mendengar mengangguk. Matanya mulai beralih dan menatap ke arah Rega yang masih santai dengan teh di tangan dan mulut mengunyah makanan ringan yang dihidangkan.


“Apa, Elio?” tanya Rega dengan nada santai.


“Kamu sadar sudah bertamu di jam selarut ini, Rega? Ini sudah jam dua dini hari dan kamu datang kemari? Ada perlu apa sebenarnya?” tanya Elio dengan nada curiga. Matanya menatap Rega dengan lekat, berharap tidak ada yang terleawat dari pandangannya.


Rega yang mendengar mengulas senyum tipis, menunjukan deretan giginya yang rata. “Aku minta maaf untuk itu, Elio. Maaf karena aku sudah menganggu jam tidur malam kalian. Aku saja baru datang dan langsung kemari,” jawab Rega dengan senyum tipis.


Elio hanya diam dengan kening berkerut heran, menungu penjelasan dari wanta yang tengah meletakan gelas dengan gaya elegan. Rasanya tetap saja aneh mendengar Rega meminta maaf dan datang di jam selarut ini.


Rega menghela napas perlahan dan menatap ke arah Elio lekat. Bibirnya masih mengulas senyum tipis dan menunjukan kebahagiaannya. “Aku datang dijam segini bukan tanpa asalan, Elio. Aku datang karena jam lima nanti aku harus terbang ke Paris bersama dengan Firda. Itu sebabnya aku datang dijam segini. Aku tidak ingin melewatkan untuk berbicara dengan Eiren, Elio. Karena aku sendiri tidak tahu kapan akan kembali,” jelas Rega dengan wajah serius.


“Mengenai Firda, bagaimana kabarnya?” tanya Eiren dengan rasa bersalah. Dia merasa bahwa semua yang terjadi dengan Firda adalah kesalahannya.


Rega menatap Eiren dan menatap lembut. “Dia baik-baik saja, Eiren. Kamu jangan cemas. Dia sudah membaik dan bisa mengontrol emosinya sendiri,” jawab Rega dengan serius.


Eiren yang mendengar bernapas lega. Matanya menatap ke arah Elio yang menatapnya lekat. Takut jika suaminya merasa takut dan dia memakluminya.


"Aku baik-baik saja, Mas. Kamu tenang saja, ya?" ucap Eiren dengan tatapan melembut.


"Kamu yakin tidak marah, kan?" tanya Elio memastikan.


Eiren hanya mengangguk. Dia memilh mendekap suaminya dari samping dan menatap ke arah Rega lekat.


Rega menghela napas perlahan dan menatap keduanya lekat. "Kalian masih suka bertengkar karena Firda?" ucap Rega dengan penuh selidik.

__ADS_1


"Sesekali," jawab Elio santai.


Rega yang mendengar tertawa kecil mendengar ucapan keduanya. Rasanya dia menyesal pernah membenci Eiren yang tidak bersalah apa pun. Kenapa dulu aku bisa sejahat itu dengannya, ya?, batin Rega.


Rega menghela napas perlahan ketika dering ponselnya mulai terdengar. Rega segera mengambil ponsel dan menatap nama Firda mulai muncul di layar. Perlahan, dia mulai menolaknya dan mengubah deringnya menjadi sunyi. Matanya kembali menatap ke arah Elio dan Eiren yang sedang asyik berbicara.


Rega berdehem kecil, membuat Eiren dan Elio diam dan kembali menatapnya.


"Ada apa, Rega?" tanya Elio dengan tatapan kesal.


"Aku mau bilang kalau sekarang aku harus pergi, Elio. Firda sudah menungguku," ucap Rega sembari mengemasi barang bawaannya dan bangkit, diikuti Eiren dan Elio yang juga mulai bangkit.


"Rega, bisa sampaikan salamku dengan Firda?" celetuk Eiren dengan senyum tipis.


Rega mengangguk pelan dan melangkah keluar. Meninggalkan rumah Elio yang terasa lebih menenangkan. Berbahagialah kalian, batin Rega dengan senyum tipis.


Eiren yang melihat menghela napas perlahn dan mendongak, menatap Elio dengan tatapan lekat.


Elio segera menatap ke arah Eiren dan mengangguk. "Dia pasti sudah sehat, sayang. Jangan cemas," jawab Elio sembari mengacak pelan rambut istrinya.


"Ayo masuk, sayang. Kita juga harus mulai istirahat, kan? Sebelum putra kecil kita terbangun," ajak Elio sembari menggiring Eiren untuk masuk ke dalam kamar.


_____


Suara gaduh terdengar ketika kokok ayam mulai bersahutan. Bersamaan dengan Feli yang membuat keributan di dalam rumah. Sejak matanya terbuka, dia sudah keluar masuk kamar mandi dan mengeluarkan semua isi di perutnya, membuat Saka menatap cemas.


"Sayang, kamu baik-baik saja?" tanya Saka ketika Feli baru saja keluar dari kamar mandi.


Feli menarik napas perlahan dan mengembuskannya perlahan. Dia memilih duduk dan menyandarkan tubuhnya di ranjang besar miliknya.


"Sayang, kita ke dokter ya? Aku takut terjadi denganmu," ajak Saka sembari mengangkat Feli yang hanya diam.

__ADS_1


Tuhan, jaga dia baik-baik. Semoga tidak ada hal buruk yang terjadi, batin Saka penuh harap.


Feli hanya diam ketika Saka memasukannya ke dalam mobil. Matanya hanya terpejam ketika merasakan mobil yang ditumpanginya mulai melaju. Sesekali merasakan tangan Saka yang mengelus pipinya pelan.


"Tahan sebentar ya, sayang," ucap Saka dengan wajah cemas.


Feli yang mendengar mulai membuka mata perlahan dan meremas jemari Saka yang sejak tadi mengelusnya. Matanya menatap ke arah Saka dengan pandangan melembut.


"Sayang, tenanglah. Aku baik-baik saja. Aku rasa magku kambuh," jelas Eiren merasa kasihan karena Saka yang sejak tadi bergumam cemas.


Saka hanya mengangguk dan berusaha menghilangkan perasaan cemasnya. Sampai matanya menatap rumah sakit yang tidak jauh darinya. Dengan cepat dia membelokan mobil dan berhenti telat di depan pintu masuk.


Saka mulai keluar dan memberikan kuncinya kepada sang satoam, meminta tolong agar segera diletakan di tempat parkir. Sedangkan Saka langsung melangkah cepat dan membopong Feli masuk.


Saka mulai melepaskan gendongannya ketika tenaga medis sudah datang dan membawa Feli dengan kursi roda. Melangkah ke arah ruang pemeriksaan.


Saka hanya diam ketika sang dokter memeriksa istrinya. Matanya mengamati lekat samapai dokter wanita melangkah ke arahnya.


"Bagaimana keadaan istri saya, dokter?" tanya Saka dengan cemas.


Wanita di depannya mengulas senyum tipis dan menatap ke arah Saka lekat. "Sesuai dengan pemeriksaan yang saya lakukan, istri anda baik-baik saja. Saat ini dia hanya sedang mengandung dan usia kandungannya baru mengunjak tiga minggu," jelas sang dokter dengan senyum sumringah.


"Apa?" Saka yang mendengar menatap ke arah sang dokter lekat.


"Selamat,sebentar lagi kalian akan menjadi orang tua," ucap sang dokter riang.


Saka yang mendengar mengangguk dan menatap ke arah Feli yang masih berbaring dengan lekat. Rasanya hari ini dia benar-benar bahagia.


Terima kasih, Tuhan. Terima kasih karena sudah menghadirkan bayi janin dalam rahim Feli.


_____

__ADS_1


Selamat membaca sayangkuh. Jangan lupa tinggalkan like, comment dan tambah ke daftar favorit kalian. See you next chapter dan jangan lupa jaga kesehatan sayangkuh 😘😘


__ADS_2